Dihukum Kakak

Rili menatap kesal pada salah satu senior yang kini berada di depan kelas sebagai senior pembimbing. Entah karena kebetulan atau apa Alvin yang berada di kelas Rili.

Dua orang senior itu berjalan berkeliling mengecek perlengkapan MOS. Kini tiba giliran Rili. Alvin menatap Rili dengan senyuman licik.

"Mana kartu pengenal kamu?" tanya Alvin. Harusnya kartu pengenal itu menggantung di leher Rili.

"Loh." Rili melihat kartu pengenal yang harusnya menggantung di lehernya. Tidak ada. Dia ingat betul, dia tidak lupa memakainya saat berangkat tadi. "Tadi ada."

"Sekarang ada gak?"

Rili hanya terdiam sambil menatap wajah Alvin dengan penuh kekesalan.

"Sekarang kamu keluar. Minta hukuman sama Rasya!"

Rili hanya terdiam. Tak juga berdiri.

Sial!! Minta hukuman sama Kak Rasya. Gak cuma dapat hukuman aja, udah pasti juga kena omel. Duh, ini kemana kartu gue. Padahal jelas-jelas tadi udah gue pakai.

"Kamu dengar gak?!" Alvin mengeraskan suaranya.

Seketika Rili berdiri. "Baik!!"

Saat Rili akan melangkahkan kakinya justru Alvin menghalanginya. "Bisa sopan sama senior?!"

Alvin benar-benar menguji kesabaran Rili. Maunya senior gila ini apa sih?! Dih, orang ngeselin kayak gini bisa jadi pangeran penyelamat dalam mimpi gue.

Alvin menunjukkan kartu pengenalnya yang bertuliskan Alvin Elvaro.

Jelas saja, IQ Rili bukan dari kalangan rendahan. Dia tahu betul apa yang diinginkan Alvin. "Baik Kak Alvin Elvaro. Saya permisi."

Merasa puas Alvin menggeser dirinya memberi jalan pada Rili.

Rili berjalan keluar dari kelas dengan mendumel. Benar-benar hari pertama masuk sekolah yang sangat menyebalkan baginya. Dia kini menghentikan langkahnya di dekat lapangan basket. Terlihat Rasya memang sedang menghukum beberapa murid yang tidak disiplin waktu itu.

Duh, bilang apa gue sama Kak Rasya. Gue gak takut sama hukumannya cuma kuping gue panas kalau harus dengar omelannya Kak Rasya.

"Bisa kasih gue jalan?"

Suara itu membuat Rili menoleh. Rupanya ada seorang teman cewek juga dari kelasnya yang mendapat hukuman.

"Sorry, gue gak tahu. Kita sekelas kan? Kenalin gue..." Rili ingin mengajaknya berkenalan tapi gadis itu hanya melewatinya saja. Ada lagi satu manusia sombong. Heran gue? Apa sekarang lagi musimnya orang sombong.

Rili akhirnya berjalan mendekati Rasya. Dia kini berdiri di sebelah gadis itu.

"Rili, ngapain kamu ke sini?" tanya Rasya.

"Kartu pengenal aku hilang."

"Hilang atau ketinggalan?"

"Kak Rasya kan tahu sendiri, berangkat tadi udah aku pakai."

Rasya ingat betul, tadi pagi Rili memang sudah memakai kartu pengenalnya di leher.

"Ya udah, kamu balik ke kelas aja." Bagaimana pun juga Rasya tidak sampai hati menghukum adiknya sendiri.

"Oo, jadi karena ada ikatan darah bisa lepas dari hukuman gitu. Jadi ketua itu yang adil!" Celetuk gadis itu.

Rasya kini beralih menatapnya. Dia melihat kartu pengenal yang menggantung di lehernya. Dara. "Kamu ada masalah apa disuruh ke sini?"

"Beberapa perlengkapan MOS memang sengaja gak aku beli karena tidak sempat." Dara sangat tegas. Bahkan dia berani jujur.

"Ya sudah, kalian berdua lari keliling lapangan basket dua kali."

Rili dan Dara menuruti perintah Rasya.

Setelah dua putaran, Rili berjalan kembali ke kelas. Sedangkan Dara, dia justru berjalan menuju toilet. Ingin Rasya memanggilnya tapi dia urungkan. Dia hanya menatap punggung Dara yang kian menjauh.

Rili menghentikan langkahnya saat Alvin berdiri di ambang pintu sambil menyenderkan bahunya. Dia tersenyum puas.

Mau dia apa sih?!

"Rili Adistya.." Alvin membuka tangannya hingga membuat kartu pengenalnya menggantung di tangannya.

Rili membulatkan matanya. "Itu, kartu gue! Elo yang ambil!" Rili akan mengambil kartu pengenalnya tapi kalah cepat dengan Alvin.

"Eitss.." Alvin meninggikan tangannya. "Mau kartu ini? Yang sopan kalau minta."

"Lo sengaja kan ambil kartu pengenal gue, biar gue kena hukum sama Kakak."

Alvin tertawa lagi. "Sengaja? Bukannya lo sendiri yang jatuhin kartu ini di lantai."

Rili ingat, mungkin saja kartu itu terjatuh saat dia bertabrakan dengan Alvin.

"Diluar kelas lo boleh gak sopan sama gue. Tapi selama gue jadi senior pembimbing di kelas lo, lo harus sopan sama gue!"

"Gila senioritas banget."

"Oke! Biar kartu ini gue buang dan lo bisa kena hukuman lagi sampai besok."

Rili mendengus kesal. Dia akhirnya menyerah. Lalu dia memelankan nada bicaranya. "Kak Alvin, tolong kembalikan kartu pengenal saya."

Lagi, Alvin tersenyum puas. Tak disangka, Alvin justru langsung memakaikan kartu pengenal itu ke leher Rili.

Pandangan mereka terpaut beberapa saat.

Deg!! Perasaan macam apa ini!! Wah, bener-bener gak wajar.

Alvin menggeser dirinya dan membiarkan Rili masuk ke dalam kelas. Beberapa saat kemudian saat Alvin akan membalikkan badannya dia berpapasan dengan Dara.

"Dara..."

"Kak Alvin..."

Mereka seperti baru tersadar bahwa mereka saling mengenal. Ingin Dara berbicara lebih lama dengan Alvin tapi belum waktunya istirahat. Dara masuk ke dalam kelas sedangkan Alvin, kini menautkan alisnya sambil melipat tangannya.

Dara? Sejak kapan dia pindah ke kota ini??

...***

...

"Li, kok lo dari tadi ngedumel aja." Kata Nana yang kini berjalan bersama Rili menuju kantin saat jam istirahat.

"Sebel pake banget sama Alvin senior sombong itu." Setelah sampai di kantin Rili segera mengambil minuman dingin dan duduk di kursi.

"Kak Alvin itu ganteng loh. Kok lo bisa sebel sih?" Nana ikut duduk di sebelah Rili yang juga sudah membawa minuman dingin. "Biasanya lo gak bakal melewatkan setiap godaan yang ada."

"Ganteng tapi kalau makan ati buat apa. Gara-gara dia gue jadi di hukum sama Kak Rasya." Lalu Rili meneguk habis minumannya karena dia sudah merasa dehidrasi.

Nana tertawa. Menertawakan nasib sial Rili.

"Rili..." Sapaan itu bagai hantu di siang bolong yang mampu membuat bulu kuduk Rili merinding. Siapa lagi kalau bukan sapaan dari sang mantan yaitu Zaki yang sempat Rili lihat pagi hari tadi.

Rili menoleh sesaat lalu memalingkan wajahnya. Buat apa juga dia mendekatinya lagi setelah apa yang telah dia lakukan.

"Li, sorry gue..."

"Hah, gak usah bahas masa lalu. Gak penting! Gue juga udah move on dari lo. Emang cowok cuma lo aja gitu." Rili berdiri tapi dicegah oleh Zaki.

"Setidaknya lo dengerin penjelasan gue."

"Mau jelasin apa lagi! Bukti udah jelas dan Fani juga udah ngaku kalau lo selingkuh sama dia. Sorry, gue gak mau masuk dalam lubang yang sama."

Zaki menahan tangan Rili saat dia akan beranjak pergi. "Gue sama Fani udah gak ada hubungan apa-apa lagi."

"Terus, apa hubungannya sama gue!!" Rili menarik tangannya dari Zaki. "Ki, lepasin!!"

"Kalau cewek gak mau itu jangan dipaksa." Seseorang melepas paksa tangan Zaki dari Rili.

Kini Rili menatapnya.

Apa maksudnya? Mau sok jadi pahlawan?!

Terpopuler

Comments

Ghie Noerback Al-fariezzie

Ghie Noerback Al-fariezzie

ni kisah mirip. sma emak nya huh

2022-06-28

0

senja

senja

IQ bukan dr kalangan rendahan, maksudnya gimana ya?

2022-03-28

0

lihat semua
Episodes
1 Berawal dari Mimpi
2 Awal Masuk Sekolah
3 Dihukum Kakak
4 Dara dan Alvin?
5 Cincin
6 Persiapan Berangkat
7 Dalam Bus
8 Calon Pacar Rili?
9 Jatuh ke Jurang
10 Mencari Rili
11 Hanya Masa Lalu
12 Mimpi Atau Nyata?
13 Pingsan
14 Pulang dari Camping
15 Mimpi Tentang Alvin
16 Di Rumah Rili
17 Hati ini Sakit
18 Patah Hati??
19 Ingin Bicara
20 Dihukum Bersama
21 My Rili?
22 First Kiss Spesial
23 Bicara Bertiga
24 Sesuai Rencana
25 Di Rumah Dara
26 Kakak vs Adik
27 Mencari Info
28 Di Bawah Pengaruh
29 Di UKS
30 Kepastian Perasaan
31 Ternyata Nana
32 Aku-Kamu
33 Udah Jadian
34 Tolong Aku
35 Sampai Pingsan
36 Tentang Masa Lalu
37 Cerita
38 Membakar Kenangan
39 Betemu Karin
40 Kecelakaan
41 Akan Tetap Bersamamu
42 Kenapa Gak di Bibir?
43 Harus Tetap Yakin
44 Cincin itu?
45 Bukan Wanita Cacat
46 Dalam Bahaya
47 Dalam Bahaya 2
48 Cukup Aku yang Mencinta
49 Lihat Aku
50 Jago Kan?
51 Love U
52 Korban Perasaan
53 So Spesial
54 So Spesial 2
55 Berbeda?
56 Ruang BK
57 Ruang Kontrol cctv
58 Akibat Diluar Batas
59 Mas Alvin?
60 Pasrah
61 Just A Good Boy
62 Terendap Laraku
63 He is A Good Boy
64 Surprise di Pagi Hari
65 Jangan Terjadi
66 I'll Always Waiting For U
67 Karya Baru
68 Selamat Tinggal Dara
69 Kehilangan
70 Ikhlaskan
71 Akhir dari Sebuah Misteri
72 BonChap 1
73 Bonchap 2
74 KARYA BARU
75 Edisi Kangen
76 Bonchap 3 (Cafe Ria)
77 Sebuah Penantian (Melepas Lajang)
78 Rumus Cinta Pak Guru
Episodes

Updated 78 Episodes

1
Berawal dari Mimpi
2
Awal Masuk Sekolah
3
Dihukum Kakak
4
Dara dan Alvin?
5
Cincin
6
Persiapan Berangkat
7
Dalam Bus
8
Calon Pacar Rili?
9
Jatuh ke Jurang
10
Mencari Rili
11
Hanya Masa Lalu
12
Mimpi Atau Nyata?
13
Pingsan
14
Pulang dari Camping
15
Mimpi Tentang Alvin
16
Di Rumah Rili
17
Hati ini Sakit
18
Patah Hati??
19
Ingin Bicara
20
Dihukum Bersama
21
My Rili?
22
First Kiss Spesial
23
Bicara Bertiga
24
Sesuai Rencana
25
Di Rumah Dara
26
Kakak vs Adik
27
Mencari Info
28
Di Bawah Pengaruh
29
Di UKS
30
Kepastian Perasaan
31
Ternyata Nana
32
Aku-Kamu
33
Udah Jadian
34
Tolong Aku
35
Sampai Pingsan
36
Tentang Masa Lalu
37
Cerita
38
Membakar Kenangan
39
Betemu Karin
40
Kecelakaan
41
Akan Tetap Bersamamu
42
Kenapa Gak di Bibir?
43
Harus Tetap Yakin
44
Cincin itu?
45
Bukan Wanita Cacat
46
Dalam Bahaya
47
Dalam Bahaya 2
48
Cukup Aku yang Mencinta
49
Lihat Aku
50
Jago Kan?
51
Love U
52
Korban Perasaan
53
So Spesial
54
So Spesial 2
55
Berbeda?
56
Ruang BK
57
Ruang Kontrol cctv
58
Akibat Diluar Batas
59
Mas Alvin?
60
Pasrah
61
Just A Good Boy
62
Terendap Laraku
63
He is A Good Boy
64
Surprise di Pagi Hari
65
Jangan Terjadi
66
I'll Always Waiting For U
67
Karya Baru
68
Selamat Tinggal Dara
69
Kehilangan
70
Ikhlaskan
71
Akhir dari Sebuah Misteri
72
BonChap 1
73
Bonchap 2
74
KARYA BARU
75
Edisi Kangen
76
Bonchap 3 (Cafe Ria)
77
Sebuah Penantian (Melepas Lajang)
78
Rumus Cinta Pak Guru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!