"Rili, obatnya sudah diminum sayang?" tanya Mami Lisa yang kini duduk di tepi ranjang Rili malam itu.
"Sudah, Mi." jawab Rili. Dia sudah rebahan sambil memeluk gulingnya.
Lisa mengusap rambut Rili lembut. "Demamnya udah turun. Kamu cepat tidur ya."
Rili menganggukkan kepalanya. "Mi, temani Rili tidur ya?"
"Rili mau tidur sama Mami? Ya udah gak papa." Lisa kini naik ke atas ranjang dan membaringkan tubuhnya di sebelah putrinya yang sedang ingin dimanja waktu itu.
Rili kini memeluk tubuh Maminya dan menghirup dalam aroma tubuh Mami Lisa yang mampu menenangkan dirinya. Rasa nyaman dari pelukan seorang ibu memang tidak bisa tergantikan oleh siapa pun. Usapan lembut yang menyapu rambutnya membuat Rili ingin segera terlelap.
Tangan Lisa kini beralih pada jari Rili yang masih memakai cincin dari Bu Maya. "Rili cincinnya belum bisa dilepas?"
"Gak bisa, Mi. Sulit. Sebenarnya cincin ini dari siapa sih, Mi? Dibeliin Papi ya?"
"Bukan. Ini pemberian dari Bu Maya, itu ibunya Om Dewa. Ya sudah, kalau gak ganggu kamu pakai saja gak papa."
Walaupun sudah sering mendengar cerita tentang Om Dewa tapi Rili sama sekali belum pernah bertemu dengannya langsung. "Iya, nanti Rili coba lepas lagi kalau bisa. Hmm.. Mi, Papi gak papa kan tidur sendiri malam ini?" tanya Rili dengan mata yang mulai terpejam.
"Ya, gak papa dong sayang." Lisa masih terus membelai rambut Rili.
Tapi entah kenapa Rili kini kembali membuka matanya dan justru bertanya tentang masa muda kedua orang tuanya. "Mi, Papi sama Mami dulu awal kenal gimana? Rili pernah lihat loh video slide foto-foto Mami sama Papi waktu SMA. So sweet ya.."
Lisa tersenyum kecil. Jejak digital memang tidak bisa hilang seperti semua ingatan Lisa. "Ya, Mami kenal sejak awal masuk SMA. Awalnya Papi kamu dulu itu dingin kayak Kak Rasya gitu."
"Terus Mami kok bisa jatuh cinta sama Papi?"
Pertanyaan yang sulit Lisa jawab. Karena untuk jatuh cinta sama Rizal itu tidak butuh alasan sampai saat ini. "Ya, mengalir begitu aja. Hmm, kenapa tiba-tiba kamu tanya soal Mami dan Papi waktu muda? Rili sedang jatuh cinta ya?"
"Nggak Mi. Cuma tanya aja."
"Kamu sekarang udah remaja pasti mulai mengenal yang namanya cinta, iya kan? Kamu hati-hati ya kalau dekat sama cowok jangan sampai kamu yang terluka."
"Iya, Mi." jawab Rili yang disusul dengan menguapnya. Mata Rili semakin terasa berat. Dia kini mulai memejamkan matanya dan tertidur.
Beberapa saat kemudian, dengan perlahan Rizal masuk ke dalam kamar Rili. "Mi," panggilnya pelan.
Lisa kini menatap Rizal yang berdiri di sebelahnya. "Apa, Pi?" mereka sama-sama memelankan suaranya.
"Rili sudah baikan?"
"Sudah. Papi tidur sendiri ya, Rili minta Mami temani tidurnya."
"Iya, gak papa." Rizal membungkukkan dirinya lalu mendekatkan wajahnya pada Lisa. Satu ciuman mendarat di pipinya. "Titip ciuman buat Rili soalnya dia udah gak mau Papi cium." Kemudian satu kali lagi Rizal mendaratkan ciumannya di pipi Lisa. "Yang ini buat Maminya."
"Papi, udah sana."
"Iya. Iya."
Setelah Rizal keluar dari kamar Rili, Lisa memejamkan matanya menyusul putrinya terlelap dalam tidur.
...***...
"Dara, kita bisa mulai hubungan ini dari awal lagi." Terlihat Alvin meraih tangan Dara dan menggenggamnya.
"Tapi kemaren Kak Alvin bilang, kalau aku hanya masa lalu kamu saja."
Alvin menggelengkan kepalanya. "Nggak. Bukan itu maksud aku."
"Lalu?" Dara menanti apa yang dikatakan Alvin lagi.
"Kita memang gak bisa kembali seperti dulu lagi tapi kita bisa memulai hubungan baru dengan cinta yang lebih matang dari pada cinta monyet kita dulu. Kamu mau kan jadi pacar aku?"
Dara menganggukkan kepalanya sambil tersenyum lalu mereka berpelukan.
Alvin, Dara....
"Alvin!!" Rili terbangun dari tidurnya yang membuat Maminya juga ikut terbangun.
"Sayang kenapa?" Tanya Lisa sambil melepas pelukannya dari anak gadisnya itu. "Alvin?" Walau samar tapi Rili jelas memanggil nama itu sebelum terbangun.
"Eh, bukan Mi."
Lisa melihat jam yang ada di dinding, sudah menunjukkan pukul 03.00 pagi hari. "Mami ke kamar ya. Kamu lanjutin aja tidurnya." Sebelum beranjak pergi Lisa mencium kening putrinya sesaat.
"Iya, Mi." Setelah Mami Lisa keluar. Rili kini beralih memeluk gulingnya. Dia sangat memikirkan mimpinya barusan. Apa iya Alvin akan kembali bersama Dara. "Baru juga mimpi kenapa rasa sakitnya sampai menusuk ke dalam hati ini. Hah, bairinlah Alvin mau dekat sama siapa aja. Dia juga bukan siapa-siapa gue." Rili berusaha memejamkan matanya kembali tapi tidak bisa. Bayangan Alvin silih berganti berputar di otaknya. Rili kembali membuka matanya. "Alvin lo nyusahin hidup gue aja sih. Ih, hilang lo dari pikiran gue!!" Begitulah, Rili sekarang menjadi uring-uringan sendiri di pagi buta hanya karena memimpikan Alvin kembali dengan Dara.
Sedangkan Lisa, kini dia masuk ke dalam kamarnya pelan. Menutup pintu dan berjalan pelan mendekati ranjang. Terlihat Rizal tertidur miring sambil memeluk guling. Lisa kini merebahkan dirinya di belakang Rizal lalu memeluk tubuh suaminya itu.
Tangan Rizal beralih pada tangan Lisa dan menggenggamnya.
"Loh, Papi gak tidur?"
"Gak ada Mami jadi tidurnya gak nyenyak." Rizal kini membalikkan badannya dan menarik tubuh istrinya dalam pelukannya. "Demam Rili sudah turun kan, Mi?"
"Udah, Pi. Barusan Rili kebangun dia manggil nama cowok cukup keras. Kalau gak salah Alvin namanya."
"Alvin? Mungkin cowok yang Rili lihat kemarin lusa itu waktu berangkat camping. Katanya sih rival Rasya. Tapi kalau papi lihat kayaknya dia cowok baik-baik."
"Ya semoga aja Rili gak salah pergaulan. Ya udah, Papi lanjut tidur aja. Bentar lagi Mami mau bangun."
"Bangun? Anak-anak sekolahnya libur kan, Papi juga gak ke kantor. Sini aja temenin Papi." Rizal menenggelamkan dirinya di tengkuk leher Lisa dan mulai mencumbuinya dengan tangan yang sudah beroperasi menciptakan sensasi.
"Papi mulai deh. Libur sehari juga ya.."
"Kalau itu, gak ada liburnya Mi kecuali hari merah. Mami tambah cantik aja sekarang."
"Duh, gombalnya."
...***...
Masak iya sih, Alvin mau balikan sama Dara?
Sampai hari menjelang siang, Rili masih saja memikirkan mimpinya semalam. Dia kini berdiri di balkon kamarnya. Menatap jalanan depan rumahnya yang hanya dilalui beberapa kendaraan.
Lo itu ngeselin banget sih. Ganggu gue aja. Gak di nyata gak di mimpi. Duh, kenapa gue jadi tiba-tiba galau gini.
Beberapa saat kemudian terlihat sebuah sepeda motor berbelok memasuki pagar rumah Rili yang memang telah terbuka. Dia turun dari sepeda motor dan membuka helmnya. Melambaikan tangannya ke arah Rili yang sedang menatapnya.
Hah, sampai-sampai bayangan Alvin terlihat nyata.
Alvin masih saja melambaikan tangannya pada Rili, meski Rili masih tetap memandangnya kosong.
"Alvin, lo ngapain ke rumah gue?" Suara keras Rasya membuat mata Rili membulat.
Jadi itu bukan khayalan gue. Itu beneran Alvin.
Rili mundur teratur masuk ke dalam kamarnya.
Ngapain dia ke rumah?
💞💞💞
.
.
.
.
Ngapain Vin, ke rumah? Bawa oleh-oleh gak? Jangan bilang oleh-olehnya cuma cinta doang... 😆😆
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments
Sri Raganti Ols
Gpp thor oleh oleh cinta juga hehe,,,ih ci alvin kamu gantel bgt ih,,skrg rasa gengsi nya kalah ma rasa cinta yaa,, aku padamu vin ah rasanya dah menduakan bang rizal deh,,maaf bang rizal hihihi
2022-12-01
2
Noviani
semangat,, bnykin lg yaa up nya
2022-01-26
1
🎎 Lestari Handayani
jiaaahhh othor ngarep banget oleh oleh nya cinta. wkwkwkwk
semangat terus Thor
2022-01-26
1