"Alvin, ternyata kamu bohong sama aku! Kamu deketin aku cuma buat bantu Rili!!" Dara menghampiri Alvin yang saat itu tengah berdiri di samping Rili.
"Nggak Ra. Kamu salah paham."
"Aku dengar sendiri."
"Tapi Ra..."
"Udahlah. Mulai sekarang kita gak ada hubungan apa-apa lagi." Dara berlari menjauhi Alvin.
Tiba-tiba semua menjadi gelap. Dunia seolah berputar dengan cepat yang membuat kepala Rili terasa sangat pusing.
"Semua ini salah kamu! Semua ini salah kamu!!"
Suara itu terdengar jelas di telinga Rili hingga membuat Rili menutup telinganya sambil memejamkan matanya. "Nggak!! Ini bukan salah aku! Kamu jangan ganggu aku lagi!!"
"Nggak!!!" Rili terbangun dari tidurnya. Dia kini terduduk dengan napas yang tidak teratur. Dia usap keringat yang mengalir di pelipisnya.
"Dara marah lagi dan hantu itu muncul lagi. Apa yang harus gue lakuin?" Rili menurunkan kakinya dan duduk di sisi ranjangnya. "Apa gue harus bicara sama Alvin? Benar kan dia deketin Dara biar hantu itu gak muncul lagi." Rili berdiri dan beralih menuju jendela lalu membuka tirai. Awan hitam baru akan mulai menunjukkan cahayanya di pagi hari itu.
Rili mencoba mencari jalan keluar dengan menatap awan pagi hari itu. Bukan solusi yang didapat tapi justru rasa dingin yang terus menelusup. "Oke, kalau kayak gitu gue akan tantang aja hantu itu sekalian. Gue harus ngomong sama Alvin."
Tekad Rili sudah bulat. Dia tidak boleh takut dengan hantu itu jika memang nanti mimpi itu akan menjadi nyata.
"Tapi gimana caranya ngomong sama Alvin?" Rili membalikkan badannya lalu berjalan mondar-mandir sambil memikirkan cara. "Apa cari nomor Alvin di hp Kak Rasya aja. Tapi masak iya gue hubungi dia dulu." Rili masih berpikir. Ya, dia memang terlalu jaim.
"Mandi dulu saja. Nanti biar gue coba cari di hp Kak Rasya."
Kemudian Rili masuk ke dalam kamar mandi. Mengguyur tubuhnya agar sisa rasa kantuk dan rasa lelah tentang semua mimpi itu hilang.
Tak butuh waktu lama, dia keluar dari kamar mandi dan berganti seragam lalu menyisir rambutnya yang basah. Tidak perlu bersolek dulu karena dia harus mencuri nomor Alvin dulu di ponsel Rasya.
Dia keluar dari kamarnya. Lalu berjalan pelan pada pintu yang masih tertutup di sebelah kamarnya. Dia tempelkan telinganya pada pintu. Ada bunyi air mengalir. Pasti Kak Rasya masih mandi.
Rili membuka kamar pintu Rasya pelan. Dia menebar pandangannya. Pintu kamar mandi masih tertutup. Dia harus cepat mencari benda pipih itu.
Sesuai dugaan ponsel Rasya ada di atas nakas. Rili meraihnya. Untunglah Rasya tidak suka mengunci ponselnya dengan kata sandi atau semacamnya hingga memudahkan tindakan Rili kali ini.
Rili membuka kontak nomor yang ada di ponsel Rasya. Dia scroll ke bawah sampai abjad terakhir tapi tidak ada yang namanya Alvin. Harusnya huruf A ada di deretan paling atas. Fix, Rasya tidak menyimpan nomor Alvin.
Jempol Rili beralih pada WhatsApp. Berharap Alvin dan Rasya bergabung dalam sebuah grup. Ini dia, grup OSIS!!
Rili segera membuka grup itu dan segera mencari anggota grup di deretan nomor yang tidak disimpan dengan keterangan nama yang berada di bawahnya. Alvin...
Dengan cepat Rili mengambil ponselnya dan menyalin nomor Alvin. Setelah itu dia kembali meletakkan ponsel Rasya di tempatnya lalu keluar dari kamar sebelum Rasya selesai mandi.
Sampai dalam kamarnya, dia menyimpan nomor Alvin hanya dengan inisial A dan langsung bisa terhubung dengan chat WhatsApp. Foto profil Alvin belum bisa dia lihat.
"Mau chat apaan gue ke Alvin?" Rili membuka layar chat dan hanya menatapnya saja. Sampai beberapa detik, beberapa menit berlalu.
"Rili, ayo sarapan dulu." suara Maminya dari depan pintu membuyarkan keterpakuannya.
"Iya Mi." Rili menutup layar chat WhatsAppnya dan menyimpan ponselnya di saku. Berkaca sesaat untuk bersolek. Lalu dia segera menuju meja belajarnya. Mengecek kembali buku-bukunya. Setelah lengkap dia keluar dari kamar untuk sarapan.
...***...
"Kak, aku duluan ya." kata Rili setelah turun dari motor Rasya karena Rasya masih berbicara dengan teman sekelasnya.
"Iya, langsung ke kelas soalnya bentar lagi bel masuk."
"Iya, Kak." jawab Rili yang hanya sebatas iya saja. Dia kini berjalan sambil menoleh ke kanan dan ke kiri berharap bertemu dengan sosok yang dia cari.
Memang kalau sudah jalan takdirnya pasti akan bertemu. Mereka berpapasan dan saling menatap. Entah kenapa Rili menjadi salah tingkah. Bibir yang harusnya banyak bicara itu seolah membisu.
"Hmm, Alvin.. Gue..." Rili seolah menjadi anak yang baru belajar bicara saja. Detak jantungnya terus berpacu yang membuat tangannya semakin berkeringat. Merasa tidak sanggup, Rili membalikkan badannya tapi justru menabrak siswi lain yang sedang membawa setumpuk kertas sehingga kertas itu berhamburan ke lantai.
"Gimana sih, kalau jalan!"
"Maaf. Gue gak sengaja." Rili kini berjongkok dan mulai mengambil kertas itu lalu menatanya.
Alvin tak tinggal diam. Kini dia membantu Rili dan berjongkok di sebelahnya. "Gak usah gerogi gitu." bisik Alvin yang hanya dibalas lirikan dari Rili. "Kalau mau bicara, ayo ikut gue."
Perasaan Rili menjadi campur aduk tak karuan.
Setelah kertas-kertas itu beres dan telah dikembalikan pada pemiliknya, Alvin segera menarik tangan Rili agar mengikutinya.
"Mau kemana?"
"Mau bicara kan? Ayo ikut..."
💞💞💞
.
.
.
Gercep banget dong si Alvin...
Mau mojok dimana nanti aku intipin... 🤭
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments
Sri Raganti Ols
Aah alvin kamu juga tau keputusannya bikin kecewa rili walau sdh diwanti wanti alasanya,,tp hati ga bisa diboongin,,dua insan ini pasti saling merindukan,ga sabar kalian bubucinan wkwkwk,,tp entah kemurkaan pa jik dara liat dan dengar mereka,,knp kurang respek ya rasanya ma dara,,dikira dia wanita yg beda juga tegas tp susah didekatin,,eh padahl hatinya masih terpaut cinta lama,,pantes jutek m rasya,,padahl klau dia g berhrp ma cinta yg lama aku pasti respk ma dara,,dan stuju jadian ma rasya
2022-12-01
1
Noviani
ayo rili jgn takut,kmu harus berani kyk mama kmu dong,,
2022-01-31
1