"Kenapa kamu bisa ada di sini?" Rasya melepas pelukannya lalu beralih menatap tajam Alvin. "Pasti ini gara-gara lo kan!!"
Mendengar tuduhan Rasya, Alvin mendengus kesal. "Lo selalu aja salahin gue!!"
"Kak, justru Alvin yang udah nolong aku. Nanti aja aku ceritain. Sekarang lebih baik kita keluar dari sini."
Mendengar pernyataan dari Rili, Rasya mengendorkan emosinya. "Ya udah. Aku bantu kamu naik." Rasya merangkul Rili tapi Rili justru melepas tangan Rasya.
"Kak, aku bisa kok. Kak Rasya bantuin Alvin aja soalnya tangan Alvin sakit." Rili meraih tali dan sudah bersiap untuk memanjat.
"Aku bantuin kamu dulu. Nanti biar tim pencari yang bantu Alvin."
Mendengar penolakan Rasya secara halus, Rili cukup kecewa. Dia tahu Rasya dan Alvin memang rival tapi disaat seperti ini harusnya mereka menyingkirkan egonya dulu. "Kak, kalau Alvin gak nolong aku tadi pasti aku yang luka, bahkan bisa aja lebih parah dari luka Alvin." Rili mulai naik ke atas dengan berpegangan tali.
Mendengar ucapan Rili, kini Rasya hanya berdiri mematung.
"Gak perlu. Gue bisa sendiri." Setelah Rili sampai di atas, Alvin meraih tali dengan tangan kanannya. Dia berusaha naik tapi hanya dengan satu tangan tidak mampu menahan berat tubuhnya. Saat dia mencoba menahan dengan tangan kirinya, dia tidak sanggup menahan rasa sakitnya.
Tanpa berkata lagi. Rasya melingkarkan tali ke perut Alvin lalu merangkul dan menahan tubuh Alvin. "Pak, bantu tarik.."
"Iya!!"
Akhirnya mereka sampai di atas jurang. Setelah melepas tali dari perut Alvin, tanpa berkata Rasya kini beralih ke sisi Rili.
"Kamu gak papa kan? Gak ada yang luka kan?" Tanya Rasya lagi untuk memastikan keadaan adiknya.
Rili menggelengkan kepalanya. "Gak papa, Kak." Lalu mereka berjalan dengan rangkulan Rasya di pundak Rili.
"Kalau ada yang sakit kamu langsung ke pos kesehatan ya."
"Iya Kak. Aku cuma capek aja sekarang."
"Ya udah kamu cepat istirahat."
Sebelum sampai di perkemahan Rili sempat menoleh Alvin. Lagi-lagi pandangan mereka bertemu. Hanya mendapat satu senyuman dari Alvin saja sudah membuat dada Rili berdebar hebat.
Gue ini kenapa sih? Jantung gue kayak ada kelainan gini sekarang.
...***...
Setelah sampai di perkemahan, Alvin kini duduk di sisi tenda sambil membasuh tangannya dengan air hangat. Mengompresnya pelan pada luka-luka lecet di sekitar tangannya
"Kak Alvin gak papa kan?"
Pertanyaan itu membuat Alvin meluruskan pandangannya. Sudah ada Dara yang kini berdiri di hadapannya. "Gak papa. Cuma luka kecil."
"Aku dengar tadi Kak Alvin jatuh ke jurang."
"Iya, jurangnya gak terlalu dalam kok." jawab Alvin. Dia kini menatap Dara mencari sosok yang Rili lihat tapi ternyata tidak ada. Dara hanya seorang diri.
Dara beralih duduk di samping Alvin. Seperti ada yang ingin Dara katakan tapi ragu.
"Ada apa?" tanya Alvin yang merasa Dara ingin menyampaikan sesuatu.
"Hmm, aku boleh tanya sesuatu."
"Boleh tanya aja." Alvin kini beralih melihat Dara.
"Hmm, Kak Alvin apa hubungan kita masih sama seperti dulu?"
Alvin terdiam. Baginya, Dara hanyalah masa lalu dan hanya sekedar cinta monyet. Memang dulu dia pergi tanpa memutuskan hubungan itu. Tidak disangka, Dara masih bertahan sampai sejauh ini.
Alvin menghela napas panjang. Dia tahu, dia sama sekali sudah tidak ada perasaan dengan Dara. Ini memang salahnya yang sudah menggantung hubungan itu. "Kita... Maaf, kita gak bisa kayak dulu lagi. Bagi aku itu hanya masa lalu. Sekali lagi aku minta maaf, aku gak ngasih kamu keputusan yang jelas."
"Iya, memang aku yang terlalu bodoh yang masih terus berharap sama Kak Alvin." Dara berdiri lalu dia berlari sambil mengusap asal air matanya yang tidak bisa dia tahan. Ya, sampai saat ini dia masih sangat mencintai Alvin.
"Dara..." Rasya melihat Dara menangis sambil berlari. Hatinya tergerak untuk mengejarnya. Dia tahan tangan Dara saat akan menjauh. "Kamu kenapa?" tanya Rasya.
Dara hanya menggelengkan kepalanya sambil berusaha melepas tangan Rasya.
"Ra, apa kamu benar-benar lupa sama aku? Kita pernah bertemu."
Dara menggelengkan kepalanya lagi. "Mungkin Kak Rasya salah orang. Bukan aku." Dara melepas paksa tangannya. Lalu berlari masuk ke dalam tenda.
Bukan kamu? Tapi hati aku mengatakan kalau dia itu kamu. Aku harus cari tahu yang sebenarnya.
Rasya berjalan mendekati Alvin yang masih duduk sendiri di samping tenda.
Alvin hanya menatap Rasya saat Rasya duduk di sebelahnya.
"Makasih lo udah nolong adik gue."
"Iya, sama-sama."
Tidak ada percakapan lain lagi. Rasya berdiri. Dia akan melangkah pergi tapi dia urungkan. "Tangan lo masih sakit."
"Sedikit."
Tak disangka Rasya kini meluruskan tangan kiri Alvin dengan satu tangan menahan bahunya lalu menariknya cukup kuat hingga berbunyi kratak.
"Arggghh, lo mau buat tangan gue makin patah!! Gila lo!!" Alvin berteriak kesakitan.
Rasya hanya menatap Alvin. Dia lepaskan tangannya lalu pergi menjauh.
"Aduh, tangan gue." Alvin mencoba menggerakkan tangannya perlahan. "Udah gak terlalu sakit. Canggih bener Rasya."
"Hei, Alvin lo gak tidur?" tanya Adit sambil duduk di sebelah Alvin.
"Iya, sebentar lagi."
"Lo ada tugas jaga pagi."
"Iya tapi gue gak bisa tidur."
Adit yang sudah menjadi sahabat Alvin sejak lama dia tahu persis pasti Alvin sekarang sedang jatuh cinta. "Lo lagi ngejar adiknya Rasya kan?"
"Sok tahu lo."
"Halah, lo gak usah bohong sama gue. Yang pertama, lo minta tukar kelas sama gue biar lo bisa jadi kakak pembimbing di kelas adiknya Rasya tu si Rili. Yang kedua tadi lo bela-belain buat undian tempat duduk biar bisa duduk sama Rili. Yang ketiga, tadi lo malah kabur dari pos satu, eh, malah ngilang sama Rili. Lo udah ngapain aja sama Rili?"
"Hushh. Lo jangan buka kartu gue. Lo tahu kan Rili itu adiknya Rasya. Gak mungkin gue deketin dia secara terang-terangan."
"Jangan bilang lo ada motif lain deketin adiknya Rasya?"
"Eh, gue gak kayak gitu. Sorry, gue saingan sama Rasya itu gak pernah main kotor. Apa lagi sampai ngorbanin cewek selucu Rili." Alvin tersenyum mengingat semua kejadian yang dia alami dengan Rili. Meskipun Rili sangat cerewet dan kasar padanya tapi itu semua justru semakin membuat Alvin gemas pada Rili.
Adit menjitak kepala Alvin agar sadar dari khayalannya. "Dasar bucin lo!! Udah gue mau tidur."
Sedangkan dari kejauhan ternyata Rasya mendengar semua pembicaraan Alvin dan Adit. "Jadi bener Alvin suka sama Rili. Sebenarnya gue gak mau Alvin dekat dengan Rili tapi kalau Rili juga suka sama Alvin bagaimana?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments
Sri Raganti Ols
Bang rasya tinggal berlapang dada aja klau saingannya jd calon adik ipar hahaha
2022-11-30
1
Nurhalimah Al Dwii Pratama
klo gmg liat" alvin kan rasya jd tau 🤭🤭🤭🤭
2022-02-21
0
Noviani
manis bgt si Alvin sama rili.. semangat thor up nya banyakin 🤭
2022-01-22
1