Setelah sampai di lokasi camping, seluruh peserta berbaris dengan rapi. Acara camping di buka oleh Rasya dan seorang guru pembimbing.
Setelah pembukaan selesai, mereka dibagi 4 orang per tenda oleh senior kelas masing-masing.
"Dara, Nana, Rika, Rili."
"Rili, kita setenda." Nana tersenyum sambil merangkul Rili.
Dara? Rili memutar bola matanya lalu melirik Dara yang pandangannya masih fokus pada Alvin. Kayaknya Dara masih suka sama Alvin?
"Sekarang pasang tenda kalian masing-masing. Tolong bekerja sama."
Setelah bubar, mereka semua menuju ke tempat pemasangan tenda sesuai grup masing-masing. Ya, tenda memang sudah disediakan dari tempat perkemahan jadi mereka tinggal memasangnya saja.
"Li, senengnya bisa setenda sama lo. Ngomong-ngomong lo bisa gak pasang tenda?" tanya Nana karena dirinya jelas tidak bisa memasangnya.
"Bisa. Diajarin Kak Rasya."
"Duh, senangnya yang punya Kakak kayak Kak Rasya, gak pengen Kakak kayak gue juga."
"Idih, lo mah bisa apa? Udah sana bersihin dulu ranting sama batu biar gak sakit kalau buat tidur." Mereka mulai bekerja sama. Meskipun Dara tidak banyak bicara tapi dia cukup cekatan. Dia bisa bekerja sama dengan Rili hingga tenda mereka sudah hampir berdiri.
Kini Rili berusaha memasang pasak, dia memukulnya dengan batu agar pasak itu menancap pada tanah.
"Dias, kamu jangan diam aja. Bantu teman yang lain, cowok lelet banget. Woy, yang di sana ngapain malah ngerumpi..."
Suara itu membuat Rili menjadi tidak fokus. Duh, suara orang itu lagi. Gerutu Rili dalam hatinya. Rili memukul lagi pasak dengan batu tapi justru kini jempol tangannya yang terpukul.
"Auww.." Rili memegang jempol tangannya. Untunglah tidak terlalu keras. Hanya sedikit memar.
"Sini gue bantu." seseorang mengambil alih pekerjaan Rili.
"Gak usah gue bisa!"
"Jangan. Nanti tangan lo kena lagi."
"Zaki lo denger gak sih. Gue bisa sendiri!!" Rili mengeraskan suaranya yang membuat teman satu grup mereka menatapnya bahkan salah satu senior yang sedari tadi mondar mandir juga memperhatikannya.
Rili kini berdiri yang diikuti oleh Zaki.
"Gue cuma mau bantu lo aja."
"Gak perlu!!"
"Rili, apa gak ada kesempatan lagi buat gue."
"Gak ada!!" Rili berancang untuk pergi tapi lagi-lagi Zaki menarik tangan Rili agar tetap singgah.
"Gue mohon."
"Zaki, bagi gue gak ada lagi kesempatan yang kedua untuk seorang pengkhianat." Rili kembali menarik tangannya. "Ki, lepasin!!"
Lagi-lagi Alvin melepas paksa tangan Zaki.
"Lo lagi!! Jangan mentang-mentang lo senior lo bisa ikut campur sama urusan gue!!" Zaki membentak Alvin. Bahkan dia mulai memancing perhatian teman lainnya.
"Lo siapanya Rili? Ada hak apa lo maksa Rili?" tanya Alvin sambil menatap tajam Zaki, membusungkan dadanya dan menantang Zaki.
"Gue mantannya Rili. Jadi gue..."
Alvin memotong perkataan Zaki. Dia menuding tepat di depan wajah Zaki. "Lo cuma mantan. Gue calon pacar Rili."
Rili melebarkan matanya begitu juga dengan beberapa pasang telinga yang mendengarnya. "Ngaco!! Aduh, telinga gue sakit dengernya." Rili membalikkan badannya.
"Lo jangan terlalu PD. Gak gampang buat dapetin Rili." Zaki melangkah pergi. Karena dia juga sebenarnya enggan memancing perhatian seperti ini.
Ya, memang tidak mudah mendapatkan Rili. Dia seperti bunga mawar yang bila tidak hati-hati menyentuhnya akan terkena duri tajam.
Alvin kini mendekati Rili sambil berbisik di telinganya. "Gak usah PD dulu. Ucapan gue tadi cuma semata belain lo biar mantan lo itu mundur."
Rili menatap kesal Alvin yang kini telah membalikkan badannya dan menjauh. Dia lepas sepatunya lalu dia lempar ke punggung Alvin. "Ngerasa sok keren banget!!"
Alvin menghentikan langkahnya. Dia mengusap punggungnya sesaat lalu segera mengambil sepatu Rili sebelum Rili mengambilnya. "Lo kurang ajar banget ya!! Lo mau gue hukum!!"
"Ada hak apa lo hukum gue!!"
"Oke, biar sepatu ini yang gue buang." Alvin berjalan cepat sambil membawa sebelah sepatu Rili.
Rili kini mengejar Alvin dengan sedikit terpincang karena hanya memakai sebelah sepatu. "Alvin balikin!!"
"Nggak!! Lo sendiri kan yang buang!!" Alvin berlari karena Rili terus mengejarnya.
"Alvin!!" Rili menghentikan langkahnya. Dia sudah lelah. "Ya udah." Dia membalikkan badannya sambil memanyunkan bibirnya.
Merasa tidak ada yang mengejarnya Alvin menghentikan langkahnya. "Hei, gitu aja ngambek. Nih!" Alvin menyerahkan sepatu Rili tapi Rili tak juga mengambilnya. Dia masih saja berjalan pelan.
"Aduh, jangan laporin ke Rasya bisa-bisa gue kena tonjok. Sini." Alvin menarik lengan Rili agar berhenti. Dia justru berjongkok dan mengangkat sebelah kaki Rili.
Rili melebarkan matanya. Alvin mau ngapain?! "Gue bisa pakai sendiri." Rili membungkukkan dirinya yang membuat kepalanya terbentur dengan kepala Alvin. Dia kini jatuh terduduk di depan Alvin.
"Rili, makanya diam aja. Sakit kan?" Alvin secara reflek mengusap kening Rili.
Andai saja tidak jaga image, Rili ingin merasakan usapan itu lebih lama tapi.. "Apaan sih?!" Rili menepis tangan Alvin lalu mengambil sepatunya. "Jangan sok romantis mau pakein sepatu segala. Ini sepatu kets bukan high heels. Kebanyakan nonton drama korea lo."
Lagi, Alvin dibuat gemas oleh Rili. Rasanya dia ingin sekali mencubit pipi chubby Rili itu.
"Rili ngapain?" tanya Rasya yang kini sudah berdiri di samping mereka berdua.
Alvin hanya diam. Kini dia berdiri sedangkan Rili meraih tangan Rasya untuk membantunya berdiri. "Gak ngapa-ngapain Kak. Tadi tali sepatu aku lepas." bohong Rili.
Tatapan Rasya kini beralih pada Alvin.
"Gue? Mau nyari kayu bakar." Alvin mengalihkan pembicaraan lalu dia segera pergi meninggalkan Rasya. Kali ini Alvin enggan berdebat dengan Rasya. Berdebat dengan Rili saja sudah cukup menyita waktu dan perasaannya.
Rasya kembali fokus dengan Rili. "Botol kamu ada di tas aku. Nih!" Rasya memberikan botol minuman Rili yang sudah dia bawa. "Kamu dari tadi belum minum?"
"Eh, udah Kak. Kan ada Aqua botol." Ya, Aqua botol yang sebotol buat berdua tentunya.
"Tenda kamu udah beres? Biar aku cek. Kalau kurang kuat nanti bisa roboh."
Ini pasti alasan Kak Rasya aja. Bilang aja kalau mau lihat Dara. Rili sangat tanggap dengan alasan Rasya kali ini. "Eh, Kak. Dara itu ternyata cuma mantannya Alvin loh jadi masih ada satu kesempatan buat deketin. Cus lah."
"Apaan sih?! Siapa yang mau deketin Dara. Lagian kamu tau dari mana soal mereka?"
"Ada deh!" Rili masuk ke dalam tenda dia sengaja memanggil Dara agar keluar.
Beberapa saat kemudian Dara keluar dan menghampiri Rasya. "Ada apa Kak? Kata Rili cari aku." tanya Dara.
Rili ngapain sih manggil Dara. "Eh, nggak. Itu.." Rasya yang memang tipikal cowok introvert sangat sulit mencari alasan hanya untuk sekedar mendekati gadis.
Dara menunggu jawaban Rasya sampai beberapa detik. "Kalau gak ada apa-apa aku mau ke toilet dulu." Dara membalikkan badannya lalu bejalan menjauh.
Lagi, Rasya hanya bisa membiarkannya pergi menjauh.
Dara, apa kamu sudah lupa semuanya??
💞💞💞
Lupa apa ya Kak? 🤔🤔
Duh, Kak Rasya nih dingin banget... Itu loh contoh usilnya Alvin.. 🤭 Gemes kan Alvin sama adek lo. 😆
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments
Sri Raganti Ols
"Dara apa kamu sudah lupa semuanya"?????jeng jeng teka teki yg blm terkuak ni,mkin penasaran lanjuttt
2022-11-30
1
Nurhalimah Al Dwii Pratama
apa jgan" rasya ama dara dlu
2022-02-21
1
Noviani
jd makin penasaran, dara itu anaknya dewa apa bukan yaa
2022-01-19
1