"Kak Rasya!!!" Nana dan kawan satu grupnya berlari kembali ke perkemahan untuk menemui Rasya.
Rasya yang saat itu tengah berdiri di posko terakhir sambil membawa buku absen menatap panik kedatangan Nana. "Ada apa?"
"Kak Rasya! Rili hilang!!"
"Apa?! Bagaimana bisa!! Terakhir kamu lihat dia dimana?" tanya Rasya yang sudah sangat khawatir dengan keadaan adiknya.
"Sebelum pos satu."
"Sya!!" Kini nampak Roni dan beberapa teman lain juga berjalan cepat menghampiri Rasya. "Alvin juga hilang. Kita gak tahu dia dimana?"
Rasya semakin khawatir. Seketika pikiran buruk menyelimuti dirinya. Dia sangat takut Alvin akan berbuat buruk dengan Rili. "Apa ada yang melihat Alvin bersama Rili sebelum hilang?"
Tidak ada yang menjawab sampai beberapa saat kemudian Dara tunjuk suara dan mendekati Rasya. "Iya. Alvin sempat nyamperin Rili setelah itu aku gak tahu mereka pergi kemana." Kata Dara lalu dia berlalu menjauhi Rasya.
"Dimana?" tanya Rasya tapi tak ada jawaban. Dara justru pergi menuju tendanya. "Sial!! Jangan sampai Alvin ngapa-ngapain Rili. Yang lain tolong cari di sekitar perkemahan."
"Rasya, lebih baik kita lapor saja pada tim pencarian." kata Pak Satria selaku guru pembimbing dan penanggung jawab acara itu.
"Iya, Pak. Kita harus cepat cari mereka." Rasya dan Pak Satria segera berjalan menuju pos keamanan.
Rili semoga kamu gak kenapa-napa. Aku merasa gagal jadi kakak gak bisa jagain kamu.
...***...
Alvin dan Rili terdiam beberapa saat. Mereka masih tetap dalam jurang yang gelap dengan sedikit cahaya dari bulan dan bintang-bintang.
Tiba-tiba Rili teringat kembali kata teror hantu itu yang terus berulang-ulang. Kembalikan?? "Kembalikan? Iya, hantu itu selalu bilang kembalikan semuanya. Jangan-jangan gue harus kembaliin lo sama Dara?"
"Hah??" Alvin sedikit tercengang mendengar kesimpulan Rili. "Emang lo pikir gue barang yang lo pinjam terus dikembaliin."
"Terus maksudnya apa? Hantu itu selalu bilang kembalikan. Kalau bukan lo terus apa?"
Alvin menghela napas. "Dulu waktu gue deket sama Dara, gak ada hantu itu di dekat Dara. Mungkin ada suatu alasan yang membuat dia kembali saat ini."
Walau IQ Rili tinggi tapi otaknya sama sekali tidak bisa berpikir tentang makhluk dari dunia lain itu, apalagi harus cari tahu alasan dia kembali sekarang.
"Selama kita belum tahu masalah di masa hidupnya, kita akan sulit mengusirnya dari dunia ini. Karena pasti ada urusan hidupnya yang belum selesai makanya dia kembali ke dunia ini."
Kini justru Rili yang dibuat heran dengan pernyataan Alvin. "Lo itu dukun ya? Kayak tahu banget kehidupan hantu."
Alvin kembali tertawa dibuatnya. "Iya dukun yang siap guna-guna lo!"
Rili memukul lengan Alvin. Dia kesal dengan jawaban Alvin yang suka ngasal. "Udah ah. Jangan ngomongin hantu. Nanti kalau dia muncul lagi gimana. Ngeri gue."
"Di sini banyak kali."
"Iya kah?" Rili semakin mendekatkan dirinya pada Alvin. Dia menjadi parno sendiri.
"Iya lah. Gue heran sama lo, kenapa lo cuma bisa lihat satu hantu. Bener-bener hantu itu ngefans sama lo."
"Hantunya cewek kali."
Alvin masih saja cekikikan. "Sekarang siapa yang pengen deket-deket gue. Jangan-jangan gue juga hantu yang nyamar jadi Alvin."
"Alvin!! Gak lucu!!" Rili mencubit perut Alvin.
"Aduh!! Belum ada satu jam sama lo rasanya gue udah babak belur. Mana tangan kiri gue tambah sakit aja rasanya."
"Iya, maaf. Habis lo godain gue terus." Rili kini memutar tubuhnya dan memunggungi Alvin.
Cukup lama, belum juga ada yang menemukan mereka. Rili mulai kedinginan walau sudah memakai jaket yang tebal. Hawa dingin yang terhirup ke hidungnya mulai membuatnya alergi dan mulai bersin-bersin.
Hachi.. Hachi. Hachi..
"Lo kenapa? Nyebar virus aja."
"Gue alergi dingin." Rili menutup hidung dan mulutnya saat hidungnya mulai terasa gatal lagi. Alergi dinginnya itu nurun dari Papi Rizal. "Duh, dingin banget.. Kapan sih mereka nemuin kita?" Saat bersin-bersinnya mereda, Rili mengusap telapak tangannya sendiri yang terasa sangat dingin.
"Dingin? Wah, kode nih."
Rili melirik apa yang dilakukan Alvin. "Lo jangan macem-macem sama gue!!" Rili menjauhkan dirinya saat Alvin membuka jaketnya. "Alvin, lo mau ngapain?" Alvin justru semakin mendekati Rili. "Alvin!!"
"Bisa gak otak lo gak mikir kotor terus sama gue!!" Alvin menutupi bagian depan tubuh Rili termasuk kedua tangan Rili.
"Lo ngapain makein gue jaket. Gue udah pake jaket. Emang lo gak dingin?!"
"Ya dingin. Gue mau lihat lengan gue." Alvin kini melihat lengan bahu kirinya yang terasa sakit. "Memar. Pantesan tambah sakit."
Rili merasa bersalah. Karena melindunginya, Alvin jadi terluka. "Maaf." Rili melepas jaket Alvin lalu mengembalikannya pada Alvin dengan memakaikannya di punggungnya. "Lo yang lebih butuh ini."
Deg!! Ada sesuatu yang bergetar dalam dada Alvin. Dengan cepat dia meraih tangan Rili yang terasa sangat dingin itu lalu menggenggamnya. "Lo gak perlu minta maaf. Udah seharusnya seorang lelaki melindungi perempuan."
Walau sebenarnya Rili ingin merasakan kehangatan tangan Alvin lebih lama tapi dia melepasnya. Lalu mengalihkan dirinya untuk menenangkan detak jantung yang kian melonjak.
"Tangan lo dingin banget loh. Gak butuh kehangatan." Alvin masih saja menggoda Rili.
"Gak usah modus! Gue belum bisa percaya gitu aja sama lo!"
...***...
"Rili!!!"
"Alvin!!!"
Rasya berjalan masuk ke dalam hutan dengan beberapa orang tim pencari yang sudah berpencar. Sudah hampir satu jam dia mencarinya tapi Rili maupun Alvin belum juga ditemukan.
"Rili kamu dimana?" Rasya menyoroti setiap sudut dengan senter tapi hanya ada pohon-pohon besar yang nampak. Rasya sangat khawatir dengan keadaan Rili, di dalam hutan yang gelap ini dia pasti sangat ketakutan.
"Hati-hati, di depan ada jurang." kata salah satu dari tim pencari.
Rasya menyoroti tanah di sekitar jurang itu. Ya, seperti ada jejak kaki. Dia kini semakin mendekat. "Jam tangan Rili." Dia mengambil jam tangan yang berada di dekat jurang. "Iya, benar ini jam tangan Rili." Kemudian Rasya semakin mendekat ke tepi jurang. Dia arahkan senternya menuju dasar jurang. "Rili!!"
Mendengar suara Rasya seketika senyum di bibir Rili mengembang. Dia berdiri dan melambaikan kedua tangannya pada Rasya. "Kak Rasya, aku di sini.."
Rasya kini bisa bernapas lega. Akhirnya dia berhasil menemukan Rili. "Rili, akhirnya aku nemuin kamu. Ada tali, biar aku yang turun ke bawah bantu mereka."
"Ada." Lalu mereka mengikat tali pada pohon besar dan Rasya turun ke bawah jurang dengan bantuan tali itu.
"Rili, kamu gak kenapa-napa kan?"
"Kak Rasya." Seketika Rili memeluk Rasya. Rasa takutnya kini hilang. "Aku gak papa, Kak."
"Kenapa kamu bisa ada di sini?" Rasya melepas pelukannya lalu menatap tajam Alvin. "Pasti ini gara-gara lo kan!!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments
Azizah az
si Rasya negatif thinking Mulu Ama Alvin
2024-03-08
0