Malam itu, nyala api unggun sudah berkobar. Seluruh murid kini berkumpul melingkari api unggun.
"Memasuki kegiatan inti malam ini yaitu jelajah malam, kalian gabung satu grup cewek sama satu grup cowok. Kalian cari bendera sesuai warna yang ada dalam peta...." Rasya menjelaskan kegiatan malam hari itu.
Mereka mulai bergabung dalam satu grup. Per grup sudah mendapat peta masing-masing.
"Li, kok ada acara masuk dalam hutan segala sih. Gue takut." Nana menggandeng lengan Rili saat mulai masuk ke dalam hutan.
"Udah, gak usah takut. Gak masuk ke dalam banget. Tuh, ada peta dan petunjuk arah."
Mereka berdua mengikuti Roni, Adi, Vian, dan Bima teman sekelas mereka yang bergabung dalam satu grup.
"Eh, Na. Kalau lo takut mending sini dekat sama gue." kata Adi yang mulai menggoda Nana.
"Ih, ogah. Gue gak takut. Nih, gue berani." Nana melepas tangan Rili, dia kini ikut bergabung melihat peta yang dipegang oleh Vian.
"Bendera warna merah. Kayaknya ada di sekitar sini. Bentar lagi posko satu kalau kita belum dapatin bendera bakal kena hukum di posko."
"Penjajahan banget mereka. Coba senior-senior itu aja yang suruh nyari. Emang dikira gampang nyari bendera kecil dalam gelap gini."
Di saat semua sibuk mencari, Rili merasakan ada aura yang berbeda.
Kembalikan...
Suara itu...
Rili akan melangkahkan kakinya tapi tiba-tiba terjatuh. Dia merasa ada tangan yang menggenggam pergelangan kakinya.
"Kalau jalan itu hati-hati." Lagi, Alvin datang dan langsung membantunya berdiri.
"Lo ngapain di sini?" tanya Rili. Dia masih melihat tanah yang tadi dia injak. Dia penasaran apa yang sudah membuatnya terjatuh. Hanya ada rumput, tidak ada apa-apa lagi.
"Gue jaga di posko satu. Grup lo lelet banget. Mau tahu letak benderanya dimana?"
Rili tak menjawab Alvin. Dia kini justru melihat Dara yang sedang menatapnya dengan marah. "Dara..." Rili berjalan mendekatinya. "Ra, sorry gue gak ada apa-apa sama Alvin. Lo jangan salah paham dulu."
"Alvin bukan siapa-siapa gue.." kata Dara sambil berlalu.
"Tapi Ra, lo marah?" Rili terus berjalan mengikuti Dara bahkan mereka terpisah dari grup mereka.
"Li, lo mau kemana? Jangan ke sana!!" Teriakan Alvin seolah tidak Rili dengar.
Rili masih saja mengikuti Dara. Hingga Dara berhenti, lalu Rili memegang pundaknya. "Ra..."
Dara membalikkan badannya. Wajahnya berubah menjadi hitam, tawanya menyeringai dengan tatapan tajam penuh kemarahan.
Rili melepas tangannya dari pundak Dara. Dia berjalan mundur. "Lo bukan Dara. Mau lo apa?!"
Sosok hantu itu lagi!
Sosok itu kini berjalan melayang mendekati Rili. "Kembalikan semua yang seharusnya bukan jadi milik kamu!!"
"Kembalikan apa??" Dengan sisa keberaniannya Rili bertanya.
Hantu itu semakin mendekat. Walau badan Rili terasa lemas, dia harus segera berlari. Dia memutar tubuhnya dan berlari sekuat tenaga tanpa arah.
Hantu itu terus melayang mengejarnya.
"Rili, jangan berlari ke sana!!!" Tak disangka Alvin masih terus mengejar Rili. Teriakan-teriakan Alvin memanggil Rili seolah tidak Rili dengar sama sekali.
"Rili!! Awas di depan lo!!!" Alvin semakin mempercepat langkahnya. Dia gapai tubuh Rili dengan kedua tangannya. Dia lindungi Rili dalam dekapannya saat mereka terjatuh ke dalam jurang setinggi 3 meter.
Detak jantung Rili seolah berhenti beberapa saat ketika tubuhnya terasa melayang dan terjatuh. Dia sama sekali tidak melihat ada jurang kecil di depannya.
Rili membuka matanya dan kini dia berada dalam pelukan seseorang. Dia mendongakkan kepalanya. "Alvin!!"
Alvin meringis kesakitan. Lengan kirinya terbentur tanah untuk melindungi kepala Rili.
"Alvin!" Rili melepas pelukan Alvin lalu dia duduk sambil membantu Alvin bangun. Seandainya saja Alvin tidak mendekapnya dan melindungi tubuhnya mungkin saja dia yang akan terluka.
Alvin berusaha menggerakkan tangan kirinya pelan tapi terasa sangat sakit di sekitar lengan sampai bahu. "Gue dari tadi teriaki lo, kenapa lari terus?!"
Rili sama sekali tidak mendengar teriakan Alvin. "Gue gak dengar suara lo." Rili memegang pelan lengan Alvin. "Sakit?"
"Iya, untungnya lo gak papa."
Rili menatap nanar Alvin. Tak disangka Alvin menyelamatkan hidupnya dan mimpi semalam benar adanya.
"Hei, udah lo gak usah merasa utang budi." Alvin berdiri dan melihat ke atas jurang. Meskipun cuma sekitar 3 meter tapi rasanya sulit untuk naik ke atas dengan kondisi tanah yang sangat licin ditambah tangannya yang terasa sakit, dia tidak mungkin juga bisa membantu Rili untuk sampai ke atas.
"Biar gue coba naik ke atas. Mungkin gue bisa."
"Jangan!!" Alvin mencegah Rili saat kakinya akan berancang memanjat. "Tanahnya licin. Nanti lo jatuh. Mereka pasti nemuin kita."
"Kalau mereka gak nemuin kita?"
"Ya, kita tua bersama di sini."
Rili mulai kesal dengan jawaban asal Alvin. "Belum sampai tua juga besok kita udah lewat dimakan binatang buas atau mati kedinginan. Gue gak mau nanti ada headline news kayak gini, sepasang remaja ditemukan tewas jatuh ke jurang. Ih, ogah, gue kan bukan pasangan lo."
Alvin tertawa mendengar perkataan Rili. "Kejauhan neng kalau mikir. Sini tangan lo." Alvin meraih tangan Rili.
"Eh, lo jangan macem-macem ya."
"Gue cuma mau satu macem. Sini!" Alvin justru melepas jam tangan Rili dan melemparnya ke atas jurang.
"Jam mahal gue!!"
"Lo lebih mentingin jam atau hidup lo!!"
Rili baru sadar dengan ide Alvin. Ya, dengan meninggalkan jejak di atas pasti tim pencari akan tahu keberadaan mereka.
"Sekarang tinggal tunggu aja mereka untuk nemuin kita." Alvin kini duduk di atas sebuah akar besar yang menjalar.
Meski ragu, akhirnya Rili duduk di sebelah Alvin.
Keadaan sunyi sejenak, hanya binatang malam yang bersuara saling bersahutan.
"Rili, lo sekarang harus lebih hati-hati. Ada hantu jahat yang mengintai lo. Yang lo kejar tadi itu bukan Dara tapi hantu." kata Alvin memecah kesunyian, sekaligus membuat Rili menatapnya tidak percaya.
"Lo tahu? Lo juga bisa lihat?"
Alvin menganggukkan kepalanya. "Bukan cuma lo. Gue juga punya sixth sense sejak lahir. Makanya gue udah biasa lihat hal kayak gitu."
"Tapi biasanya gue gak pernah lihat penampakan. Hantu itu memang udah beberapa kali ada di mimpi gue. Sebelumnya gue memang punya precognitive dream."
"Mimpi yang jadi nyata?"
Rili menganggukkan kepalanya.
"Itu masuk kategori sixth sense. Makanya lo juga bisa lihat hantu."
Rili menghela napas panjang sambil meluruskan pandangannya. "Apa lo gak capek punya kelebihan semacam itu? Gue sendiri aja rasanya udah capek. Tiap malam selalu mimpi buruk. Gue cuma tahu mimpi itu aja, gak bisa berbuat apa-apa saat semua itu jadi nyata. Apalagi kalau lihat sosok hantu itu secara nyata, gue benar-benar gak sanggup." Baru kali ini Rili bisa mencurahkan apa yang sebenarnya dia rasakan. Setidaknya sedikit beban hidupnya berkurang.
Alvin merangkul Rili dengan tangan kanannya lalu mengusap bahu Rili. "Lo itu cewek kuat karena hanya orang-orang yang terpilih yang memiliki kelebihan itu."
Rili kini beralih menatap Alvin. "Iya. Tapi tolong tangan lo jangan cari kesempatan!"
Seketika Alvin mengangkat tangannya. Rili benar-benar seperti bunga mawar, baru sentuh sedikit sudah kena durinya.
Mereka terdiam beberapa saat. Tiba-tiba dia teringat kembali kata teror hantu itu yang terus berulang-ulang. Kembalikan??. "Kembalikan? Iya, hantu itu selalu bilang kembalikan semuanya. Jangan-jangan gue harus kembaliin lo sama Dara?"
"Hah??"
💞💞💞
Lah, dikira Alvin barang harus dikembaliin ke pemiliknya.. 🤭🤭 Gagal tegang kan jadinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments
Sri Raganti Ols
huffft lega rasanya,klau ada org yg satu frekwensi yaa,rily dan Alvin emng cocok,,,
2022-11-30
1
Amanda Ikaputri
gw gk setuju sih kalau kk rasya sama dara kyknya dia org gabener
2022-08-21
0
Nurhalimah Al Dwii Pratama
tuch kan alvin bisa liat bener kan cocok sma rili apa jgan" cincin itu ya
2022-02-21
0