Rasa dingin semakin terasa menusuk di sekujur tubuh Rili. Dia tidur dengan gelisah. Walau matanya terpejam tapi rasanya, pikirannya jauh melayang entah kemana.
"Jangan sakiti dia!!!"
Suara itu lagi...
Rili membuka matanya. Di sebelahnya ada Nana yang sudah tertidur lelap lalu Rika dan juga Dara. Kini mata Rili membulat saat melihat sosok itu berada di dekat Dara. Dia menatapnya tajam. Lagi-lagi tubuh Rili seolah tidak bisa bergerak. Jantungnya berdegup dengan kencang saat rasa takut itu mulai menyelimutinya. Napasnya semakin berat, apalagi saat melihatnya menyeringai ke arahnya.
"Jangan sakiti dia!! Dan kembalikan itu semua!!"
Hantu itu melayang ke arahnya. Dia mencekik leher Rili. Rili berusaha melepas tangan itu tapi cengkeramannya sangat kuat.
Rili tidak bisa bernapas. Hantu itu tak juga melepaskan tangannya dari leher Rili.
"Uhuk.. Uhuk.." Rili terbatuk dan bangun dari tidurnya. Dia melihat ke sisi kanannya, sudah tidak ada lagi makhluk itu.
Ternyata itu hanya mimpi. Tapi ada yang aneh. Saat dia meraba lehernya terasa sangat sakit. Sakit.. Barusan sebenarnya mimpi atau bukan?
Tubuh Rili semakin menggigil. Dia memutuskan keluar dari tenda untuk mencari kehangatan di dekat api unggun sisa semalam.
Rili berjalan sambil melipat kedua tangannya. Dari kejauhan dia melihat ada seseorang yang sedang duduk di dekat api unggun. Rili berjalan mendekat, wajah itu terlihat jelas.
Alvin...
Rili kini duduk di sebelah Alvin yang membuat Alvin terlonjak kaget.
"Astaga! Gue kira bukan manusia."
Rili justru memukul lengan Alvin. "Emang wajah gue mirip sama hantu."
Alvin hanya tertawa. Bukan seperti itu maksudnya. Dia terkejut karena saat itu dia sedang melamun. "Baru jam 3, lo kok udah bangun?"
"Gue gak bisa tidur. Lo sendiri ngapain melamun sendirian di sini." Rili memajukan tangannya lalu mendekatkannya pada api unggun yang telah mengecil untuk sedikit menghangatkan dirinya.
"Gue mikirin lo."
"Apa??" Seketika Rili menoleh Alvin. Sebenarnya itu sudah cukup jelas ditangkap oleh telinganya tapi ingin memastikan apa dirinya tidak salah dengar.
"Eh, nggak. Gue ada tugas jaga pagi. Takutnya ada anak yang keluar tenda dan malah berduaan." jelas Alvin. Ya, sebenarnya dirinya sekarang ini apa namanya kalau gak berduaan.
"Kalau gitu kita? Gue balik ke tenda aja ya." Rili akan berdiri tapi Alvin mencegahnya dengan menarik tangannya hingga berhasil membuat Rili terduduk kembali.
"Kalau sama gue aman. Lagian kita gak ngapa-ngapain. Katanya lo kedinginan?"
Rili kembali mendekatkan dirinya pada api unggun. "Iya sih. Badan gue rasanya menggigil banget. Apa di sini memang sedingin ini?"
"Emang dingin sih. Tapi gak terlalu. Bentar ya." Alvin berdiri dan meninggalkan Rili beberapa saat lalu dia kembali lagi dengan membawa segelas teh hangat. "Nih, biar hangat." Alvin memberikannya pada Rili setelah duduk di sampingnya.
Rili tak juga mengambilnya. "Aman? Gak lo kasih obat aneh-aneh kan?"
Alvin tertawa mendengar pertanyaan menyelidik Rili. "Lo kebanyakan nonton film. Ini 100 persen aman dan halal."
Rili akhirnya meraih gelas itu. Memegangnya dengan kedua tangan untuk merasakan kehangatan di tangannya. "Lo yang buat?"
"Nggak. Tinggal ambil aja di termos. Tadi cewek-cewek OSIS yang buat."
"Makasih ya."
"It's oke."
Rili meminum teh itu sedikit demi sedikit. Tubuhnya mulai menghangat untuk sesaat. Setelah minumannya habis Rili meletakkan gelas kosong di sebelahnya, lalu mulai memecah kebisuan. "Tangan lo udah gak sakit?"
"Udah lumayan. Tadi habis dilurusin sama Rasya. Kakak lo emang canggih."
"Dilurusin?" Rili mengerutkan keningnya. Lalu kemudian Rili tertawa. "Kan Kak Rasya ikut bela diri jadi sedikit tahu tentang itu." Rili menghela napas panjang lalu menatap sesaat langit yang masih gelap. "Kenapa sih lo gak baikan aja sama Kak Rasya?"
"Baikan? Itu sulit. Kakak lo itu kaku sedangkan gue emosional. Ya, meskipun kita selalu bersaing dengan sehat. Tapi lain halnya kalau seandainya Rasya jadi Kakak ipar gue baru gue akan baikan sama dia."
Rili kini menatap tajam Alvin. "Kakak ipar?Emang adiknya Rasya mau sama lo?"
Dengan senyuman menggodanya Alvin menjawab, "Pasti."
Satu pukulan berhasil dilayangkan Rili di lengan Alvin. "Pede banget lo! Tuh urusin dulu Dara. Dia itu masih cinta sama lo."
"Dara? Gue udah ngasih kepastian sama dia semalam."
Raut wajah Rili berubah. Mungkin saja Alvin kembali bersama dengan Dara.
"Gue udah bilang kalau dia hanya masa lalu gue."
Ternyata dugaan Rili salah. Alvin justru memutuskan Dara. "Lo tega ya..." Lain di hati tentu lain di bibir.
"Tega? Gue udah gak cinta sama dia.."
Rili kini meluruskan pandangannya. Dia melihat api unggun itu yang semakin lama semakin kecil dan hanya menyisakan bara kayu. Rasa dingin itu mulai menyerang tubuhnya lagi. Keadaan sunyi sejenak. Tiba-tiba Rili teringat lagi mimpi semalam yang terasa sangat nyata. Jangan sakiti dia? Apa ini memang ada hubungannya sama Dara?
"Lo mikirin apa?" Alvin kini menatap Rili yang sedari tadi hanya menatap kosong tanpa berkedip. Dia bisa melihat wajah pucat Rili dengan bibir yang sedikit membiru. "Lo kedinginan lagi? Mau gue ambilin teh lagi?"
Rili menggelengkan kepalanya. "Gak usah. Gue cuma mikirin mimpi gue barusan."
"Lo mimpi buruk lagi?"
Rili menganggukkan kepalanya. "Gue gak tahu mimpi itu nyata atau gak, yang jelas gue bisa dengar hantu itu bilang. Jangan sakiti dia. Jangan-jangan dia gak mau Dara patah hati karena lo."
Alvin masih tidak percaya. Apa sebenarnya hubungan Dara dengan hantu itu? Apa benar hantu itu tidak ingin Dara terluka karenanya. "Jangan mikir aneh-aneh."
"Tapi gue takut, Vin." Suara Rili bergetar. Kali ini dia merasa sangat lemah. "Hantu itu nyekik gue. Gue gak tahu itu mimpi atau gak yang jelas leher gue terasa sangat sakit sekarang." Rili mengusap lehernya yang terasa sakit.
"Hantu itu nyekik lo!" Alvin membulatkan matanya. Dia kini melihat leher Rili. Menyibakkan rambut yang menutupinya. Ada bekas membiru seperti bekas kuku tajam yang menusuk. "Iya, ini nyata bukan mimpi." Alvin semakin khawatir dengan kondisi yang dihadapi Rili. Apa yang harus dia lakukan?
"Gue takut. Mungkin aja hantu itu ingin gue lenyap dari dunia ini." Rili merasa gamang.
Alvin mengalihkan pandangannya dari Rili. Dia merasa sangat tidak tega. Ingin dia memeluk dan menenangkannya tapi itu tidak mungkin bisa dia lakukan saat ini. "Lo jangan takut karena semakin lo takut hantu itu akan semakin neror lo. Gue janji, gue akan bantu lo lepas dari teror itu."
Tidak ada jawaban dari Rili.
"Rili lo harus kuat ya. Gue yakin lo..." Alvin menghentikan perkataannya saat dia merasakan kepala Rili bersandar di pundaknya. Tiba-tiba dadanya berdebar hebat. Antara ingin meneruskan dan tidak ingin. "Rili, nanti kalau ada yang lihat dikirain kita macem-macem." Padahal sebenarnya sih gue juga pengen macem-macem.
"Rili..." Tidak ada sahutan dari Rili. Alvin kini beralih ke pipi Rili dan melihat wajahnya. "Rili!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments
Sri Raganti Ols
rili pingsan??? jadi penasaran apa dara anak dewa dan karin?masih satu darah kan ma dewi,atau apa ya,,duh penasaran,blm ketebak ni misterinya
2022-11-30
1
Nurhalimah Al Dwii Pratama
dasar alvin klo w udh lah pacaran langsung😂😂😂
2022-02-21
0
Noviani
aaa knpa di gantung si Thor😭
2022-01-23
1