Kini Rasya dan Alvin saling tatap tajam. Bagaimana jika saingannya kali ini adalah kakak kandung Rili? Alvin jelas tidak bisa merebutnya.
"Lo lagi!" Rasya menuding Alvin. "Lo duduk di tempat lain!"
"Iya, gue paham!!" Alvin naik ke dalam bus lalu duduk di deretan paling belakang.
Rili dan Rasya kini sudah duduk di tempatnya. Rasya masih saja merengkuh tubuh Rili dan menyandarkan kepala Rili di bahunya. "Masih pusing?" tanya Rasya yang bisa merasakan suhu badan Rili belum juga turun.
Rili hanya menganggukkan kepalanya.
Beberapa saat kemudian bus mulai berjalan. Beberapa pasang mata masih saja melihat kagum pada Rasya yang terus menjaga Rili.
"Duh, Kak ketua OSIS perhatian banget sama adiknya." celetuk salah seorang teman sekelas Rili.
"Iya ya. Adiknya saja diperhatiin kayak gitu apalagi pasangannya."
"Jangan pada ganggu, itu calon Nana punya." perkataan Nana membuat sorakan keras dari teman-temannya.
Rasya yang memang tipikal cowok dingin tidak menanggapi omongan mereka. Dia kini justru mengusap kepala Rili saat Rili mulai memejamkan matanya. Rili, sebenarnya kamu kenapa? Hantu apa yang kamu maksud? Sebelumnya kamu gak pernah sakit sampai kayak gini...
"Nggak! Jangan!!" Lagi-lagi, Rili mengigau walau hanya pelan.
"Rili, kenapa?" Rasya membangunkan Rili dengan menepuk pipinya pelan.
Rili membuka matanya lalu menegakkan duduknya sambil bersandar. Dia kini menghela napas panjang untuk menghilangkan pikiran-pikiran buruknya.
"Kenapa?" Rasya mengusap pelipis Rili yang berkeringat.
Rili hanya menggelengkan kepalanya. Dia kini meluruskan pandangannya, lagi-lagi hantu itu muncul dan menatapnya tajam. Rili menarik napas dalam. Rasanya dia sudah tidak sanggup harus terus dikejar rasa takut seperti ini. "Jangan muncul lagi, gue mohon..." Gumam Rili yang cukup bisa didengar oleh Rasya.
"Apa?" Rasya kini menatap wajah ketakutan Rili.
Rili hanya bisa menenggelamkan wajahnya di pundak Rasya.
Ini gak bisa dibiarin!!
Alvin yang mengetahui apa yang dilihat Rili, dia berdiri dan berjalan mendekat menghampiri hantu itu. Apa yang dilakukan Alvin membuat tanda tanya beberapa penghuni bus. Dia berdiri persis di samping tempat duduk Dara.
"Apa yang kamu mau?" tanya Alvin. Dia beranikan diri menatap hantu itu. Tapi yang lain lihat, Alvin menatap kosong hal yang ada di depannya.
"Jangan sakiti Dara! Kembalikan milik Dara!"
Alvin melebarkan matanya. Lalu kini dia beralih menatap Dara yang juga menatapnya.
Dara? Jadi benar apa yang dikatakan Rili. Gak mungkin!! Ini gak masuk akal!!!
"Kak Alvin kenapa?" tanya Dara yang melihat Alvin masih saja berdiri mematung.
"Nggak. Gak papa." Alvin membalikkan badannya lalu dia kini beralih menatap Rili yang masih ketakutan. Dia berdiri di belakang tempat duduk Rili lalu membungkukkan badannya dan berkata pelan. "Jangan takut. Lo tenang, jangan mikir apa-apa. Dia udah pergi."
Mendengar perkataan Alvin, Rili membuka matanya lalu kembali menegakkan duduknya.
Rasya hanya menatap Alvin lalu berganti Rili. Apa memang benar Alvin atau pun Rili bisa melihat makluk kasat mata itu?
Rili ingin menoleh menatap Alvin tapi saat dia menggerakkan kepalanya lehernya terasa sangat sakit. "Au!!" Rili memegang lehernya yang terasa semakin sakit.
"Leher lo masih sakit?"
"Rili kenapa?" Rasya melihat leher Rili. Luka itu semakin membiru. "Ini kenapa? Pasti kamu demam gara-gara ini." Rasya menyentuh pelan luka di leher Rili yang membuat Rili meringis kesakitan. "Kayak bekas jari dan kuku-kuku tajam. Rili, ini sebenarnya kenapa?"
Rili terdiam sejenak.
Lalu Rasya menatap Alvin. "Alvin lo tahu?"
Alvin hanya menganggukkan kepalanya.
"Rili?"
Akhirnya Rili mulai bersuara. "Ini karena hantu itu, Kak. Kak Rasya percaya kan sekarang, ada hantu yang ngejar-ngejar aku. Mungkin aja dia incar nyawa aku."
"Apa?!" Rasya terkejut dengan cerita Rili. Dia tidak habis pikir, bagaimana bisa Rili diteror oleh hantu sampai separah ini.
"Lo ngomong apa? Lo tenang aja, gue akan bantu lo. Gue janji!" Setelah mengungkapkan keyakinannya untuk membantu Rili, Alvin kembali ke tempatnya. Dia duduk bersandar sambil menghela napas panjang. Dia harus bisa mengulik hantu itu lewat Dara.
"Kamu tenang ya. Gak akan terjadi apa-apa." Rasya kembali merengkuh tubuh Rili dan menyandarkan kepala Rili di bahunya. "Apa gak sebaiknya cerita ke papi aja soal masalah ini?"
Rili menggelengkan kepalanya. "Jangan Kak. Nanti Papi khawatir. Aku bisa hadapi ini."
Rasya tahu, adiknya yang satu ini walaupun kadang suka manja tapi dia adalah gadis yang kuat. Apa yang jadi masalah dalam hidupnya, sebisa mungkin dia akan menyelesaikannya sendiri.
Dua jam telah berlalu, bus yang mereka tumpangi kini telah berhenti di depan sekolah. Rili dan Rasya langsung menuju mobil Papi Rizal yang sudah menunggunya di dekat gerbang sekolah mereka karena 30 menit sebelumnya Rasya sudah memberi tahu Papinya untuk menjemputnya.
Melihat wajah pucat putrinya, Rizal dan juga Lisa yang saat itu memang sengaja ikut menjemput mereka menjadi sangat khawatir. "Sayang, kamu kenapa? Sakit?"
Rasya dan Rili sudah duduk di kursi belakang.
"Rili demam, Mi. Mungkin kecapekan dan Rili kan gak betah udara dingin." jawab Rasya karena Rili hanya diam saja sedari tadi.
Lisa menyentuh kening Rili untuk mengecek suhu badannya. "Badan kamu panas banget, sayang. Kita langsung periksa ke klinik saja ya. Ayo, Pi."
"Iya." Rizal segera melajukan mobilnya meninggalkan sekolah dan menuju klinik.
"Rasya apa banyak kegiatan yang kamu adakan di camping sampai Rili kecapekan?" tanya Rizal sambil pandangannya tetap fokus ke jalanan.
"Ya, seperti biasa Pi. Gak banyak sebenarnya." jawab Rasya. Dia tidak mungkin menceritakan yang sebenarnya karena sudah berjanji pada Rili.
"Jadi ingat Mami kalian dulu, Mami kalian pas camping juga demam. Untungnya sih ada Papi jadi bisa cepat sembuh."
Lisa menyenggol lengan Rizal sambil berbisik, "Papi, itu kan beda. Jangan bahas masa lalu lagi. Gak cukup semalam mengenang masa lalunya."
Rizal tersenyum kecil. Sebenarnya bukan ingin mengenang masa lalu atau ingin mengadu keromantisan saat anak mereka kesusahan tanpa sepengetahuan mereka tapi semalam mereka memang tidak bisa tidur memikirkan Rili. Entah kenapa rasa khawatir itu muncul secara tiba-tiba.
Lisa kini menoleh ke belakang dan mengulurkan tangannya lalu mengusap tangan Rili untuk memberikan kenyamanan. "Sabar ya sayang, setelah periksa dan minum obat pasti kamu akan segera sembuh."
Rili hanya mengangguk sambil tersenyum.
...***...
"Dara tunggu!!" Alvin memanggil Dara saat Dara akan pergi menjauh.
Dara menghentikan langkahnya tanpa menoleh Alvin sehingga membuat Alvin kini berjalan dan berhenti di sisinya.
"Maaf, soal semalam. Maksud aku bukan seperti itu."
Dara kini menatap Alvin. Dia mencari jawaban dari pertanyaannya sendiri. Apa sebenarnya mau Alvin?
"Sebenarnya aku mau kita..." Belum sempat Alvin meneruskan perkataannya ada suara yang memanggil Dara.
"Dara..." Seorang Bapak yang masih cukup muda melambaikan tangannya ke arah Dara. Dia masih berada dalam mobilnya dengan kaca mobil yang sudah terbuka.
"Papa udah jemput. Maaf..." Dara melangkah pergi meninggalkan Alvin.
💞💞💞
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments
Sri Raganti Ols
penasaran dara anak siapa yaa,,ada hubunganya dgn klg bu maya pastinya,,,,
2022-12-01
1
Hani Hanifah
dara itu siapa sih anaknya Rey atau anaknya dewa
2022-11-27
1
Nurhalimah Al Dwii Pratama
yah alvin malh mao balikan sma dara pasti
2022-02-21
0