Cahaya yang bersinar kebiru- biruan itu bergerak cepat mendekati perahu kakaknya. Menghantam sisi kanan perahu yang di kemudikan Ardi hingga perahu itu retak membuat air semakin banyak masuk ke dalam perahu.
" Mas Ardi, Ayo lompat. kapal ini akan tenggelam.! teriak Herman.
Udin dan Herman kemudian melompat berbarengan ke dalam air. Sementara Mas Ardi terlihat masih di dalam ruang kemudi.
Air sudah memenuhi perahu dengan cepat. Perlahan-lahan perahu itu mulai tenggelam, bersama Ardi yang rupanya masih terjebak di ruang kemudi. Sampai akhirnya perahu itu benar benar tenggelam karena patah pada retakannya dengan buritan perahu lebih dahulu tenggelam menuju dasar laut sedangkan haluannya kembali timbul dalam keadaan terbalik.
Terlihat dua orang anak buah kakaknya itu keluar dari air dan berusaha berenang menggapai haluan perahu untuk dijadikan tempat pegangan. Namun Asmi tak melihat kakaknya Ardi muncul berenang ke permukaan menyusul dua orang temannya.
" Hasyeem, kakakku tak ada. kakakku mana, Hasyeem?? " tanya Asmi kalap. Dia tak dapat menahan diri hingga lupa akan kata - kata Hasyeem.
" Asmi, kendalikan dirimu. Jangan gegabah!! Ingat kata - kataku.! " seru Hasyeem. Dia berusaha menahan tubuh wanita itu agar tidak melakukan hal yang gegabah dan membahayakan dirinya.
Asmi meronta dalam genggaman tangan Hasyeem. Genggaman tangan Asmi terlepas dari pegangan Hasyeem. Detik berikutnya, Asmi sudah melompat menerjunkan dirinya ke laut menyusul kakaknya, Ardi.
" ASMI!! " Hasyeem berusaha meraih kembali tubuh Asmi kedalam genggamannya. Namun terlambat...
Tubuh Asmi sudah tenggelam di telan ganasnya ombak lautan yang bergejolak membawa tubuh wanita itu masuk ke dasar laut.
.
Hasyeem menjadi marah dan gusar. Kecemasan yang dia takutkan kini terjadi juga. Asmi tak dapat mengendalikan diri dan pikirannya.
Dengan rasa marah dan gusar, Hasyeem pun melesat memasuki lautan yang masih saja bergejolak itu, menyusul Asmi. Apa boleh buat. Dia harus bertindak demi menyelamatkan hidup wanita itu, walaupun harus berhadapan dengan Sang Penguasa Pantai Selatan.
Tubuh Asmi melayang layang di dalam Lautan yang gelap dan dingin. Antara sadar dan tidak Asmi bertanya mengapa dia melompat ke dalam lautan ini, pikirnya. Dimana kakakku? Bagaimana bisa dia menemukan kakaknya? Kemana dia harus mencari Mas Ardi?
Kesadaran Asmi semakin terkikis habis. Ingatannya akan bayangan Mas Ardi dan juga bayang - bayang Hasyeem perlahan mengabur seiring dengan hilangnya kesadaran Asmi. Lalu kemudian semuanya menjadi gelap, sepi dan hampa.
...----...
" Asmi, sadarlah!! Asmi!! " Hasyeem memeluk tubuh Asmi dan mencoba menyadarkan wanita cantik yang sekarang ini sedang tidak sadarkan diri. Mereka berdua kini berada di dasar laut. Tepatnya di istana Sang Penguasa Pantai Selatan.
Hasyeem berhasil mendapatkan tubuh Asmi yang terombang-ambing di kedalaman lautan dalam keadaan pingsan. Dengan kekuatannya, dia membawa tubuh Asmi menembus batas alam ghaib dan memasuki istana Penguasa Pantai Selatan.
Asmi tersadar setelah Hasyeem menyalurkan sedikit tenaga dalamnya ke tubuh wanita itu.
Tubuh Asmi tergolek lemah karena lemas dan kehabisan tenaga.
" Hasyeem, akhirnya kau datang juga menyelamatkan aku.! "
" dasar tolol, kenapa kau lepaskan tanganku. kau hampir saja mati tenggelam jika aku tidak cepat menemukanmu.! " kata Hasyeem dengan gusar. Dia tak dapat menutupi kekesalannya karena Asmi sudah melepaskan pegangan tangannya dan melompat menyusul kakaknya ke dalam laut.
" Maafkan Aku, tapi aku tak bisa membiarkan kakakku mati tenggelam di laut ! "
" Hmm, bodoh. bodoh. apa dengan kamu melompat ke dalam laut kamu bisa menemukan kakakmu? "
Asmi terdiam. Benar perkataan Hasyeem. Tadi ketika dia berada di dalam laut yang gelap, Dia tak bisa menemukan keberadaan kakaknya itu. Malahan dia pun nyaris mati tenggelam di laut jika Hasyeem tak segera menemukannya.
" Hasyeem, kita ada dimana? " tanya Asmi yang bingung dengan suasana di sekitarnya. Sepertinya mereka sedang berada di sebuah istana.
" Kita berada di istana Penguasa Pantai Selatan. "
" Apa?? kalau begitu, pasti kakakku ada di istana ini. Wanita itu pasti sudah mengambil kakakku sebagai tumbalnya lagi.! huh, tak akan kubiarkan! " Asmi berusaha untuk bangkit. Namun tubuhnya limbung karena masih lemas.
"Sabarlah, dulu. Kita masih punya waktu untuk menyelamatkan kakakmu. " kata Hasyeem sambil memapah tubuh Asmi.
Sebuah suara halus menegur mereka, membuat mereka menoleh bersamaan. Tampaklah sesosok makhluk dengan tubuh setengah ikan setengah manusia memakai mahkota di kepalanya dengan sebuah trisula di tangannya.
Wajahnya yang tampan, terlihat menakutkan dengan kedua taring kecil yang tersembul diantara kedua bibirnya, dan sorot mata kehijauan yang menyala - nyala.
" Rupanya istana ini kedatangan tamu yang tak di undang, "
Hasyeem buru - buru membawa tubuh Asmi ke belakangnya.
" Maafkan kami, jika yang mulia kurang berkenan dengan kedatangan kami yang sungguh tidak sopan ini. Perkenalkan Aku pangeran Hasyeem, putra Raja Haizzar, Penguasa Gunung Khayangan. " kata Hasyeem memperkenalkan diri.
" Hahahahah, rupanya anda adalah Pangeran Hasyeem yang terkenal itu. Namaku Marik. Aku adalah Sang Penguasa tempat ini. Sungguh suatu kehormatan bagiku dapat bertemu langsung dengan Penguasa Bukit Malaikat putra Penguasa Gunung Khayangan. Tentunya ada sesuatu yang sangat penting sampai anda sudi datang berkunjung kemari. " kembali makhluk itu tertawa, menampakkan serangkaian gigi - giginya yang runcing dan bertaring.
" Memanglah ada sesuatu yang sangat penting yang membawaku kemari, Yang Mulia. " jawab Pangeran Hasyeem lagi.
" hmm, jika benar demikian, marilah kita berbicara di dalam, Pangeran.! " Makhluk yang ternyata adalah Sang penguasa Pantai Selatan itu kemudian mengajak Pangeran Hasyeem memasuki istana yang besar dan megah.
Di dalam istana, suasana sangat meriah. Mereka seperti sedang berpesta untuk merayakan sesuatu.
Asmi dapat melihat berbagai macam bentuk makhluk aneh dengan wajah yang menyeramkan.
Makhluk yang bernama Marik itupun kini sudah duduk di atas singgasana kebesarannya. Di kiri kanannya duduk beberapa orang wanita yang Asmi duga adalah dayang dayang atau para selirnya.
Sang penguasa Pantai Selatan yang bernama Marik itupun mempersilahkan Pangeran Hasyeem dan Asmi duduk di atas kursi yang sudah tersedia di ruang istana itu.
Kembali Asmi memandang ke sekeliling tempat itu, netranya sedang mencari sosok yang sangat ingin dia temui. Hingga pada suatu ketika, pandangannya tertuju pada sosok yang baru saja melangkah memasuki ruang istana itu.
Hampir saja Asmi berdiri dari duduknya jika saja tidak ditahan oleh gerakan tangan Pangeran Hasyeem yang mengisyaratkan agar dia tenang dan kembali duduk ditempatnya semula.
" Pangeran Hasyeem, perkenalkan, ini adalah Putri Husna, selir terkasihku di istana ini." Marik memperkenalkan Husna kepada Pangeran Hasyeem dan Asmi. Pandangan mereka bertemu, dan seutas senyum sinis terlontar di bibir Husna ketika dia melihat Asmi.
" hm, rupanya ada darah turunan Hardi Rahardian yang lain di tempat ini. " Husna berkata dengan dingin.
" Benarkah, dinda Husna? " Marik bertanya dengan antusias. Kedua bibirnya membentuk seringai yang lebar sambil menatap Asmi.
" Benar, Aku adalah keturunan Hardi Rahardian. Aku adalah generasi kelima dari keluarga Hardi Rahardian . Aku datang kemari untuk membawa kembali kakakku dari istana ini.!! " kata Asmi dengan lantangnya. Marik, Penguasa Pantai Selatan itu menjadi semakin tertarik dengan keberanian Asmi.
" hmm, berani sekali kamu berkata demikian. Apa kamu sudah bosan hidup hingga kamu dengan sukarela datang kemari menyerahkan diri.Hihihi..!! " kata Husna sambil tertawa mengejek. Dia bertolak pinggang dengan angkuhnya.
Kemudian, dengan sekali tepukan. Beberapa pengawal istana masuk dengan membawa sesosok tubuh. Sosok tubuh itu adalah tubuh Ardi yang tergolek lemah tak sadarkan diri.
Asmi ingin berlari mendekati kakaknya, namun sosok Husna sudah lebih dahulu berdiri di hadapannya.
" Kamu menginginkan dia? " tunjuk Husna ke arah Ardi.
" Tentu saja, dia adalah kakakku. Aku akan segera membawanya pergi dari tempat ini. " kata Asmi dengan berani.
" Hihihihi, aku hargai keberanianmu. Namun tak semudah itu kamu bisa membawanya pergi dari sini dalam keadaan hidup. aku meminta satu syarat, "
" Katakan, apa syaratmu! " kata Asmi menatap Putri Husna.
" kalahkan aku dulu, baru kau bisa membawa kakakmu itu pergi dari tempat ini hidup - hidup! "
Pangeran Hasyeem terperanjat mendengar tantangan dari selir Sang penguasa Pantai Selatan itu. Dia menoleh ke arah Asmi. Wanita juga cantik itu sedang menatap kepadanya. Seakan memohon pertolongan kepadanya.
" Apakah anda sedang bergurau, Putri Husna. Manalah mungkin temanku ini bisa mengalahkan tuanku Putri. " kata pangeran Hasyeem mencoba untuk menengahi keduanya.
" Kalau begitu tawaranku batal. silahkan pergi dari tempat ini. Dan lelaki itu akan jadi budakku selamanya. " kata Putri Husna sambil berlalu pergi.
" tunggu, baiklah. aku akan bertarung dengan anda. " jawab Asmi. " Tapi aku juga punya syarat, jika aku berhasil mengalahkanmu, maka kamu harus mencabut kutukanmu pada seluruh keturunan Hardi Rahardian dan membebaskan kami semua. " kata Asmi lagi.
" Permintaan kamu terlalu banyak. Tapi baiklah.. aku penuhi permintaanmu. " Selesai berkata demikian Putri Husna lalu bergerak ke arah Asmi. Dia menerjang dan menyerang wanita itu dengan selendangnya yang menyambar nyambar berkelebatan menyasar tubuh Asmi.
Asmi mengeluarkan segenap kemampuan kanuragan yang dulu dia pelajari dari almarhum kakeknya. Tubuh Asmi berkelebatan menghindari serangan Putri Husna.
" Cih, kamu hanya bisa menghindar saja, dasar wanita lemah. Terima seranganku.!! " Husna mengeluarkan sesuatu dari tangannya. Sebilah keris kecil. Asmi terkesiap melihat itu. Dia mundur beberapa langkah.
Di saat itulah sebuah sinar putih hadir di hadapan Asmi. Sinar itu kemudian menjelma menjadi sosok laki-laki berwajah tampan dan berwibawa.
" HARDI!! " Putri Husna tertegun menatap sosok lelaki yang berdiri tak jauh dari Asmi.
" Aku sungguh tak menyangka bahwa dendammu membawamu pada angkara murka yang tak berkesudahan. Aku yang berdosa, mengapa harus anak cucu turunanku yang menebusnya."
" Mereka darah dagingmu.!! Merekalah yang harus membayar semua dendammu. "
"Apakah kamu sudah merasa puas? Husna sadarlah dendam tak akan membuatmu tenang. Aku mohon, lepaskan mereka, biar aku yang menjadi ganti mereka, jika itu bisa membuat kamu puas. "
" Tidak, tidak aku tidak akan pernah puas sebelum semua keturunanmu mati.! "
" Astaghfirullah, Sadarlah Husna! "
Putri Husna kemudian menyerang sosok Kakek Hardi dengan kalap. Namun dengan mudahnya sosok Hardi mengalahkan Putri Husna. Putri Husna mendelik marah, dia ingin menyerang Asmi dan Kakek Hardi, namun sebuah suara berseru keras
" CUKUP,..!!! Dinda Husna, hentikan! Marik, Sang penguasa Pantai Selatan itu bergerak turun mendekat ke arah Kakek Hardi dan Asmi.
" Sungguh aku menghargai keberanian kalian. Jiwa suci gadis itu dan ketulusannya berkorban sebenarnya sudah mematahkan kutukan itu." kata Marik Sang penguasa Pantai Selatan.
" Kemarilah, aku akan membantumu untuk membebaskan kakakmu dari kutukan itu. " Marik lalu bergerak ke arah Asmi. Tangannya meraih telapak tangan Asmi lalu menggoreskan kukunya yang tajam ke atas telapak tangan Asmi.
Darah segar keluar dari telapak tangan Asmi yang kemudian menetes ke lantai.
Ajaib sekali, darah Asmi berubah menjadi sinar putih kebiruan yang menggulung gulung membungkus tubuh Putri Husna. Tak lama kemudian tubuh Putri Husna lenyap. Yang tersisa hanya sesosok wanita tua yang sudah keriput dan lemah.
" Husna..? Kakek Hardi berjalan menghampiri sosok itu.
" Hardi, maafkan aku. Aku yang terbakar dendam sampai tega mengutuk semua keturunanmu.. "
" Tidak Husna, aku juga bersalah karena tidak menepati janji. Asal kamu tahu Husna aku mencintaimu. Dan tak sedetikpun dalam tarikan nafasku, tanpa rasa sesal dan bersalah di hatiku. " Kakek Hardi menangis sambil memeluk tubuh keriput itu yang kini semakin terkulai lemah dan kemudian tak lagi bernafas.
Ya.. dendam kesumat Husna telah berakhir seiring dengan itu tubuh Husna perlahan-lahan menghilang bersama dengan tubuh Kakek Hardi.
" Pangeran Hasyeem, silahkan anda bawa kembali wanita ini dan juga kakaknya. Urusan kita sudah cukup sampai disini. Aku pastikan kutukan itu telah hilang.! "
Pangeran Hasyeem mengangguk faham. Dia lalu mohon diri pada Penguasa Pantai Selatan dan kemudian menghilang dari tempat itu sambil membawa Asmi dan Ardi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 206 Episodes
Comments
Mr.VANO
keren Asmi,,,,kau sdh menghapus kutukan dr putri husna
2023-06-05
0
Rangrizal28
keren......top buat kak othor
2023-05-31
0
Erni Kusumawati
ya Allah sampai nahan nafas baca bab ini..
2023-05-21
0