"Assalamu'alaikum, dek Asmi.. mbak mau ngabarin kamu, kalo Mas Ardi sedang sakit . "
Sebuah chat masuk melalui Whatsapp tertulis nama Mbak Nur. Asmi sangat hapal karena itu adalah nomor istri Mas Ardi yang sekarang ada di Kalimantan Tengah.
Mas Ardi sedang sakit? kening Asmi berkerut. Memang Mas Ardi sakit apa ? Buru buru dia menelpon kakak iparnya itu untuk menanyakan langsung kondisi kakaknya.
" Halo mbak Nur ! "
" ........ "
" kalo boleh tahu Mas Ardi sakit apa,mbak? " tanya Asmi penasaran.
"....... "
" Hah, kok aneh! "
" ..... "
" I.. iya mbak. Saya usahakan bisa datang ke sana, tapi saya nggak janji. oke deh mbak. udah dulu ya,mbak. Saya mau telpon Dek Mirna dulu. Mau kasih tau berita ini sama dia. "
" ..... "
" Assalamu'alaikum "
" ...... "
Asmi menutup telepon itu kemudian menelpon Mirna adiknya untuk memberitahu tentang kondisi Mas Ardi, kakak tertua mereka yang kini sedang sakit parah.
Mirna adiknya itu langsung panik. Dia menangis dan minta Asmi agar secepatnya menemani dia untuk pergi ke Kalteng menemui Mas Ardi.
Memang di antara mereka berempat, Mirna adalah yang paling dekat dengan Mas Ardi. Satu lagi adik perempuannya yaitu Delia yang baru menikah dua tahun yang lalu, nasibnya hampir sama dengan Asmi, sampai sekarang masih belum di beri momongan. Delia ikut Sang suami ke Australia. Karena memang suaminya bekerja di Sana. Mereka semua empat bersaudara. Hanya Mas Ardi satu satunya anak laki-laki yang terlahir dalam keluarga mereka.
Di sinilah sekarang, Asmi dan Mirna. Mereka berdua memutuskan pergi ke Kalteng untuk menemui Mas Ardi karena mengkhawatirkan keadaan kakak laki-laki satu satunya itu.
Mirna pergi bersama anaknya. Wanita yang sedang hamil itu tampak agak sedikit kerepotan. Untung saja dia mengajak Asmi, kakaknya sehingga bisa meringankan bebannya yang kerepotan karena harus mengurus balita dan dalam keadaan hamil besar pula.
" kayaknya sebentar lagi kita akan segera sampai. " kata Asmi pada Mirna. Mobil yang mereka tumpangi dari bandara sudah memasuki desa tempat tinggal Mas Ardi.
Jarak antara bandara dan desa tempat tinggal Mas Ardi cukup jauh. Mereka harus berkendara selama kurang lebih dua jam tanpa berhenti. Belum lagi jalan setapak yang mereka lalui setelah turun dari mobil. Cukup melelahkan, apalagi buat ibu hamil seperti Mirna. Tak heran begitu sampai di rumah Mas Ardi, mereka langsung tergeletak lemas karena kelelahan.
" Mas.... Mas Ardi. Masya Allah Mas! kenapa sampai begini keadaan kamu, Mas?! " jerit Mirna yang tak dapat menahan diri ketika melihat keadaan Mas Ardi, kakak mereka. Dia menangis meraung melihat kondisi Sang kakak.
" Mas...! "Asmi tak mampu berkata kata. Lidahnya kelu. Dia juga nampak sangat terpukul menyaksikan kondisi kakaknya yang sungguh sangat menyedihkan sekali. Tubuhnya kurus hanya tinggal tulang belulang saja yang membalut kulit.
Menurut cerita mbak Nur, kakak ipar nya. Mas Ardi sudah hampir delapan bulan menderita penyakit aneh. Dia tak pernah mau makan. Kalaupun makan itu hanya sesekali saja. Tepatnya setiap malam jum'at. Dia hanya mau makan nasi kuning dengan lauk ayam , dan bunga tujuh macam. Setiap malam, mulai dari menjelang magrib hingga menjelang subuh, masnya itu tidak pernah tidur. Barulah setelah orang selesai sholat subuh, Mas Ardi bisa tertidur lelap.
Mbak Nur sudah membawa Mas Ardi berobat ke mana-mana. Dari berobat ke dokter spesialis hingga dukun kampung, namun hasilnya nihil. Untuk itulah Mbak Nur menghubungi mereka, karena sudah putus asa. Tak tahu apa yang harus dia lakukan pada suaminya itu.
" Mas, sungguh malang sekali nasibmu, Mas! " Kata Asmi sambil memeluk tubuh kakaknya itu. Hatinya sungguh pilu.
^^^-----^^^
Sore hari menjelang maghrib, Asmi dan Mirna di kagetkan oleh teriakan Mas Ardi. Tepatnya saat suara azan di mesjid yang terletak dekat rumah mereka berkumandang.
" Ahhh, panas.. panas! hentikan itu tolol, hentikan.....! " racau suara Mas Ardi memecah keheningan senja yang mulai di isi kesibukan warga yang ingin beribadah sholat magrib.
" Astaghfirullah, Nyebut Mas! nyebut! kata Asmi dan Mirna bersamaan. Mereka berdua saling berpandangan tak mengerti mengapa Mas Ardi yang tadi siang anteng dan diam saja, kini mendadak histeris dan berteriak macam orang yang tidak waras.
" Seperti itu sudah keadaan Mas mu tiap hari, Asmi. " kata Mbak Nur sambil berurai air mata. Dia hanya bisa pasrah dengan keadaan suaminya.
" Kapan Mas Ardi akan berhenti bersikap gelisah dan berteriak seperti ini, Mbak? "
" Nanti jika sudah menjelang pagi hari. "
Asmi dan Mirna menghela nafas berat.
" Kamu tidur saja dek Mirna, kasian anakmu dan juga bayi dalam kandunganmu..! kamu perlu istirahat, dek! "
" Iya, dek. Kamu tidurnya di kamar tamu sana sama Nadia anakmu, biar nggak ke ganggu. " Kata mbak Nur memerintahkan agar Mirna segera
membawa Nadia anaknya untuk segera tidur karena sudah terlalu lelah. Balita itu terlihat sangat kelelahan akibat perjalanan jauh.
Tinggallah kini hanya Asmi dan Mbak Nur yang begadang menemani Mas Ardi yang masih saja gelisah tak mau berhenti meracau.
Asmi berinisiatif untuk ke kamar mandi. Dia ingin membersihkan diri dan berniat akan melaksanakan sholat Isya. Karena sekarang sudah lewat jam sembilan malam. Waktu Isya tadi sudah terlewati karena terlalu panik dengan ulah Mas Ardi yang baru pertama kalinya mereka lihat.
Setelah selesai mandi, Asmi segera mengambil wudhu dan segera melaksanakan sholat Isya. Setelah selesai sholat, Asmi mengambil Alquran dan mulai membacanya. Namun baru saja Asmi membaca Taawuz dan Basmallah, mendadak Mas Ardi berteriak histeris.
" Ahhh.. panas.. panas!! hentikan! panas...! " Asmi segera menutup Alquran tersebut dan berlari menghampiri kakaknya. Namun kakaknya itu malah mendorong tubuh Asmi hingga terjungkal ke belakang.
" Asmi..!! " jerit Mbak Asmi.. Mirna yang sudah terlelap, kembali terbangun oleh suara gaduh itu.
" Jangan mendekat.. panas! jangan mendekat! " Mas Ardi kembali berteriak sambil tangannya menghalau ke arah Asmi, mengisyaratkan agar wanita itu menjauh darinya.
" Siapa kamu yang masuk ke raga kakakku !? " seru Asmi bertanya dengan lantang. Dia yakin bahwa tubuh kakaknya itu sudah di rasuki roh jahat atau Jin karena melihat gejala-gejala yang terjadi.
Asmi kembali melantunkan ayat ayat suci Al-Quran yang tadi sempat tertunda karena teriakan Mas Ardi. Namun dia kali ini tak peduli, walaupun Mas Ardi akan berteriak teriak kepanasan atau marah. Karena dia yakin, bahwa itu bukanlah Mas Ardi yang berteriak, tapi roh jahat atau Jin yang bersemayam di tubuh kakaknya itu.
" Bismillahirrahmanirrahim.... " Alif laaaam miiimmm. Zalikal kitabu la raiba fiihi hudal lilmuttakiim. Allazi nayu' minun nabil ghaibi wayukimu nashalaata wa mimma rozaknaahum yum fiquun. .."
Bug!!! sebuah pukulan mendarat di punggung Asmi. Wanita itu jatuh tersungkur mencium mushaf di depannya karena pukulan tersebut.
" Mas Ardi, Mas....!! " jerit Mbak Nur seraya berusaha menarik dan memeluk tubuh kurus suaminya agar tidak menyakiti Asmi. Mirna segera menolong Asmi agar kakaknya itu bisa bangun kembali.
Maaf Ardi yang mulai kalap berusaha untuk kembali menyerang Asmi. Dengan beringas dia maju berusaha untuk memukul Asmi. Namun sebuah kekuatan yang tak terlihat seperti menghalangi Mas Ardi untuk maju, malah sebaliknya kini laki-laki itu terpelantig beberapa meter ke belakang.
Asmi kembali melanjutkan membaca lantunan ayat-ayat suci Al-Quran yang tadi sempat terputus
" Wallazi na yuk minum nabimaa unzila ilaika wanna unzilamin kabliq. Wabil akhiratihum yuukinun. "
" Hentikan, ow..panas.. panas!! " kembali teriakan dari mulut Mas Ardi terdengar. Kakak tertua Asmi itu semakin kalap dan beringas.
Dia bergerak bangun dan menerjang Asmi, namun kembali sebuah kekuatan yang tak terlihat mendorong tubuh Ardi hingga jatuh terpental ke belakang.
Mas Ardi mendelik ke arah Asmi dengan pandangan ketakutan. Tubuhnya gemetar ketika memandang Asmi yang masih saja terus melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran.
Tak ada yang tahu dan dapat melihat kecuali Asmi dan Mas Ardi. Asmi dapat melihat dengan jelas kalau Pangeran Hasyeem lah yang membuat kakaknya itu terpental kembali ke belakang.
Namun dalam pandangan Ardi, di depan Asmi berdiri sesosok makhluk tinggi besar yang berwajah menyeramkan dengan bentuk seperti gorilla raksasa dengan taring yang panjang. Sosok itu terlihat memakai mahkota di kepalanya. Mahkota yang oleh bangsa jin di kenali sebagai Mahkota kebesaran Sang Penguasa seluruh Bangsa Jin di daerah itu.
Terlihat Mas Ardi yang tadinya marah dan meracau tak karuan, kini terdiam dan tertunduk takut saat memandang Asmi. Wajah kurus dan tirus itu kini terlihat lebih pias dari sebelumnya.
" Ampun, ampunkan hamba, paduka yang mulia. Ampunkan hamba yang tak tahu diri. hamba mohon ampun, paduka ..! " Mas Ardi menunduk dan memohon ampun seraya memberi hormat dan sembah sujud ke arah Asmi.
Mbak Nur dan Mirna saling pandang tak mengerti..' Apa yang telah terjadi ?????'
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 206 Episodes
Comments
Iyan Anderson
genderewo bagian muslim nya dong ciri2 kek gitu mah 😅
2023-04-24
1
Linda Andriany
wah anak buah pngerab hasyeem itu
2023-04-12
0
Ica Susanti
kasian deh loh ampun juga kan
2023-03-16
0