Ilham kembali menyesap kopi hitam manis buatan ibunya seraya tangannya mencomot goreng ubi jalar yang terhidang di atas meja di ruang tamu. Pagi itu dia makan sarapan yang dibuatkan oleh ibunya. Sedangkan Ayu istrinya masih meringkuk di tempat tidur.
Ibunya memang menginap di rumahnya malam ini untuk menemani Ayu yang lagi kumat kolokannya.
Ilham memejamkan matanya. Ada gurat-gurat lelah tergambar di wajahnya yang terbilang cukup tampan dengan kumis tipis dan bulu-bulu halus di dagu. Wajahnya membayangkan seraut wajah cantik Ayu, Eh bukan! Tapi wajah Asmi.
Ya,..Ilham jadi heran sendiri mengapa dia selalu membayangkan wajah mantan istrinya itu semenjak dia menceraikan wanita itu.
Bayangan Asmi yang berbincang akrab dengan Wira kembali tergambar di pelupuk matanya membuat dia geram.
Rasanya dia tidak rela kalau perempuan yang kemarin baru saja ia ceraikan itu kini dekat dengan laki-laki lain.
'Huh, Wira brengsek! Sepertinya laki-laki itu sudah tahu kalau aku sudah menceraikan Asmi dan mulai mendekatinya. Awas saja kalau dia macam-macam. Aku tak akan tinggal diam' maki Ilham dalam hati, gusar.
Dia lalu masuk ke dalam kamar mencari Ayu istrinya namun yang dia dapati istri mudanya itu masih saja meringkuk pulas di tempat tidur.
Dulu, pagi-pagi sekali Asmi istrinya itu sudah sibuk di dapur berkutat dengan alat masak dan menyiapkan segala macam kebutuhannya mulai dari menyiapkan sarapan hingga menyiapkan baju kerjanya.
Namun kini, semua itu tak dia dapatkan dari Ayu. Ayu dengan semua sifat manja dan kolokannya terlebih saat sedang hamil seperti saat ini, mau tak mau membuat dia harus banyak bersabar. Untunglah ada Sang Ibu yang selalu siap sedia membantunya.
Ilham menghela nafas. Mengapa sekarang dia jadi membeda-bedakan antara Ayu dan Asmi. Rasanya ada sesuatu yang hilang dari dirinya sejak perpisahannya dengan mantan istrinya itu.
" Ayu, ayo bangun! " Ilham menggoyang-goyangkan tubuh Ayu, Sang istri agar mau bangun namun istrinya itu hanya menggeliat sebentar kemudian menarik kembali selimutnya untuk lanjut tidur lagi.
"Ayu, Mas mau berangkat kerja. Tolong kamu siapkan baju kerja mas? " Mata Ayu sedikit terbuka. Dia lalu menurunkan sedikit selimutnya seraya berkata "Ambil sendiri lah, Mas. Bukannya mas sudah tahu dimana letak baju mas. Adek masih ngantuk, Mas! " Tangan Ayu kembali bergerak untuk menarik selimutnya.
"Dulu, Asmi selalu bangun pagi dan melayani aku mulai dari menyiapkan sarapan sampai menyiapkan baju kerjaku, dek" kata Ilham dengan bersungut-sungut.
Mata Ayu melotot, dia tidak terima jika harus di bandingkan dengan Asmi.
"Jadi mas menyesal nikahi aku! Kalau gitu, kenapa mas nggak minta balikan lagi sama Mbak Asmi-!Biar ada yang layani." Bentak Asmi dengan kasar. matanya sudah mulai berkaca-kaca. Dia kesal karena pagi-pagi suaminya sudah membuatnya marah dengan membanding- membandingkan dia dan mantan istrinya itu.
"Mas tidak bermaksud begitu, sayang. Mas hanya butuh sedikit perhatian dan bantuan adek supaya mas cepat selesai" kata Ilham yang menjadi serba salah melihat Ayu yang marah dan ngambek.
Ayu menghentakkan kakinya kesal. Dia membuka lemari besar di kamar itu dan mengambilkan baju kerja buat suaminya dengan muka cemberut.
" Nih, bajunya. Pake aja sendiri-!" Ayu meletakkan baju itu di kasur kemudian melangkah pergi ke kamar mandi.
Ilham mengambil baju kerjanya sambil menggeleng-gelengkan kepala. Sifat Ayu sungguh sangat bertolak belakang dengan Asmi yang manis dan penuh perhatian. Ilham kembali membandingkan Ayu dengan mantan istrinya, lagi. Ada sedikit rasa penyesalan yang kini tengah hadir dalam sanubarinya. Mengapa dia dulu buru-buru menceraikan istrinya. Dan kini mantan istrinya itu sedang di uber-uber lelaki lain. Dan Ilham merasa tidak terima akan hal itu.
^^^***^^^
Asmi menggeliat bangun karena di rasanya hari sudah siang dan perutnya sudah kelaparan. Malam tadi dia tak bisa tidur. Baru setelah solat subuh tadi, Asmi dapat memejamkan matanya.
Tubuh Asmi rasanya remuk semua karena tadi malam tanpa ampun dia terus menyerang lelaki tampan jelmaan jin yang selalu saja muncul mengganggu dirinya ketika dia hendak tidur.
Walaupun lelaki dari bangsa jin itu tampaknya tidak mau menyakitinya, terbukti dari dirinya yang selalu saja mengelak dari serangan Asmi tanpa mau membalas. Namun, tetap saja kehadirannya sangat mengganggu Asmi.
"Assalamu'alaikum, Asmi" sebuah suara tanpa wujud menyapanya.
Asmi mendelik kaget. Astaga! Jin ini benar-benar menguji kesabaran nya.
"Kamu masih belum pergi juga, hah! Apa maumu Hai jin keparat! " maki Asmi yang sudah mulai emosi. Dia kesal karena menyadari jin itu belum juga pergi dari rumahnya padahal sudah dia usir.
Lelaki berwajah tampan itu kembali hadir di hadapannya dalam sekejap.
" Astaghfirullah, Asmi! Istighfar, nggak baik seorang perempuan muslimah secantik kamu mengumpat dengan kata - kata kasar seperti itu" Hasyeem mengingatkan seraya masih tersenyum tanpa memperdulikan tatapan Asmi yang seakan-akan mau menelannya.
" Cih, kamu tidak usah sok-sokan menasehati aku. Kalian bangsa Jin hanya bisa menyesatkan manusia saja kerjanya! " kata Asmi TakTak mau kalah.
" Tidak semua bangsa jin itu jahat, Asmi. Kami sama dengan kalian bangsa manusia. Ada yang kafir dan ada juga yang muslim. Nah, aku berasal dari golongan jin muslim. Mana mungkin aku berniat menyesatkan kamu" Hasyeem dengan sabar menjelaskan kepada manusia cantik di hadapannya itu tentang asal usul bangsanya.
" Aku tak mau tahu, pokoknya kamu harus pergi dari sini. kamu harus tinggalkan rumahku sekarang juga" Usir Asmi geram. Semakin dia tak sabaran menghadapi Jin tampan di hadapannya ini.
" Aku tak mau pergi sebelum kamu menerima pertemanan aku"
Asmi menutup wajahnya dengan kedua tangan. 'Ya Tuhan! mimpi apa sih aku semalam. Lepas dari lelaki buaya darat seperti Mas Ilham kini malah harus bertemu dengan lelaki buaya darat dari bangsa Jin.' keluhnya.
" Aku bukan buaya darat seperti suamimu." Hasyeem seakan tahu isi kepala Asmi membuat Asmi menjadi heran.
" Kamu bisa membaca pikiranku, ya! " tanya Asmi yang kini mulai merasa tidak nyaman karena Jin tampan di depannya itu terus saja menatapnya.
" Iya, itulah kelebihan bangsa kami yang bisa menebak isi hati dan jalan pikiran anak manusia." kata Hasyeem lagi.
" Baiklah, aku mau. Kita bisa berteman sekarang. Tapi... ada syaratnya.. "
" Apa syaratnya ,Asmi? " Hasyeem bertanya dengan sedikit rpenasaran.
" Syaratnya jangan muncul tiba-tiba tanpa ku panggil. Jangan ganggu privasiku. Dan jangan coba-coba untuk berbuat mesum dengan mengintipku.. "
" Hahahaha.... ! " Hasyeem tertawa geli.
" Otakmu itu isinya tahu, ya! kok pikiranmu kotor sekali. Heh, dengar ya! walaupun kami tidak terlihat oleh bangsamu, tapi kami juga tahu tata aturan. Kami tak pernah memanfaatkan kelebihan kami itu untuk berbuat mesum! "
Salma membuang muka karena malu. Hasyeem seolah-olah mengisyaratkan bahwa Dia bisa saja mengintip Asmi saat wanita itu melakukan berbagai aktivitas di kamar kecil tanpa sepengetahuannya. Namun Jin tampan itu tak mau dan tak akan pernah melakukan hal itu.
Asmi bergidik membayangkan yang terjadi jika semua bangsa Jin ada di setiap tempat. Karena konon katanya bangsa jin hidup berdampingan dengan manusia.
" Hmm, baiklah. Sesuai janjiku.. Aku pergi sekarang karena kau dan aku sudah berteman. Tapi jika kau membutuhkan bantuanku kau bisa memanggilku dengan menyebut mamaku. Aku akan datang menemuimu" kata Hasyeem lalu kemudian jin tampan itu menghilang dari pandangan mata Asmi.
Asmi menghela napas. Dia memegangi perutnya yang sudah bernyanyi minta di isi.
" Pergilah ke dapur. Aku sudah menyiapkan makanan di meja makan. Jangan khawatir, semuanya halal dan asli bisa di makan. " Suara Hasyeem terdengar samar-samar di telinga Asmi sebelum berlalu.
Asmi yang merasa tak percaya segera berlari ke arah dapur dan benar saja di atas meja makan di dapurnya sudah terhidang aneka makanan dan minuman yang semuanya nyata dan dapat di sentuh serta di makan oleh Asmi.
Asmi hanya bisa melongo takjub. Tanpa bicara lagi dia segera menyantap makanan itu dengan lahap karena memang dia sudah sangat lapar sekali sampai habis tak bersisa.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 206 Episodes
Comments
Minaaida
mohon maaf nama suami Asmi adalah ilham, typo ya kk
2024-05-30
0
Ria Cahya
sebenarnya namanya ilham / harun bingung jadinya thoorr
2024-05-30
0
lily
koreksi, pas kata "bentak asmi" harusnya "bentak ayu "
2023-12-09
1