Pagi itu sesuai instruksi dari Hasyeem, Asmi berjalan lurus ke arah matahari terbit yaitu arah Timur. Setelah berjalan cukup jauh, ternyata benar, di sana dia sampai di pantai. Pantai itu dekat dengan dermaga, tempat perahu dan kapal besar biasa singgah untuk berlabuh. Para nelayan termasuk Mas Ardi biasa menambatkan perahu mereka di dermaga itu.
Asmi pun melarungkan baju bekas di pakai Mas Ardi tadi malam yang dia bawa ke laut. Saat baju Mas Ardi menyentuh air laut, seketika air laut yang tadinya tenang, kini bergolak dan berputar putar seperti ada yang akan naik ke permukaan. Kemudian sekejap saja baju Mas Ardi tenggelam lurus ke bawah seperti ada yang menarik, baju itu seketika hilang di telan air laut yang bergelombang.
Setelah melaksanakan perintah Hasyeem, Asmi bermaksud ingin segera pulang kembali ke rumah Mas Ardi. Namun, dalam perjalanan pulang di dermaga, sebuah suara memanggilnya.
" dek, dek Asmi.!! " Asmi menoleh ke arah sumber suara. Dia mendapati Wira yang ada di seberang jalan sedang berjalan ke arahnya.
" Loh, Mas Wira. Koq sampean bisa ada di sini? " tanya Asmi yang merasa terkejut akan kehadiran Wira di tempat itu. Dia mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan lelaki itu.
" kau lupa dek..Aku kan kerja di kapal. kebetulan kapalku berlayar ke Kalteng dan berlabuh di dermaga ini. Jadi, ya di sinilah Mas sekarang." Wira tersenyum seraya tangannya menggenggam erat jemari tangan Asmi. Ada kerinduan yang tak dapat dia sembunyikan pada wanita itu.
" Oh, iya ya mas. Adek lupa kalau mas itu kerja di kapal. "
" Terus dek Asmi, kenapa bisa ada di tempat ini? " Wira balik bertanya.
" Aku berkunjung ke rumah Mas Ardi. Kebetulan kakakku sedang sakit, Mas! "
" Apa? Mas Ardi sakit?! "
" Iya, mas. Tapi alhamdulillah sekarang sudah agak mendingan. "
"oh, syukur alhamdulillah kalau sudah agak mendingan. " Wira menarik nafas lega mendengar keterangan Asmi. " Tapi, ngomong ngomong, rumah Mas Ardi di mana, Dek? " tanya Wira kemudian.
" Oh, itu Mas di atas. Di desa mekar sari, RT. 48 no. 23. Mas tanya aja rumah Mas Ardi atau tanya saja di mana rumah Ayahnya Dina. " kata Asmi menjelaskan di mana alamat rumah kakaknya itu kepada Wira.
" Oh, baiklah. aku sepertinya tahu desa itu. Aku akan ke sana besok jika tak ada halangan. "
" Iya, Mas. datang aja ke sana. Kalau begitu Asmi pulang dulu ya, Mas. " kata Asmi pamit pada Wira
" tunggu dulu, dek. biar aku antar kamu pulang. "
Nggak usah, Mas. Adek takut ngerepotin Mas. Mas kan harus bekerja. " tolak Asmi halus. Dia tak ingin merepotkan lelaki itu.
" Nggak, aku nggak repot. Aku juga nggak ada kerjaan pagi ini. Sudah, kamu tunggu dulu di sini. jangan ke mana-mana. "
Wira bergegas pergi ke Pangkalan ojek di dekat dermaga dan tak lama kemudian dia sudah kembali lagi dengan mengendarai sepeda motor.
" Ayo, naik. Mas antar kamu, sekalian mas juga mau nengokin Mas Ardi. " Asmi pun segera naik ke jok belakang motor dengan perasaan canggung. Wira dan Asmi yang berboncengan segera melaju meninggalkan tempat itu ke kediaman Mas Ardi, kakak Asmi.
Wira mengantarkan Asmi ke rumah Mas Ardi. Lelaki itu juga singgah dan berkunjung sambil bersilahturahmi dengan Mas Ardi dan keluarganya. Keadaan Mas Ardi sudah terlihat lebih baik dari hari sebelumnya. Dia sudah bisa di ajak berkomunikasi dan sudah mulai mau di suruh makan.
Tadi pagi menurut Mbak Nur, kakaknya itu minta makan dan begitu di ambilkan makanan, dia minta nambah. Kakaknya itu makan seperti orang yang sudah berbulan-bulan tak menyantap makanan. makan pagi yang seharusnya dalam porsi sedikit, berubah jadi porsi makan siang. Hehehe, mas Ardi maruk apa laper.
Setelah berbincang-bincang cukup lama, Wira akhirnya mohon diri dan berjanji akan datang lagi di lain waktu. Asmi mengantar Wira hingga ke teras rumah. Dia berterimakasih karena Mas Wira sudah berkunjung ke rumah Mas Ardi.
Malam harinya, keluarga Mas Ardi semua berkumpul. Ada Dina dan Aldi yang sudah pulang dari rumah neneknya.. Malam itu tidak ada lagi Mas Ardi yang gelisah atau menjerit-jerit saat kumandang Azan atau mendengar lantunan ayat-ayat suci Al-Quran. Keadaan Mas Ardi sudah kembali normal seperti biasa. Tampak rona kebahagiaan terpancar dari wajah Mbak Nur istri Mas Ardi.
Tampak Dina dan Aldi sedang bermain dengan Nadia putri Mirna.
Asmi kemudian masuk ke kamar. Dia bermaksud ingin beristirahat karena tubuhnya terasa sangat lelah.
" assalamualaikum, Asmi.! suara Hasyeem terdengar di telinga Asmi.
" WA alaikum salam, Hasyeem.! "
Pangeran tampan itu muncul di hadapan Asmi dengan memakai pakaian biasa. Dia hanya memakai kaos dan celana panjang levis. Dengan rambut yang di ikat ke belakang. Sangat tampan dan keren. Asmi melongo heran.
"Kamu mau kemana, Hasyeem? tanya Asmi setelah hilang rasa terkejutnya.
" Aku mau ngajak kamu jalan - jalan."
" Kemana? "
" Ke suatu tempat, atau kamu maunya ke mana? Asmi berpikir sejenak. " Aku maunya jalan ke kota, tapi jauh, dan lagian ini sudah malam. " Asmi cemberut ke arah Hasyeem karena lelaki itu mau mengajak dia jalan tapi sekarang sudah larut malam. Harusnya dia datang menjemputnya sore tadi, jadi nggak kemalaman di jalan. Maklum saja jarak tempat tinggalnya ke kota lumayan jauh.
Hasyeem terkekeh geli melihat raut wajah Asmi.
" Asmi, kamu lupa siapa aku. Kita ke kota tak perlu naik kendaraan."
Asmi menepuk jidatnya. " Oh, Iya ya. Ayo kita pergi sekarang! " Hasyeem menggenggam tangan Asmi dan kemudian tubuh Asmi dan Hasyeem lenyap dari kamarnya.
Asmi dan Hasyeem sedang berada di pusat kota Waringin. Mereka sedang berada di dermaga Rambang. Malam hari keindahan Dermaga itu terlihat sangat mempesona dengan hiasan lampu kota dan sinar bulan yang memantul di air.
" Hasyeem, aku ingin bertanya sesuatu padamu karena sepertinya ada yang kamu ketahui tapi tidak kamu ungkapkan padaku. "
" Apa yang ingin kamu ketahui? "
" Mengapa kamu menyuruhku membuang baju Mas Ardi. Tahu tidak, begitu baju Mas Ardi di buang ke laut, seperti ada yang menarik baju itu ke dalam lautan." kata Asmi sambil bergidik ngeri sambil kembali membayangkan kejadian tadi saat di laut.
" Kakakmu adalah korban dari perbuatan bejat kakek buyutmu dengan salah satu selir penguasa Pantai Selatan Kalimantan. "
" Apa..!! " mulut Asmi terbuka lebar karena mendengar perkataan Hasyeem . Asmi baru tahu, kalau kakek buyutnya memiliki perjanjian dengan Penguasa Pantai Selatan Kalimantan. Yang Asmi tahu hanyalah bahwa Hardi Rahardian kakek buyutnya itu adalah asli orang kalimantan Tengah.
" Koq, bisa begitu Hasyeem? " Asmi sungguh tak mengerti.
" Dahulu, saat masih zaman perang menghadapi penjajahan Belanda, Kakek buyutmu adalah seorang pejuang. Beliau pernah memimpin perjuangan melawan penjajah Belanda. Dalam suatu ketika beliau dan anak buahnya terdesak dan berhasil di pukul mundur oleh pihak Belanda hingga sampai di ujung Pantai Selatan pulau ini.
Dalam keadaan terluka dan kelaparan kakak buyutmu bertemu dengan seorang wanita cantik yang bernama Husna. Husna kemudian menyelamatkan dirinya dan anak buahnya dari kejaran musuh dan memberinya makanan dan tempat tinggal.
Kakekmu akhirnya jatuh cinta pada Husna dan ternyata cinta kakekmu pun bersambut. Wanita itu juga ternyata mencintai kakek buyutmu. Sampai suatu ketika kakekmu telah menodai wanita itu. Kesucian Husna telah di renggut oleh kakekmu yang pada saat itu telah berjanji akan bertanggungjawab pada wanita itu.
Beberapa waktu kemudian, kakekmu kembali lagi ke kampung halamannya bersama anak buahnya. Namun sayangnya, kakekmu mengingkari janji. Dia tidak pernah kembali ke tempat perempuan itu karena dia menikah dengan perempuan lain yang telah di jodohkan oleh orang tuanya.
Wanita itu menjadi marah dan kecewa. akhirnya wanita itu mengadakan perjanjian dengan Penguasa Pantai Selatan untuk membalaskan sakit hatinya pada Kakek buyutmu.
Wanita itu menerjunkan dirinya ke laut dan memilih menjadi selir penguasa Pantai selatan demi bisa membalaskan dendamnya pada kakek buyutmu.
Sejak peristiwa itu, seluruh anak laki-laki pertama dalam keluarga kakek buyutmu akan mati dengan cara menggemaskan. Mereka semua akan mati tenggelam di laut. Sama seperti kematian kakek buyutmu yang mati tenggelam di laut.
Asmi ingat, jika ayahnya pernah bercerita bahwa kakak laki-laki ayahnya juga mati tenggelam di laut.
" terus mengapa Mas Ardi tidak mereka ambil juga? " tanya Asmi heran.
" Belum, saatnya. Mereka sepertinya masih ingin menyiksanya dulu, baru kemudian mereka akan mengambil kakakmu sama seperti mereka mengambil semua anak lelaki pertama keturunan Hardi Rahardian, kakek buyutmu."
Buku kuduk Asmi merinding setelah mendengar kisah Hasyeem. Ternyata kakaknya itu belum terbebas dari penyakitnya. Atau tepatnya dari dendam Husna. Wanita yang menjadi selir Penguasa Pantai Selatan Kalimantan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 206 Episodes
Comments
Iyan Anderson
ngebayangin gimana mati menggemaskan nya thor 😂😂
2023-04-24
1
Linda Andriany
wuih ngeri
2023-04-12
0
riza yanuar '78
piye rupane nek mati menggemaskan??🤔🤔
2023-03-30
2