Asmi berjalan pelan menyusuri jalan setapak depan rumahnya. Hari ini dia akan membayar biaya tagihan listrik rumah ibunya yang belum di bayar.
Dari arah belakang, dia mendengar ada suara motor yang sedang melaju ke arahnya. Asmi menepikan tubuhnya agar tidak tersenggol motor karena maklum saja jalanan itu hanya bisa dilalui oleh dua orang.
Diluar dugaannya, motor itu ternyata berhenti di sebelahnya. Pengendara motor itu lantas membuka helm dan Asmi di buat terkejut. Ternyata pengendara motor itu adalah Mas Wira.
" Mas Wira!!! " Asmi mundur beberapa langkah.
" Mau kemana, Dek? Wira turun dari motornya dan berjalan menghampiri Asmi. " Mau ke pasar, Mas, " Jawab Asmi singkat sambil kembali melanjutkan langkahnya.
Wira yang kurang puas dengan jawaban Asmi menjejeri langkah wanita itu sambil mendorong motornya.
" Ayo, Mas antar! " Wira menawarkan diri untuk mengantar Asmi. "Nggak usah, Mas. Nanti ngerepotin, " Asmi menolak dengan halus. Dia tak ingin merepotkan siapapun dan juga tak ingin menjadi bahan gosip tetangga di kampung mengingat statusnya yang kini baru saja menyandang gelar janda.
Apa nanti kata orang, dirinya yang baru dua hari bergelar janda sudah dekat dengan seorang lelaki yang notabene masih perjaka.
" Nggak ngerepotin kok, dek. Mas juga kebetulan mau ke sana. Ada yang mau di beli." Wira kekeuh mau mengantarkan Asmi ke pasar, sehingga wanita itu menjadi tak enak hati.
" Iya deh Mas. Eh, tapi apa nanti nggak ada yang marah kalau sampean ngantarin aku! " Asmi kembali merasa ragu untuk menaikan tubuhnya di jok belakang motor Wira.
" Nggak, dek! ngga ada yang bakalan marah. Kamu tenang aja! Sudah, Ayo naik! " perintah Wira pada Asmi yang segera duduk di jok belakang motor Wira.
" Pegangan yang erat ,dek! nanti jatuh! "Wira menarik tangan Asmi ke pinggangnya sehingga tubuh wanita itu kini menempel rapat di punggungnya. Asmi menjadi jengah dan malu.
" Mas, lepasin tangan aku, malu sama orang yang liat! " Namun Wira seolah tak peduli. Malahan dia menahan tangan Asmi agar tetap di pinggangnya sambil menyalakan motornya dengan tangan yang lain.
Kemudian motor itupun melaju menuju pasar diikuti oleh pandangan beberapa pasang mata yang menatap kedua pasangan itu dengan pandangan mencibir.
" Lihat tuh si Asmi, baru dua hari cerai sama si Ilham sudah main nempel aja sama Mas Wira," cibir Mega dengan raut kesal. Dia memang sudah lama menaruh hati pada Wira namun tampaknya pemuda itu tidak memperdulikannya.
" Lo kenapa sih, Mega? Nggak ada salahnya kalau Asmi jalan sama Wira. Dia kan janda, Wira itu bujangan. artinya mereka bebas mau ngapain aja, mau jalan sama siapa, kek! bukan urusan kita " Jumirah, wanita yang duduk di depan Mega berkata pada perempuan itu. Mega mendengus tak senang.
" Kok kamu malah membela dia sih, Jum! Harusnya Mas Wira itu ngajak aku, bukan janda mandul itu! " sengit Mega yang merasa Jumirah lebih membela Asmi ketimbang dia.
" Bukannya aku membela Asmi, tapi memang apa salahnya Asmi kalau jalan sama Wira. Toh keduanya juga sama - sama single. " sahut Jumirah.
Percakapan keduanya terhenti karena tiba-tiba Bu Darmi, ibunya Ilham lewat.
" Loh, ini ada apa. kok kalian ribut berdua? " tanya Bu Darmi.
" Ini loh bu, Jumirah itu membela si Asmi yang tadi boncengan sama Mas Wira" adu Mega pada Bu Darmi.
" Maksudnya Si Asmi bekas istrinya Ilham. Perempuan mandul itu? " tanya Bu Darmi tak percaya.
" Iya, Asmi bekas mantu ibu! " jawab Mega kesal.
" Huh, dasar perempuan gatel. Baru dua hari cerai sudah jalan dengan laki-laki lain. Bilang sama si Wira, cari saja perempuan lain. Asmi itu perempuan mandul. Perempuan ndak baik. Dia bakalan kecewa nanti kayak Ilham. ngga bisa punya anak, "Bu Darmi mencibir sementara Mega tersenyum karena merasa mendapat dukungan dari Bu Darmi.
" Iya, bener Bu. Mas Wira harusnya dapetin perempuan baik-baik. Bukan janda gatel kayak si Asmi! " Mega menanggapi ucapan Bu Darmi dengan berapi-api. Jumirah yang males mendengar kata - kata Mega dan Bu Darmi yang menurutnya tidak pantas, memilih pergi dari sana .
" Loh, Jum! kamu kok malah pergi? "
" Aku mau pulang masak buat suamiku. Katanya dia pulang buat makan siang! Aku ndak mau di bilangin perempuan ndak baik karena membiarkan suami kelaparan."
Bu Darmi mencibir karena merasa tersindir dengan ucapan Jumirah sedangkan Mega memilih mengikuti langkah Jumirah, pulang ke rumah.
...***...
Sesampainya di pasar Asmi langsung ke toko emas. Sebenarnya Wira bersikeras ingin menemaninya namun dia menolak dengan dalih sudah janjian mau menemui Mirna adiknya. Akhirnya terpaksa Wira mengalah, dan pergi sendiri dengan motor nya.
Asmi terpaksa harus menjual cincin peninggalan ibunya untuk membayar tagihan listrik. Dia tak punya uang lagi untuk membayar tagihan listrik bulan ini dan bulan kemarin karena memang dia tak membawa apapun saat keluar dari rumah Mas Ilham. Satu - satunya harta yang dia punya adalah cincin pemberian ibunya saat beliau masih hidup.
Setelah membayar tagihan listrik di kantor PLN, Asmi tidak langsung pulang, sesuai dengan perkataan kepada Wira dia pergi ke rumah Mirna adiknya dengan naik angkot. Dia baru pulang ke rumahnya kembali saat malam hari.
Asmi sudah sampai di teras rumahnya. Saat tangannya ingin membuka pintu, sebuah suara mengagetkannya.
" Dari mana saja kamu, apa pantas perempuan jam segini masih berkeliaran di jalan dengan laki-laki lain!!" Ilham berkata dengan intonasi yang agak tinggi. Dia kesal karena mendapati rumah Asmi kosong dan menurut informasi yang di dapatnya dari tetangga Asmi perempuan itu keluar rumah berboncengan dengan Wira.
'Lagi -lagi Wira!' sungut Ilham dalam hati. Sepertinya dia memang harus berbuat sesuatu agar lelaki itu menjauh dari Asmi karena Ilham sudah punya rencana lain terhadap mantan istrinya itu.
"Urusan apa Mas larang aku jalan. Terserah aku mau kemana, kan kita sudah cerai, urus saja istri Mas sendiri!" Asmi kesal karena mantan suaminya itu datang sambil marah- marah dan melarangnya jalan - jalan. Apa maksudnya?
Asmi masuk ke dalam rumah dan menutup pintu dengan keras. Tak di hiraukannya Ilham yang berteriak-teriak di luar rumah agar di bukakan pintu.
Para tetangga yang kebetulan lewat menjadi heran mengapa Ilham berteriak-teriak di depan rumah mantan istrinya malam hari begini.
" Mas Ilham, kayaknya Mbak Asmi sedang tak mau di ganggu. Lebih baik sampean pulang dari pada bikin ribut di sini. Malu sama warga! " Ilham sontak menoleh dan menemukan Wira yang sedang berdiri di belakangnya. Lelaki itu menatap Ilham dengan pandangan menghujam.
" Apa hakmu ngatur- ngatur saya. Terserah saya, Asmi itu masih istri saya, ngerti kamu! " Emosi Ilham semakin naik melihat pemuda itu sekarang sudah berani menginjakkan kaki ke rumah Asmi.
" Hmm, 'Mantan' istri, Mas! Karena sampean sudah menceraikan Mbak Asmi. Jadi tidak pantas sampean masih disini. Apa nanti pandangan orang dan juga istri muda sampean kalau sampean bertindak seperti ini! " Wira berkata dengan tenang dan tanpa ekspresi menekankan kata 'mantan' agar Ilham sadar akan posisinya kini.
Ilham terdiam tak bisa menjawab perkataan Wira. Memang benar dia telah menceraikan Asmi, jadi secara agama dia tak berhak apapun juga pada wanita itu, walaupun secara hukum negara dia masih istrinya sampai berkas perceraian mereka selesai namun tetap saja dia memang tak seharusnya berada di sini.
Tapi dia ingin bertemu Asmi. Dia merindukan wanita itu. Rasa tak rela dan penyesalan membuat dia tak bisa tidur dengan nyenyak karena terus memikirkan wanita itu. Namun hari ini dia kembali dibuat kesal saat mengetahui wanita itu pergi keluar dan di bonceng oleh pemuda yang kini sedang berdiri di hadapannya.
Rasa tak rela dan cemburu membakar hatinya sehingga dia melampiaskan kekesalannya pada Asmi yang baru saja pulang.
^^^***^^^
Asmi merebahkan tubuhnya ke tempat tidur. Rasanya lelah sekali karena tadi waktu di rumah Mirna dia membantu adiknya itu menyusun barang dagangan di tokonya.
Mirna memang memiliki toko sembako yang lumayan rame pengunjung sehingga dia sedikit kerepotan untuk menanganinya, apalagi dia juga memiliki seorang balita yang harus di urus. Untuk itulah, adiknya itu memintanya untuk membantu pekerjaannya di toko. Lumayan hitung-hitung buat hilangin stress dan bosan.
Baru saja Asmi terlelap dalam tidur nya, tiba-tiba ...
BRUK!
kursi kecil di depan meja rias di kamarnya, rebah dengan sendirinya ke lantai.
Asmi terbangun karena suara gaduh itu. Matanya memandang nanar kearah kursi kecil yang teronggok di lantai kamar. Tak lama kemudian kursi itu bergerak sendiri kembali lagi ke posisinya semula.
" Hasyeem, kau kah itu?" Hening.Tak ada suara ataupun reaksi. Asmi kembali merebahkan tubuhnya ke tempat tidur.
BRUKK!
Kembali kursi kecil itu rebah ke lantai tanpa ada sebab. Kali ini jatuhnya lebih keras sehingga menimbulkan suara yang cukup nyaring.
"Ah, berisikkk! Hasyeem,kamu kenapa sih? ada masalah, ngomong denganku ? tampakkan batang hidungmu dan bicara, atau mau aku bikin kamu jadi jin gosong!"' teriak Asmi dengan jengkel. Dia dapat menduga semua itu pasti ulah Hasyeem. Tetapi ia tak tahu apa penyebab Hasyeem berbuat ulah seperti tadi.
"Kamu seharian pergi dengannya dan melupakan aku," sebuah suara tanpa wujud terdengar sedih.
...???...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 206 Episodes
Comments
Pisces97
ada ya jin cembokur gitu
gemes deh liatnya 🤭🤣
2023-10-04
1
Rodiah Rodiah
💪💪💪
2023-08-25
0
Triani
walahhh....ada jin baper...
2023-08-06
0