Pemakaman Inah istri Anto baru saja selesai. Banyak pelayat yang datang menghantar jenazah almarhumah sampai ke kuburan. Mereka juga menyampaikan simpati dan belasungkawa kepada Anto.
Asmi pun juga terlihat hadir dalam pemakaman Inah karena Anto adalah kakak sepupu Asmi. Terlihat Asmi berdiri di sebelah Anto sambil tangannya menggendong Bagas, bayi Mas Anto yang baru tadi malam dilahirkan. Bayi itu tampak rewel seolah mengerti kalau ibunya kini telah tiada.
Tak berapa lama kemudian, Satu persatu para pelayat kembali pulang ke rumah masing-masing, kini yang tersisa hanya Anto dan keluarga terdekat saja. Asmi terlihat masih menggendong Bagas, karena bayi itu dari tadi bayi itu rewel tak mau lepas dari gendongannya.
" Mas, ayo kita pulang! Anak Mas kayaknya sudah mulai rewel. Tampaknya dia haus, Mas" Asmi mengajak Anto pulang karena dari tadi lelaki itu hanya diam terpekur di atas makam istrinya. Dia tampak begitu terpukul atas peristiwa itu.
" Kamu pulang saja dulu, dek! Mas masih mau di sini, " Anto menyuruh Asmi pulang lebih dahulu karena dia tampaknya masih ingin sendiri. Dia ingin menemani istrinya yang baru saja di makamkan.
" Kalau gitu, Asmi pulang ke rumah Mas Anto dulu! kasihan Bagas kalau harus lama lama di sini. "
" Iya dek, Mas titip Bagas, ya! " Asmi kemudian berjalan pulang sambil menggendong bayi Bagas ke rumah Anto dengan di antar oleh salah satu tetangga Anto yang kebetulan juga akan pulang.
Sesampainya di rumah Anto, Asmi di sambut oleh Bu Yati, ibunya Anto yang juga merupakan bibinya. Bu Yati adalah adik dari almarhum ayahnya.
" beristirahatlah dulu Asmi, kamu tampaknya lelah. Dari tadi kamu menggendong Bagas terus! " Bu Yati bibinya menyuruhnya istirahat di ruang tamu seraya mengambil bayi Inah yang kini sudah terlelap pulas dalam pelukannya.. Kasihan sekali bayi itu, baru lahir sudah di tinggal ibunya.
" Masmu mana, Asmi ? Bu Yati bertanya pada Asmi karena tak melihat Anto ikut pulang dari pemakaman.
"Mas Anto masih di kuburan, Bi." jawab Asmi sambil merebahkan tubuhnya di atas kasur. Hari baru beranjak sore tapi suasana di sekitar nya tampak gelap karena mendung yang tebal menyelimuti langit pertanda bahwa sebentar lagi akan turun hujan besar.
tak terasa Asmi tertidur pulas hingga suara tangisan bayi Bagas membangunkannya dari tidurnya. Asmi menatap nanar sekelilingnya, dia baru sadar kalau dia tidur di rumah Anto.
" Itu pasti suara Bagas, "kata Asmi sambil melangkah ke kamar bibinya. Dia menduga pasti bayi itu berada di kamar bibinya karena tangisannya berasal dari sana.
" Ah, ponakan bibi, kenapa nangis? haus ya? " Asmi mengangkat bayi itu yang terjaga di samping bibinya. Bayi itu menggerakkan kepalanya ke sana ke mari dengan mulut yang menganga mencari arah sumber makanan. Lucu sekali.
" Aih, Dedek Bagas haus, ya? sebentar ya, bibi akan buatkan susu buat dedek Bagas. " kata Asmi sambil meletakkan bayi itu ke samping neneknya. Tampak sedikit pergerakan dari neneknya yang juga terbangun karena merasakan adanya gerakan dari sang Bayi. Dia lalu menepuk nepuk sang Bayi agar tidur kembali.
" Bi, Asmi mau buatin susu dulu buat Bagas, " kata Asmi pada bibinya yang di balas dengan anggukan kepala saja karena Bu Yati merasa sangat lelah sekali, dia bersyukur karena ada Asmi yang mau mengurus Bagas sementara dia sudah sangat kelelahan.
Asmi bergegas pergi ke dapur membuatkan susu untuk Bagus.
Tiba-tiba... semilir angin berhembus di belakang tengkuknya membuat bulu kuduknya meremang seketika. Asmi merasa ada seseorang berdiri di belakangnya membuat Dia reflek menoleh ke belakang. Tampaklah sosok Inah yang berdiri memandang ke arahnya. Asmi terpekik kaget.
" Mbak Inah! " seru Asmi dengan muka pucat pasi dan jantung yang berdebar debar karena takut. Sesaat Dia menarik nafas dalam dan mencoba untuk tenang walaupun sebenarnya dia ketakutan setengah mati. Arwah Inah yang terlihat begitu sedih, tampak seperti dia ingin mengatakan sesuatu.
" Apa mbak Inah ingin menyampaikan sesuatu? " Asmi memberanikan diri bertanya tanpa berani mendekat.
" Anakku! " tolong jaga anakku ! hik! hik! " sayup suara Arwah Inah terdengar lirih bercampur tangisan yang terbawa angin. Sekejap kemudian sosoknya menghilang secara ghaib.
" Mbak Inah! Mbak! " Asmi berseru tertahan. Dia takut suaranya akan membangunkan seisi rumah. Asmi berjalan ke seluruh ruangan, berniat ingin mencari sosok Inah, namun kembali tangisan Bagas terdengar membuat dia buru- buru kembali ke kamar bibinya.
"Cup, cup, Bagas sayang ! ini susu nya. Jangan nangis ya, ponakan bibi yang ganteng. " Asmi menyodorkan botol dot yang berisi susu hangat ke mulut bayi mungil itu. Bayi itu menyusu dengan lahapnya. Asmi lalu menggendong bayi mungil itu ke kamar tamu, tempat dia tidur.
" Assalamualaikum,..Asmi! " sebuah suara lirih menyapa gendang telinganya. Suara yang sudah dihapalnya karena dia memang merindukan si pemilik suara itu.
" Hasyeem ! Hasyeem! kau kah itu?" Asmi meletakkan Bagus di atas kasur dan beranjak menutup pintu kamar. Bluss! Hasyeem muncul di hadapan Asmi dengan wajah mengoda membuat Asmi jadi gemas sendiri. Tanpa sadar dia memeluk Pangeran Jin yang berwajah tampan itu. Hasyeem balas memeluk tubuh Asmi dengan erat.
" Ada apa kamu kemari? " Asmi bertanya pada Hasyeem setelah melepas pelukannya. Hasyeem terlihat yang sedang memandangi wajah bayi Bagas dengan seksama.
" Dia sudah menandainya! " kata Hasyeem tiba-tiba. Namun Asmi tak mengerti maksud dari ucapan Hasyeem. Apa maksud nya dengan sudah menandainya..Lalu siapa yang Hasyeem maksud dengan ' dia', Asmi sama sekali tak faham. Ada apa dengan semua ini.
" Dia? dia siapa, Hasyeem? apa maksudnya dengan sudah menandainya? " Asmi penasaran bertanya pada Hasyeem.
" Maksudku dengan dia adalah makhluk yang sama yang kemarin membunuh ibunya, dia juga sudah menandai keponakanmu sebagai mangsa berikutnya! " jelas Hasyeem pada Asmi yang langsung menutup mulut tak percaya akan apa yang di dengarnya. Sungguh malang sekali nasib Bagas keponakannya.
" Jadi maksudmu bayi ini akan menjadi sasaran kebuasan makhluk penghisap darah itu lagi? " Hasyeem menganggukkan kepalanya tanda membenarkan ucapan Asmi.
Asmi langsung bergerak mengambil bayi Bagas yang kini sudah tertidur kembali ke dalam pelukannya. Dia takut jika makhluk itu tiba-tiba muncul dan mengganggu bayi mungil itu. Dia tak akan membiarkan hal itu sampai terjadi pada Bagas. Cukup sudah hanya ibunya Bagas yang menjadi korban makhluk itu.
" Tidurlah, aku akan menjaga kalian di sini!" kata Hasyeem sambil membelai lembut wajah cantik Asmi dan mencium pucuk kepala wanita itu mesra. Bluss, wajah Asmi langsung memerah. Hasyeem memang selalu bisa buat Asmi blussing.
Akhirnya Asmi kembali meneruskan tidurnya sambil memeluk Bagus. Mereka berdua tertidur pulas hingga pagi menjelang dengan Hasyeem yang berada di belakang tubuh Asmi, memeluk dan menjaga wanita cantik yang menjadi pujaan hatinya itu sepanjang malam.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 206 Episodes
Comments
lily
jangan mesra mesraan dlu Napa ,, ayooo nikah dlu haha
2023-12-10
0
Rodiah Rodiah
lanjuuuuut💪
2023-08-26
0
Elfin Carolina Arikalang
ya ampun thor masa sih anak masih bayi harus kehilangan ibunya d.makan hantu gentayangan begitu ... mdlas deeh
2023-06-01
0