Asmi terbangun ketika hari sudah malam. Dia menatap nanar ke sekelilingnya. Keadaan di dalam rumah itu gelap gulita. Hanya seberkas cahaya dari lampu penerangan jalan di depan rumahnya saja yang menerobos masuk lewat jendela kaca depan rumahnya yang tidak tertutup tirai.
" Aduh, gelap sekali. Hapeku mana, ya? " Asmi meraih tas jinjing miliknya dan merogoh ke dalamnya mencari- cari sesuatu. Setelah dapat dia berseru tertahan.
" Ah.. dapat. Ini dia hapeku. Semoga saja masih bisa menyala! " Asmi segera menekan tombol power di belakang handphone miliknya dan tak lama kemudian hapenya menyala. Tampaknya ada beberapa pesan yang masuk melalui WhatsApp. Namun Asmi tak berniat untuk membukanya.
Asmi menekan tombol senter untuk menghidupkan lampu senter. Dia mau ke kamar mandi karena sudah kebelet pipis.
Asmi berjalan pelan menyusuri lorong rumah menuju kamar mandi yang letaknya sudah di hapalnya di luar kepala dengan hanya berbekal senter di hapenya. Sebelumnya Dia sudah menekan tombol sakelar listrik di dinding rumahnya tapi rupanya listrik di rumah itu mati. 'Mati, mungkin aku lupa belum bayar tagihan listrik untuk bulan ini.' pikirnya.
Dia menghela nafas, dia baru sadar semenjak kematian ibunya beberapa bulan yang lalu, rumah ini menjadi terbengkalai. Sampai tagihan listrik saja tidak di bayar.
Ibunya meninggal beberapa bulan yang lalu karena penyakit jantung yang dideritanya, menyusul ayahnya yang sudah lebih dulu meninggalkan mereka ketika dia masih duduk di bangku SMA.
Asmi masuk ke kamar mandi, membasuh wajahnya dengan air. Sejuknya air membuat wajah Asmi yang kuyu menjadi sedikit segar. Diapun segera menuntaskan hasratnya untuk buang air.
Tanpa dia sadari ada sepasang mata yang terus memperhatikan dirinya semenjak dia memasuki rumah itu. Sepasang mata itu berbinar-binar dan masih saja terus memperhatikan segala tingkah laku Asmi di rumah itu. Mengikuti Asmi kemanapun wanita itu melangkah tanpa disadarinya.
Asmi kembali ke ruang tamu. Dia membuka dompetnya dan mengambil selembar pecahan dua puluh ribuan. Asmi berniat untuk keluar rumah pergi ke warung mbok Ati, tetangga almarhum ibunya untuk membeli mie instant, lilin, telur serta air minum mineral.
Beruntung dia karena warung Mbok Ati masih buka sampai malam hari sehingga dia bisa membeli semua barang yang di butuhkannya.
Baru saja kakinya melangkah meninggalkan warung Mbok Ati, sebuah suara menyapanya.
" Dari mana, Dek Asmi? " Asmi menoleh dan mendapati Mas Wira tetangga sebelah rumah ibunya itu sedang berdiri menatapnya dengan pandangan iba. Mungkin gosip tentang dia yang diceraikan oleh suaminya sudah menyebar di kampung ini.
Asmi menghela nafas seraya menundukkan wajahnya enggan membalas pandangan Mas Wira.
" Ini beli lilin, mie instan, telur dan air minum, Mas" Asmi menunjukkan barang - barang yang tadi dibelinya dari warung Mbok Ati kepada Mas Wira.
" Oh iya, listrik di rumah almarhum ibumu padam sejak seminggu yang lalu, dlek"
" Iya mas, saya lupa membayar tagihan bulan lalu" Asmi semakin menunduk. Dia jengah karena Wira masih saja terus menatapnya.
Sungguh dia benci tatapan itu. Tatapan iba yang ditujukan padanya. Cih! dia tak butuh dikasihani. Biarlah dunia tahu bahwa Asmi wanita yang diceraikan oleh suaminya karena mandul. Wanita yang diselingkuhi oleh suaminya karena tidak bisa memberikan seorang anak. Asmi merasa miris sendiri.
Mas Wira bergerak maju kearahnya. Berdiri tepat di hadapan Asmi, lalu memegang pundaknya seraya berkata, " Mas turut prihatin dengan apa yang terjadi padamu, Dek. Mas harap kamu bisa bersabar menghadapi cobaan ini. Jangan ragu untuk minta tolong jika kamu membutuhkan pertolongan." Asmi mengangguk pelan.
" Iya, makasih ya Mas, kalau begitu saya permisi dulu." pamit Asmi seraya berlalu dari hadapan Mas Wira. Dia tak ingin lama - lama berbincang dengan Mas Wira karena takut menjadi gosip mengingat status dirinya kini yang baru saja jadi janda dengan embel-embel mandul.
Asmi tak tahu bahwa ada seseorang yang dari tadi memperhatikannya. Orang itu menampakan ekspresi tak suka ketika melihat Asmi berbicara dengan Mas Wira. Tangannya terkepal menahan geram.
Dia tak suka Asmi ngobrol dengan lelaki itu. Dan Dia juga benci melihat tatapan iba namun juga mendamba dari laki-laki itu kepada Asmi.
Cih! Ilham membuang ludah dengan kasar. Lelaki itu mengurungkan niatnya ingin menemui Asmi.
Awalnya dia berniat ingin mengantarkan sedikit uang belanja untuk Asmi karena walau bagaimanapun Asmi masih istrinya sampai surat talak resmi dari pengadilan datang. Dia sudah tahu dari cerita tetangganya tadi sore jika Asmi menempati rumah bekas almarhum mertuanya.
Dalam pikirannya Asmi pasti terpukul sekali dan pastilah sekarang sedang bersedih, sehingga dia berinisiatif untuk menemui Asmi sekaligus untuk minta maaf. Jujur di hatinya ada secuil penyesalan karena telah menceraikan Asmi. Namun karena desakan ibunya dan Ayu, dia terpaksa menceraikan Asmi karena Ayu yang sedang hamil anaknya tak mau punya madu. Dia juga sempat kesal pada Asmi yang menghajar Ayu padahal perempuan itu sedang hamil anaknya.
Namun yang di dapatinya Asmi tengah berbicara dengan Wira. Lelaki yang dia tahu telah lama memendam rasa untuk perempuan yang sebentar lagi akan jadi mantan istrinya itu.
Rasa cemburu bergolak di dadanya. Membakar keinginannya untuk bertemu dengan Asmi dan memilih pulang dengan hati yang kesal diliputi amarah. Dia tak menyangka secepat itu Asmi bisa bersama laki-laki lain.
Mie instan campur telur itu sudah ludes tak bersisa sedikit pun di mangkok. Dia memang lapar sekali karena dari pagi perutnya belum terisi apapun. Dia beruntung karena kompor gas dirumah almarhum ibunya itu masih berfungsi dengan baik dan juga masih ada persediaan gas di tabungnya.
" Ah, kenyangnya. Setelah ini aku mau beresin koper dulu."
Asmi membersihkan mangkok bekas makannya. Kemudian dia pergi ke ruang tamu untuk membereskan koper dan juga tas bawaannya ke kamarnya. Dia sengaja memilih kamarnya yang dulu dia tempati, meskipun masih ada lagi dua kamar yang masih kosong yaitu kamar ibunya dan kamar Mas Ardi kakak tertuanya yang kini ada di Kalimantan Tengah bersama istri dan anak-anaknya.
Asmi meletakkan baju-bajunya di lemari pakaian dan kemudian mengganti sprei lama dengan yang baru.
Asmi yang merasa sedikit lelah lantas menyenderkan tubuhnya di sandaran ranjang sambil membuka handphone miliknya. Dia bermaksud ingin melihat pesan-pesan yang masuk melalui Whatsapp pribadinya. Namun baru beberapa saat tiba-tiba matanya menangkap sebuah bayangan hitam bergerak di sudut kamarnya. "Siapa disana? "
Bayangan itu berhenti bergerak. Asmi merasa bulu kuduknya berdiri, ada rasa takut yang tiba-tiba menyergap namun dia mencoba untuk mengusir rasa takutnya dengan membaca beberapa ayat suci yang dia hapal.
Asmi melihat bayangan hitam itu sudah tak ada lagi. Dia kembali melanjutkan membuka Whatsapp-nya.
Namun saat Asmi sedang sibuk memeriksa chat dari teman-temannya, dari sudut matanya Asmi melihat sesuatu bergerak di sudut kamarnya. Kali ini bukan berupa bayangan hitam tetapi lebih berbentuk seperti bayangan manusia.
"Jika kamu datang kemari hanya untuk mengganguku, maka kamu salah orang Hai, iblish jahanam! " Bentak Asmi pada bayangan itu.
Sejak kecil Asmi memang sering melihat berbagai penampakan makhluk ghaib, karena dia dikaruniai mata yang bisa melihat alam supranatural. Untuk itulah waktu kecil dulu, Asmi giat belajar mengaji supaya bisa mengusir makhluk-makhluk itu jika mereka berniat mengganggunya.
Asmi duduk bersila di tempat tidur sementara mulutnya komat kamit merapalkan doa-doa suci sambil mengeluarkan tenaga dalamnya. Tak sia-sia dia juga belajar ilmu kanuragan pada almarhum kakeknya dulu. Tentulah semuanya itu kini berguna untuk dirinya saat terjepit untuk membela diri.
" Allahu akbar!!! " teriak Asmi sambil mengarahkan tenaganya ke arah bayangan itu.
Bayangan itu bergerak menghindari serangan Asmi. Desiran angin berhembus menerpa wajahnya dibarengi dengan suara halus terdengar seiring dengan berpindahnya bayangan itu ke sisi kamar yang lain.
" Maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk menakuti kamu, aku hanya ingin berkenalan denganmu" Bayangan itu kini bergerak ke arah Asmi. Asmi siap waspada. Dia turun ke lantai dan mulai memasang kuda-kuda untuk serangan berikutnya.
" Hai kamu yang di sana, siapapun atau apapun kamu. Tampakkan wujud asli kamu sekarang juga!" Titah Asmi pada bayangan itu.
"Hmm, Apa kamu yakin dengan ucapanmu? Apa kamu tidak takut denganku? " bayangan itu kini bergerak semakin dekat ke arah Asmi.
" Aku tidak takut dengan makhluk sepertimu! Tampakkan saja wujudmu sekarang" jawab Asmi dengan sorot mata tajam.
" Baiklah, jika itu maumu!" Seketika itu juga bayangan tadi perlahan-lahan berubah menjadi asap yang kemudian berubah bentuk menjadi seorang pemuda yang sangat tampan parasnya.
Asmi mundur beberapa langkah menyadari makhluk seperti apa yang tengah berdiri dihadapkan. "Rupanya kamu dari golongan bangsa jin" desis Asmi sambil tangannya bersidekap di depan dada, bersiap memasang jurus untuk menyerang.
...????...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 206 Episodes
Comments
Pisces97
haa... ismi serius kamu berani sama hantu bentak² pula 🤭
2023-10-03
1
Rodiah Rodiah
lanjut thoor💪
2023-08-25
0
Agustina Dag Agustina Dag
semoga tidak terjadi padaku🤭🤭
2023-08-14
0