Kinara yang kembali melihat pesan singkat dari ayahnya akhirnya memutuskan untuk tidak pulang dan memilih kembali ke Asrama.
Kinara mempertimbangkan apakah ia harus pulang atau tidak, dia masih ragu.
Jika ia pulang, sudah pasti akan mendapat murka dari ayahnya.
"Bagaimana? Kamu jadi nggak pulangnya? Aku bisa pastikan Ayah kamu nggak akan marah!" ucap Claudia dengan percaya diri, masih mengandalkan nama besar keluarganya.
"Iya, Saat ada kamu dia tak akan marah padaku, tapi gimana saat kau sudah pulang. Kamu nggak tahu aja gimana aku diperlakukan di rumah itu," lirih Kinara.
"Emangnya kamu diperlakukan seperti apa? Apa ayahmu juga tidak menyukaimu?" tanya Claudia.
Kinara tak menjawab ia hanya melengos langsung kembali ke Asrama.
"Kamu mau ke mana?" teriak Claudia.
Kinara berhenti dan berbalik "Aku mau ke Asramaku saja, aku lebih nyaman tinggal di sana daripada di rumah," ucapnya kemudian meneruskan jalannya meninggalkan Claudia.
Claudia melihat di sekelilingnya, gang itu tiba-tiba terasa sangat menakutkan, Claudia yang merasa ngeri sendiri, berada di jalan itu. ia memutuskan untuk pulang cepat, dia berlari menuju ke sekolah dimana disana Sudah ada supir yang menunggunya. jaraknya antara sekolah dan asrama sangat dekat.
Sepanjang perjalanan ke Asrama, Kinara terus mengingat perkataan yang ia yakin itu adalah suara sistem yang sama saat pertama kali masuk ke tubuh Kinara gadis kecil ini.
Kinara mempercepat langkahnya ingin memastikan apakah benar apa yang ada di dalam pikirannya.
Begitu sampai di kamar, Kinara mencoba menenangkan dirinya dan coba berkomunikasi dengan sistem.
"Halo apa ada yang mendengarku? Ada yang bisa menjawabku," Kinara menunggu sejenak. Namun, tak ada jawaban.
"Apa tadi itu suara sistem, ya. Yang memperingatkanku saat ada bahaya, apa aku salah menduga," ucap Kinara mengingat apa yang sistem katakan saat berbicara padanya, saat memperingatkannya tentang adanya bahaya.
"Selamat skor Anda bertambah menjadi 15," suara itu kembali terdengar dan sukses mengagetkan Kinara.
Kinara memegang dadanya" Apakah kau system?" tanya Kinara mencoba mencari-cari dimana sumber suara tersebut.
"Apakah kamu tadi yang memperingatkanku tentang adanya bahaya?" tanya Kinara cepat, sekarang ia yakin jika sistem itu menanggapinya.
"Ya, skor Anda sudah mencapai 15 poin jadi aku akan membantu Anda. Skor 15 Anda telah mengaktifkan sistem bicara. Aku akan memandu Anda mulai saat ini."
"Selain sistem dapat bicara, Apakah ada fungsi lain saat skorku bertambah?" tanya Kinara.
"Tentu saja, tapi ada syaratnya, kau tak boleh mengucapkan rahasia ini kepada siapapun, simpan rahasia ini sendiri untuk saat ini, suatu saatnya nanti akan tiba waktunya semua pasti akan mengetahuinya siapa kamu," ucap sistem memberitahu Kinara, sistem tau jika tadi Kinara memiliki keinginan untuk mengatakannya pada Claudia, siap dia sebenarnya.
"Aku akan banyak membantu mu, jadi kau bisa meminta tolong padaku dan bertanya apa saja. Aku tahu banyak hal," ucap sistem tersebut berbicara dengan nada sombong.
Kinara tertawa" Benarkah kau tau semua?" tanya Kinara disela tawanya.
"Tentu saja kau, selagi informasinya tentang yang memiliki sangkutannya dengan sistem yang ada."
"Anda bisa menanyakan, jika ada masalah, bisa mengajukan, menanyakan apa saja, aku akan menjawabnya."
"Baiklah aku akan bertanya," baru saja Kinara ingin bertanya Ia merasa kesemutan di lehernya.
"Ada apa ini," ucapnya mencoba meraba lehernya, dia berpikir ada serangga di sana.
Kinara baru menyadari kalau kalungnya bernoda merah.
"Darah, apa ini darah karena perkelahian tadi! ya," ucapnya. "Eh tunggu, ini kan kalung ku,"
Kinara baru mengingat jika kalung itu ia miliki saat dirinya masih berada di tubuhnya yang dulu, kalung itu adalah kalung istimewa, itu bukan kalung sembarangan. Kalung itu adalah kamera mini yang sangat berguna dalam mengerjakan setiap misinya, itulah salah satu penunjang kinara selama ini selalu saja berhasil dalam misi mafianya, dan di anggap Mafia terkuat.
Kinara sekarang memiliki sistem yang bisa bicara. Dia memiliki sistem yang bisa menjawab semua pertanyaannya, Kinara ingin mengetes sejauh mana pengetahuan dan keistimewaan sistem tersebut.
"Bukankah kau bilang tadi kamu bisa menjawab semua pertanyaan ku?" tanya Kinara.
"Tentu saja, silakan apa yang ingin kau tanyakan," jawab sistem.
"Sistem, Apakah sistem mengetahui kalung ini ," ucap Kinara memperlihatkan kalung yang berada di tangannya.
"Kalau kau rajin mengumpulkan skor transformasi, sistem akan memberimu kalung yang lebih unik, yang lebih cantik dari kalung itu."
"Maksudmu, jika aku bisa mengumpulkan skor tertinggi aku akan bisa mendapat banyak keistimewaan dari mu?" tanya Kinara memastikan.
Kinara menangkap intinya, jika ia mampu mengumpulkan skor transformasi, skor itu akan mampu memicu fungsi-fungsi tersembunyi dari sistem.
"Jadi maksudmu, aku yang harus bersusah payah mengumpulkan poin dan kau lah yang menikmati fungsimu, apakah seperti itu?" tanyanya lagi.
"Ya, kurang lebih seperti itulah, jadi cepatlah kumpulkan point agar aku bisa mengeluarkan semua fungsi-fungsi yang aku miliki , itu semua bisa membantu mu, sangat berguna untuk mu."
Dasar "BODOH," umpat Kinara secara tak sadar.
"Skor transformasi minus 5. Dibawah 15 fungsi berbicara sistem, diblokir. Mohon menunggu untuk dibawa kembali, silakan kumpulkan kembali poinnya," suara sistem terdengar kemudian tak terdengar lagi
Kinara tercengang
"Hah ... maksudnya ini apa, jadi kalau aku melakukan kesalahan, poinnya akan dikurangi 5 sedangkan saat aku melakukan kebaikan akan ditambah 5," ucap Kinara menepuk jidatnya. Kini ia sudah tidak punya lagi teman berbicara, ia harus melakukan satu kebaikan lagi agar bisa membuka sistem bicara.
"Masa iya sih, hanya karena kata bodoh poinnya langsung dikurangi 5, aku mendapatkan nilai 5 tadi kan mempertaruhkan nyawaku, sungguh tidak sebanding," ucap Kinara yang masih pusing memikirkan kehidupannya yang aneh." Kinara memilih untuk membersihkan tubuhnya dan beristirahat.
Keesokan paginya Kinara melakukan joging di sekitaran Asrama. setelah 1 jam Ia berlari, Kinara yang merasa lapar mengubah arah larinya ke kantin sekolahnya.
Kinara mengambil piring dan duduk di salah satu meja.
"Ia bisa mendengar beberapa murid sedang berbisik-bisik mengenai Revan idola sekolah yang mereka Eluh-eluhkan kan, terutama para murid kelas 7.
"Kasihan banget sih Revan harus menerima hukuman."
"Iya, padahal belum tentu kan ia terbukti bersalah," ucap yang lagi.
"Dia itu tak mungkin mengintip, mana mungkin Revan dengan sengaja masuk ke toilet wanita untuk mengintip. Ini Revan loh," ucap salah satunya dari mereka terus menggunjingkan masalah Revan. Tak lama kemudian Claudia datang dan langsung mengambil roti yang ada di piring Kinara…
"Rp50.000 1 roti," ucapnya saat Claudia akan menggigit rotinya.
Claudia menghentikan apa yang ia lakukan dan menatap tak percaya kepada Kinara
"Kinara, harga roti ini cuman Rp10.000 dan kau mau menjualnya di tempat yang sama seharga Rp 50.000. Apakah kau ini rentenir," ucap Claudia menggebrak meja tempat Kinara duduk.
Kinara hanya bersikap tenang dengan apa yang Claudia lakukan.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Terima kasih sudah membaca 🙏
tinggalkan jejak kalian ya.
LIKE, VOTE, DAN KOMENNYA.
salam kenal, author M Anha ❤️
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 123 Episodes
Comments
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝘊𝘭𝘢𝘶𝘥𝘪𝘢 𝘭𝘶𝘤𝘶 𝘫𝘨 𝘺𝘢 😊😊😊😊
2023-04-23
0
Dhika Ahmad
gkgkgkgk , apa gk kemahalan tu harga roti neng..!!!!!
2022-06-21
1
Novianti Dewi
karya mu keren thor
2022-04-28
1