Orang tersebut meringis menahan sakit di pergelangan tangannya saat Kinara menggenggam erat pergelangan tangan orang tersebut, membuat pisau yang dipegangnya terjatuh, ia tak menyangka jika gadis kecil ini sungguh sangat kuat dan lincah, ia mampu menahan tangan.
Orang tersebut menatap tajam pada Kinara, bermaksud membuat Kinara takut padanya.
"Apa yang akan kau lakukan, kau pikir kau bisa lolos dari pengawasanku dan melakukan hal semacam ini, kau ingin melukainya?" ucap Kinara memberikan bogeman mentah di wajahnya.
Tinju Kinara berhasil membuat orang tersebut langsung tersungkur di tanah. Kinara mengibas-ibaskan tangannya merasa panas pada tinjunya, ia lupa jika sekarang ia berada di tubuh gadis SMP yang lemah. Jiwa mafianya tak bisa di dikendalikannya, ia sudah sangat merindukan saat-saat seperti ini. Mengadu tinjunya.
Kinara menunduk mengambil pisau yang tadi dijatuhkan oleh orang tersebut,
Memainkan pisau itu di jari-jarinya, memutar- mutarnya. Lalu mengarahkan pada orang tersebut dan kembali memutarnya.
Mereka semua melihat apa yang dilakukan Kinara,
"Siapa anak ini," batin bos gerombolan itu melihat kelihaian Kinara memainkan pisaunya.
Jika orang yang tak berpengalaman melakukan itu semua, maka bisa di pastikan jari-jarinya akan terpisah dari tangannya.
"Katakan Siapa yang menyuruh kalian melakukan ini semua?" tanya pada orang tersebut yang tak lain adalah Bos dari kelompok itu.
"Aku tidak tahu, lepaskan aku," ucapnya memberontak ingin melepaskan diri saat Kinara kembali menguncinya ke belakang, mengarahkan pisau itu padanya.
"Kau pikir aku bodoh, cepat katakan Siapa yang menyuruhmu melakukan semua ini, jika tidak...!" ucap Kinara menekan orang tersebut, bahkan pisau sudah memberi sayatan kecil di pipinya.
"Katakan?" Bentak Kinara saat orang itu tak menjawab.
"Aku sudah bilang 'kan, tak ada yang menyuruh kami, kami hanya bermain-main saja dengan gadis ini," jawabnya kembali merahasiakan siapa yang menyuruhnya.
"Kau pikir aku akan percaya dengan kata-kata bualanmu itu, cepat jangan membuatku marah," ucap kinara yang semakin mengencangkan cengkramannya membuat orang tersebut meringis kesakitan.
"Aku kan sudah bilang tak ada yang menyuruh kami, kami hanya bermain-main, terserah kamu mau percaya atau tidak," ucapnya lagi.
Orang itu tetap tak ingin membocorkan Siapa yang menyuruh mereka, ia bahkan berteriak pada Kinara saat merasa Kinara semakin mutar tangannya.
Kinara yang kesal dengan satu gerakan langsung mematahkan tangan orang tersebut.
Sontak saja orang tersebut langsung menjerit kesakitan, meraung merasakan sakit di tangannya, beruntung sore itu jalan gang itu sepi.
Claudia menelan dengan susah salivanya, "Apa … Ki …. Kinara mematahkan tangannya!" batin Claudia tak percaya apa yang dilihatnya.
Bukan hanya Claudia yang terkejut, tapi juga Semua gengnya.
Kinara berbalik menatap mereka semua dengan tajam, mereka semua langsung ketakutan tak ingin bernasib sama dengan bosnya. Mereka semua berlutut meminta maaf.
"Tolong jangan sakiti kami, kami benar-benar tak tahu siapa Nama orang itu. Yang jelas orang yang memiliki tinggi 175 cm dia hanya memberikan uang kepada kami untuk menghancurkan harga diri Claudia, kami benar-benar tak tahu siapa dia, kami hanya menjalankan tugas setelah mengambil uangnya," ucap Salah satu orang yang sedang berlutut.
"Apa ... ada orang yang menyuruh mereka Untuk menyakitiku. Siapa orang yang berani menyerangku," batin Claudia ia merasa tak punya musuh selama ini.
"Beraninya kau ingin melecehkan harga diriku, Ha!" Kesal Claudia tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika Kinara sampai tak datang tepat pada waktunya.
"Dimana rekaman itu?" tanya Claudia yang baru teringat jika mereka merekam dan memotretnya tadi.
"Ayo keluarkan ponsel kalian semua," ucap Kinara menunjuk mereka dengan pisau yang masih dipegangnya.
Semua dengan patuh mengeluarkan semua ponsel mereka, Claudia langsung memeriksa ponsel mereka satu persatu menghapus semua rekaman dan foto yang tadi mereka ambil.
Setelah semua rekaman dihapus Kinara mengambil sama ponsel itu dan memasukkannya ke dalam genangan air yang ada di sana, mereka semuanya bisa melihat dengan pasrah nasib ponselnya.
"Kau, di mana ponselmu?" ucap Claudia menatap penuh kekesalan pada bos mereka, menunjuk orang yang sedang meringis kesakitan menahan rasa sakit di tangannya.
Claudia yang mendekat dan mengambil sendiri ponsel orang itu di saku jaketnya, kemudian menghapus rekaman dan foto kemudian membuangnya ke tempat yang sama dimana ponsel teman-teman yang lain.
"Dengar, yah! Jangan coba-coba menggangguku sekali lagi, kalau ada yang menggangguku, kalian akan berurusan dengan polisi aku akan menuntut kalian semua, kalian pasti tidak tahu kan siapa Ayah ku," ucap Claudia lagi - lagi menyombongkan kekayaannya orang tuanya.
Claudia yang kesal dengan kekuatannya langsung menendang Bos yang masih berdiri di dekatnya, memegang tangan yang terasa sakit. Tendangan Claudia cukup keras sehingga orang tersebut terhuyung ke belakang dan menabrak dinding. Menimbulkan suara yang cukup nyaring akibat benturan itu.
Mata Claudia membelalak, tak menyangka dengan apa yang ia lakukan, ia mampu melakukan itu semua.
Kinara menahan tawanya melihat apa yang Claudia lakukan. Namun, tidak dengan para anggota kelompok tadi mereka semua langsung lari terbirit-birit menyelamatkan diri.
Gang kecil yang tadinya riuh karena perkelahian mereka kini kembali terasa sunyi hening seperti semula.
Claudia berjalan menghampiri Kinara,
"Kau baik-baik saja?" tanya Claudia mendekatinya, mengkhawatirkan kondisinya.
"Aku tak apa-apa, bagaimana dengan mu."
"Tak apa-apa, terima kasih Sudah menolongku," ucap Claudia tulus.
" Kitakan teman sekamar sekarang," ucap Kinara tertawa mengingat kata-kata Claudia jika ia yang akan melindunginya.
"Kamu meledekku ya!"
"Aku cuman bercanda, apa kau tahu siapa yang menyuruh mereka melakukan semua ini?" tanya Kinara.
"Entah, Selama ini aku tak punya musuh. Ini juga baru pertama kali terjadi padaku, apa mungkin semua ini adalah kelakuan Revan yang tak terima apa yang aku lakukan beberapa hari yang lalu," ucap Claudia menebak-nebak siapa yang melakukan semua ini padanya.
"Revan, aku pikir ini terlalu berlebihan jika pelakunya adalah Revan dan hanya ingin membalas mu dengan cara seperti ini," ucap Kirana.
"Terakhir aku hanya berbuat salah padanya, bisa saja kan di kesal padaku dan meminta orang lain untuk menyuruh mereka, menyarankan identitasnya."
"Apa kau yakin Revan yang melakukan ini semua?"
"Kemungkinan besar ia, Revan akan melakukan sesuka hati tanpa berpikir terlebih dahulu," jelas Claudia membayangkan wajah Revan. "Jika memang benar Revan yang melakukannya, lihat saja aku tak akan memaafkan," geram Claudia mengepal tangannya.
Claudia tersenyum saat ia memikirkan 1 cara agar bisa membalas Revan, sebuah ide terlintas di kepalanya.
"Revan tunggulah pembalasanku, jika memang benar ini ulahmu, aku akan membalasmu lebih kejam lagi."
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Terima kasih sudah membaca 🙏
Like, vote dan komennya 🙏
Salam kenal, author m Anha.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 123 Episodes
Comments
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝘨𝘰𝘰𝘥 𝘫𝘰𝘣 𝘒𝘪𝘯𝘢𝘳𝘢 👍👍👍👍👍
2023-04-23
0
Anonymous
patung ----------> patuh
2022-11-23
0
M Anha🌹 Ig: anha5569🌹
iya sih KK maunya juga gitu, tp ini udah permintaan dari editor, kami yang mendapat misi ikut kerangka yang di minta kk
😅
2022-07-06
0