Kinara melihat kekiri dan kekanan mencoba mencari tahu di mana dia sebenarnya sekarang, apa yang terjadi kepadanya. "Dimana aku sebenarnya, tempat apa ini," batinnya tak mengenal tempat itu. Saat akan berjalan tiba-tiba ia dikejutkan dengan munculnya layar transparan di hadapannya.
Kinara memundurkan langkahnya, terkejut. "Apa ini," gumamnya tersentak melihat layar tersebut. Ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya. "Darimana datangnya layar ini?" bertanya dalam hati, Kinara masih mencari dari mana Sumber benda tersebut.
"Selamat Anda telah di hidupkan kembali," tertulis jelas di layar yang ada di depannya.
Kirana membaca tulisan di layar transparan tersebut dengan saksama, membuat ia semakin tak mengerti apa yang di maksud tulisan itu.
"Siapa yang terlahir kembali ke dunia," gumamnya. Tiba-tiba ingatannya kembali terlintas saat ledakan di markasnya.
"Apa yang dimaksud hidup kembali itu aku? Apakah aku sudah mati," pikirnya bertanya-tanya dalam hati masih terus mencari sepenggal demi sepenggal ingatannya.
"Jika aku sudah mati, dimana aku sekarang, kenapa aku bisa hidup kembali? Kenapa aku berada di tubuh anak ini?" batinnya bertanya-tanya dan terus bertanya membuat ia pusing sendiri dengan masalah yang dihadapinya, semua ini sungguh tak masuk akal baginya. Mana mungkin orang yang sudah mati bisa dihidupkan kembali, "Aku pasti sudah tidak waras, ini hanya mimpi," ucapnya memukul pipinya yang sialnya terasa sakit.
Di tengah kebingungannya, layar transparan tersebut kembali tertera beberapa tulisan yang menjelaskan bahwa ia harus menyelesaikan transformasi hidup wanita yang sedang Ia tinggali saat ini dan dia bisa mendapatkan skor transformasi dengan berpura-pura keren dan menghajar musuhnya. Setelah transformasi selesai sistem dapat membantunya memenuhi 1 keinginan.
Kinara tergelak membaca semua itu. "Konyol," ucapnya. "Apa-apaan ini. Aku sama sekali tak tahu siapa anak ini, mana aku tahu siapa musuh-musuhnya! Tunggu apa maksudnya jika aku menyelesaikan misi ini sistem dapat membantuku memenuhi 1 keinginan. Apakah aku bisa mengajukan permohonan dan dikabulkan oleh sistem, begitu kah maksudnya?" Kinara terus bergumam sendiri bertanya sendiri kemudian menjawab sendiri pertanyaannya.
Semakin dipikirkan semakin ia tak mengerti, hidup kembali, sistem, mengabulkan permintaan. Jika dipikir lagi memang itu semua tak masuk akal. Namun, melihat kejadian saat ini, itulah yang ia alami. Ia hidup kembali dan pindah ke tubuh seorang anak SMP dan layar transparan yang ada di depannya ia, tidak bisa di pungkiri semua itu benar-benar terjadi saat ini padanya. Layar itu nyata di depannya dan ini semua bukanlah sebuah mimpi belaka apalagi khayalan.
"Baiklah kita lihat apakah sistem ini dapat mengabulkan permohonan ku, kita lihat siapa musuh anak ini. Mari kita kumpulkan skor secepat mungkin," ucapnya menyemangati dirinya sendiri kemudian mengambil tas yang tergeletak tak jauh darinya. Ia yakin tas itu adalah milik tas anak ini mengingat di sana sudah tak ada siapa-siapa lagi kecuali dirinya.
Kinara pun kembali ke sebuah gedung sekolah yang ia yakini itu adalah sekolahnya, melihat pakaian seragam yang ia gunakan.
Semakin berada di dalam tubuh anak ini Kinara semakin merasa jika ia bisa mengetahui tentang anak ini, sepertinya ingatan anak ini masih tersimpan, terekam jelas di otaknya dan ia bisa mengetahui apa yang anak ini alami selama ini.
Iya merasa mereka terhubung, hati dan pikiran mereka menyatu.
Kinara berjalan menuju ke kelasnya, entah dari mana ia tahu kalau itu adalah kelasnya, ia hanya mengikuti instingnya.
Kemana ia membawanya.
Di dalam kelas para pembully yang memukuli Kinara tadi mengadu kepada wali kelas mereka, bertujuan agar Kinara bisa di hukum.
"Pak, ini semua ulah Kinara, pak! Ia memukuli kami hingga jadi seperti ini," ucap Jenika memperlihatkan pergelangan tangannya yang lebam, menunjukkan beberapa bekas luka pada wajah teman-temannya yang juga di hajar oleh Kinara tadi.
"Mana mungkin Kinara memukulmu! memukuli kalian sampai babak belur seperti ini!" ucap wali kelas melihat beberapa dari siswa itu memiliki luka lebam di wajah mereka.
Bahkan teman-temannya yang lain juga tak percaya jika luka-luka mereka disebabkan oleh Kinara. Kinara gadis yang lemah, lugu, tak mungkin dapat melakukan semua itu pada mereka, yang jelas-jelas jumlah dan kekuatan mereka lebih unggul.
Kinara yang baru sampai di dalam kelasnya, langsung masuk kedalam kelas setelah mengetuk pintu.
Melihat kedatangan Kinara, wali kelas memanggilnya untuk ikut bergabung dengan beberapa siswa yang luka tadi.
"Kinara, Jawab dengan jujur, apa benar kamu yang telah membuat mereka seperti ini?" tanya wali kelas menunjuk beberapa orang teman Kinara yang meringis kesakitan memegangi wajahnya.
"Iya, Pak. Saya yang melakukannya," jujur Kinara membuat semua teman-teman Kinara tersentak kaget mendengar apa yang baru saja Kinara katakan, tak ada percaya, tentu saja mereka tak satupun yang percaya begitu juga dengan wali kelasnya.
"Saya hanya melindungi diri saya, Pak! Mereka duluan lah yang memukuli saya, mereka membawa saya ke sebuah hutan dan memukul saya beramai-ramai," jelas Kinara.
"Bohong," sanggah Jenika.
" Pak, kalau bapak tidak percaya Bapak bisa memeriksa luka-luka saya," ucap Kinara yang membuka jaket hoodie yang dipakainya terlihat jelas di sana beberapa luka bahkan terlihat jelas di tangan dan kakinya.
Anak-anak di dalam ruangan semua heboh melihat luka pada Kinara. Berbisik-bisik merasa kasihan. Namun, terselip rasa tak percaya jika Kinara mampu membalas Jenika si pembuat onar di sekolah mereka.
"Bohong, Pak. Dia duluan yang melakukan pemukulan kepada kami," ucap Jenika.
Kinara yang mendengar ucapan Jenika langsung menatapnya dengan tatapan yang sama saat mencengkram pergelangan tangannya, seolah ia berkata Apakah cengkraman ku tadi kurang keras, apakah perlu ku patahkan pergelangan tanganmu.
Sesaat Jenika tersentak dan memundurkan langkahnya melihat tatapan membunuh dari Kinara. Namun, ia kembali membusungkan dadanya, ia tak ingin terlihat lemah dihadapan Kinara, gadis lemah dan pengecut itulah yang ia pikirkan tentang Kinara.
Kinara tersenyum kecut dengan tatapan yang masih sama, mengintimidasi mereka semua, beberapa bawahan Jenika bahkan menunduk tak berani menatap mata Kinara. "Apa ini musuh utama gadis kecil ini, oke kita pusatkan kan pencarian poin pada mereka semua, kita lihat berapa poin yang aku dapatkan apabila membuat kalian semua berlutut di hadapanku," batin Kinara sang mafia.
"Apa yang terjadi dengan Kinara, mengapa aku merasa Kinara berubah menjadi lebih kuat. Apakah selama ini dia memang kuat dan menyembunyikan jati dirinya, aku harus lebih berhati-hati padanya sepertinya Ia mempunyai rencana pada kami semua," batin Jenika melihat ekspresi wajah dari Kinara melihat mereka semua.
Wali kelas mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka, dia mencoba membandingkan luka mereka, "Jenika, mana mungkin Kinara mampu mengalahkan kalian semua. Jumlah Kalian lebih banyak, apa memungkinkan Kinara melakukan itu semua?" tanya wali kelas mereka.
"Tapi itulah kenyataannya, Pak. Luka yang kami dapatkan adalah perbuatan Kinara, bukankah Kinara sendiri sudah mengakui nya," jawan tegas Jenika yang di angguki oleh teman-teman sekaligus bawahannya.
Kinara tersenyum sinis melihat mereka semua.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca 🙏
Bagaimana dengan bab ini? Ada kritik dan saran🤗
Jangan lupa like, vote, dan komennya 🙏
Salam kenal Author M Anha ❤️
Love you all 💕💕💕💕
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 123 Episodes
Comments
Kustri
tulisan'a enak bgt dibaca, gampang dimengerti, EYD yg bagus, alur'a bikin penasaran
👍
2023-05-10
0
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝘒𝘪𝘳𝘢𝘯𝘢 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘒𝘪𝘯𝘢𝘳𝘢 🤔🤔🤔🤔
2023-04-22
0
kutu kupret🐭🖤🐭
jalang perek otak babii🖕🖕👿
2023-02-09
0