Ketika kaki Alea telah berada di dalam goa, terlihat keadaan goa yang cukup lebar.
"Ya ampuun....mahluk apa yang tinggal di goa sebesar ini...." seru Alea perlahan.
Dengan semakin waspada Alea semakin masuk kedalam goa , semakin kedalam aura yang ada semakin kuat. Alea merasakan tekanan yang berat menyerang tubuhnya. Dengan mengeluarkan tenaga dalam dan aura keagungannya Alea menekan aura yang ada di dalam goa itu. kini sesak di dadanya menghilang . Alea kembali melanjutkan langkahnya. Saat sampai di ujung dalam goa, Alea melihat ruangan goa semakin lebar dan di pojok ruangan terlihat makhluk yang membuat tubuhnya merinding. Seekor ular sebesar pohon kelapa berwarna putih sedang melingkar di pojok ruangan goa. Hingga terlihat seperti gundukan tanah yang menjulang tinggi hingga mencaoai langit- langit goa.
Dengan perlahan dan waspada Alea mendekati tubuh ular itu. Ular itu berwarna putih seputih awan . saat semakin dekat terlihat kepala sang ular berdarah dan terluka sangat parah. matanya terlihat terpejam . Alea semakin mendekati ular itu .
"Hey....manusia...berani sekali kau memasuki kediamanku....!" sebuah suara bernada marah menggema dalam fikiran Alea. Ternyata ular itu berbicara dengan cara bertelepati melalui fikiran dengan Alea.
"Kau jangan marah dulu...aku tak ingin mengganggumu, tapi kulihat kau terluka..." jawab Alea datar.
"Apa urusanmu...." jawabnya dengan marah.
"Kau ini....sudah terluka terlalu parah seperti itu masih sombong juga...." kata Alea mencemooh.
"Bukan urusanmu...." jawabnya dengan marah.
"Bukan urusanku sich...tapi lihatlah, tiga atau empat hari lagi kau tidak bisa tertolong lagi..." jawab Alea tenang.
"Kau fikir aku percaya dengan omonganmu....?" jawab sang ular.
"Percaya atau tidak, bisa kau buktikan sendiri..." jawab Alea cuek.
Tiba- tiba mata ular itu terbuka. Dia menatap Alea dengan mata merahnya.
"Ada apa....?Kenapa kau melihatku seperti itu...?" tanya Alea heran .
"Kau memiliki ikatan kontrak dengan Phoenix....?" tanya ular itu dengan menatap Alea tajam.
"Nona...dia sahabatku...?" tiba- tiba terdengar suara Phoenix .
"Benar....kau sahabat Phoenix....?" tanya Alea .
"Iya...dimana dia....?" terdengar kembali suara di dalam fikiran Alea. Namun sekarang suara itu ada nada kerinduan.
"He he ...kau akan kutemukan dengan dia kalau kau mau ku obati...." jawab Alea dengan wajah tenangnya.
"Kau.....dasar manusia..." jawabnya kesal.
"Kau ini... di sini yang untung dirimu... kenapa kau yang kesal...?" kata Alea gemas.
"B?aiklah asal aku bisa bertemu dengannya..." jawab nya dengan pasrah.
"He he he...ternyata kau merindukan sahabatmu ya...?" goda Alea.
"Ck..siapa juga yang merindukan dia..." jawabnya angkuh.
"Iya, iya kau tak merindukan dia... dasar... sekarang aku akan melihat lukamu dulu.." kata Alea sambil mendekat dan melihat luka si ular .
Ternyata benar perkiraan Alea kalau ular ini terkena racun yang ganas .
"Kau terkena racun bunga rumbai..." kata Alea perlahan sambil memeriksa kembali luka si ular.
"Bunga rumbai....?" gumam sang ular.
"Iya...racun ini sangat sulit membuat penawarnya. Untung saja aku memiliki bunga teratai merah dan daun pohon kehidupan...." kata Alea pelan. Bunga rumbai adalah bunga yang daunnya berwarna putih berbintik merah , dan hidupnya di daerah dingin bersalju. racun daun ini sangatlah ganas. sulit untuk membuat penangkalnya. tapi untung Alea punya pohon dan air kehidupan.
"Ya sudah kau tunggu sebentar, aku akan mengambil obat dan ramuan untuk mengobati lukamu ..." kata Alea.
Dia segera memasuki ruang dimensinya untuk mengambil obat dan ramuan untuk luka sang ular. Sesampainya di dalam ruang dimensi ,
"Nona ...kenapa Dia...?" tanya phoenix saat Alea sudah berada di dalam ruang dimensi .
"Dia terkena racun bunga rumbai..." jawab Alea.
"Bunga rumbai...!" kata Phoenix kaget.
"Iya...nanti saja kalau mau ngobrolnya, karena aku akan membuat penawar racunnya dulu..." kata Alea lagi.
Alea segera mengambil obat penyembuh dan juga menyiapkan ramuan penawaran racun bunga rumbai . setelah mengambil beberapa macam tanaman obat yaitu bunga teratai merah, daun tapak darah serta daun pohon kehidupan yang ada di dalam ruang dimensi, Alea di bantu Phoenix menumbuk daun obat itu sampai halus , Alea segera membawa ramuan tadi bersama obat dan seember air kehidupan keluar dari ruang dimensi dan kembali di dekat Ular besar tadi.
"Kau sudah datang....?" kata sang ular lemah .
"Iya...aku sudah membawa ramuan penawar racun, jadi kau nanti tahan dulu sakitnya saat ku oleskan ramuan ini,...." kata Alea.
"Baik...." jawab sang ular.
"Kau minum dulu pil penyembuh ini... aku akan memasukkan kedalam mulutmu, tapi awas jangan kau gigit tanganku...." kata Alea.
"Iya aku tahu..."jawab sang ular sebal.
Alea segera memasukan tiga buah pil warna hijau kedalam mulut si ular, setelah itu dia menuangkan air kehidupan kedalam mulut sang ular. Setelah itu Alea mulai membersihkan luka di kepala sang ular. Lalu mengoleskan ramuan yang di buatnya tadi keluka yang di derita si ular. Setelah itu dia mengambil buah kehidupan yang telah dia bawa tadi.
"Sekarang makanlah buah ini..." ucap Alea memberikan sekaligus memasukkan buah kehidupan pada mulut sang ular.
Dia lalu duduk di dekat sang ular. Perlahan dia menaruh tangannya di sekitar luka yang ada di tubuh sang ular . Dia menyalurkan hawa murni ketubuh sang ular untuk membantu agar racun keluar dari tubuh sang ular. Tak berapa lama terlihat darah hitam keluar dari luka dan mulut sang ular. banyak sekali darah hitam yang di muntahkan dari mulutnya.
Hampir dua jam Alea membantu ular putih mengeluarkan racun dari tubuhnya. Setelah darah tak keluar lagi dari mulut sang ular, Alea segera menyudahi pengobatannya. Terlihat wajah pucat Alea karena kelelahan.
Alea segera duduk lotus dan memejamkan mata untuk menyerap energi Qi dari sekitarnya. tak berapa lama dia kembali membuka matanya.
"Nona ...kau tidak apa- apa...!" seru Eagle dan Lauyan yang kini sudah berdiri di sebelah Alea dengan wujud manusia.
"Tidak...aku tidak apa- apa, cuma kelelahan saja..." jawab Alea.
"Nona minumlah dulu Air kehidupan..." kata Eagle dengan khawatir.
"Lalu makanlah buah kehidupan agar tubuhmu kembali sehat..." kata Lauyan.
Alea lalu meminum minuman yang di serahkan Eagle. Lalu memakan buah pemberian Lauyan. Tanpa mereka sadari ular putih sudah menegakkan kepalanya.
"Phoenix..Elang...kalian ada di sini...?" tanya sang ular kaget .
"Putih...kau sudah sehat...?" tanya Eagle.
"Tentu saja, karena kami adalah binatang kontrak tuan kami..." jawab Phoenix.
"Kalian binatang kontrak putri ini....?" tanya Putih .
"Iya...kami binatang kontrak putri..." jawab Eagle. Sedang Alea terlihat sudah agak baikan setelah meminum air dan buah kehidupan.
"Putri...maukah kau juga menjadikan aku binatang kontrakmu...?" tanya Putih berharap. Setelah nyawanya tertolong oleh Alea. Si Ular putih tak bisa memungkiri kalau dia berhutang nyawa pada gadis itu .
"Jangan terburu mengambil keputusan Putih ...aku menolongmu tanpa pamrih..." kata Alea.
Alea segera berdiri dan berjalan mendekati ular putih yang terlihat sudah agak sehat.
"Tidak putri...hamba rela hidup bersama putri..." jawab Putih .
"Baiklah kalau itu maumu..." kata Alea sambil melukai jemarinya dan meneteskan darah di kepala Piton. Terlihat setitik cahaya terang masuk kedalam kepala Putih .
"Trimakasih putri...kini aku sudah menjadi hewan kontrakmu...." kata ular Putih gembira.
"Karena kau sekarang sudah menjadi hewan kontrakku kau kuberi nama White..?" tanya Alea .
"Trimakasih putri..." kata White.
"Jangan memanggilku putri, panggil Nona seperti mereka berdua..." kata Alea lagi.
"Baik Nona..." jawab White sambil menundukkan kepala .
"Baiklah....karena hari sudah menjelang sore, aku harus segera pulang. White..kau bisa istirahat di ruang dimensi bersama mereka berdua..." kata Alea.
"Baik nona..." jawab White .
"Ya sudah sekarang kalian kembalilah ke ruang dimensi..." kata Alea
"Baik Nona..." jawab mereka serempak.
Merekapun segera hilang dari pandangan Alea. Melihat mereka sudah pergi , Alea segera pulang ke Minsion Jendral Murong Han.
Sesampainya di sana Alea melihat Mimi yang sedang mondar - mandir didepan pintu belakang tempat tinggal mereka dengan wajah cemas. Ketika melihat Alea datang Mimi segera membombardir Alea dengan berpuluh pertanyaan.
"Lea'er ..kamu dari manah..? Kau tahu aku sangat cemas..bla.bla..bla...
Semua pertanyaan Mimi hanya membuat pusing Alea.
Alea hanya diam saja dan berjalan masuk kedalam rumah mereka.
"Lea'er...kenapa kau diam saja....?" tanya Mimi ketika melihat Alea hanya diam dan berjalan .
"Apa yang harus aku jawab kak...kalau kau menanyakan berpuluh pertanyaan padaku...?" jawab Alea.
Mimi tersadar atas kecerewetannya.
"Maaf...aku tadi terlalu cemas. Lea'er.. kau seharian tak pulang..." kata Mimi dengan wajah malu .
Alea melihat tingkah Mimi tertawa .
"Kak aku nggak apa- apa kok.... Lihat nich...aku sehat aja kan...." jawab Alea.
"Syukurlah....." jawab Mimi lega.
"Nach sekarang tolong sediakan air mandi buatku ya...." kata Alea sambil tersenyum .
"Baik Lea'er...setelah itu aku akan membuat makan malam buat kita...." kata Mimi .
"Okey....sekarang Alea mau kekamar dulu, nanti airnya kalau sudah selesai panggil Alea kak..." kata Alea riang.
"Okey.....?"beo Mimi tak mengerti.
"He he he ...maaf, artinya baik kak..." kata Alea sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Mimi hanya geleng kepala melihat tingkah junjungannya yang sudah menganggap dia kakaknya.
Setelah mandi dan makan Alea menyuruh Mimi untuk beristirahat karena besok pagi mereka akan lebih keras latihannya.
Mimi pun mengiyakan dan segera keluar menuju kamarnya. Sedang Alea seperti biasa dia akan masuk kedalam ruang dimensinya untuk berkultivasi dan latihan bersama kedua hewan kontraknya. Alea memang jarang tidur di dalam kamarnya. Jika ada kesempatan dia akan masuk kedalam ruang dimensi untuk berkultivasi atau berlatih pedang atau menciptakan jurus-jurus baru untuk memperkuat diri
💥💥💥💥💥
Keesokan harinya seperti biasa sebelum matahari terbit, Alea akan keluar dari dalam ruang dimensinya .
Setelah membersihkan diri dia segera mengajak Mimi untuk latihan di hutan .
Mimu segera mengganti bajunya dengan baju pria, Mereka berdua segera melesat pergi kehutan angker .
Sesampainya di sana Alea mulai mengajari Mimi untuk berlatih pedang. Tak berapa lama terliha dua wanita muda yang memakai baju pria sedang berlatih pedang . Setelah berlatih hampir empat jam, mereka segera memutuskan untuk pulang . ketika sampai di rumah mereka segera mandi dan berganti baju.
Baru saja Mimi san Alea selesai berganti baju dan akan beranjak pergi kedapur tiba- tiba terdengar gedoran di daun pintu.
Dor
Dor
Dor
"Buka pintu...." terdengar suara seseorang berteriak di depan rumah mereka.
"Kak...siapa...?" tanya Alea heran.
"Entahlah....jangan - jangan para ular itu Lea'er..." jawab Mimi.
"Kalau gitu kakak buka pintunya dan bilang aku sakit penyakit menular, dan kalau mereka memaksa masuk biarkan saja kak....aku akan masuk kekamar kembali..." perintah Alea.
"Baik Lea'er...." jawab Mimi.
Mimi segera berjalan menuju pintu . namun sebelum membuka pintu mimi sedikit mengacak rambutnya dan mengambil tanah untuk di usapkan kemukanya. Setelah itu baru membuka pintu.
Dor
Dor
"Buka pintu...." kembali terdengar teriakan dari luar . dengan cepat Mimi segera membuka pintu.
Saat pintu terbuka terlihat Selir Rolia bersama kedua anaknya sudah berdiri di depan pintu bersama para pelayannya dengan muka merah karena marah.
Plaak.....
"Kenapa lama sekali membuka pintunya ha....!" terdengar suara tamparan dan teriakan dari luar . Alea ingin rasanya keluar dan melabrak mereka, dia tahu pasti para ular itu sedang menampar Mimi.
"Maaf nyonya...hamba baru dari dapur untuk membuat bubur buat putri..." terdengar suara Mimi menjawab.
"Apaa..bubur...? Emang kenapa dengan nonamu...?" terdengar lagi teriakan dari luar dan Alea yakin itu suara si anak ular Meilan.
"Putri sakit penyakit menular , dia takut kalian akan tertular nanti..." jawab Mimi.
"Kau beralasan kan....!" seru Meilan lagi .
"Tidak putri...." jawab Mimi.
"Bun kita lihat saja kedalam Bun..."
Dan terdengar langkah kaki mendekati kamar Alea. Alea yang sudah memakai cadar kembali segera menarik selimut untuk menutupi badannya .
Braaak...
Terdengar pintu di buka dengan keras.
Alea menatap pintu yang terbuka dengan wajah datarnya . Terlihat kedua putri ular itu datang bersama wanita paruh baya dengan dandanan menor.
Alea hampir tertawa melihat dandanan mereka.
"Ya ampuuun ini si ular burik selir Rolia...
Sebenarnya dia cantik sich...hanya dandanannya aja yang terlalu tebal . Batin Alea.
"Woo...ini si tuan putri yang lagi sakit...?
Kenapa kau masih bisa bernafas sich...
Dasar sampah, tak berguna, kenapa kau tidak cepat- cepat mati saja.." seru selir Rolia sinis.
"Bunda selir Rolia....maaf Bunda...aku tidak bisa cepat- cepat memenuhi keinginanmu untuk mati... Aku masih ingin hidup bunda...gimana kalau bunda saja yang mati....?" jawab Alea dengan suara memelas tapi matanya menatap mereka dengan tatapan membunuh. Kesinisan terlihat di mata cantiknya. Sedangkan orang yang berada di kamar Alea terkejut mendengar Alea berani berkata seperti itu pada Selir Rolia. Mereka tak menyangka gadis penakut yang merupakan sampah masyarakat berani melawan Selir Rolia.
"Kaauuu....!" terlihat wajah Selir Rolia merah karena marah.
"Kurang ajar...berani kau berucap seperti itu ha....!" teriak Selir Rolia marah .
"Apa yang mesti aku takutkan Bunda... Kau bukan dewa yang menentukan aku hidup atau mati kan...?" jawab kembali Alea dengan sarkas.
"Duh...kenapa gue nggak membawa batu kecil sih untuk mengerjain wanita ular ini..." pikir Alea. Namun tiba- tiba di genggaman tangan Alea ada batu kecil sebesar kelereng yang tergenggam di tangannya.
"Lo..darimana batu ini...tapi bodoh ah yang penting ada batu untuk ngerjain si ular beludak ini..." ucap Alea dalam hati.
"Dasar kauu... pelayan...tampar gadis kurang ajar itu..." teriak Selir Rolia marah.
"Baik nyonya....." seru pelayan Selir Rolia
yang berada di belakang putri May.
Pelayan itu segera melangkah dengan wajah gembira , karena dia di beri kesempatan menghajar gadis sampah seperti Alea. Namun saat dia mulai melangkah sebuah batu tiba- tiba berada di bawa kakinya hingga membuat dia tergelincir dan menabrak putri May yang ada di depannya , dan otomatis putri May yang kaget hilang keseimbangan dan dia pun oleng dan jatuh kearah Selir Rolia yang berdiri di depannya. Dan akhirnya mereka bertiga jatuh kedepan bersamaan dengan posisi memalukan.
Terdengar teriakan membahana di kamar Alea.
"Aaaa....." sseruan dari dayang selir Rolia , putri May , dan Selir Rolia bersamaan.
"Selir.....!"
"Putriii... !"
"Bundaa...!" seru putri Meilan dan para pelayan serentak melihat mereka bertiga jatuh kearah depan bersamaan.
Mereka segera berlari membantu membangunkan putri May dan Selir Rolia. Terlihat wajah Selir Rolia pucat karena menahan malu dan marah.
"Bunda maaf putri nggak bisa menolong bunda....?" kata Alea dengan wajah memelas.
"Kaauuu......" seru Selir Rolia marah.
Dia berbalik dan mendekati pelayan setianya yang tadi membuat mereka jatuh .
Plaak....
Terdengar suara tamparan nyaring terdengar dari pipi pelayan yang di tampar Selir Rolia.
"Apa yang kau lakukan ha....!" teriaknya marah.
"Ampun, ...ampun nyonya...." seru pelayan itu ketakutan.
Selir Rolia segera keluar dari kamar Alea dengan sangat marah di ikuti anak dan pelayannya.
Jangan lupa like, vote dan komennya ya
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 148 Episodes
Comments
C a l l i s t o ®
Agak aneh sebenernya. Phoenix dr telur ditemukan Alea. Gimana ceritanya jd sahabat ular yg dirindukan 😭 kalopun sahabat yg kangen kan ortunya Phoenix bukan Phoenix nya yg tau 😐
2024-10-16
0
zylla
mimi tambah pinter
2024-06-01
0
N'Dön Jùañ Shakespeare
😁😁 ya ampun 👍
2023-09-15
1