"Apaa...putri Meilan akan kemari...? Ya ampuun..pasti dia akan membuat masalah buatmu Lea'er...." seru Mimi ketakutan. Dia tahu kalau putri Meilan datang ke kediaman putri Lea hanya untuk menyiksa putri Lea.
"Tenang saja kak...kita lihat saja apa yang akan dia lakukan...." kata Alea dengan tenang.
"Lalu apa yang mesti kakak lakukan Lea'er...?" tanya Mimi ketakutan.
"Kak...kakak jangan takut.... Kita akan membalas dendam semu perlakuan mereka pada kita , Mereka harus tahu Putri Lea yang sekarang bukan Putri Lea yang dulu, putri Lea yang mudah mereka tindas dan mereka siksa , mulai sekarang mereka harus tahu kalau mereka tak akan mudah menindas dan menyiksaku lagi..." kata Alea menenangkan Mimi.
"Benar katamu Lea'er...kau bukan Putri penakut seperti dulu..putri yang mudah mereka siksa..." terlihat senyuman di wajah Mimi. Mimi sadar kalau Putri Lea yang sekarang bukan putri Lea yang penakut dan bodoh seperti yang dulu. Putri Lea sekarang adalah putri yang mempunyai kepercayaan , dan kepanndaian yang tinggi.
"Karena itu, kau sekarang nggak boleh merasa takut lagi kak..." kata Alea .
"Benar Lea'er...aku nggak akan takut lagi.." jawab Mimi dengan yakin .
Setelah selesai makan Mimi segera membereskan bekas makanan mereka dan merapikan kembali meja yang berada di dalam kamar Alea. Baru saja Mimi menyelesaikan pekerjaan nya tiba- tiba terdengar gedoran di pintu rumah dengan keras .
Dor
Dor
Dor
"Buka pintu....!" teriakan dari luar.
"Kak...mereka sudah datang..." kata Alea sambil tersenyum sinis.
"Lalu apa yang seharusnya kakak lakukan Lea'er...." kata Mimi agak takut.
Alea mengerti dengan ketakutan Mimi, karena mereka sering menindas Putri Lea tanpa dia bisa berbuat apa pun untuk menolong Alea.
"Buka saja pintunya kak..kita akan mulai pertunjukannya..." kata Alea gembira.
Mimi segera membuka pintu rumah mereka. Sedang Alea segera memakai cadar yang sempat dia ambil dari ruang dimensi nya.
"Untung gue sudah mengganti baju gue dengan baju lusuh lagi..." kata Alea pelan. Dia segera duduk bersandar di pembaringan seperti layaknya orang yang sakit parah.
"Kenapa lama sekali sih buka pintunya... lagian ngapain juga mesti di kunci... " terdengar suara yang bernada marah dari luar kamar.
"Maaf putri May...hamba mengunci pintu karena permintaan Putri Lea yang masih sakit..." jawab Mimi pelan.
"Cih...sok manja...minggir....!" terdengar teriakan sebelum kemudian pintu kamar Alea terbuka dengan keras. Mereka melihat seorang gadis dengan baju lusuh sedang duduk bersandar pada ranjang yang juga terlihat lusuh. gadis itu terlihat memakai cadar hingga wajahnya tidak terlihat. Hanya matanya yang terlihat sedang tertutup.
"Dasar ja***g...kenapa dia masih hidup.. Bukankah dia tidak mendapatkan perawatan dari seorang tabib..." umpat Meilan dalam hati.
"Kau sudah sembuh....?" tanya Meilan sinis.
"Kau bisa melihat sendiri, apakah aku sembuh atau tidak..." jawab Alea dingin sambil tetap memejamkan matanya.
"Kau...." seru Meilan marah ketika Alea tak menghiraukan dan acuh melihat kedatangannya .
"Kurang ajar...kau tidak menghormati tuan putri Meila ....!" seru dayang Meilan dengan marah , dia segera mendekati Alea dan mengayunkan tangannya untuk menampar Alea. Mimi yangvmeluhat tingkah dayang Meilan merasa terkejut.
Namun sebelum tangan itu sampai di pipi Alea. Sebuah tangan memegang dan mematahkan lengan itu.
"Aaaa....." terdengar jeritan dari mulut pelayan kepercayaan Meilan.
"Berani sekali kau ingin menampar seorang putri... Sebesar apa nyalimu hingga berani menampar putri sah dari seorang jendral besar ha..." teriak Alea yang masih memegang tangan si pelayan, dan satu tangannya lagi menampar beberapa kali pipi pelayan itu dengan keras. Setelah itu dia mendorong si pelayan dengan keras hingga dia jatuh kelantai dengan suara keras. Semua orang yang ada di kamar Alea tercengang melihat keberanian Alea dan kecepatan tangan Alea . Mereka menatap Alea tak percaya.
"Ck...ternyata pelayanmu punya nyali besar, berani sekali dia ingin menampar seorang putri sah dari seorang Jendral...." kata Alea sarkas sambil turun dari ranjangnya. terlihat tubuh Alea yang sehat dan segar. putri Meilan dan putri May kaget melihat itu. putri Meilan semakin marah melihat kesehatan Alea dan keberanian Alea melawan mereka.
"Kau...berani kau ya....!" teriak Putri Meilan sambil mengangkat tangan dan ingin menampar Alea. Namun dengan mudahnya Alea memegang tangan Meilan yang melayang.
"Wah....ternyata kelakuan pelayannya meniru dari majikannya..." ejek Alea sambil menampar pipi Meilan dua kali . Putri Meilan merasakan pipinya yang memanas dan berdenyut.
"Kau fikir mudah ingin menindasku lagi...?" kata Alea dingin. Sambil menghempaskan tangan Meilan yang dia pegang .
"Kaaauu....!" seru putri Meilan marah.
Begitu juga dengan putri May yang menatap Alea dengan wajah merah karena marah.
"Kenapa...? Marah.....? Atau masih kurang...? Boleh sini aku tambah..." kata Alea mengejek. Putri Meilan segera menjauh dari Alea. begitupun dengan putri May yang terlihat ketakutan.
"Kaauuu...dasar j****g awas kau....!" seru putri Meilan marah sambil mengangkat telunjuknya kearah putri Lea.
"Apa....Cepat pergi dari sini sebelum aku berbuat lebih dari itu...cepaaat..." seru putri Lea dengan keras.
Merekapun segera buru- buru keluar dari kamar Alea.
Setelah kepergian mereka, Mimi segera mendekati Alea.
"Lea'er, kau hebat banget...." seru Mimi gembira saat mereka semua sudah menjauh dari kediaman Alea.
"Siapa dulu...Alea..." ucap Alea songong.
Mimi tertegun ketika mendengar Alea mengucap namanya.
"Lea'er...kenapa kau menyebut namamu Alea...?" tanya Mimi .
Alea terkejut mendengar pertanyaan Mimi. Namun itu hanya sebentar, kini wajahnya kembali netral.
"Kak.. aku sekarang ingin memakai nama itu... Karena aku menginginkan perubahan dalam hidupku,...." jawab Alea.
"Ooo...kenapa tidak....nggak masalah, itu hanya sebuah nama... Tapi nama itu bagus juga kok ...." kata Mimi dengan wajah gembira.
"Yee ..emang namaku yang terbaik dari pada nama junjunganmu...." seru Alea dalam hatim
"He he he...maaf tuan putri🤣🤣
"Kak...kita latihan lagi yuk di belakang rumah..." ajak Alea pada Mimi.
"Sekarang....?" tanya Mimi .
"Iya ...masak besok...ayo kak..." ajak Alea tegas. Akhirnya Mimi mengikuti gadis kesayangannya itu pergi kearah belakang rumah yang memang memiliki tanah lapang.
Sesampainya di sana mereka segera melakukan pemanasan ala Alea.
Mereka berlari mengelilingi lapangan luas yang ada di belakang bangunan tempat tinggal mereka. Mereka tidak takut dilihat orang karena sejak dulu tidak seorangpun yang mau datang kesana. Karena itulah Alea dan Mimi dengan tenang melakukan latihan demi latihan untuk kekuatan tubuh mereka.
Dengan tekun Alea nengajari dasar ilmu beladiri. Sedangkan Phoenix dengan setia menjaga di atas pohon yang berada tak jauh dari mereka berlatih.
Dan dengan semangatnya Mimi mengikuti semua pelajaran yang di ajarkan Alea. Untuk melancarkan daya ingat Mimi , Alea memberi buah Kehidupan yang Phoenix ambilkan dari ruang dimensi.
Mereka berlatih hingga sore hari. Siang hari mereka hanya berhenti saat istirahat makan siang.
"Kak...sampai disini dulu latihan kita. Kita teruskan besok pagi lagi .." kata Alea pada Mimi.
"Iya Lea'er..." jawab Mimi sambil berdiri dari duduknya. Mereka baru saja selesai mencoba menyerap aliran Qi dari sekitar. Mimi yang sudah memakan buah kehidupan kini sudah bisa menyerap aliran Qi dari sekitarnya sesuai petunjuk Alea.
Mereka berdua segera masuk kedalam rumah .
"Kak...apakah bahan makan kita masih ada...?" tanya Alea.
"Masih banyak...kau mau memasak...?" tanya Mimi.
"Benar...aku ingin memasak masakan kesukaanku..." jawab Alea.
"Baik ayo kedapur...kita masak bersama.." kata Mimi sambil berjalan mendahului Alea. Sesampainya di dapur terlihat mereka sudah sibuk dengan masakan yang di buat Alea.
Satu jam lebih akhirnya terciptalah dua masakan kesukaan Alea.
"Ini masakan apa Lea'er...aku nggak pernah melihat masakan seperti ini...?" tanya Mimi sambil menatap masakan yang di buat Alea.
"Ini namanya ayam rica- rica kak...dan yang ini namanya daging asam pedas, semua serba pedas kak..." kata Alea menjelaskan.
"Lea'er melihat tampilan dan harumnya perutku lapar..." kata Mimi dengan wajah malu . Alea tertawa mendengar perkataan Mimi.
"Ya sudah kakak tata masakannya di kamar, kita makan setelah selesai mandi..." kata Alea sambil masih tertawa.
"Ya ampun....kakak belum menyiapkan air hangat untukmu...." seru Mimi panik.
"Nggak masalah kak...Alea mau mandi dengan air dingin saja. Sekarang siapkan saja air dingin di bak mandi. Alea tunggu di kamar ya..." kata Alea sabar. dia tak ingin terlalu merepotkan Mimi. di jaman modern pun Alea jarang menyuruh para pembantunya untuk mengerjakan tugas darinya. walaupun dia putri seorang konglomerat namun dia gadis sederhana.
"Baik Lea'er..." jawab Mimi.
Alea segera berjalan kedalam kamarnya. Dia masuk sebentar kedalam ruang dimensinya untuk mengambil sabun dan sampo . Dia senang karena di jaman ini belum ada yang namanya sampo dan sabun tapi ruang dimensinya sudah memiliki perlengkapan mandi jaman modern.
Ketika dia keluar dari dalam ruang dimensi, terlihat Mimi berjalan membawa air di dalam bak Air untuk Mengisi bak mandi. Tak lama dia keluar dari dalam kamar mandi yang hanya sebuah sekat kecil di dalam kamar Alea.
"Lea'er air mandinya sudah tersedia..
Kau mau pewangi apa..." tanya Mimi lembut.
"Bunga mawar aja kak..." jawab Alea.
Mimi pun kembali masuk kedalam kamar mandi. Tak lama dia keluar.
"Sudah Lea'er... mandilah , aku akan menata makanan di mejamu setelah itu aku akan mandi dulu...." katanya.
"Iya..." jawab Alea singkat.
Setelah Mimi keluar ,Alea segera masuk kedalam kamar mandi , dia segera membuka baju luarnya hingga tersisa baju dalaman yang tipis. Perlahan dia masuk kedalam bak mandi . saat kulit putihnya merasakan dinginnya air dan harum bunga , membuat kesegaran meresap di dalam tubuhnya. Setelah berendam beberapa waktu, Alea segera keluar dari bak mandi. Ketika keluar dari kamar mandi dia melihat Mimi sudah menunggunya dengan memegang hanfu di tangannya.
"Kak...apakah baju yang kau pakai itu baju yang aku belikan kan...?" tanya Alea sambil tersenyum senang.
"Benar Lea'er...apa pantas aku pakai...?" tanya Mimi malu- malu.
"Huu...kau terlihat cantik kak..." kata Alea jujur. Memang sebenarnya Mimi gadis yang cantik. Tapi karena saat hidup bersama Putri Lea Min Hua yang sering di buly membuat dia juga kena imbasnya . namun kini setelah hidup bersama Putri Alea yang kuat. membuat Mimi bisa merawat tubuhnya juga. Kini tak ada lagi orang yang menindas mereka.
"Kau terlalu memujiku Lea'er..." kata Mimi semakin malu.
"Benar kak...kak..kau tidak boleh rendah diri, kita harus percaya diri dan lebih kuat , agar kita tidak mudah di tindas lagi....ya sudah sekarang tolong mana hanfuku...." kata Alea mengubah topik pembicaraan. Mimi segera memberikan baju yang dia pegang pada Alea. Alea segera memakai hanfunya dengan bantuan Mimi. Setelah selesai memakai pakaian dan menyisir rambut, mereka berdua segera makan bersama.
******
Sedang di tempat lain terlihat seorang gadis yang sedang marah - marah pada para pelayannya
"Ja***g dasar pe****r murahan, berani sekali dia menampar wajahku...." teriak putri Meilan sambil melempar barang yang ada di depannya.
Sejak tadi pagi sehabis dia pulang dari kediaman Alea, dia mengamuk dan melempar barang- barang yang ada di dekatnya. Dia hanya bisa diam sebentar saat sang ibu berada di dekatnya menenangkan dirinya. Namun setelah sang ibu pergi dan dia teringat akan tamparan Alea, dia kembali histeris . untunglah jendral sedang bertugas di perbatasan.
Selir Rolia kembali kekamar sang putri ketika pelayannya melaporkan kalau putri Meilan kembali mengamuk.
Tok
Tok
Tok
"Lan'er....buka pintunya nak...." kata selir Rolia yang berdiri di depan pintu kamar sang putri.
Dia mendengar barang yang kembali pecah dari kamar putri sulungnya.
"Lan'er... Buka pintunya dulu nak..."seru selir Rolia dengan cemas . dia kembali mengetuk pintunya dengan cemas. dia tak ingin terjadi sesuatu pada putrinya.
Setelah agak lama menunggu dan membujuk akhirnya pintu kamar Mailan terbuka juga.
"Bunda...." seru putri Meilan sambil berlari masuk ke dalam pelukan sang Bunda.
"Sudahlah Lan"er...kau harus sabar...kita akan membalas ja***g itu dengan lebih parah. Bukankah kita sudah hampir berhasil melenyapkannya..." kata sang Bunda sambil mendudukkan Meilan di atas ranjangnya.
"tapi kapan Bunda....aku sudah tak sabar lagi melihat wajah wanita j****g itu..." seru putri Meilan dengan wajah kesal.
"Kau harus bersabar...kita pasti akan membuat dia menderita. Dia akan meminta untuk kematiannya, jadi kau sekarang harus bersabar dulu...." bujuk sang Bunda .
"Baiklah Bunda aku akan berusaha untuk bersabar.." jawab putri Meilan kembali tenang.
maaf cukup dulu cerita untuk hari ini ye... besok author sambung lagi.
jadi agar author semangat , jangan lupa like ,vote dan komennya author tunggu .
Nuhun....🙏🙏🙏
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 148 Episodes
Comments
Yoni Hartati
tdk sadar yg jalang itu siapa
2023-12-31
4
Cesar Manuel Ris Costa
*mengajari
2023-08-02
0
Cesar Manuel Ris Costa
*yang melihat
2023-08-02
0