"Kucingku sedang jamuran, obat mana yang cocok untuk dia ya? ini atau ini?" Seorang perempuan dengan rok pendek mengangkat bergantian obat kucing di tangan nya.
Maxime hanya melamun dan mengacuhkan pembeli di depan nya ini, ia hanya memainkan bollpoint di tangan nya.
"Heii ... hallo ... Tuan ... aku sedang berbicara denganmu."
Bola mata Maxime bergerak melihat dua obat di tangan perempuan itu lalu menunjuk obat jamur yang ada di tangan kanan perempuan itu.
"Oh jadi ini yang bagus?" ucap si perempuan seraya tersenyum. Maxime hanya mengangguk pelan lalu kembali melamun.
"Berapa hari biasanya akan sembuh? jamur di tubuh kucingku sangat banyak, berapa botol yang harus aku beli?"
"Hallo Tuannn ... astagaa tuan ... kau niat berjualan tidak ..." perempuan itu mengibas-gibaskan tangan nya di depan wajah Maxime.
Maxime menatap perempuan itu dengan tatapan dingin nya, membuat nyali si perempuan menciut seketika.
Maxime berbicara dengan tenang tapi tatapan mata nya begitu tajam.
"Bawa kucingmu ke dokter kalau jamur nya sangat banyak, setiap hari kau datang membeli obat jamur kucing tapi kau tidak punya kucing sama sekali!"
"A-aku ..." Perempuan itu terlihat kikuk, darimana Maxime bisa tahu kalau dirinya tidak punya kucing.
Itu hanya akal-akalan nya saja agar bisa bertemu dan berbicara dengan Maxime.
Maxime beranjak dari kursi mengubah tanpa buka di petshop menjadi tutup.
"Silahkan keluar, petshop ini sudah tutup. Dan obat itu gratis untukmu!"
"Tapi kan ini masih siang," sahut si perempuan di depan nya.
Maxime menghela nafas. "Pergilah atau aku akan menyeretmu keluar nona!!"
Perempuan itu terlihat kesal karena di usir dengan cara seperti itu. Bukankah pembeli adalah raja, mau punya kucing atau tidak itu hak nya untuk belanja di petshop ini bukan.
Dengan kesal perempuan itu menaruh dua obat jamur di meja dengan kasar lalu keluar dari petshop Maxime.
Maxime mengusap wajahnya gusar, kenapa ia sekarang sangat ingin bertemu dengan Milan padahal Maxime sendiri baru pulang dari sekolah Milan.
Apa ia harus kembali ke sekolahnya, tapi itu juga tidak membuat Maxime bertemu dengan Milan jika Maxime hanya diam di luar atau di belakang sekolah Milan.
Ia harus memikirkan cara bagaimana bisa bertemu dengan gadis itu.
*
Sementara itu di sebuah kamar dua orang perempuan sedang menempelkan foto-foto masa kecil mereka. Siapa lagi kalau bukan Miwa dan Tessa.
"Geser ... geser ... ke samping sedikit .."
"Di sini?" tanya Tessa.
"Bukan ... ke atas sedikit."
Tessa berusaha menempelkan foto-foto masa kecil mereka berempat di dinding. Kamar yang tidak terlalu luas di mansion Javier adalah kamar mereka berempat. Maxime, Miwa, Arsen dan Tessa saat kecil.
Kamar saat mereka kecil ini tidak berubah sampai sekarang, kenangan begitu banyak tertinggal di kamar ini. Mainan tersusun rapih, kasur, selimut, tidak di ganti sama sekali. Hanya sering di cuci saja.
Tessa mundur perlahan menatap dinding kamar dengan mata terpesona.
"Waahhh lihat Miw ... kita sangat lucu ..."
Foto ke empat bocil yang tumbuh bersama itu menghiasi dinding kamar dengan indah, di foto itu mereka saling merangkul dengan tersenyum. Ada juga foto mereka saat main pasir di pantai, foto pertama mereka di sekolah, foto bersama Momo dan masih banyak lagi.
"Aku jadi kangen sama Maxime," sahut Miwa seraya menatap foto Maxime yang tengah tertawa, kakak nya ini berubah menjadi pria dingin sekarang.
"Ya, dia yang paling berubah. Dulu Daddy ku bilang Maxime lah yang paling keras ketika tertawa. Tapi sekarang dia malah menjadi es batu."
Miwa terkekeh seraya menyikut lengan Tessa. "Walaupun es batu kakak ku begitu perhatian, bukan."
"Tentu saja, semua kakak perhatian dengan adiknya," sahut Tessa seraya merangkul Miwa.
"Sudah, kita makan saja. Aku sangat lapar." Miwa dan Tessa keluar dari kamarnya menghampiri orang-orang yang sedang makan siang di bawah.
"Selamat siang ..." sapa Miwa dan Tessa bersamaan seraya menuruni anak tangga.
"Ya ampun lucunyaa dua perempuan ini. Kemana-mana selalu berdua ..." sahut Liana dengan tersenyum.
Miwa dan Tessa bergabung di meja makan bersama mereka.
"Dulu sih sering berempat, tapi yang laki-laki sekarang sibuk dengan bisnisnya." Rania sang nenek berujar seraya mengisi gelasnya dengan air.
"Anak laki-laki memang harus di didik menjadi pemimpin," sahut Javier.
"Aku jadi bingung, siapa pemimpin perusahaan De willson group yang sebenarnya. Maxime atau Arsen," ucap Keenan.
"Ya, Maxime lebih banyak menghabiskan waktu di petshop di banding di perusahaan." Jonathan ikut menimbrung pembicaraan mereka.
"Cucuku yang satu itu memang suka hal sederhana. Petshop nya lebih berharga dari pada perusahaan," ujar Xander.
Sky yang sedang memotong-motong daging pun berkata. "Saking berharga nya, dia jarang kumpul keluarga seperti ini."
"Sky anakmu itu menyembunyikan --- Akkhh!!" Belum selesai Philip berbicara di bawah sana kakinya di injak dengan sengaja oleh Keenan.
Keenan mendelik dengan maksud meminta Philip untuk diam.
Semua orang menatap Philip dan Keenan dengan penasaran.
"Ada apa?" tanya Thomas.
"Menyembunyikan apa?" tanya Sky.
"Uncle??" Miwa ikut bertanya.
"Me-menyem ..." Philip menggantung ucapan nya karena Keenan tidak mengangkat kakinya sama sekali, pria itu malah menginjak kaki Philip di bawah sana semakin keras.
"Menyembunyikan anak babi!!" teriak Philip kemudian menghembuskan nafas lega karena di bawah sana Keenan langsung mengangkat kakinya.
"A-apa?" tanya Javier terbata karena tak percaya dengan apa yang ia dengar.
Jangan, jangan sampai otak gila Philip yang dulu memelihara anak babi menurun kepada Maxime, anaknya.
"Jangan bercanda Philip!" ucap Kara.
"Kau pasti bohong." Sekretaris Han ikut berkomentar.
"Tidak bohong, memang benar anak babi," ucap Keenan.
"Iya kan, Philip?" tanya Keenan kepada Philip seraya merangkul pundak pria itu lalu menekan nya agar Philip mau berbohong.
"Bilang saja, Iya." bisik Keenan di telinga Philip.
Philip mengangguk. "Iya, benar. Anak babi."
Dengan kesal Javier menyimpan sendok di tangan nya.
"Ini tidak bisa di biarkan kita harus pergi ke petshop nya dan mengambil anak babi itu!!"
Keenan yang baru saja terlihat tenang sontak menatap Javier dan kembali tegang.
Gawat, rencana nya akan gagal total jika Milan di temukan lebih dulu oleh Javier dan yang lain.
Keenan melepaskan rangkulan tangan nya dari Philip.
"Tu-tunggu ... tunggu dulu ... itu kan hanya anak babi, tidak perlu terlalu serius seperti ini. Maxime dari kecil pecinta binatang, wajar saja kalau ada anak babi di petshop nya."
"Wajar bagaimana maksudmu!!" sentak Javier.
"Aku tidak mau anakku seperti Philip ..."
Philip yang baru saja hendak menyantap nasi nya terhenti kala nama nya di sebut Javier.
"Kenapa aku?" tanya Philip.
"Ya, lihatlah dirimu. Semenjak merawat Momo kau tidak tertarik dengan lawan jenis dan hidup sendirian sampai tua seperti ini," sahut Javier.
"Aku walaupun sendirian tapi sukses menjadi pengusaha," sahut Philip tak terima seakan dirinya di rendahkan Javier.
"Apa bagusnya menjadi pengusaha babi!!" sentak Javier.
Keenan yang berada di tengah-tengah mereka menghela nafas. Karena Javier dan Philip yang berada di sampingnya saling berteriak membuat kupingnya ngilu saja.
Sementara yang lain hanya menonton perdebatan sengit antara Javier dan Philip. Sky dan Kara hanya bisa menggelengkan kepala melihat mereka yang sudah tua tapi masih saja suka bertengkar.
"Momo hadir di hidupku memberikan kekayaan!!"
"Hahaha bukan kekayaan ... tapi kegilaan!! kau jadi gila karena merawat anak babi itu!!"
"Berhentilah mengolok-ngolok momo!!"
"DIAMMMM!!!" teriak Keenan membuat bahu mereka terlonjak kaget seketika.
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 231 Episodes
Comments
Firanty Ranty
wkwkwkwkwk.... waaah Keenan berani meninggikan suaranya di depan Javier
2024-05-26
0
Angraini Devina Devina
🤣🤣🤣🤣🤣ketua mafia bisa terkejut juga ya.....🤔🤔🤔 maklum dah tua
2023-09-13
0
Momy Haikal
😂😂😂udah pada tua juga
2022-04-06
0