Maxime mengunci petshop nya, ini masih siang tapi ia hendak tutup karena Sky menelpon nya untuk makan siang bersama. Dan sudah pasti Ibunya itu cerewet kalau sampai Maxime tidak datang.
Ketika ia membalik, ia sedikit terlonjak kaget kala anak kecil berada di depan petshop nya dengan memeluk seekor kelinci.
"Paman apa ada wortel di toko paman? Wortel di kebun Ayahku belum siap panen kata Ayahku."
Maxime mendekati bocah itu. "Kau memberi kelincimu wortel setiap hari?"
Bocah itu mengangguk. "Ya, terkadang rumput juga."
"Jangan memberinya wortel setiap hari itu tidak bagus. Beri wortel sesekali saja dan jangan lagi berikan rumput liar kepada kelincimu itu atau dia akan mati."
Bocah itu langsung memeluk kelincinya erat. "Tidak, aku tidak mau kelinci ku mati paman."
Maxime mengacak-ngacak gemas bocah yang sepertinya baru berusia lima tahun itu.
"Masuklah."
Maxime kembali membuka petshop nya dan mengambilkan dryfood khusus kelinci lalu memberikan nya kepada bocah itu."
"Ambil yang kecil dulu, besok kembali lagi kesini. Paman akan memberikan makanan yang ukuran nya lebih besar dari ini, tubuh kecilmu tidak akan bisa membawa kantung makanan terlalu besar kan."
Bocah itu mengangguk dengan memeluk kelinci dan kantung makanan, ia sedikit kesusahan tapi Maxime malah terkekeh lucu melihatnya. "Ya, Paman. Ini sudah berat."
Maxime mengambilkan kandang khusus kelinci lalu memasukan kelinci anak kecil itu.
"Ini, kau bisa menenteng nya sekarang. Jangan di peluk lagi, nanti dia kesakitan."
"Wahhh ... Lili punya rumah baru sekarang ... terimakasih paman."
Maxime hanya mengangguk, lalu bocah itu pun pergi dengan raut wajah bahagia nya karena mendapatkan makanan dan juga kandang baru untuk kelinci peliharaan nya. Maxime selalu ramah terhadap anak kecil saja.
Suara ponsel kembali berbunyi, tidak tahu sudah berapa kali Sky menelpon anaknya. Maxime hanya bisa menghela nafas dengan sikap Ibunya yang berubah menjadi singa cerewet.
"Cepatlah Maxime ... kau masih dimana? semua orang sudah menunggu!" kata Sky di seberang sana.
"Astaga Mom ... tidak bisakah sabar sebentar, aku harus membereskan petshop ku dulu."
"Maxime kau mau aku mati!!" suara yang berteriak itu adalah suara Keenan yang sudah sangat kelaparan menunggu Maxime.
"Bilang kepada uncle Keenan, Mom. Aku tidak perduli jika dia mati!"
Dan Maxime pun mematikan ponselnya membuat Sky di seberang sana mendengus.
Sebelum pergi Maxime sempat melihat Blacky di kandang sedang tertidur bersama anaknya. Kucing yang datang ke petshop Maxime itu sudah diberi nama. Blacky dan anaknya, Blackbok. Maxime masih sama seperti saat kecil, suka sekali menamai binatang seenaknya.
Mobil pun melaju menjauhi petshop miliknya, membelah jalanan kebun teh yang sudah sepi. Biasanya setiap pagi penduduk desa akan bekerja mencabuti teh untuk di olah, karena sekarang sudah siang dan hari semakin panas para penduduk desa terlihat sedang istirahat di beberapa tempat.
Maxime menekan earphone di telinga nya karena Arsen baru saja menghubunginya.
"Ada apa?" tanya Maxime.
"Max apa kau berniat berdonasi lagi bulan ini?" tanya Arsen.
"Tentu saja," sahut Maxime.
"Panti asuhan lagi?" tanya Arsen.
"Donasi ke semua sekolah yang ada di kota ini saja," ucap Maxime.
"Aku lagi yang datang?"
Maxime berdecak. "Kau lah, siapa lagi!!"
"Siapa tau kau mau mencuci matamu melihat gadis SMA," sahut Arsen seraya terkekeh pelan.
"Cih, tidak berselera!" Maxime langsung menekan earphone nya kembali, memutuskan panggilan dengan Arsen.
Tak lama kemudian ia sampai di mansion Ayahnya.
"Selamat siang Maxi ..." teriak mereka semua riang menyambut kedatangan Maxime.
Maxime yang baru melewati pintu depan mendengus, jujur saja hal yang membuat Maxime malas pulang ke mansion Ayahnya karena semua uncle nya terlihat tidak waras. Apalagi Athes and the geng.
Maxime duduk di samping Javier. Meja makan sudah penuh dengan berbagai macam hidangan.
"Kau masih mengurusi petshop kecilmu itu Max?" tanya Keenan yang hanya di jawaban deheman saja dari Maxime.
"Tidak berniat memperluas petshop mu itu?" tanya Thomas.
"Tidak, Daddy Thomas."
"Apa ada vitamin untuk menggemukan babi?" tanya Philip.
Philip yang memutuskan tidak menikah dengan siapapun kini menjadi seorang pengusaha ternak babi yang sukses. Ia banyak bekerja sama dengan restaurant besar untuk mengirimkan ternak babi miliknya.
"Ada," sahut Maxime.
"Aku pesan seribu vitamin untuk ternakku," sahut Philip lagi.
"Aku lebih setuju jika Maxime menyediakan obat waras untuk kalian semua," ucap Javier menatap mereka semua.
"Sayang sekali, obat semahal apapun tidak bisa menyembuhkan mereka." Kara ikut menimbrung.
"Oh iya, dimana Arsen?" tanya Sekretaris Han.
"Di kantor," sahut Maxime seraya mengambil beberapa lauk ke piringnya.
"Apa Miwa sudah bisa di hubungi?" tanya Sky.
"Belum, ponsel Tessa juga malah tidak aktif," sahut Liana.
"Kemana lagi mereka?" suara Maxime berubah dingin mendengar dua adik perempuan nya yang suka sekali menghilang dan tidak bisa di hubungi.
"Sudahlah, mereka itu sudah dewasa. Mungkin sedang berkumpul dengan teman-teman nya," ucap Javier.
Maxime menyimpan sendoknya dengan kesal dan menyenderkan punggung nya di kursi.
"Tidak bisa, Dad. Masih banyak di luar sana yang dendam dengan keluarga kita karena keberhasilan perusahaan De Willson group. Bagaimana kalau ada seseorang yang mengincar mereka!"
Semua orang menatap Maxime yang sedang kesal. Penyakit posesif anak ini sebentar lagi pasti kambuh.
"Kau tenang saja, di kartu identitas Miwa tidak ada marga De Willson. Miwa pasti baik-baik saja," sahut Javier.
"Ini tidak bisa di biarkan. Aku akan mencari mereka!"
Maxime pergi dari meja makan, tidak memperdulikan teriakan orang-orang di meja makan.
Maxime selalu seperti itu, membatasi pergaulan Miwa dan Tessa dengan alasan keamanan. Padahal Miwa pun tidak memakai marga De Willson di belakang namanya semenjak ia remaja, Javier ingin Miwa bebas tanpa di ketahui orang-orang Miwa putrinya.
Tapi sikap Maxime sebagai sang Kakak selalu berlebihan.
Maxime melajukan mobilnya keluar dari mansion Javier dengan dahi mengkerut. Jujur saja ia sangat kesal karena tidak tahu keberadaan Miwa dan Tessa sekarang.
Pintarnya Miwa dan Tessa selalu menolak barang-barang yang di berikan Maxime kepada mereka, karena mereka tahu semua barang yang di berikan Maxime pasti memiliki alat pelacak di dalamnya. Bahkan mereka pun sering mengganti ponselnya kala tahu Maxime menyadap ponsel mereka.
"Ar, apa kau tau dimana Miwa dan Tessa?" tanya Maxime yang sedang melakukan panggilan kepada Arsen di telpon.
"Tidak, memangnya kenapa?"
"Mereka hilang," sahut Maxime.
Arsen berdecak. "Ayolah Max ... sampai kapan kau akan menghawatirkan mereka, mereka sudah dewasa. Kasihan sekali adikmu sudah dewasa masih belum menikah karena kau selalu mengancam akan membunuh setiap pria yang mendekatinya."
"Kep*rat! seharusnya pria itu tidak takut mati jika benar-benar mencintai adikku!!"
Maxime selalu mengajak pria yang hendak mendekati Miwa untuk berduel dulu dengan nya, jika pria itu menang maka Maxime akan merestui nya.
Dan lagi, setiap pria yang mendekati Miwa tidak ada yang tahu kalau Miwa adalah putri keturunan Javier De Willson. Kebanyakan para pria mundur sebelum berjibaku dengan Maxime karena melihat tampang menyeramkan Maxime.
"Terserah kau sajalah!! Aku harus pergi ke sekolah sekarang!!"
Arsen menutup panggilan nya, ia lebih memilih pergi ke salah satu sekolah untuk memberikan donasi yang di keluarkan De Willson group setiap bulan nya.
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 231 Episodes
Comments
Firanty Ranty
astaga aku JD ingat yg S1 Sky dan si anak asuhnya Philip.disaat main lumpur digendong dan dipuk*l pantatnya yg sky bunyi aaauu...si b*bi bunyi ngook sumpah GK bisa lupa moments itu ngakak aku tiap kali ingat itu🤣🤣🤣🤣
2024-05-26
0
cacasilmi
apalah maxime ini apalah😭😭
2024-03-31
0
cacasilmi
cuuu amayy maksim😭
2024-03-31
0