Setelah Arsen memberikan donasi kepada salah satu sekolah di kota nya, ia hendak kembali ke kantor tapi langkahnya terhenti kala Sekretaris Han menelpon nya.
"Iya, Dad?"
"Kau dimana Ar?" tanya Sekretaris Han.
"Di sekolah, Maxime menyuruhku untuk donasi ke beberapa sekolah hari ini."
"Ohhh ... baik sekali anak itu. Dulu ketika aku menjadi Sekretaris Javier, dia tidak pernah berdonasi kepada siapapun." Sekretaris Han mengencangkan suaranya agar terdengar oleh Javier yang sedang membantu Sky beres-beres di dapur.
"Hei aku donasi dengan tangan ku sendiri, tidak menyuruhmu!!" teriak Javier.
"Sayang cepat cuci piringnya," ucap Sky yang suara nya terdengar juga di ponsel Arsen. Mereka pasti sedang berkumpul sekarang.
Arsen tersenyum mendengar keributan di ponselnya, ah ia rindu suasana mansion Daddy Javier yang selalu ramai dengan teriakan.
"Yasudah, Ar. Kau hati-hati, jaga kesehatanmu. Cepatlah pulang kesini, kita semua sudah menunggumu dan Maxime. Tapi anak itu malah pergi mencari Miwa dan Tessa, menyebalkan!"
Arsen terkekeh pelan. "Ya, Dad. Dia terlalu lebay!"
"Ya benar. Dia LE-BAY!!" teriak Sekretaris Han agar terdengar lagi oleh Javier.
"HEI SIAPA YANG KAU BILANG LEBAY!!" teriak Javier, Arsen tersenyum tipis seraya menggeleng mendengar teriakan Javier lalu ia mematikan panggilan nya.
Arsen kembali melangkah pergi tapi ia mendengar suara perempuan di salah satu kelas tak jauh dari tempatnya berdiri. Ia mengintip dari balik jendela. Terlihat seorang gadis sedang menggambar sosok perempuan menyeramkan di papan tulis dan di atas gambar itu ada nama Melisa.
"HEI MELISA ... KAU BUKAN KAKAK KU ... KAU SELALU TERSENYUM PUAS MELIHATKU DI MARAHI!!"
Milan memercak pinggang, berbicara keras kepada gambar perempuan menyeramkan itu. Gambar yang ia buat adalah Melisa Kakaknya sendiri, tapi di buat seancur dan sejelek mungkin oleh Milan.
Amarah Milan semakin menggebu-gebu, ia kembali memarahi gambar itu.
"BILANG KEPADA MAMA ... KALAU TIDAK MENGINGINKANKU LAGI ... AKU AKAN PERGI JAUH DARI KALIAN SEMUA!!"
"Sinting!" gumam Arsen seraya menggeleng pelan.
Milan mendengus kesal lalu membalik dan sialnya mata Arsen malah bertabrakan dengan mata Milan. Alhasil keduanya terkejut dan Arsen pun berlari pergi dari sekolah itu.
"HEI KAU SIAPA?!!" teriak Milan yang lari tergesa-gesa menyusul Arsen.
Sialnya Milan tidak bisa mengejar Arsen karena pria itu sudah melajukan mobilnya keluar dari halaman sekolah.
Milan berdecak kesal menendang kerikil kecil di halaman melihat kepergian pria itu.
*
Malam hari Milan masih luntang-lantung sendirian di sekolah, tepatnya ia duduk di kelasnya sendiri dengan menelungkupkan wajahnya di meja.
Seorang satpam sedang berjaga di malam hari dengan senter di tangan nya. Ia bersiul santai, ini pekerjaan nya setiap malam, mengecek semua kelas di sekolah.
Kala ia menyorotkan senter ke kelas Milan, satpam itu terkejut bukan main melihat sosok gadis dengan rambut terurai sedang menelungkupkan wajah di meja.
"Astaga ... siapa itu ..." ia berusaha menyipitkan matanya.
"A-apa jangan-jangan ..." kalimatnya tergantung kala gadis itu mendongak perlahan.
"HANTU ..." Satpam itu lari terbirit-birit kala Milan menatapnya dengan rambut acak-acakan dan mata bengkak karena habis menangis. Gadis itu hanya menatap kepergian satpam dengan bingung.
Milan mendengus, ia mendengar satpam itu menjerit berkata Hantu, ah apa keberadaan nya di anggap hantu.
Milan keluar dari sekolah berjalan di sendirian tanpa arah dan tujuan, ia menekuk wajahnya dan sesekali menendang batu krikil yang menghalangi langkahnya. Dan lagi, sampai malam ini Milan masih mengenakan seragam sekolah lengkap dengan tas gendong miliknya.
Tiba-tiba langkahnya terhenti kala mendengar suara seseorang bersiul dari belakang, siulan itu seperti sedang menggoda nya.
Perlahan Milan membalik dan melebarkan mata kala ada tiga orang pria yang tengah mabuk menatapnya.
"Hallo cantik ..." goda salah satu dari mereka.
"Mampus!" gumam Milan, Milan pun segera berlari menjauhi mereka.
"Hei kau mau kemana!!" Teriak pria mabuk itu. Mereka bertiga pun mengejar Milan dengan langkah sempoyonga dan minuman botol di tangan nya.
"Hei mau kemana malam-malam seperti ini cantik!!"
"Berhenti!!"
Mereka terus meneriaki Milan, Milan lari tergesa-gesa sementara mereka mengejar Milan dengan tergopoh-gopoh.
Milan sesekali melihat ke belakang, para pria itu masih saja mengejarnya. Dengan jantung yang berdebar Milan memutuskan masuk ke dalam mobil pick up.
Supir pun menyalakan mesin mobilnya dan melajukan mobil menjauhi jalanan itu, Milan menjulurkan lidah meledek kepada para pria mabuk yang sedang mengejarnya, mereka sudah tidak bisa menangkap Milan lagi karena mobil pick up melaju cepat.
"HEI WANITAKU BERHENTIII!!" teriak pria mabuk itu kala melihat mobil yang membawa Milan semakin menjauh.
Milan menghembuskan nafas lega, ia memilih tiduran di mobil pick up seraya menatap langit malam yang penuh bintang. Sampai Milan tak sadar dirinya tertidur dan lupa untuk meminta supir berhenti.
Mobil berhenti di jalanan kebun teh.
"Kenapa berhenti di sini?" tanya teman si supir.
"Sebentar aku ingin pipis," sahutnya seraya keluar dari kemudi mobil memegang burungnya.
"Ck. Kau ini menyusahkan sekali!!"
Supir itu celengak-celinguk mencari tempat untuk bisa ia buang air kecil.
Setelah selesai dan hendak kembali ke mobil matanya mendapati sosok gadis sekolah yang tertidur di mobilnya.
"Ken ... Ken ... ada orang Ken ..." teriaknya kepada teman nya di dalam mobil yang sedang santai merokok.
"AKENN!!" teriaknya seraya membuka pintu mobil.
"Ada orang di belakang!!"
"Ah siapa?" tanya Aken.
Aken yang terkejut pun turun tergesa-gesa dari mobil.
"Astaga!!" Aken membulatkan matanya kala gadis sekolah tidur pulas di belakang mobil.
"Siapa ini?" gumam Aken seraya menelan ludahnya melihat tubuh Milan. Jujur saja gair*h nya malah bangkit.
"Udah bangunin ajalah, suruh dia pergi," ucap si supir.
Aken memercak pinggang menerawang kebun teh yang luas, sepi tidak ada orang malam ini.
"Jangan dulu, gadis ini sangat cantik. Bagaimana kalau kita ..." Aken menggantung kalimat nya menatap teman nya.
Lalu Aken memberi kode untuk membawa gadis itu ke dalam kebun teh.
Milan yang sedari tadi mendengar percakapan mereka langsung membuka mata dan meloncat dari mobil pick up.
"HEI KEMANA KAU!!" teriak Aken yang melihat Milan kabur.
Sudah lolos dari para pria mabuk malah masuk ke perangkap dua pria ini. Milan pikir mereka baik nyatanya sama saja.
Di kebun teh itu mereka saling mengejar.
"HEI BERHENTI!!"
"Pergilah jangan ganggu aku!!" sahut Milan dengan teriak.
Entah berapa lama mereka saling mengejar sampai membuat kaki Milan lemas seketika, dengan nafas terengah-engah sesekali Milan berhenti memijat kaki nya.
Dua pria itu menyeringai kala melihat Milan kelelahan. Milan yang melihat mereka semakin dekat kembali berlari sampai akhirnya tubuhnya menabrak seseorang di depan.
Untungnya Milan tidak jatuh karena seseorang itu menangkap tubuhnya dengan cepat. Ia mendongak perlahan dan mendapati sosok pria yang tinggi dengan tubuh atletis nya, pria itu menatapnya dingin dan sedetik kemudian Milan jatuh pingsan.
"Hei berikan gadis itu dia milik kami!!" teriak Aken.
Maxime tersenyum kecut dengan satu tangan memeluk tubuh Milan.
"Dan nyawamu milikku!!" gumam Maxime pelan lalu menembak Aken dan supir itu tepat di kepala nya.
Maxime hendak pulang ke mansion Ayahnya tapi karena melihat seorang gadis yang sedang di kejar dua pria asing akhirnya Maxime memutuskan membantu gadis yang sedang pingsan di pelukan nya ini.
Maxime membelai rambut Milan menatap wajahnya, mata nya meneliti seragam sekolah yang masih menempel di tubuh Milan.
Sampai akhirnya Maxime menggendong Milan ke mobilnya.
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 231 Episodes
Comments
Firanty Ranty
hahaha...😁😁seru nich ibarat perang antara kucing dan tikus di mulai
2024-05-26
0
Angraini Devina Devina
jodoh kan
2023-09-13
0
ponakan Bang Tigor
wahh pasti Maxime nih
2022-08-20
1