Acara ulang tahun Xander berjalan lancar, semuanya bahagia di malam pergantian usia sang pemimpin Antraxs, acara memang sederhana, hanya acara makan malam di taman yang sering mereka lakukan dari dulu.
Mereka menikmati hidangan selepas menyanyikan lagu ulang tahun untuk Xander. Jangan tanya seberapa kesal Xander mendengar lagu ulang tahun yang biasanya ada di pesta anak kecil kini ada di hari ulang tahun nya itu, padahal Xander sudah meminta mereka untuk tidak mengadakan acara tiup lilin dan potong kue.
Tapi dengan segala kehebohan nya, Philip, Keenan dan Athes and the geng memaksa semua orang agar menyanyikan lagu untuk Xander.
Xander menatap nanar cake ulang tahun di meja dengan lilin angka delapan puluh tahun di atasnya, ia tersenyum getir menahan tangis nya.
Ia berbicara sendirian dengan suara seraknya. Karena yang lain sibuk menikmati acara makan malam ini.
"Alexa ... delapan puluh tahun aku di dunia sekarang, aku ingin cepat mati dan bertemu denganmu. Kau pasti tetap cantik seperti dulu, iya kan ..."
"Jangan khawatir Alexa ... sesuai janjiku, aku selalu setia denganmu sekalipun kau tidak mencintaiku. Tunggu aku sebentar lagi sayang ... mungkin aku akan segera mati."
Xander menghela nafas berat, setiap pergantian tahun, setiap usianya bertambah itu adalah hal menyakitkan sekaligus hal yang di tunggu-tunggu untuknya. Ia ingin segera mati saja, ia tidak mau merasa kesepian lagi hidup tanpa gadis yang bertahun-tahun ia cintai.
Walaupun banyak orang yang menemani nya, tapi tetap saja tanpa Alexa setiap hari adalah hari kesepian untuknya.
Tanpa di sadari, Maxime memperhatikan sang Kakek di belakang dengan segelas wine di tangan nya, ia melihat helaan nafas berat dari Xander, melihat Xander menatap nanar cake ulang tahun nya dan melihat Xander sekarang yang hanya menunduk sendirian tanpa semangat kala semua orang menikmati acara dengan bahagia.
Ia melangkah menghampiri Xander dan duduk di samping Xander selepas menarik kursi ke dekat kakek nya.
"Grandpa baik-baik saja?" tanya Maxime.
Xander mendongak dan menoleh ke arah Maxime lalu tersenyum tipis dan mengangguk.
"Ingat dengan grandma Alexa lagi?" tanya Maxime lagi.
"Ya, dia memenuhi otakku setiap hari. Tapi grandpa suka kala mengingat wajahnya ada di pikiran grandpa," sahut Xander seraya terkekeh kecil.
Maxime tersenyum getir melihat itu, ia merasa salut dengan kebesaran cinta Xander kepada Alexa. Bagaimana bisa sampai tua Xander masih menyimpan perasaan cinta nya untuk Alexa, hanya itu yang ada di pikiran Maxime.
"Kapan kau akan menikah, Max? grandpa sudah tua, menikahlah cepat. Grandpa ingin melihat cucu darimu."
Maxime berdecak, pembahasan soal pernikahan adalah hal yang membuat mood nya memburuk. Jujur saja Maxime tidak berpikir akan menikah.
"Aku akan tetap hidup walaupun tidak menikah."
Jawaban dari Maxime membuat Xander tak bisa menahan tawa nya dan itu membuat Maxime mengernyit bingung.
"Kalimat itu yang grandpa ucapkan sebelum bertemu grandma Alexa ... sampai akhirnya grandma mu itu yang membuat grandpa tergila-gila," sahut Xander.
"Percayalah ... kau hanya belum menemukan yang cocok saja," lanjut Xander.
*
Acara selesai sekitar pukul dua pagi, hari sudah gelap sekarang waktunya istirahat tapi Maxime malah berpamitan untuk pergi ke petshop nya.
"Tidak bisakah kau diam saja di sini, kau selalu tidak betah dengan mansion ini. Ada apa denganmu, Max?" ucap Sky dengan kesal.
"Ya, anak ini seperti menghindar dari kita," sambung Liana.
"Arsen juga tidur di sini," sambung Kara.
"Petshop ku sedikit bermasalah, pintu nya rusak. Dan aku harus mengganti nya," sahut Maxime.
"Bisa besok," balas Javier.
"Tidak, Dad. Setiap pagi selalu ada pembeli datang dan aku kesulitan jika harus melayani pembeli dan membetulkan pintu."
"Kalau begitu panggil tukang pintu. Kenapa kau selalu merepotkan dirimu sendiri, Maxime." Liana menggeleng tak habis pikir dengan Maxime yang terlalu mandiri ini. Semuanya pria itu ingin ia kerjakan sendiri tanpa bantuan orang lain.
"Sudahlah," potong Javier. "Kasihan dia, harus istirahat. Biarkan dia pulang."
"Tapi, By--"
"Sudah sayang." Javier memotong ucapan istrinya seraya mengelus punggung Sky.
"Max, pulanglah. Hati-hati di jalan."
Maxime mengangguk. "Oke, Dad."
Maxime pergi dari taman masuk ke mobil dan melajukan mobilnya keluar dari mansion Javier.
Sesampainya di petshop, ia melihat lampu petshop menyala padahal tadi pagi ia sudah mematikan semua lampu nya.
Dan pecahan beling yang berserakan sudah bersih entah kemana, hanya tersisa pintu yang bolong saja.
Maxime masuk tergesa-gesa ke dalam petshop lalu ia terkejut kala melihat seorang gadis tidur di meja kasir dengan menelungkupkan wajahnya.
Dan lagi, gadis itu memakai kaos polos miliknya. Maxime perlahan mendekati gadis itu.
"Hei bangun ..."
"Hei ..."
Ia mengguncang pundak gadis itu tapi dia masih saja pulas tertidur.
BRUKH
Merasa tak ada cara lain, Maxime mendorong gadis itu sampai jatuh.
"Auwww ..."
"Kau ..." teriak Maxime kala melihat Milan sedang berusaha berdiri dengan sempoyongan.
"Kenapa kau ada di sini? dan kenapa kau memakai bajuku?!!"
Milan mendesis memegangi pelipisnya lalu mendongak.
"Aku tidak tau harus pulang kemana, orang tuaku tidak mau merawatku lagi."
"Tapi aku juga tidak mau merawatmu," sahut Maxime.
Milan merasa tangan yang menempel di pelipisnya terasa basah, di lihatlah tangan itu dan ternyata ada darah di sana akibat benturan ke lantai.
Tiba-tiba kepala nya terasa pusing, pandangan nya kabur. Wajah Maxime saja menjadi tak jelas di mata nya sampai akhirnya Milan jatuh pingsan. Bukan hanya benturan, gadis itu belum makan seharian.
Sebelum jatuh Maxime lebih dulu menangkap tubuh gadis itu dan membawa nya ke kamar dengan panik.
Maxime menelpon Dokter Aliandra, dokter pribadi keluarga Javier De Willson sekaligus adik angkat Ibunya.
"Ada apa?" tanya Aliandra dengan malas.
"Datang ke petshop ku sekarang!!"
"Ini jam setengah tiga, kau gila!!" sahut Aliandra.
"Cepat uncle, ada gadis sekarat di petshop ku," sahut Maxime dengan nada panik sengaja agar memancing Aliandra datang.
"Ah yang benar saja!"
"Aku serius, cepatlah datang. Kau tau Ayahku sangat melindungi perempuan, bukan? jika dia tau ada gadis mati di sini bukan hanya aku yang di salahkan, tapi kau juga! karena kau dokter terakhir yang aku hubungi!!"
Aliandra segera bangun dari tempat tidurnya dengan tergesa-gesa ia mengganti pakaian nya. "Sial*n kau, Max!! kenapa harus petshop, petshop mu sangat jauh dari rumahku!!"
Aliandra semakin menggeram kesal kala Maxime mematikan panggilan nya.
Maxime duduk di samping ranjangnya, membuka laci lalu mengambil p3k di sana, ia mengobati luka di pelipis gadis itu dengan pelan seraya meneliti wajah Milan.
"Milan ..." gumam Maxime pelan. "Namamu Milan ..."
Ia ingat orang tua nya berteriak memanggil gadis ini dengan nama Milan.
Maxime menarik sudut bibirnya tersenyum dengan tangan terus membersihkan darah di pelipis Milan.
"Kau cantik juga ternyata ..."
Baru kali ini Maxime bisa mengamati wajah Milan dari dekat.
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 231 Episodes
Comments
Firanty Ranty
cieeee... Maxime awas Bucin kau nanti
2024-05-26
1
Angraini Devina Devina
dah tergoda tuh
2023-09-13
1
ponakan Bang Tigor
hilihh. awas kau terpesona. katanya gamau nikah🙂 dasar megelin kau, Maxime
2022-08-20
1