Maxime duduk di kursi seraya memainkan bollpoint di tangan nya, ia melamunkan sikap aneh nya pagi ini, kenapa ia mengatur cara berpakaian Milan, kenapa ia juga berkata lebih menyukai rambut panjang Milan.
Ia menghela nafas lalu mengusap wajahnya kasar, ada apa sebenarnya kenapa seperti ini.
Sementara di dalam mobil Milan duduk di samping Arsen seraya memeluk rantang makanan yang di berikan Maxime untuknya. Lihat, pria itu merasa bersalah karena tidak menyiapkan sarapan untuk Milan sampai memberikan masakan Ibunya kepada Milan.
"Dia menyeramkan," ucap Milan menoleh ke arah Arsen.
"Siapa?" tanya Arsen menatap Milan sesaat lalu kembali fokus dengan jalanan di depan nya.
"Maxime."
"Menyeramkan bagaimana?" tanya Arsen.
"Terkadang dia menatapku dingin tanpa berkedip, terkadang dia bawel, bahkan tadi pagi dia membangunkanku sampai berteriak dan juga dia mengatur penampilanku pagi ini. Bukankah sikapnya menyeramkan?"
"Dan lagi ... kenapa ketika aku bangun, aku ada di kamarnya padahal seingatku semalam aku tidur di meja kasir," lanjut Milan bingung seraya menggaruk kepala nya yang tak gatal sama sekali.
Mata Arsen sedikit membulat, ia membayangkan bagaimana Maxime menggendong Milan ke kamar, oh ayolah Maxime sangat sulit di dekati perempuan, terkadang pria itu marah jika ada perempuan yang berani menyentuhnya. Berbeda dengan sang ayah Javier yang mempunyai satu mantan dalam hidupnya, Maxime menyukai satu perempuan saja tidak pernah.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Milan lagi karena Arsen hanya diam dari tadi.
"Selama dia tidak mencintaimu kau akan baik-baik saja," sahut Arsen yang membuat Milan menaikkan satu alisnya tidak mengerti.
"Tapi aku lebih takut jika sekarang dia sudah mencintaimu," lanjut Arsen membatin.
Gawat jika Maxime sudah jatuh cinta, Arsen tidak bisa membayangkan bagaimana jika itu benar terjadi, sikap posesif Maxime terlalu berlebihan, Miwa dan Tessa saja sampai sekarang belum menikah karena nya.
Tiga puluh tahun Maxime hidup tanpa seorang gadis, jika tiba-tiba pria itu mencintai Milan kira-kira apakah Milan akan bertahan dengan sikap posesif Maxime, tingkat posesif Maxime kepada Milan pasti akan lebih tinggi di banding posesif Maxime kepada Tessa dan Miwa.
"Helloo ... heii ... kau kenapa ..." Milan terus berbicara kala melihat Arsen hanya diam seraya pandangan fokus ke depan saja, padahal sedari tadi Milan memanggilnya. Ah untung saja jalanan sepi dan tidak berbelok membuat Arsen yang melamun pun tetap fokus mengemudikan mobilnya.
"E-eh iya kenapa?" tanya Arsen menoleh ke arah Milan sesaat lalu kembali fokus ke jalanan.
"Kau baik-baik saja?oh iya namamu siapa?dan apa hubungan mu dengan Maxime?" tanya Milan penasaran karena melihat Maxime yang hanya pemilik petshop kecil bisa dekat dengan pria kaya raya seperti Arsen, mobil Arsen saja lebih bagus dan lebih mahal dari pada mobil Maxime.
"Namaku Arsen dan aku teman dekat Maxime," sahut Arsen.
Milan mengangguk-ngangguk sampai pada akhirnya ia mengingat sesuatu.
"Tunggu ... saat di halte bukankah Maxime bilang kau adiknya?"
"I-itu ..." Arsen menjadi terbata, ia tidak tahu kalau Maxime sudah mengatakan hal itu kepada Milan.
"Maksudku ... aku teman dekat yang sudah di anggap adik, ya kau tau lah teman yang sangat dekat biasanya sudah di anggap keluarga hehehe ..." lanjut Arsen seraya terkekeh pelan. Setelah itu ia menghela nafas lega kala melihat Milan mengangguk percaya dengan ucapan nya.
*
"Sudah di sini saja," pinta Milan.
"Sekolahmu ada di depan kenapa berhenti di sini?" tanya Arsen.
"Sudah-sudah stop ..." Seketika Arsen menginjak rem dan mobil pun berhenti beberapa meter dari jarak sekolah Milan.
Milan membenarkan tas nya seraya berucap. "Terimakasih ya, aku tidak mau membuat gosip yang aneh-aneh kalau teman-temanku melihatku di antar mobil bagus ini."
Milan tersenyum tipis lalu membuka pintu mobilnya, ketika hendak turun ia kembali menoleh ke arah Arsen.
"Namaku Milan."
Gadis itu keluar setelah memberitahu namanya kepada Arsen. Ia berlari kecil seraya menenteng rantang makanan ke sekolahnya.
Setelah memastikan Milan masuk ke sekolahnya Arsen kembali ke perusahaan.
Milan berjalan di lorong sekolah dengan menjadi bahan tatapan teman-teman nya, penampilan Milan berbeda dari biasanya, gadis itu tidak pernah lepas dari jaket kulit hitam dan ikat rambut. Tapi sekarang, rambutnya terurai panjang dengan poni depan menutupi keningnya, jaket kulit yang menjadi tanda pengenal Milan di sekolah pun kini tidak terlihat dan itu membuat yang lain heran.
Milan berjalan santai dengan dagu terangkat angkuh, beginilah Milan jika di sekolah, selain suka bolos ia juga banyak di takuti teman-teman nya, padahal Milan tidak akan kasar jika tidak di ganggu lebih dulu.
"Apa lihat-lihat?!" sentak Milan kepada para gadis yang berbisik seraya menatapnya.
"Berhenti menatapku atau aku colok mata jelekmu itu!!" Milan berucap dengan mengepalkan tangan di udara seakan tidak main-main dengan ucapan nya.
Dan para gadis itu pun langsung bungkam seketika dengan sikap Milan.
"MILAN KANAYA!!" teriak seseorang dari belakang Milan.
Seketika nyali Milan menciut mendengar teriakan itu, itu teriakan Mr Rian. Mau apalagi kesiswaan nya yang satu ini.
Milan berbalik dan langsung tersenyum manis kepada Mr Rian. "Eh Mr Rian ... Hallo Mr ... apa kabar ..." Milan melambaikan tangan tanpa menghilangkan senyum manisnya.
"Ikut ke kantor Mr sekarang!"
"Tapi --"
"SE-KA-RANG!!"
Milan menghembuskan nafas dan berakhir dengan mengikuti langkah Mr Rian dari belakang.
*
Milan duduk di depan Mr Rian dengan menyilangkan kakinya santai dan tangan bersidekap dada. Rantang makanan dengan tidak sopan nya ia simpan di atas meja Mr Rian.
Mr Rian tidak menegur karena sudah bodo amat dengan sikap satu siswa nakalnya ini.
"Orang tuamu sudah menyerahkanmu kepada Mr. Mereka bahkan tidak perduli jika kamu masih mau sekolah di sini atau tidak."
"Lalu?" tanya Milan.
Mr Rian menghembuskan nafas seraya menggeleng. Tidak bisakah gadis di depan nya ini mengerti ucapan nya sedikit saja.
"Kamu menjadi tanggung jawab Mr sekarang."
"Jadi Mr mau membayar semua tunggakan sekolahku? kenapa? kenapa aku tidak di keluarkan saja dari sekolah Mr?"
"Mr juga maunya seperti itu," sahut Mr Rian dengan malas.
"Tapi kamu tau sendiri, kepala sekolah melarang satu pun siswa keluar dari sekolah ini apalagi kelas tiga, sekolah ini sekolah terbaik, terkenal dengan prestasi Milan, Kakakmu mempunyai segudang prestasi di sini. Kalau kamu sebagai adik dari Meisya Kanaya keluar dari sekolah akan menjadi bahan pembicaraan orang-orang di luar sana."
"Bilanglah kepada mereka, adik dan kakak tidak harus selalu sama," jawab Milan dengan malas jika sudah membahas prestasi sang Kakak.
"Dulu kakakmu masuk tv karena prestasi nya, apa kamu tidak mau mengikuti jejak kakakmu Milan?" tanya Mr Rian menatap serius Milan.
Milan mendengus kesal, beranjak dari duduknya dan membawa rantang di atas meja. Ia pergi dari kantor tapi langkahnya terhenti kala Mr Rian memanggilnya kembali.
"MILAN!"
Milan yang baru saja sampai di ambang pintu membalik.
"Rumah dan sekolah sama saja, tempat membanding-bandingkan manusia!! kalian hanya melihat manusia dari prestasi nya saja!!"
Milan kembali melangkah pergi setelah mengatakan hal itu kepada Mr Rian. Terkadang ketika di marahi atau di nasehati oleh Mr Rian Milan akan menunduk diam, tapi jika sudah membahas prestasi sang kakak emosi nya meluap naik membuat Milan berani melawan Mr Rian seperti sekarang.
Gadis itu tidak kembali ke kelas, ia memilih pergi ke dekat gudang di belakang sekolahnya. Ada kursi dan meja yang sudah tidak terpakai di sana, Milan memilih membuka rantang makanan dari Maxime.
"Woaaahh daging pedas manis kesukaanku ..." Milan menyapu bibir dengan lidahnya sendiri, ia benar-benar tergiur melihat masakan di depan nya.
Tak butuh waktu lama Milan mulai melahap makanan nya satu persatu, ada beberapa lauk di sana dan semua masakan nya sangat enak.
Ponselnya beberapa kali berbunyi menandakan ada pesan masuk, Milan hanya melihat pesan itu dari layar, pesan dari sahabatnya Tino, Alvin, Aken dan Faiz. Keempat lelaki sahabat Milan kompak menanyakan dimana keberadaan Milan sekarang di sebuah grup. Milan mengacuhkan pesan dari mereka dan lebih memilih makan saja.
Selepas makan Milan berencana untuk bolos lagi, ia mengambil tangga di gudang dengan susah payah. Lalu menaiki tangga itu untuk melewati tembok tinggi di belakang sekolah.
Dan baru saja hendak meloncat dari dinding sekolah di bawah sana ia melihat seseorang yang ia kenal.
"Maxime ..."
Maxime menengadah menatap tajam Milan dengan tangan bersidekap dada. "Mau bolos lagi hah?!"
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 231 Episodes
Comments
Angraini Devina Devina
haha🤣🤣🤣🤣
2023-09-13
0
❤️Inces syalala❤️
kok nama sahabat Milan yg bernama Aken bukannya orang yg mau perkosa Milan yya waktu di kebun teh duh lier aing bingung namanya samaan 😌😌
2022-08-04
0
uus widiani
badung sekali si milan🤣🤣
2022-06-13
0