Kenapa sikap Maxime beda sama Javier? Karena campuran Yakuza dan Antraxs. Itu jawaban nya😊
De Willson group menggelar acara besar untuk merayakan perusahaan mereka yang semakin berkembang. Semua para tamu menikmati acara tersebut.
Di samping ruangan ada tempat seperti bar yang cukup luas untuk para pengusaha yang ingin melampiaskan kesenangan mereka lewat minuman.
Ruangan itu tampak ricuh kala para penari tihang dengan pakaian minim mereka masuk, dua penari itu menari memamerkan lekuk tubuhnya. Adegan p*nas tersebut membuat sorakan senang dari para pria di sana.
Para pel*cur pun mulai bereaksi menggoda pengusaha kaya untuk di ajak bermalam di sebuah kamar. Mereka bukan pel*cur murahan, penampilan nya begitu berkelas, seandainya tidak ada yang memberitahu mereka seorang pel*cur, sudah pasti mereka akan tertipu.
Maxime duduk di meja bar dengan menuangkan wine lalu menyesapnya dengan gaya sensual. Satu pel*cur itu mendekatinya, duduk di samping Maxime seraya menyilangkan kakinya sampai paha mulusnya terlihat.
Maxime tidak tergoda, pria itu malah menyalakan ujung rokok dengan pemantik api. Perempuan itu mulai melancarkan aksinya dengan memegang tangan Maxime seraya senyum menggoda.
"Butuh teman?" bisiknya dengan suara berat di telinga Maxime.
Beberapa perempuan yang lain begitu iri melihat teman nya duduk dengan pria dingin yang tampan.
Maxime membumbungkan asap rokok nya ke udara.
"Siapa namamu?" tanya pel*cur itu.
Karena tidak ada jawaban tangan perempuan itu mulai bergeria di tubuh Maxime hendak mengambil kartu identitas di dalam jas nya.
Maxime menahan tangan perempuan itu yang hendak menyusup ke balik bajunya.
"Sopanlah sedikit nona!"
Perempuan itu terkekeh pelan. "Sopan? Oh ayolahh tidak pantas kau mengatakan itu Tuan tampan," sahut pel*cur itu seraya menoel dagu Maxime gemas. Dan Maxime segera mengusap dagu nya, seakan jijik dengan tangan perempuan itu.
"Di tempat ini kau tidak perlu sungkan, kau bisa menikmati siapapun ..."
"Bukan kau yang ingin aku nikmati!" sahut Maxime seraya beranjak dari sofa setelah mendorong tubuh perempuan itu. Maxime bahkan membuang puntung rokok nya ke wajah perempuan itu.
"Akhhh panas ... panas ..." Perempuan itu mengusap-ngusap wajahnya seraya mendengus menatap kesal kepergian Maxime.
Maxime keluar dari bar melewati ruangan VIP tempat dimana acara formal pesta di selenggarakan. Bahkan Arsen sedang presentasi di depan sana untuk menunjukan kapal pesiar yang akan di keluarkan perusahaan De Willson Group.
Pria itu memakai kaca mata, melewati orang-orang yang sedang bertepuk tangan dengan hasil presentasi Arsen.
Sampai akhirnya ada salah satu pengusaha yang menanyakan presdir De Willson Group yang sekarang. Dan itu membuat langkah Maxime terhenti.
"Dimana Tuan Maxime sebenarnya? kenapa kami tidak pernah melihatnya?"
"Ya ... dimana dia?"
"Kenapa dia tidak pernah datang ke perusahaan?"
"Apa dia cacat sampai tidak berani menunjukan batang hidungnya?"
Suasana menjadi ricuh dengan pertanyaan mereka tentang presdir De Willson Group. Maxime hanya tersenyum miring lalu kembali keluar dari pesta, sementara Arsen kalang kabut sendirian dengan pertanyaan para tamu. Arsen hanya bisa berdecak kesal melihat punggung Maxime semakin menjauh dari ruangan.
"Hey ... hey ... dengarkan aku. Tuan Maxime tidak suka di kenal banyak orang, apalagi dia seorang pengusaha terkenal. Dia mempunyai privasi atas hidupnya. Tapi dia tidak lupa dengan perusahaan De Willson, semua kerja keras kami atas ide Tuan Maxime. Termasuk dengan rancangan kapal pesiar yang akan kami keluarkan ini."
Beberapa orang mengangguk mendengar penjelasan Arsen. Tapi beberapa orang berdecak kesal karena masih belum puas jika belum melihat putra pertama Javier De Willson itu setelah dewasa. Dulu Maxime sering muncul di beberapa majalah saja saat usianya lima tahun.
*
Maxime melajukan mobil ke sebuah desa terpencil. Walaupun desa terpencil tapi penduduknya cukup banyak, desa ini berada di dataran tinggi yang jauh dari perkotaan.
Malam hari begini Maxime harus melewati jalanan kebun teh yang sepi. Jika pagi hari suasana jalanan ini begitu segar tanpa campuran kendaraan umum yang lain karena memang di desa ini tidak banyak orang mempunyai mobil atau motor. Mereka selalu menggayuh sepeda untuk melakukan kegiatan nya sehari-hari.
Jangan berpikir mobil yang Maxime kenakan mobil mahal, ini hanya mobil murah biasa yang terkadang mesin nya mati di tengah jalan. Sengaja Maxime memakai mobil menyusahkan ini agar tidak di kenali orang-orang. Biarkan dia di kenal sebagai penjaga petshop yang menyedihkan dengan mobil nya yang sering mogok seperti sekarang.
"Si*l!!" Maxime memukul setir di depan nya dengan kesal.
Ini masih di kebun teh dan hanya ada beberapa lampu jalanan saja yang menemani Maxime memperbaiki mobilnya.
Sebelum keluar Maxime membuka pakaian mahal nya dengan hanya menggunakan kaos hitam polos saja.
Ia keluar, melihat ke kanan ke kiri. Siapa tahu ada Arsen atau teman nya yang lewat walapun itu tidak mungkin. Karena mereka jarang datang ke desa ini.
Maxime mulai membuka bagian mobil depan nya, mencoba mengecek apa lagi yang salah dengan mobil butut ini.
Setelah beberapa menit Maxime mencoba kembali menyalakan mesin dan berhasil.
Dengan wajah tangan dan baju yang penuh oli ia mulai kembali melajukan mobilnya ke petshop miliknya.
Setelah sampai Maxime masuk ke dalam petshop nya, ia membereskan beberapa makanan binatang yang banyak berserakan di lantai. Ini pasti ulah kucing dan anjing jalanan lagi, Maxime lupa mengunci pintu sebelum pergi tadi.
Alhasil Maxime harus menyapu dan mengepel toko nya yang kotor akibat kaki kucing dan anjing yang entah darimana mereka bermain sampai mengotori toko miliknya.
"Keluarlah ... jangan bersembunyi. Aku tidak akan meminta bayaran kepada kalian kucing nakal!"
Dari awal masuk Maxime sudah mendengar suara kucing dan sepertinya bukan hanya satu. Karena Maxime juga mendengar suara anaknya.
Dan ketika ia menoleh ke belakang, ia menaikkan satu alisnya melihat ibu kucing yang berwarna hitam sedang menggendong anaknya yang ia gigit di mulutnya. Kucing itu hanya memperlihatkan kepalanya saja karena ia sedang bersembunyi di balik tumpukan kantung pasir.
"Kemari ..."
Kucing itu malah mundur mendengar suara Maxime. Maxime menghela nafas dan mencoba memancing kucing nya dengan susu dan makanan yang ia simpan di meja kasir.
Lalu Maxime masuk ke kamar mandi untuk membersihkan oli di wajahnya dan meninggalkan makanan kucing itu di meja.
Setelah keluar dari kamar mandi ia tersenyum tipis melihat kucing itu akhirnya makan makanan yang sudah ia sediakan di meja.
Perlahan Maxime menghampir induk dan anak kucing itu, mengelus induk kucing dengan lembut.
"Karena kau masuk petshopku jadi kau milikku sekarang!!"
Pria itu pun duduk menyenderkan punggungnya di kursi. Ia mengangkat lurus kedua kaki nya ke meja dengan bersedekap dada menonton induk kucing yang sedang makan. Sesekali induk kucing itu mengeong sementara anaknya sedang belajar merangkak karena sepertinya anak kucing itu usianya kurang dari satu bulan.
*
*
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 231 Episodes
Comments
Angraini Devina Devina
hemmm lanjut tor
2023-09-13
1
ponakan Bang Tigor
oo ternyata petshop ini miliknya Maxime
2022-08-19
1
ponakan Bang Tigor
oalah, Maxime nyamar kerja jadi pegawai petshop. oo soalnya Maxime ini dari kecil suka banget ama hewan, makanya dia nyamarnya begini. weh meskipun hanya pegawai petshop, tapi dia itu punya 2 organisasi mafia dan perusahaan yang besar
2022-08-19
1