Semua orang saling menoleh satu sama lain. Kini mereka semua duduk lesehan di lantai dengan bersila karena tidak ada sofa besar.
Philip dan yang lain saling menyikut satu sama lain menatap Milan. Sementara Milan hanya bisa meremas ujung rok dengan menunduk.
"Dia hampir di perk*sa semalam. Dan aku membawa nya ke sini," ucap Maxime.
"Ah bohong, dia pasti kekasihmu," sahut Keenan.
"Bukan," sahut Milan pelan.
"Kupikir kau tidak bisa bicara," ucap Jonathan. Karena dari tadi Milan hanya diam.
"Jangan asal bicara!" ucap Maxime dengan menatap tajam Keenan.
"Seleramu masih kecil ternyata." Philip ikut berkomentar seraya memperhatikan Milan yang masih mengenakan seragam sekolah.
"Dia bukan kekasihku aku bilang!! sekarang pergilah dari sini dan jangan cerita apapun kepada orang tuaku!!"
"Tapi ---"
Maxime menyimpan pistol dengan kasar di depan nya menatap tajam mereka semua, membuat semua orang terlonjak kaget. Apalagi Milan, ini kali pertama ia melihat pistol.
"Ja-jangan gila kau ..." ucap Sergio.
"Satu ..."
Maxim mulai menghitung, kalau sampai tiga mereka belum keluar Maxime akan menembak mereka. Tidak mungkin di kepala atau jantung, mungkin hanya di kaki kalau mereka tetap tidak mau keluar.
"Dua ..."
Mereka semua menghela nafas dan memilih beranjak dari duduknya. Sebelum keluar dari petshop mereka sempat menatap Milan.
"Hei aku benar-benar tidak yakin kalau gadis itu bukan kekasih Maxime," ucap Jonathan pelan kepada mereka semua di luar petshop.
"Kita bisa selidiki nanti," sahut Philip. "Sudah, kita pulang saja."
Dua mobil itu melaju pergi meninggalkan Milan yang kini berdua dengan Maxime di dalam petshop dengan pintu tertutup rapat. Milan menelan saliva nya susah payah apalagi sekarang Maxime tengah menatapnya dengan tajam tanpa berkedip.
"A-aku ..."
"Keluar!!" usir Maxime.
"Tapi aku ..."
"Keluar!!" ulangnya lagi.
Maxime beranjak dari duduknya, mengambil Blacky dan anaknya lalu memasukan kembali dua kucing itu ke kandang.
Milan berdiri di belakang Maxime. "Kau bukan orang yang mengejarku semalam bukan?"
Maxime acuh, ia memilih membuka kembali pintu petshop nya, Milan mengikuti langkah Maxime.
"Tapi kenapa kau membawaku ke sini?" tanya Milan.
Maxime tidak menjawab, pria itu memilih menyusun beberapa vitamin kucing di etalase dan merapihkan beberapa bungkus makanan binatang yang berserakan.
Milan masih mengikuti langkah Maxime kemanapun pria itu pergi.
"Apa semalam kau tidak melakukan sesuatu denganku?"
Maxime membuka dus coklat mengeluarkan mainan kucing dan menyusun nya dengan rapih di dinding yang sudah ada beberapa paku menempel.
"Tuan ... eum mas ... mas ..." Milan menepuk-nepuk pundak Maxime.
Maxime mendengus dan Milan segera menarik kembali lengan nya mendengar dengusan nafas Maxime.
Pria itu membalik, maju selangkah lebih dekat dengan Milan. Dan Milan mundur selangkah menjauhi Maxime.
Maxime terus mendekati Milan dan gadis itu pun terus mundur sedikit demi sedikit sampai akhirnya ia tak bisa mundur lagi karena sudah terpojok di dinding.
"Lihat wajahku ..." ucap Maxime dingin.
Milan tidak berani, ia memilih mengalihkan pandangan nya ke samping. Apalagi jarak kedua wajah mereka sangat dekat, bahkan Milan saja bisa merasakan embusan nafas Maxime.
Tadi Milan terus bertanya sekarang gadis itu tidak berani melihat wajah dan berbicara dengan nya, itu membuat Maxime kesal sampai harus merenggut dagu Milan agar mau menatapnya.
Maxime berbicara tajam dan penuh penekanan. "Kau bukan seleraku!!"
Lalu melepaskan tangan nya dari dagu Milan dengan sedikit mendorong wajah gadis itu.
"Keluar!!"
Maxime kembali mengusir Milan, sementara Milan yang tadi curiga kini mengigit bibir bawahnya, ia kebingungan kemana harus pergi sekarang. Ke rumah orang tuanya tidak mungkin, karena ia sudah berjanji tidak akan pulang.
Dan Milan sudah tidak mau luntang-lantung sendirian di jalanan lagi, takut bertemu dengan para preman seperti semalam.
Milan memperhatikan gerak-gerik dan wajah Maxime, sepertinya pria yang sekarang sedang sibuk dengan laptop nya itu benar tidak melakukan apapun kepadanya semalam.
"Keluar atau aku akan menyeretmu!!" ucap Maxime tanpa mengalihkan pandangan dari laptop miliknya.
Milan melangkah mendekati Maxime dan berdiri di depan meja kasir.
"Eum ... mas ... eh Tuan ... boleh tidak saya tinggal di sini?"
Jari-jemari Maxime yang sedari tadi menari di atas keyboard berhenti seketika. Ia mendongak menatap Milan lalu menyenderkan punggung nya di kursi.
"Petshop ... bukan penginapan!!" sahutnya datar tanpa ekspresi.
"Saya di sini tidak gratis, saya akan bayar. Saya bisa kerja dan gaji saya boleh di ambil untuk biaya menginap. Ba-bagaimana?" Milan sedikit ragu dengan permintaan nya sendiri, sepertinya Maxime akan menolak.
Maxime beranjak dari kursi nya mencengkram tangan Milan lalu menyeretnya keluar dengan kasar dan mengunci pintu petshop nya.
Milan yang panik karena di usir kini mengedor-gedor pintu.
"Hei tunggu ... tunggu ... buka pintu nya ... ku mohon tolong aku ... aku tidak tau harus pergi kemana lagi ... aku tidak bisa kembali ke rumah orang tuaku!!"
Maxime tidak perduli, ia kembali sibuk dengan laptop nya.
Sepuluh menit kemudian Milan masih berdiri di depan pintu petshop dengan menempelkan pipi nya ke pintu itu menatap Maxime sendu berharap pria itu kasihan dengan dirinya tapi pria itu tidak perduli dengan nya.
Milan menghela nafas berat, lalu berbalik. Bukan untuk pergi, ia malah duduk di depan petshop dengan meluruskan kakinya. Milan menekuk wajahnya dan sesekali ia menoleh ke belakang, ke arah Maxime yang masih sibuk sendirian.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Sebuah pesan masuk dari Tino, sahabatnya.
Mil, kenapa tidak sekolah? Orang tuamu ada di sekolah sekarang.
Seketika mata Milan membulat, ia lupa tidak pergi ke sekolah. Bodohnya ia berpikir sekarang hari minggu.
Secepat kilat Milan berlari untuk pergi ke sekolahnya. Maxime menatap kepergian Milan, gadis itu lari terbirit-birit membuatnya bingung, ada apa dengan gadis itu.
Setelah gadis itu menghilang dari pandangan nya Maxime kembali dengan laptop nya dan.
PRANG
PRANG
Pintu kaca nya hancur begitu saja karena di lempar batu yang lumayan besar. Maxime segera beranjak dengan tergesa-gesa dan melihat siapa pelaku yang berani mengusik petshop miliknya. Dan ternyata dia adalah, Milan.
"HEI!!" teriak Maxime keras dengan amarah besar.
"TUAN AKU BUTUH BANTUANMU TOLONG ANTAR AKU KE SEKOLAH. ADA HAL DARURAT DI SEKOLAH!!" teriak Milan seraya merapatkan kedua tangan nya memohon dengan wajah memelas.
Tentu saja ketika berlari tadi Milan kembali berbalik ke petshop Maxime karena tidak tahu kemana arah pulang. Semalam ia tidur, Milan saja tidak tahu dimana dirinya sekarang.
Maxime menendang beberapa pecahan kaca yang masih menggantung di pintu itu agar tidak melukai dirinya, lalu mendekati Milan.
"Tuan ..." Nafas Milan tersenggal-senggal. Antara kelelahan dan panik orang tua nya ada di sekolah.
Ia pikir ketika Ibunya meminta dirinya tidak kembali ke rumah, mereka tidak akan kembali mengurusi masalah nya di sekolah. Nyata nya mereka masih datang ke sekolahnya.
Maxime berdecak di hadapan Milan. "Masuk."
Maxime pun berjalan ke mobilnya di ikuti Milan dari belakang.
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 231 Episodes
Comments
Angraini Devina Devina
hemmm itu yg Ter baik
2023-09-13
0
ponakan Bang Tigor
indomi kali, seleraku
2022-08-20
1
Mr.VANO
maxime macan lembut,diamdiam ngabisin
2022-02-12
0