#08

Maxime melajukan mobilnya dengan cepat membuat Milan yang berada di sampingnya komat-kamit tidak jelas, gadis itu ketakutan. Duduknya terasa melayang, ia sampai mencengkram seatbealt dengan kuat. Sesekali menghela nafas kala mobil berbelok dengan kasar ketika berada di pertigaan, tidak bisakah pria itu pelan-pelan saja.

Belum lagi kala melewati jalan berbatuan, Maxime menerobos begitu saja jalanan butut itu yang berakibat kepala samping Milan terbentur pintu mobil.

"Akkhhh!!" ia meringis memegang kepala nya, Maxime seakan tak mendengar ringisan Milan, pria itu tidak memperlambat laju mobilnya.

Milan mendelik dan berdecak ke arah Maxime. Tak lama kemudian mereka sampai di depan sekolah Milan.

Gadis itu segera turun, membanting pintu selepas keluar dari mobil sebagai upaya balas dendam karena nyawa nya hampir melayang. Bodo amat jika mobilnya rusak.

Milan segera berlari menghampiri gerbang sekolah.

"Pak ... Pak ... buka gerbangnya, Pak ..." teriak Milan di depan gerbang.

Satpam itu menghampiri Milan, meneliti penampilan gadis itu yang memakai seragam kusut dan kotor, wajahnya terlihat kucel juga.

"Kau tidak mandi ya?" ucap Satpam.

"Enak aja," sahut Milan nyolot. "Tapi emang benar sih," lanjutnya dengan pelan seraya mencium baju nya lalu wajahnya terlihat jijik dengan tubuhnya sendiri.

"Tuh benar kan tidak mandi," sahut Satpam menunjuk wajah Milan.

"Tidak penting, Pak. Tolong buka gerbangnya, saya harus bertemu dengan orang tua saya."

"Tidak! ini sudah jam berapa, tidak ada siswa sekolah siang begini," sahut satpam.

"Tapi Pak saya ---"

"MILAN!!" teriak Sani, kedua orang tua nya sudah ada di belakang satpam.

Mereka meminta satpam membuka kan pintu dengan wajah kesal Sani dan Rio menghampiri putri nya.

"Dari mana kamu?!!" tanya Sani.

"A-anu ..."

"Bolos lagi hah?!!" potong Sani kesal.

Milan menunduk, menggaruk kepala nya yang tak gatal sama sekali.

"JAWAB MILAN!!" bentak Sani.

"Sudah jangan teriak-teriak ini di sekolah," ucap Rio pelan kepada Sani.

"Tidak bisa, Pah. Anakmu ini keterlaluan dan tidak berguna. Menyusahkan saja!! Mama mengeluarkan uang besar untuk sekolahmu yang tidak ada hasilnya ini Milan!!" bentak Sani dengan melotot ke arah Milan.

"Maaa aku ..."

PLAK

Sebuah tamparan kembali terulang seperti di rumah Milan kemarin. Maxime yang sedari tadi hanya menonton pun segera keluar dengan tergesa-gesa.

Satpam yang ikut menonton begitu terkejut dengan apa yang di lihat nya, Rio berusaha menenangkan Sani, tapi tangan nya di tepis oleh Sani.

"Cukup!!" teriak Maxime.

Semua orang menoleh ke arah suara. Maxime mendekat dan berdiri di depan Milan. Menatap tajam Rio dan Sani.

"Membiayai hidup anak adalah kewajiban orang tua!! kau tidak berhak menamparnya!!" ucap Maxime penuh penekan sampai rahang nya yang tegas memperlihatkan urat-urat kemarahan.

"Siapa kau?!!" tanya Sani. "Dan kenapa kau membela anakku?!!"

Maxime menaikkan satu alisnya. "Anak? kau yakin dia anakmu? kau saja mempermasalahkan biaya yang kau keluarkan untuk sekolahnya!!"

"Karena dia tidak memberikan hasil apapun dari sekolahnya!!" sahut Sani.

"Lalu apa kau sebagai orang tua sudah memberikan hasil yang baik kepada anakmu? apa kau sudah menjadi orang tua yang baik sampai meminta hasil dari anak yang kau keluarkan sendiri!!" teriak Maxime.

Dada Sani naik turun tidak terima dengan teriakan pria di depan nya, ia menoleh ke arah Milan. Gadis itu masih menunduk seraya memegang satu pipi nya yang di tampar tadi.

"Dia siapa Milan?" tanya Sani mengacuhkan keberadaan Maxime di depan nya.

"DIA SIAPA MILAN? APA SEMALAM KAU MELAYANI OM-OM INI SAMPAI TIDAK SEKOLAH!!"

PLAK

"MAMAAA ..." teriak Milan memeluk Ibunya kala melihat Maxime menampar Sani.

"Jaga mulutmu, Nyonya ..." tunjuk Maxime berbicara geram dan penuh penekanan.

Selepas itu Maxime masuk ke mobil lalu berbalik meninggalkan sekolah Milan.

"Mama tidak apa-apa ..."

"Sayang kau tidak apa-apa?"

Milan dan Rio begitu panik, Sani mendorong tubuh Milan sampai jatuh.

"Pergi bersama pria itu!! Aku tidak mau merawatmu lagi!! Dan kau bukan lagi anakku!!" teriak Sani.

"Dan aku akan melaporkan pria itu karena menamparku!!" gumam Sani menatap mobil Maxime dengan tajam.

Milan hanya bisa menatap nanar kedua orang tua yang meninggalkan nya, ia berusaha untuk tidak menangis, tapi gagal. Air mata nya jatuh begitu saja, satpam sekolah segera menghampiri Milan setelah kepergian Sani dan Rio.

"Bangunlah ..." Satpam itu membantu Milan.

Milan menepuk-nepuk rok dan kaki nya yang kotor.

"Aku baik-baik saja, Pak."

"Sudah, jangan di dengarkan apa yang di katakan Ibumu. Pria tadi jauh lebih benar," ucap Satpam itu.

"Masuk dulu ayo ..."

Milan menggeleng. "Tidak usah, Pak. Saya pulang saja. Ini sudah jam pelajaran juga, saya tidak bisa masuk kelas."

Milan berbalik meninggalkan sekolahnya dengan pikiran kacau, orang tuanya sudah tidak mengakuinya lagi, sekarang apa yang harus dia lakukan.

Kemana lagi dia harus pergi, dia juga tidak punya uang sepeserpun. Sebenarnya Milan mempunyai beberapa teman yang pasti akan membantu nya seandai nya Milan jujur tentang keadaan nya sekarang, tapi Milan malu untuk meminta bantuan kepada mereka.

Milan menghela nafas menatap ke arah langit yang cerah, kaki nya melangkah tanpa arah dan perutnya sudah keroncongan sekarang.

Milan menghembuskan nafas, mengelus perutnya seraya menekuk wajah. Dia harus mencari pekerjaan sekarang.

Gadis itu mencoba masuk ke sebuah cafe, berharap ada tawaran kerja untuknya, tapi ternyata pelayan itu bilang cafe nya sudah penuh dengan pelayan.

Dengan raut wajah kecewa Milan kembali berjalan di trotoar, setiap ada cafe ia masuk dan menanyakan ada tidaknya lowongan pekerjaan untuk dirinya. Sudah tiga cafe menolak dengan alasan yang sama.

Milan duduk di halte, bukan untuk menunggu bus atau semacamnya, ia sedang istirahat dan memikirkan akan kemana dirinya sekarang.

Sampai akhirnya ia melihat mobil Maxime berhenti di depan halte, Milan pun tersenyum senang lalu masuk ke dalam mobil Maxime.

"Aku tidak menyuruhmu masuk!!" Maxime berujar dengan menaikkan satu alisnya, heran dengan gadis itu tiba-tiba masuk ke mobil tanpa di perintah.

"La-lalu ... kenapa kau berhenti?" tanya Milan.

"Menunggu adikku," sahut Maxime.

Dan tak lama kemudian seorang pria mengetuk jendela.

Maxime menurunkan jendela nya.

"Kau ..."

"Kau ..."

Arsen dan Milan sama-sama terkejut.

"Kau kan siswa sinting itu," ucap Arsen.

"Hei jaga bicaramu!!" sahut Milan tidak terima di sebut sinting.

Maxime hanya diam dan menatap bingung keduanya, kenapa mereka bisa saling kenal padahal Maxime belum cerita apa-apa kepada Arsen.

"Kenapa kau bisa bersama Maxime?" tanya Arsen.

"Maxime? siapa Maxime?" Milan balik bertanya.

Arsen menunjuk Maxime dengan dagu nya.

Milan menoleh ke arah Maxime. "Oh jadi namamu Maxime ..." ucap Milan.

"Turun!" perintah Maxime.

"Tapi aku tidak ---"

"TURUN!!" bentak Maxime membuat bahu Milan terlonjak kaget.

Milan mendengus dan akhirnya turun dari mobil Maxime, Arsen pun segera masuk selepas Milan keluar dari mobil Maxime.

"He-hei ..." teriak Milan kala dirinya di tinggalkan sendirian di halte.

Milan berdecak, menendang udara dengan kesal melihat kepergian mobil Maxime.

Bersambung

Terpopuler

Comments

Firanty Ranty

Firanty Ranty

😭😭😭😭😭
aku sampai nangis bacanya

2024-05-26

0

Angraini Devina Devina

Angraini Devina Devina

yg kuat Milan anggap saja ini pelajaran yg berharga....jadi kau bisa betapa pentingnya sekolah jadi jangan sia"kan pendidikan mu

2023-09-13

0

Novianti Ratnasari

Novianti Ratnasari

kasian bgd Milan. apa Milan bukan ank kandung mereka

2022-05-07

0

lihat semua
Episodes
1 #01
2 #02
3 #03
4 #04
5 #05
6 #06
7 #07
8 #08
9 #09
10 #10
11 #11
12 #12
13 #13
14 #14
15 #15
16 #16
17 #17
18 #18
19 #19
20 #20
21 #21
22 #22
23 #23
24 #24
25 #25
26 #26
27 #27
28 #28
29 #29
30 #30
31 #31
32 #32
33 #33
34 #34
35 #35
36 #36
37 #37
38 #38
39 #39
40 #40
41 #41
42 #42
43 #43
44 #44
45 #45
46 #46
47 #47
48 #48
49 #49
50 #50
51 #51
52 #52
53 #53
54 #54
55 #55
56 #56
57 #57
58 #58
59 #59
60 #60
61 #61
62 #62
63 #63
64 #64
65 #65
66 #66
67 #67
68 #68
69 #69
70 #70
71 #71
72 #72
73 #73
74 #74
75 #75
76 #76
77 #77
78 #78
79 #79
80 #80
81 #81
82 #82
83 #83
84 #84
85 #85
86 #86
87 #87
88 #88
89 #89
90 #90
91 #91
92 #92
93 #93
94 #94
95 #95
96 #96
97 #97
98 #98
99 #99
100 #100
101 #101
102 #102
103 #103
104 #104
105 #105
106 #106
107 #107
108 #108
109 #109
110 #110
111 #111
112 #112
113 #113
114 #114
115 #115
116 #116
117 #117
118 #118
119 #119
120 #120
121 #121
122 #122
123 #123
124 #124
125 #125
126 #126
127 #127
128 #128
129 #129
130 #130
131 #131
132 #132
133 #133
134 #134
135 #135
136 #136
137 #137
138 #138
139 #139
140 #140
141 #141
142 #142
143 #143
144 #144
145 #145
146 #146
147 #147
148 #148
149 #149
150 #150
151 #151
152 #152
153 #153
154 #154
155 #155
156 #156
157 #157
158 #158
159 #159
160 #160
161 #161
162 #162
163 #163
164 #164
165 #165
166 #166
167 #167
168 #168
169 #169
170 #170
171 #171
172 #172
173 #173
174 #174
175 #175
176 #176
177 #177
178 #178
179 #179
180 #180
181 #181
182 #182
183 #183
184 #184
185 #185
186 #186
187 #187
188 #188
189 #189
190 #190
191 #191
192 #192
193 #193
194 #194
195 #195
196 #196
197 #197
198 #198
199 #199
200 #200
201 201
202 #202
203 #203
204 #204
205 #205
206 #206
207 #207
208 #208
209 #209
210 #210
211 #211
212 #212
213 #213
214 #214
215 #215
216 #216
217 #217
218 #218
219 #219
220 #220
221 #221
222 #222
223 #223
224 #224
225 #225
226 #226
227 #227
228 #228
229 #229
230 #230
231 #De Willson series 3
Episodes

Updated 231 Episodes

1
#01
2
#02
3
#03
4
#04
5
#05
6
#06
7
#07
8
#08
9
#09
10
#10
11
#11
12
#12
13
#13
14
#14
15
#15
16
#16
17
#17
18
#18
19
#19
20
#20
21
#21
22
#22
23
#23
24
#24
25
#25
26
#26
27
#27
28
#28
29
#29
30
#30
31
#31
32
#32
33
#33
34
#34
35
#35
36
#36
37
#37
38
#38
39
#39
40
#40
41
#41
42
#42
43
#43
44
#44
45
#45
46
#46
47
#47
48
#48
49
#49
50
#50
51
#51
52
#52
53
#53
54
#54
55
#55
56
#56
57
#57
58
#58
59
#59
60
#60
61
#61
62
#62
63
#63
64
#64
65
#65
66
#66
67
#67
68
#68
69
#69
70
#70
71
#71
72
#72
73
#73
74
#74
75
#75
76
#76
77
#77
78
#78
79
#79
80
#80
81
#81
82
#82
83
#83
84
#84
85
#85
86
#86
87
#87
88
#88
89
#89
90
#90
91
#91
92
#92
93
#93
94
#94
95
#95
96
#96
97
#97
98
#98
99
#99
100
#100
101
#101
102
#102
103
#103
104
#104
105
#105
106
#106
107
#107
108
#108
109
#109
110
#110
111
#111
112
#112
113
#113
114
#114
115
#115
116
#116
117
#117
118
#118
119
#119
120
#120
121
#121
122
#122
123
#123
124
#124
125
#125
126
#126
127
#127
128
#128
129
#129
130
#130
131
#131
132
#132
133
#133
134
#134
135
#135
136
#136
137
#137
138
#138
139
#139
140
#140
141
#141
142
#142
143
#143
144
#144
145
#145
146
#146
147
#147
148
#148
149
#149
150
#150
151
#151
152
#152
153
#153
154
#154
155
#155
156
#156
157
#157
158
#158
159
#159
160
#160
161
#161
162
#162
163
#163
164
#164
165
#165
166
#166
167
#167
168
#168
169
#169
170
#170
171
#171
172
#172
173
#173
174
#174
175
#175
176
#176
177
#177
178
#178
179
#179
180
#180
181
#181
182
#182
183
#183
184
#184
185
#185
186
#186
187
#187
188
#188
189
#189
190
#190
191
#191
192
#192
193
#193
194
#194
195
#195
196
#196
197
#197
198
#198
199
#199
200
#200
201
201
202
#202
203
#203
204
#204
205
#205
206
#206
207
#207
208
#208
209
#209
210
#210
211
#211
212
#212
213
#213
214
#214
215
#215
216
#216
217
#217
218
#218
219
#219
220
#220
221
#221
222
#222
223
#223
224
#224
225
#225
226
#226
227
#227
228
#228
229
#229
230
#230
231
#De Willson series 3

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!