Milan perlahan membuka matanya, ia berusaha untuk duduk seraya memegangi kepalanya, matanya menerawang ke ruangan yang tidak terlalu luas, ini sebuah kamar sempit entah milik siapa.
Perlahan ia beranjak dari ranjang membuka sedikit pintu kamar dan memicingkan mata kala melihat seorang pria yang sedang melayani pembeli.
"Ambil saja kembalian nya," si pembeli itu mendorong lembaran uang di meja seraya tersenyum menggoda ke arah pria itu.
Tapi pria itu mendorong kembali uang lembaran tersebut. "Tidak perlu!"
"Hey ayolah ... itu untukmu, anggap saja bonus untuk wajah tampanmu itu ... ups!" perempuan itu menutup mulutnya.
Milan bisa melihat pria itu sedikit geram sampai harus menghela nafas. "Bawa uang ini dan keluar dari petshopku. Kalau tidak, aku akan menyeretmu dengan kasar!!"
Perempuan penggoda itu hanya bisa ternganga dengan sikap dingin pemilik petshop.
Ia berdecak dan mengambil kembalian uang nya dengan kasar lalu pergi dengan mulut terus menggerutu kesal kepada Maxime.
"Petshop tanpa pelanggan akan bangkrut!! dasar menyebalkan!!" gerutu si perempuan itu seraya pergi meninggalkan Maxime.
Maxime kembali duduk tapi perlahan kepala nya bergerak ke samping, tepatnya ke arah Milan yang sedang mengintip, mata elangnya menatap Milan dingin tanpa ekspresi. Tapi itu justru membuat Milan membulatkan mata dan segera menutup pintu kamar.
"Siapa dia ... kenapa aku di sini? kenapa dia membawaku ke sini? apa dia salah satu dari pria yang mengejarku semalam? Apa yang dia lakukan semalam? apa dia ..." Milan menggantung kalimatnya dan coba mengecek seragam sekolahnya, masih lengkap walau sedikit kusut.
Rambut, ya dia harus mengecek rambutnya. Mungkin akan berantakan jika pria itu melakukan sesuatu terhadapnya semalam. Ia mengobrak-ngabrik tas nya sendiri, mengeluarkan semua isi tas dengan tergesa-gesa lalu mematut wajahnya di depan cermin bulat. Rambutnya masih sama seperti semalam, masih di ikat dan tidak terlalu berantakan.
Milan berdecak di depan cermin. "Ah tapi bisa saja rambutku di sisir lagi oleh pria itu."
Akhirnya Milan melempar cermin dan mulai lari di tempat atau meloncat-loncat. Memastikan apa dia akan merasakan bagian bawahnya sakit atau tidak.
Tanpa Milan sadari Maxime sedang mengintip dirinya di lubang kecil yang ada di depan pintu. Maxime menggeleng melihat Milan meloncat-loncat di dalam kamarnya.
Semalam Maxime tidak jadi pergi ke mansion Ayahnya karena tidak mungkin membawa Milan yang pingsan ke sana. Dan Maxime juga tidak bisa membawa Milan ke mansion dirinya karena ada Arsen, Tessa dan Miwa di mansion itu. Kebetulan punya mansion sendiri untuk tinggal bersama Arsen, Tessa dan Miwa. Tapi ia lebih sering diam di petshop dari pada di mansion agar identitas nya tidak tercium oleh publik.
Maxime mengeluarkan Blacky dan anaknya Blakbox lalu menaruh dua kucing itu di meja. Induk dan anak kucing itu mengeong, sementara Maxime sedang menyiapkan sarapan untuk kucingnya lalu menaruhnya di atas meja.
Tiba-tiba ia mendengar suara mobil berhenti di depan petshop, ia mendekat dan mengintip di balik gorden putih. Bukan hanya satu ternyata ada dua mobil.
Maxime sudah tahu mobil siapa itu, itu mobil uncle yang tidak waras. Athes and the geng, Philip dan Keenan.
"Maximeeee ..." teriak Jonathan memanggil Maxime seperti anak kecil yang mengajak teman nya bermain.
"Maximee ... Oh Maxime ... dimana kau beradaaaa ..." teriak Aiden.
Mereka pun hendak masuk tapi Maxime segera mengunci pintu depan, jujur saja hal yang membuat Maxime malas pulang ke mansion Ayahnya karena semua uncle nya selalu ribut tidak jelas. Dan lagi Ayahnya tidak pernah ada niatan untuk mengusir mereka dengan alasan mansion sepi kalau tidak ada mereka.
"Hey Maxime ... buka pintu nya!!" Philip mengedor-gedor pintu kaca itu dan melihat Maxime terlihat santai duduk di meja kasir seraya mengelus induk kucing. Seakan pura-pura tidak mendengar teriakan Philip.
"Maximeee ... buka pintu nya!!" teriak Samuel.
"Ayolah Maxime jangan seperti itu dengan orang tua ... tidak sopan itu, kau mau aku mengadukanmu kepada Ibumu?!!" Athes mengancam.
"Maxime aku ingin membeli penggemuk babi untuk ternak babi ku!!" teriak Philip.
Maxime masih enggan membuka pintu, pria itu masih sibuk mengelus induk kucing sampai matanya menoleh ke arah pintu kamar. Gadis itu masih ada di sana, bagaimana jika semua uncle nya melihat gadis itu.
"Dobrak saja lah," usul Keenan.
"Dobrak bagaimana ini pintu kaca, yang ada kita yang celaka," sahut Philip.
Sergio menggoyang-goyangkan rantang di tangan nya dan berteriak. "Lihat, kita membawa makanan untukmu. Ini ibumu yang memasaknya."
Sebenarnya mereka semua malas datang ke petsop Maxime karena ini bukan kali pertama Maxime mengunci pintu dan melarang mereka masuk. Tapi Sky selalu memaksa mereka untuk mengecek keadaan Maxime di petshop. Sedewasa apapun Maxime, sekejam dan sedingin apapun Maxime akan tetap di khawatirkan oleh Ibunya sendiri.
Dan lagi hanya Sky yang bisa meluluhkan Maxime seperti sekarang, Keenan mengancam akan membuang makanan yang sudah di masak susah payah oleh Sky.
"Lihat aku membuangnya ..." Keenan mengambil rantang di tangan Sergio lalu mengangkatnya tinggi, mengancam Maxime akan menjatuhkan rantang itu.
Maxime yang melihat itu berdecak lalu beranjak untuk membuka pintu.
Keenan dan yang lain akhirnya tersenyum menang karena berhasil mengancam Maxime.
"Uncle ini masih pagi ... bisakah kalian pergi?!!"
"Baru sampai sudah di usir saja!" sahut Nicholas.
"Ya, kau semakin dewasa semakin tidak sopan padahal saat bayi kami membantu merawatmu huh!" sambung Keenan.
"Walaupun saat kau bocil kau nakal dan suka sekali menganggu kami!" tutur Aiden.
Maxime menghela nafas dan mengulurkan tangan. "Berikan rantang itu."
Keenan langsung memeluk rantang di tangan nya. "Eittss ... nanti dulu. Kita mau lihat-lihat petshop mu dulu, oke."
Maxime tidak mengiyakan permintaan Keenan tapi semua uncle nya itu menerobos masuk begitu saja.
Milan menempelkan daun telinga di pintu kala mendengar suara ribut-ribut di luar kamarnya.
Ia berdecak. "Ada apa ini, kenapa ribut sekali."
Milan celengak-celinguk sampai akhirnya melihat lubang kecil di pintu. Tapi karena ia pendek dan lubangnya lebih tinggi dari kepala nya Milan tidak bisa mengintip lewat lubang itu. Milan malah mondar-mandir memikirkan cara bagaimana dia bisa keluar dari kamar nya.
"Wahhhh ... petshop mu semakin besar ya, Max." ucap Jonathan dengan mata menerawang setiap sudut petshop.
"Ini kucingmu?" tanya Aiden mengelus Blacky dan blackbox.
"Jangan sentuh!" peringat Maxime yang di acuhkan oleh Aiden. Aiden malah menggendong anak kucing itu.
"Hei, Vitamin mana yang bagus untuk ternak babi ku?" tanya Philip.
Maxime melangkah mengambil vitamin khusus babi di etalase dan memberikan nya kepada Philip.
"Sisa nya akan aku kirim nanti tapi sekarag lebih baik kau pergi uncle dan bawa semua geng mu ini!"
Philip menggoyang-goyangkan vitamin itu sampai terdengar suara kerecek. "Ah isinya sangat banyak. Terimakasih ya, tapi aku numpang tidur dulu sebentar aku sangat ngantuk. Hoaammm ..."
"Ya, kami juga masih ingin di sini sekarang," sahut Keenan dan yang lain pun ikut mengangguk.
Philip berjalan ke kamar tapi Maxime segera menghalau langkah nya.
"Aku tidak suka kamarku di masuki sembarang orang!" ucap Maxime dingin.
"Hei aku ini uncle mu," sahut Philip.
"Kau hanya teman Daddy ku," balas Maxime.
Philip berdecak, anak ini kenapa sulit sekali. Ini tidak boleh, itu tidak boleh. Sampai akhirnya Philip berusaha untuk menerobos masuk walaupun sesekali Maxime mendorongnya.
Yang lain pun ikut membantu Philip, mereka saling mendorong satu sama lain. Dan sekarang semuanya menjadi ricuh.
"Kenapa kau mencurigakan sekali!" ucap Keenan seraya mendorong tubuh yang lain melawan Maxime.
Maxime melentangkan tangan nya, menghalangi mereka semua.
"Ada apa di dalam sana!!" ucap Philip.
"Hei menyingkirlah Maxime!!"
"Tidak!!" sahut Maxime.
"Maxime ..."
"Tidak!!" sahut Maxime lagi. Sementara di dalam sana Milan sedang panik sendirian mendengar mereka berusaha masuk ke dalam kamar.
Milan menghela nafas membuka pintu dengan kasar dan.
BRAKH.
"Akkhhh!!"
Semua orang jatuh dan saling menindih satu sama lain dan Maxime tertindih di paling bawah. Tertumpuk oleh semua uncle nya.
"Sa-sakit ke-pa-rat!!" ucap Maxime yang kesulitan bernafas karena tumpukan semua orang di atasnya.
Sementara Milan yang ada di samping mereka terkejut sampai membulatkan mata dan menutup mulut dengan tangan nya.
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 231 Episodes
Comments
Firanty Ranty
astaga ngakak aku nich author nya emang gokil bikin cerita novel mafia tp genre-nya paket komplit 🤣🤣🤣
2024-05-26
0
WidiaV
apa kabar momo 😂
2024-04-01
0
Angraini Devina Devina
hahaha 🤣🤣🤣🤣🤣
2023-09-13
0