Seorang guru memukul meja dengan gulungan buku di tangan nya membuat siswi di depan nya terlonjak kaget. Guru itu menatap tajam penuh kekesalan kepada siswi yang baru saja ketahuan hendak bolos dengan memanjat dinding sekolah.
Aksi memanjatnya di ketahui satpam sekolah alhasil gadis bernama Milan Kanaya itu di bawa ke ruang BK untuk menghadap kesiswaan.
"Hitung berapa kali kau terus saja bolos Milan!!' bentak Mr Rian.
"Ampun Mr, baru lima kali di semester pertama ini," sahut Milan dengan enteng membuat Mr Rian membulatkan mata dengan jawaban Milan. Santai sekali gadis ini menjawab.
"Kau mau menambah rekor bolosmu di sekolah?"
"Ya, kalau di perbolehkan mau saja sih," sahut Milan membuat Mr Rian berdecak-decak seraya menggelengkan kepala.
"Kenapa kau terus bolos?!"
"Saya hanya bolos di pelajaran matematika, kimia dan fisika saja, Mr. Sisa nya saya ada di kelas."
"Ya, tapi tidur bukan belajar!"
"Itu lebih baik dari pada berisik," potong Milan.
Mr Rian semakin geram dengan siswa di depan nya ini. Ia mendorong amplop putih ke hadapan Milan.
"Berikan surat ini kepada orang tuamu! Sekali lagi saja Mr melihatmu bolos kau akan di skors dari sekolah!!"
Milan menghembuskan nafas mengambil amplop itu lalu menggoyang-goyangkan amplopnya di udara. "Baik Mr. Saya permisi."
*
"Happy birthday to you ... happy birthday to you ... happy birthday ... happy birthday ... happy birthday Melsa ... Horeeee ..."
"Terimakasih Mama ... terimakasih Ayah ..." Melisa mencium pipi kedua orang tuanya silih berganti dengan tersenyum senang.
Tepat ketika mereka merayakan ulang tahun Melisa yang ke delapan belas tahun, Milan baru saja masuk seraya berdecak dan memutar bola matanya malas melihat ulang tahun kakaknya yang selalu ada sesi tiup lilin dan potong kue bersama kedua orang tuanya.
Milan membuka sepatu dan menyimpan nya di rak, gadis itu menghampiri orang tua dan Kakaknya. Sementara mereka melihat datar kehadiran Milan yang kini duduk di dekat mereka.
Hanya ulang tahun Melisa yang di spesialkan dengan alasan Melisa bisa membuat orang tuanya bangga selama sekolah.
Melisa dan Milan hanya berbeda satu tahun, Melisa sedang kuliah kedokteran di salah satu universitas terbaik karena nilai lapor nya yang sangat memuaskan. Dia banyak menang olimpiade antar sekolah dan peringkat nya tidak pernah menurun selama sekolah.
Berbeda dengan Milan Kanaya. Milan mempunyai sikap terbalik dari Melisa, anak ini selalu membuat onar di sekolah, ikut nongkrong dengan teman laki-laki di kantin, terkadang bolos lewat dinding belakang sekolah dan jarang mengerjakan tugas.
"Selamat ulang tahun, Kak." Milan mengulurkan tangan nya untuk berjabat tangan.
"Terimakasih," sahut Melisa mengulurkan tangan berjabat tangan dengan adiknya. Keduanya saling menatap tanpa ekspresi. Datar satu sama lain.
"Apa itu di tanganmu?" tanya Sani, Ibunya kala melihat amplop di tangan Milan.
"Apa itu hadiah untuk Kakak mu?" kini Rio, sang Ayah yang bertanya.
"Bu cepat bu ... ambil hadiahnya." Perintah Rio dengan sumringah kepada Sani.
Dan Sani pun segera mengambil amplop dari tangan Milan. Keduanya membuka amplop itu sementara Milan dan Melisa masih saling menatap dengan tatapan tak suka.
Lihat, apapun yang berhubungan dengan Melisa kedua orang tuanya seakan bahagia sampai akhirnya raut wajah keduanya berubah kala membaca isi surat panggilan dari sekolah.
"Milan!!" bentak Rio menatap tajam Milan.
Milan mengalihkan pandangan nya menatap Rio.
"Ya, Ayah?"
"Jangan panggil aku Ayah di saat kau selalu membuat onar!!" sahut Rio.
Sani menyimpan kertas itu di meja dengan kasar membuat Melisa meloncatkan bahu nya kaget.
Milan hanya bisa menghela nafas, ia sudah siap dengan kemarahan kedua orang tuanya lagi sekarang.
"Apa ini!!" bentak Sani.
"Mau sampai kapan kau mempermalukan kami sebagai orang tua di hadapan para guru!!" lanjut Sani.
"Kau melakukan kesalahan apalagi?!" teriak Rio.
"Jawab Milan!!" teriak Rio semakin keras membuat bahu Melisa dan Milan terhentak kaget.
"A-ku ... aku bolos."
"MILAN!!" teriak keras Rio dan Sani bersamaan. Mereka begitu kaget dengan jawaban putrinya, ini bukan kali pertama mereka di panggil ke sekolah.
Sani memijit keningnya dengan mata berkaca-kaca dan wajah merah. Katakan ia ingin menangis, tapi bukan menangis haru karena kelakuan Milan. Sani ingin menangis karena lelah dengan sikap Milan yang sulit di atur.
Ia berteriak dengan penuh emosional menatap Milan. Sani berusaha menahan tangis kesalnya.
"Milan apa kau tidak lelah membuat kami ada dalam masalahmu?!! apa kau tidak lelah membuat onar?!! kau tidak malu dengan Kakakmu?!! Kakak mu lulusan di sekolah itu ... kami malu Milan malu ... semua guru selalu bertanya kenapa kau tidak sama dengan Melisa!! kenapa bukan prestasi yang kau buat di sekolah, kenapa harus terus masalah dan masalah!!"
"Ya, lihat Kakakmu ... semua siswa dan para guru selalu memujinya," sambung Rio membuat Melisa yang di sampingnya bersedekap dada dengan tersenyum miring menaikkan satu alisnya menatap Milan. Seolah-olah ia sangat bangga dengan kedua orang tua yang membela dirinya.
"Astagaaaa Milannnn ..." Sani sampai harus menopang kepala dengan kedua tangan nya, saking pusingnya dengan tingkah Milan.
Dan Milan sendiri hanya bisa menunduk.
"Kakakmu dulu ikut olimpiade, peringkat pertama di kelas, mendapat juara umum nilai tertinggi di sekolah dan kau ---" Rio menggantung kalimatnya menatap tajam Milan.
"Kau hanya bisa menyusahkan kami!!" sambungnya membuat Milan mendongak tidak terima dengan ucapan sang Ayah.
"Bisakah Ayah jangan mengatakan hal itu!!"
"Kenapa? apa kau tidak terima dengan sikap aslimu?!!" sahut Rio.
Dada Milan naik turun dengan mata berkaca-kaca. Kalimat menyusahkan yang keluar dari mulut Ayahnya seperti sebuah batu yang menghantam dada nya dengan keras. Sakit, hanya itu yang Milan rasakan. Apalagi ini bukan kali pertama dirinya di sebut anak menyusahkan.
"Ayah aku ---"
"Belajarlah seperti Melisa!! dan sekolah lah seperti Kakakmu!!" potong Sani.
Gigi Milan menggertak marah mendengar dirinya yang selalu di bandingkan dengan sang kakak. Matanya yang berkaca-kaca kini berhasil mengeluarkan cairan bening yang membasahi kedua pipinya.
"Aku Milan, Mah ... aku Milan, Yah ... Aku bukan anak yang pintar, aku bukan anak yang bisa di banggakan oleh kalian, aku tau itu!! TAPI BERHENTILAH MEMINTAKU MENJADI MANUSIA SEPERTI KAK MELISA!!"
PLAK
"Berani kau berteriak di depan orang tuamu!!" tunjuk Sani geram kepada Milan setelah menampar putri bungsu nya itu.
Mata Melisa melebar sempurna melihat Ibunya menampar Milan. Begitu pula dengan Rio, karena dulu semarah apapun mereka tidak pernah sampai menampar Milan. Tapi sekarang, kesabaran Sani sudah habis menghadapi anaknya ini.
Dada Milan naik turun dengan satu tangan memegang pipinya. Air mata tak henti mengalir, ia menatap tajam sang Ibu.
Mungkin tidak seharusnya Milan kesal dengan orang tuanya, Milan rela kalau kedua orang tuanya marah kepada dirinya. Asalkan jangan membanding-bandingka dirinya dengan Melisa, hanya itu yang Milan inginkan.
"Aku pergi dari rumah ini, jika keberadaanku menyusahkan kalian!!"
"Pergilah yang jauh tidak perlu kembali!!" teriak Sani kala melihat Milan memakai sepatu tergesa-gesa dan keluar dari rumahnya.
*
*
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 231 Episodes
Comments
Firanty Ranty
anak mana yg GK kecewa sllu dibandingkan dgn yg lainnya mau sesama saudara ataupun orang lain.
dan kebanyakan anak akan bersikap seperti Milan jika ada diposisi Milan.korb*n ketidak Adilan dr orang tua kesesama anak.tp ckp lucu kelakuan Milan terhadap guru.gurunya galak Milan nya tegas dan berani 🤣🤣🤣
2024-05-26
0
Angraini Devina Devina
ya tidak semua anak sama di antara dua anak pasti ada yg betingkah....huuuu tapi tetap dukung dia mau kita pukul kita caci jangan pernah mengusir mereka itu akan membuat nya tambah parah.....
2023-09-13
0
Tatik 05
sbnrnya ortu TDK bisa d slhkan 100%..Krn Milan jg terlalu bandel dan tak menurut ma ortu...niat ortu Baek tp tanggapan Milan yg TDK sesuai menurutnya...
2023-02-01
0