Milan keluar dari kamar setelah melihat dirinya di depan cermin, lukanya di kening akibat benturan semalam sudah kering walaupun sedikit membekas.
Milan membuka pintu kamar sedikit dan melihat Maxime sedang menyusun asessoris binatang.
"Sudah bangun?" tanya Maxime.
Milan mengigit bibir bawahnya perlahan keluar dari kamar dan mendekati Maxime, walaupun sedikit ragu tapi ia perlu bantuan pria di depan nya ini.
"Aku boleh ---"
"Tinggalah di sini kalau kau mau, tapi tidak gratis," potong Maxime membuat bola mata Milan berbinar seketika.
"Benarkah? aku boleh tinggal di sini?"
Maxime berdehem sebagai jawaban. Milan membungkukan badan beberapa kali sebagai tanda terimakasih nya.
"Terimakasih Tuan ... aku akan bekerja di sini dan kau tidak perlu memberiku upah."
"Makanlah," ucap Maxime.
Pria itu berjalan ke meja kasir dan duduk di sana, Maxime menunjuk kursi di depan dengan dagu, mengisyaratkan Milan untuk duduk.
Karena sudah lapar Milan pun akhirnya menurut saja. Matanya membulat dengan mulut setengah terbuka kala melihat makanan enak di depan nya dan sepertinya ini semua makanan mahal.
Milan menatap Maxime, darimana seorang pemilik pethshop kecil seperti Maxime membeli makanan enak ini, hanya itu yang ada di pikiran Milan.
Maxime menatap balik Milan. "Melihatku tidak akan membuat perutmu kenyang!"
"E-eh ... iya." Milan terlihat kikuk dan tangan nya mulai terulur mengambil makanan di meja.
"Kenapa kau berani memakai bajuku?" tanya Maxime lalu menyuapkan spageti ke mulutnya.
"M-maaf ... aku tidak bawa baju sama sekali dari rumah dan kemarin bajuku sangat kotor," sahut Milan.
"Oh ..." hanya itu jawaban dari Maxime pria itu kembali sibuk dengan makanan nya.
Setelah selesai sarapan mereka sibuk dengan tugasnya masing-masing. Maxime menurunkan beberapa kantung makanan dan juga pasir binatang dari mobil pick up, membawa nya masuk ke dalam petshop.
"Aku memesan vitamin untuk bulu kucing, besok antarkan kemari," ucap Maxime seraya mengeluarkan beberapa lembaran uang dari dompetnya dan memberikan nya ke supir mobil itu.
"Hanya itu?" tanya supir itu.
"Lebih dari seratus vitamin tanya saja ke penjualnya."
Maxime lalu kembali masuk ke petshop nya dan tersenyum miring kala melihat Milan sedang membersihkan pup Blacky dan Blackbox.
Gadis itu terlihat mengibas-gibaskan tangan nya dengan sesekali menutup hidungnya.
Maxime tidak berniat membantu, pria itu duduk di kursi membuka laptop nya di atas meja. Tak lama kemudian seorang anak kecil datang dengan membawa kandang kelinci di tangan nya.
"Paman ..." ucap anak itu berlari ke arah Maxime.
Maxime menutup laptopnya. "Kau datang lagi."
Anak itu mengangguk.
"Siapa namamu?" tanya Maxime.
"Aron."
Maxime beranjak dari duduknya selepas tersenyum tipis kepada Aron, ia mengambil kantung makanan kelinci dan memberikan nya kepada Aron.
"Ini, ambilah ..."
Aron tersenyum senang mengambil kantung makanan kelinci nya, Milan menoleh seraya mengelus-ngelus blacky di dekat kandangnya.
"Paman Ayahku bilang hasil panen nanti Ayah akan memberikan wortel untukmu karena paman baik hati," ucap Aron dengan polosnya.
Maxime hanya terkekeh pelan menggelus rambut Aron gemas.
"Baiklah, sekarang kasih makan kelincimu itu."
Aron mengangguk lalu pergi dari petshop selepas melambaikan tangan ke arah Maxime.
"Dia memberikan nya gratis," gumam Milan.
"Tapi itu kan makanan kelinci yang mahal, apa dia tidak rugi," lanjut Milan berbicara sendiri.
Maxime kembali duduk di kursinya membuka laptop dan berkata. "Tidak rugi membagi hartamu sedikit untuk orang lain."
Milan langsung berdehem kikuk karena perkataannya di dengar Maxime tadi, padahal ia berbicara sangat pelan.
Sore hari Maxime hanya duduk seraya meluruskan kakinya ke atas meja, Maxime terus memperhatikan Milan yang sibuk sendian beres-beres.
Gadis itu merapihkan vitamin di etalase yang sudah rapih, menyusun kantung makanan yang sudah tersusun rapih pula. Maxime heran dengan gadis itu untuk apa bolak-balik merapihkan sesuatu yang tidak berantakan.
Sementara Milan merasa tidak nyaman karena sedari tadi Maxime terus memperhatikan dirinya, mata elang pria itu terus bergerak mengikuti gerak-gerik Milan. Milan terus pura-pura sibuk untuk mengalihkan pandangan Maxime tapi pria itu tak henti menatap ke arahnya.
Milan yang gugup tak sengaja menyenggol kantung pasir yang berada di atas etalase sampai pecah dan pasirnya tumpah kemana-mana.
Dengan jantung berdebar ia segera mengambil plastik dan tergesa-gesa membereskan pasir tersebut. Perlahan Milan mencoba menengok ke belakang dan ternyata Maxime masih memperhatikan dirinya di kursi kasir.
Gadis itu menghela nafas dan kembali memasukan pasir ke plastiknya.
Setelah selesai ia menghampiri Maxime, pria itu langsung menurunkan kakinya dari atas meja kala melihat Milan mendekat ke arahnya.
"Tuan ... eum ..."
Dengan tangan bersedekap dada Maxime menaikkan satu alisnya meminta Milan melanjutkan kalimatnya.
"A-anu ... saya tidak sengaja memecahkan kantung pasir, apa saya harus ganti rugi?"
Dengan cepat Maxime mengangguk membuat Milan membulatkan mata.
Ganti rugi dengan apa, Milan saja tinggal di sini gratis, dia juga tidak punya uang.
"Tapi Tuan ... saya ... saya tidak punya uang?"
"Lalu?" tanya Maxime.
Milan menggaruk pelipisnya yang tidak gatal sama sekali, dia berpikir keras bagaimana cara mengganti kantung pasir itu.
"Bagaimana dengan ponsel saya Tuan?"
"Tidak butuh," sahut Maxime.
Milan mulai menekuk wajahnya, ia kebingungan bagaimana kalau Maxime mengusirnya dimana ia akan tinggal.
"Pijit kepalaku," ucap Maxime membuat Milan menoleh kaget ke arahnya.
"Cepat atau aku akan mengusirmu!"
"I-iya Tuan ..."
Milan berdiri di belakang Maxime mulai memijat kepalanya asal-asalan membuat Maxime berdecak.
"Yang benar!!" ucap Maxime.
"Ini sudah benar, Tuan." Milan memijat kening Maxime sampai jari-jemarinya menutupi mata pria itu.
Maxime mendengus dan beranjak dari kursinya dengan kasar lalu berbalik menatap Milan. "Kau ini bisa memijit kepalaku atau tidak!!"
"A-aku ... aku tidak bisa," sahut Milan membuat Maxime menghela nafas, kenapa tidak bilang dari tadi.
*
Malam hari Maxime grasak-grusuk tidak jelas di ranjang nya, setiap kali menutup mata ia seakan melihat Milan, kenapa ia harus memikirkan gadis itu.
Seakan hatinya tidak tenang kala membiarkan Milan tidur di kursi kasir, ah tubuh gadis itu pasti akan kesakitan ketika bangun nanti. Masalahnya petshop miliknya hanya ada satu kamar kecil dan satu ranjang kecil juga.
Maxime mendengus, ia beranjak dari kasur nya membuka pintu sedikit dan mengintip Milan yang tengah tertidur seraya menelungkupkan wajahnya di meja.
Maxime menghembuskan nafas melihat itu, kenapa ia jadi tidak tega. Tubuh Milan sudah pasti akan kesakitan ketika bangun karena posisi tidurnya salah.
Pria itu berjalan mendekati Milan dan berdiri di sampingnya.
"Bangun ..." ucap Maxime.
"Hei bangun ..."
"Milan ..."
Maxime mengguncang bahu Milan berharap gadis itu bangun tapi Milan masih saja tidur terlelap.
Akhirnya Maxime mencoba menggendong tubuh Milan perlahan. Senyuman tergambar di wajah Maxime kala Milan masih saja tertidur di gendongan nya, bagaimana bisa gadis ini tidur seperti orang pingsan.
Maxime membawa Milan ke kamarnya, ia menidurkan gadis itu di ranjang. Dan dirinya lah yang berakhir tidur di kursi kasir.
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 231 Episodes
Comments
Angraini Devina Devina
hemmmm dah ada tanda"ke bucinan nih 🤣🤣🤣🤣
2023-09-13
1
ponakan Bang Tigor
anjayy bucin 😏😏😂
2022-08-20
1
ponakan Bang Tigor
hilih cinta ini mah
2022-08-20
1