Eps 17

Setelah kelas selesai Zergio segera pergi menuju perusahaan Rafael seorang diri, dia cukup heran karena tidak melihat Rafael datang ke kampus.

Setelah sampai di parkiran Zergio pun segera masuk ke dalam perusahaan, saat melihat kedatangan Zergio para pegawai segera menunduk hormat.

Karena mereka tau sekretaris pribadi CEO mereka itu sangat di segani di perusahaan ini.

"James?." panggil Zergio dengan datar saat dia sampai di hadapan James.

James segera bangkit berdiri "oh tuan Zergio sudah sampai."

Zergio mengangguk "aku mau bertanya, kenapa Rafael tidak kelihatan seharian ini? bahkan dia tidak datang ke kampus." tanya Zergio to the poin.

James terdiam, dia bimbang apa kah harus memberitahu kejadian yang di alami tuan muda nya atau tidak kepada Zergio.

Zergio mengangkat sebelah alisnya dengan bingung saat melihat James hanya diam.

"Aku bertanya padamu." ucap nya lagi dengan datar.

James kembali sadar lalu dia pun menghela nafas panjang.

"Tuan muda saat ini sedang berada di rumah sakit." akhirnya James pun memutuskan untuk memberi tahu Zergio.

Zergio terbelalak "kenapa bisa? bukan kah dia baik-baik saja." tanya Zergio dengan kaget.

"Maaf tuan Zergio saya tidak bisa memberitahu kan nya kenapa anda."

Zergio yang mendengar itu menghela nafas panjang.

"Dimana dia dirawat? aku akan menjenguk nya."

"Saya akan mengantar anda tuan, kebetulan saya juga akan ke sana."

Zergio mengangguk, lalu setelah itu mereka pun bersama-sama menuju rumah sakit tempat Rafael di rawat.

....

Sedangkan di ruang rawat Rafael berada, Jack hanya duduk diam di dalam ruangan itu.

Dia menatap nanar ke arah brangkar berada dimana disana tuan muda nya sedang terbaring.

Rafael sudah selesai di tangani sejak 3 jam yang lalu setelah melewati masa-masa menegang kan, dimana saat itu tuan muda nya hampir saja tidak tertolong akibat tiba-tiba mengalami kejang-kejang.

Jack mengusap wajah nya kasar lalu menghela nafas berat, dia benar-benar merasa sangat tidak berguna saat ini.

Kriettt

Jack menolah saat mendengar suara pintu terbuka, disana terlihat James dan sekretaris pribadi tuan muda nya.

"Bagaimana tuan muda?." tanya James setelah duduk di samping Jack.

Sedangkan Zergio saat ini tengah berada di samping Rafael, dia menatap tak percaya akan apa yang sedang dia lihat sekarang.

Rafael? seberapa parah luka yang dia alami, kenapa hampir seluruh tubuh nya di balut perban?.

"Hampir saja tadi kita kehilangan tuan muda, aku benar-benar merasa tidak berguna saat ini." Jack menunduk menatap nanar pada lantai.

James mengelus punggung Jack dengan pelan.

"Tidak apa-apa, ini bukan sepenuhnya salah kita."

"Tapi tetap saja, kau tidak melihat secara langsung Jam. bagaimana tuan muda tergeletak tak berdaya dengan banyak nya darah dia yang berceceran!.

Kau tau? aku bahkan hampir menangis melihat nya pagi tadi! orang yang selama ini kita lindungi mati-matian dari keluarga biad*b itu, dan pagi tadi aku melihatnya lagi secara langsung dia di cambuk dengan tidak berperasaan nya!.

Kau tau? bahkan 3 jam yang lalu kita hampir saja kehilangan tuan muda, saat dia sedang di tangani tiba-tiba tuan muda mengalami kejang-kejang!." Jack menatap nanar James.

James yang mendengar itu hanya terdiam tak menjawab, dia tahu bagaimana khawatir nya Jack bahkan dia pun merasakan nya.

Sedangkan Zergio yang mendengar semua perkataan Jack mengernyit heran.

"Maksud kau apa Jack?." tanya Zergio dengan menatap Jack meminta penjelasan.

"Maksud kau apa dengan Rafael yang di cambuk oleh keluarga biad*b nya?."

Jack dan James menoleh lalu mereka pun saling menatap.

"Maaf tuan Zergio kami tidak memiliki hak untuk menjelaskan nya kepada anda." jawab James.

Zergio menatap tak suka pada James saat mendengar jawaban itu.

☞ 3 jam yang lalu.

Saat ini Rafael sedang berdiri di depan pintu kamar kakek dan nenek nya, dia menatap sedih pada pintu di depan nya itu.

Lalu setelah memberanikan diri Rafael pun berjalan melewati pintu itu begitu saja, saat dia sudah berada di dalam kamar kakek dan nenek nya saat itu juga dia melihat sang nenek sedang tertidur.

Rafael berjalan mendekati Jia Li lalu setelah nya Rafael duduk di samping tubuh sang nenek.

"Nek.." gumam Rafael dengan sedih saat melihat nenek yang dia sayangi terlihat begitu kurus dan terlihat tidak baik-baik saja.

"Nek, kenapa sekarang nenek terlihat begitu kurus? apa karena nenek tidak makan dengan benar? apa ini gara-gara Ael nek?." Rafael bergumam dengan bibir bergetar nya.

Dia menengadah wajah nya saat merasa air mata nya akan turun, demi apapun ini kedua kali nya dia ingin menangis.

Setelah dirasa baik-baik saja Rafael pun kembali menatap sang nenek.

"Nek? maafkan Ael nek, maaf Ael nakal, maaf Ael sudah membuat nenek sakit, membuat nenek menjadi seperti ini.

Hukum Ael nek, hukum Ael nanti setelah Ael kembali sadar." runtuh sudah pertahanan Rafael.

Setetes demi setetes air mata Rafael turun, dia terisak dengan kecil saat tak bisa menyentuh wajah cantik sang nenek.

Saat Rafael masih terisak seseorang datang ke dalam kamar itu, Rafael menoleh dan saat itu juga dia melihat kakek nya datang dengan membawa makanan.

Setelah menaruh makanan itu di meja, Yui pun duduk di samping Jia Li, dia mengelus wajah yang masih terlihat cantik itu walaupun sudah termakan usia.

Itu semua tak luput dari tatapan Rafael, Rafael berdiri di samping sang kakek masih dengan isakan nya.

"Sayang?." panggil Yui dengan pelan.

Jia Li perlahan membuka mata nya, dia menatap Yui dengan lemah.

"Yui.." gumam Jia Li dengan pelan.

Yui tersenyum "makan ya? kau tidak makan sedari kemarin, jangan terus membuat ku khawatir." lirih Yui dengan lembut.

Jia Li memegang tangan Yui yang masih berada di wajah nya dengan pelan.

"Aku merindukan cucu ku Yui, aku merindukan nya."

"Maafkan Ael nek.."

Yui mengangguk mendengar itu "aku pun sama seperti mu sayang, aku merindukan nya. kau percaya pada cucu mu bukan? dia pasti akan sadar, dia akan kembali kepada kita." jawab Yui mencoba menenangkan istri nya itu.

Jia Li menatap lemah Yui "aku takut aku tidak bisa melihat nya lagi Yui, aku takut sebelum dia sadar aku sudah tidak ada di sisi nya."

Yui yang mendengar itu menatap tak suka pada Jia Li.

"Jangan berbicara seperti itu Jia! kau tidak akan kemana-mana, kau akan ada di sisi nya saat dia sadar.

Kau tau bukan aku sangat tidak suka kau berbicara seperti itu! jika kau berbicara seperti itu lagi maka aku tidak akan mau menemui mu lagi." Yui memalingkan wajahnya dengan kesal.

Jia Li yang melihat itu hanya bisa diam.

"Maafkan aku Yui, aku berjanji tidak akan berbicara seperti itu lagi."

Yui menghela nafas panjang.

"Baiklah aku akan memaafkan mu, tapi sekarang ayo kau makan terlebih dahulu, aku tidak ingin kau semakin sakit, kau lihat bukan aku sekarang sudah baik-baik saja jadi kau pun harus cepat sehat."

Yui mengambil makanan yang tadi dia taruh di meja, lalu mulai menyuapi Jia Li dengan perlahan.

Jia Li menerima suapan Yui, Rafael yang melihat itu tersenyum kecil. dia terus mengamati aktivitas yang di lakukan kakek dan nenek nya itu.

"Sudah, aku sudah kenyang Yui."

Yui yang mendengar itu mengangguk, walaupun masih setengah nya tidak apa-apa. setidaknya istri nya itu sudah mau untuk mengisi perut nya.

"Yui aku ingin tidur, aku sangat lelah." ucap Jia Li dengan menatap Yui.

Yui yang sedang menaruh mangkuk menoleh, setelah nya dia mengusap wajah Jia Li dengan lembut lalu mencium kening nya.

"Tidurlah, saat sore nanti aku akan membangunkan mu." Yui tersenyum lalu membenarkan selimut sang istri.

Jia Li tersenyum dengan manis "terimakasih Yui, aku sangat mencintaimu, sangat."

Yui membalas senyum Jia Li "aku lebih mencintaimu sayang."

Jia Li mulai memejamkan matanya sedangkan Yui terus mengelus pipi Jia Li dengan lembut, Yui mendekatkan wajah nya pada telinga Jia Li.

"Cepatlah sembuh sayang, aku sakit melihat mu seperti ini."

Lalu setelah itu Yui kembali mencium kening Jia Li dengan lembut, setelah merasa Jia Li tertidur dengan pulas Yui pun pergi dari kamar nya untuk mengembalikan mangkuk bekas Jia Li makan.

Rafael menatap kepergian sang kakek dengan sendu.

"Aku pun sakit kek melihat nenek seperti ini."

Rafael mendekat ke arah sang nenek "cepatlah sembuh nek, kakek terlihat sangat sakit melihat nenek seperti ini dan maafkan Ael."

Setelah itu Rafael pergi dari kamar sang nenek, dia kembali melanjutkan langkah nya menuju kamar saudara kembar nya.

Rafael memasuki kamar saudara kembar nya itu setelah sampai di sana, saat dia masuk dia cukup terkejut saat melihat kamar Rachel yang terlihat remang-remang.

Karena dia tahu saudara kembar satu nya ini tidak menyukai tempat gelap walaupun itu hanya remang-remang.

Saat dia sudah mengamati sekitar kamar sang adik, Rafael berjalan mendekati Rachel yang sedang duduk melamun di jendela.

Lagi-lagi dia menghela nafas panjang.

"Chel.." gumam Rafael.

"Maafkan diriku, aku mohon jangan seperti ini. kau seperti ini sama saja semakin membuat ayah dan bunda sakit Chel.

Cukup aku saja yang membuat mereka sakit seperti sekarang Chel, jangan kau juga semakin membuat mereka sakit.

Maafkan aku Chel, tapi aku mohon jangan seperti ini..." Rafael terus berceloteh walaupun sebenarnya itu sia-sia karena Rachel tidak akan mendengar nya.

"Kak Ael..." gumam Rachel dengan sendu.

Rafael menatap Rachel dengan lemah.

"Aku disini, maafkan aku Chel aku mohon jangan terus-menerus seperti ini."

Rafael terus berada di kamar Rachel untuk menemani sang adik walaupun Rachel tak akan bisa melihatnya.

1 jam sudah Rafael berada di kamar sang adik dan selama satu jam itu pula Rachel hanya duduk diam di depan jendela dengan pandangan kosong nya.

Entah lah dia merasa setengah jiwa nya hilang selama Rafael tidak sadarkan diri, dia merasa ada yang kosong di dalam diri nya.

Sedangkan di tempat Jia Li berada Yui saat ini sedang tersenyum menatap wajah damai sang istri yang tengah tertidur, Yui duduk di samping tubuh Jia Li lalu mengelus pipi nya lembut.

Dia mengernyit saat merasakan tubuh Jia Li yang terasa dingin, lalu Yui pun mulai mengecek suhu tubuh istri nya mulai dari kening, pipi, sampai leher.

Dingin, dan saat itu juga Yui mulai panik.

Apa istri nya semakin bertambah sakit?.

"Sayang?."

"Jia? tubuh mu dingin sayang? apa kau kembali sakit?." tanya Yui dengan panik sembari mencoba membangun Jia Li.

"Sayang bangun, jangan membuat ku khawatir."

Yui menepuk pelan pipi Jia Li, saat melihat Jia Li tidak bangun-bangun.

Saat tangan nya tak sengaja menyentuh hidung mancung Jia Li, Yui membeku di tempatnya saat tidak merasakan nafas Jia Li.

"Tidak.." gumam Yui dengan pelan.

Dengan keberanian yang ada Yui kembali mendekatkan tangan nya ke arah hidup Jia Li, saat itu juga dia kembali membeku.

Dengan cepat Yui memeriksa denyut nadi Jia Li, lagi-lagi Yui kembali dibuat terkejut saat tidak merasakan denyut nadi istri nya.

"Jia? sayang? bangun hey, jangan seperti ini aku tidak suka.." Yui kembali menepuk pipi Jia Li dengan bibir bergetar nya.

"Sayang ayo bangun..."

"Sayang, jangan bercanda dengan ku, aku sudah bilang tidak suka bukan jika kau bercanda seperti ini? ayo bangun sayang."

Saat melihat Jia Li tak kunjung membuka mata nya, isakan mulai terdengar dari bibir Yui.

Dengan tangan bergetar Yui mengelus pipi sang istri, lalu setelah nya dia memeluk tubuh Jia Li dan menangis dengan keras.

"JIAAA!! HIKS."

"AKU MOHON BANGUN SAYANG! AKU MOHON, AYO BANGUN JANGAN TINGGALKAN AKU HIKS."

Tangisan Yui berhasil membuat para penjaga yang berada di depan pintu terkejut, dengan tergesa mereka masuk dan saat masuk mereka pun melihat junjungan mereka tengah menangis hebat sembari memeluk sang ratu.

"Yang mulia.."

"Hiks, hiks, aku mohon Jia jangan tinggalkan aku. ayo bangun sayang, kau bilang kau ingin melihat Ael bangun bukan? lalu kenapa kau meninggalkan nya Jia!."

"Aku memang menyuruh mu untuk sembuh, tapi bukan sembuh ini yang aku maksud Jia, bukann!!." teriak Yui dengan frustasi.

Para penjaga yang mendengar ucapan itu terkejut bukan main, lalu mereka pun keluar dari kamar Yui dan segera pergi menuju kamar Devin dan Freya.

"Jiaa..."

Kabar tentang Jia Li sudah menyebar ke seluruh penjuru istana, Devin, Freya dan semua keluarga istana begitu terkejut.

Mereka pun segera menuju ke kediaman Jia Li dan Yui.

Brakk

Rachel terkejut bukan main begitupun dengan Rafael saat pintu kamar terbuka dengan keras nya oleh Raymond.

"Kau apa-apa sih Ray?!." bentak Rachel dengan emosi.

Raymond menggeleng "Nenek Chel..."

Rachel berjalan mendekati Raymond saat melihat dia yang terlihat kacau.

"Kenapa? bicara yang benar."

"Nenek meninggal."

Dua kata yang keluar dari bibir Raymond seketika membuat Rachel dan Rafael membeku, dunia mereka seketika seperti runtuh begitu saja saat mendengar kabar itu.

"Jangan bercanda Ray, aku tidak suka!." bentak Rachel tidak terima.

Raymond kembali menggeleng, sebelum Rafael mendengar ucapan berikut nya dari Raymond dia segera berlari menembus tubuh kedua saudara nya itu dengan cepat.

Rafael menggeleng tak percaya selama dia berlari menuju kediaman kakek dan nenek nya.

"Tidak, tidak mungkin." gumam nya dengan tidak percaya.

Saat dia sudah sampai di kediaman kakek dan nenek nya, saat itu juga dia melihat semua keluarga nya tengah menangis.

Rafael semakin menggeleng tak percaya, dia menerobos masuk kedalam.

"Bunda hiks, jangan tinggal kan Freya hiks hiks.."

"Bunda bangun, jangan tinggalkan Fionaa hiks hiks, bunda..."

"Bunda.."

"Bunda tega meninggalkan Chen? bunda bangun hiks.."

Freya, Fiona, Fredy dan pangeran Chen menangis histeris di samping tubuh Jia Li.

Mereka tidak bisa menerima kepergian Jia Li begitu saja, sedangkan Rafael yang melihat itu semua sudah jatuh terduduk dengan pandangan kosong nya.

"Nek..."

"Nenek? ARGHHHH!!."

"Hiks.."

Rafael menarik rambut nya dengan keras, dia kembali menangis, merasa tak percaya jika nenek nya telah pergi meninggalkan dirinya dan semua orang.

"Maafkan Ael nek, ini semua karena Ael, ini semua gara-gara Ael.

Nenek sakit gara-gara Ael, nenek pergi gara-gara Ael, maafkan Aek nek.

Ael jahat hiks.. maaf nek.."

Rafael terus meracau dengan kacau, dia terus menarik rambut nya dan terus menyalahkan diri nya sendiri.

"Arghh!!." Rafael berteriak frustasi saat merasa dirinya lah penyebab semua kekacauan yang terjadi di istana saat ini.

"Pasien mengalami kejang-kejang, detak jantung nya melemah. cepat ambilkan alat pacu jantung!!." teriak salah satu dokter dengan panik saat melihat Rafael kejang-kejang dengan hebat dan detak jantung nya melemah.

..

Maaf baru update author kemarin sibuk, hari Sabtu author libur jadi insyaallah bakal double up ya nanti, papayyy jangan lupa like coment ya!.

Terpopuler

Comments

Murtianingsih

Murtianingsih

aah sedih banget,,😭😭😭jangan ninggal dulu thor Jialinya sebelum ketemu ael thor😭

2021-11-21

1

Callysta Nungrum Amira

Callysta Nungrum Amira

sedih bangett.....sirafael sampe nyalahin dirinya sendiri yg bikin neneknya meninggal.....btw semangat ya thor

2021-11-19

1

Neva Lina P

Neva Lina P

sedih bngt jia li meninggal kasian yui ditinggal lagi 😭😭
apa nnti jia li ketemu sama fael thor kan udah sama2 roh.

2021-11-19

5

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!