Deon saat ini sedang berada di ruangan kerja nya memeriksa berkas-berkas yang tidak ada habis nya setiap hari itu.
Tak lama dering telepon terdengar di keheningan yang ada di ruangan itu.
"Hm?."
"......"
"Oh, sudah selesai?."
"......"
"Kerja bagus, jadi kau akan kembali kapan?."
"......"
"Besok? baiklah."
"......"
"Hm."
"......"
"Dia baik-baik saja, dia juga tidak melakukan apapun."
"....."
"Kau tenanglah Liam, kenapa begitu khawatir? kau tidak percaya padaku?."
"......"
"Ck! iya aku tau, tapi kau tahu sendiri aku sudah tidak berkecimpung dengan hal seperti itu lagi."
"....."
"Harusnya kau mendukung hobi adik mu Liam, bukan nya malah mengekang dia, kau tau sendiri bukan jika itu tidak baik?."
"......"
"Aku tau kekhawatiran mu, tapi dia sudah aku anggap sebagai adik ku sendiri, begitupun dengan Sean."
"......"
"Sudahlah terserah kau saja, tapi yang dapat aku pastikan dia baik-baik saja selama kau pergi."
"......"
"Hm."
Setelah sambungan telepon itu terputus Deon menghela nafas panjang, selalu saja begini.
Sahabat nya itu terlalu banyak yang di khawatirkan padahal hobi Ken tidak lah berbahaya, dia sebenarnya cukup kasihan pada Ken semua pergerakan nya sangat terbatas.
Jika tidak ada dirinya, entah bagaimana Ken hidup jika selalu di batasi oleh Liam.
"Kak.."
Panggilan pelan dari arah pintu itu membuat intensitas Deon teralihkan, dia menatap seseorang yang baru saja dia bahas dengan Liam berada di ambang pintu bersama dengan Sean.
"Masuklah."
Lalu kedua pria itu pun masuk, mereka duduk di sofa ruang kerja bos mereka di dunia bawah itu.
Deon bangkit berdiri dan segera menghampiri Ken dan Sean, dia duduk di hadapan kedua pria yang sudah dia anggap adik itu.
"Kenapa?." tanya nya dengan memicing.
"Kak Liam masih tetap sama? dia masih melarang ku untuk mendalami hobi ku?." tanya Ken dengan sedih.
Deon menghela nafas berat sedangkan Sean hanya mampu mengusap punggung Ken dengan pelan.
"Kakak mu terlalu keras kepala Ken, dan kau tau itu bukan? terlalu banyak yang dia khawatirkan tentang mu."
Ken menunduk mendengar itu, apa hobi nya ini salah? dia hanya ingin menjadi seorang hacker saja tidak lebih.
"Tapi aku hanya ingin menjadi seorang hacker saja kak, itu tidak berbahaya. Tidak seperti Sean yang menjadi penembak jitu." bela nya dengan pelan.
Deon mengangguk mendengar itu.
"Bukan itu yang kakak mu khawatirkan Ken, tapi karena kakak mu yang tau kau memiliki hubungan dengan dunia bawah.
Kau tau bukan seberapa berbahaya nya itu? kau tidak lupa kan bagaimana cerita nya putra kandung kakek ku meninggal? itu yang kakak mu khawatirkan.
Karena aku pun tau jika sudah berhubungan dengan dunia bawah maka tidak ada yang akan baik-baik saja setelah nya." jelas Deon dengan mengusap rambut Ken pelan.
"Kau juga tau bukan Ken bagaimana aku saat bekerja sebagai penembak jitu? bahkan terkadang aku pulang dengan banyak luka jika sedang menjalankan misi." tambah Sean dengan lembut.
Ken mengangguk kan kepalanya, dia mengusap wajah nya dengan kasar.
Sungguh dia ingin menangis saat ini.
Deon yang melihat itu menatap prihatin pada Ken.
"Mungkin jika kau berjanji untuk selalu baik-baik saja aku akan mencoba kembali membujuk kakak mu Ken." akhirnya Deon mengalah, dia mencoba untuk kembali membantu Ken.
Entahlah dia terlalu lemah jika sudah menyangkut kedua orang yang sudah dia anggap adik di hadapan nya ini.
Ken seketika mendongak, dia tersenyum dengan lebar hingga memperlihatkan gigi kelinci nya.
"Kau tidak berbohong kan kak?." tanya Ken dengan antusias.
Deon mengangguk.
"Tapi kak.."
Sebelum Sean menyelesaikan ucapan nya, Deon menatap Sean dengan tersenyum kecil.
"Tidak apa-apa, jika Liam masih tetap tidak mengijinkan nya kita akan membantu Ken dengan sembunyi-sembunyi.
Urusan Liam biar aku yang mengurus." jawab Deon dengan tersenyum menatap Ken dan Sean.
"Terimakasih kak." ucap Ken dengan senang.
Deon hanya mengangguk, biarkan saja lah toh dia bisa melindungi kedua adik nya ini, tidak ada yang berani padanya selama ini, selagi Ken dan Sean masih berada di dalam jarak pandangnya maka kedua nya masih tetap aman.
"Tapi berjanjilah padaku, saat kalian hendak kemana-mana lapor padaku dan tetap lah berada dalam jarak pandang ku.
Walau tidak ada yang mengenali kalian di dunia bawah, tapi orang-orang yang ingin menjatuhkan perusahaan ku mengenali kalian sebagai adik ku.
Mau itu di dunia bawah atau tidak, nyawa kalian tetap dalam ancaman karena berhubungan dengan ku, kalian mengerti maksud ku kan?." peringat Deon dengan wajah serius nya.
Ken dan Sean mengangguk bersamaan.
"Kami mengerti kak."
....
Beberapa hari telah di lewati oleh Rafael, sudah terhitung satu bulan dia berada di dunia ini.
Dunia yang bisa di sebut dunia modern.
Ada sedikit perubahan di dalam hidup nya, yaitu seorang Zergio Hernandez sudah tidak mengganggu nya lagi atau lebih tepatnya tidak mem-bully nya lagi.
Bagaimana mau mem-bully sedangkan Zergio saja sekarang sudah menjadi sekretaris pribadi nya haha.
Saat ini Rafael sedang berkutat dengan berkas-berkas yang ada di meja kerja nya, lumayan ada peningkatan di perusahaan nya.
Rekan bisnis ayah Zergio sedikit nya sudah mau bekerja sama dengan perusahaan nya, bisa di bilang sebentar lagi perusahaan nya itu akan kembali stabil.
Bahkan ayah Zergio membantu untuk menyuntikkan dana ke perusahaan nya, waw terkejut bukan?.
Perusahaan HS Corp bergerak di bidang kecantikan atau bisa di sebut kosmetik.
Semua keluaran dari perusahaan ini lumayan banyak di minati oleh masyarakat, tapi masih banyak juga yang belum percaya dengan kosmetik yang berasal dari HS Corp.
Dan itu menjadi PR untuk seorang Rafael, bagaimana cara nya dia harus bisa membawa perusahaan ini menjadi lebih terkenal dan menjadi lebih besar lagi jika ingin membalaskan dendam pada keluarga Alexander.
HS Corp bahkan tidak ada apa-apa nya jika di bandingkan dengan AX Company.
Tok
Tok
Tok
"Masuk."
Tak lama pintu terbuka, seorang pria berkulit pucat memasuki ruangan Rafael dengan wajah kesal.
"Hilangkan wajah menyebalkan mu itu juga masih ingin memiliki wajah." ucap Rafael dengan dingin tanpa menatap Zergio.
Zergio mencebik sungguh dia sangat ingin meninju wajah pria di depan nya ini, yang sialnya sekarang menjadi bos nya.
"Pertemuan dengan perusahaan Qers Corp's sebentar lagi direktur, kita harus segera menuju restoran yang di janjikan." ucap Zergio dengan tersenyum paksa.
Rafael yang mendengar itu mengangguk, lalu dia pun bangkit berdiri dan memakai jas nya.
"Baiklah, ini juga sudah waktunya makan siang."
Rafael pun berjalan mendahului Zergio, dan Zergio pun mengikuti langkah Rafael di belakangnya setelah menutup pintu sang direktur.
Selama perjalanan hanya keheningan yang ada di mobil itu, Jack dan James yang fokus pada jalan dan Zergio yang berada di samping Rafael sibuk dengan iPad yang dia bawa untuk melihat jadwal-jadwal Rafael.
Sedangkan Rafael, sibuk dengan berkas nya yang akan dia bawa untuk pertemuan nya bersama pemimpin Qers Corp's.
"Apa ada jadwal lain setelah ini?." tanya Rafael tanpa mengalihkan pandangan nya.
"Ada pertemuan kembali jam 2 siang dengan pemimpin perusahaan Lore's."
"Semakin banyak saja yang ingin menjalin kerjasama ternyata." ucap Rafael dengan tersenyum miring.
Zergio mendengus "tentu saja, siapa dahulu yang membantu mu huh?!." jawab nya dengan kesal.
Rafael menoleh, dia menggeleng tak menggubris ucapan Zergio.
"Semakin cepat perusahaan tuan berkembang seperti nya akan semakin cepat juga tuan mengumpulkan bukti." Jack menatap Rafael dari kaca.
Rafael yang mendengar itu menatap Jack.
"Kau benar, setelah perusahaan ku bisa menyaingi perusahaan mereka, saat itu juga aku baru bisa bergerak.
Untuk sekarang aku benar-benar harus menyembunyikan identitas ku terlebih dahulu." timpal Rafael dengan dingin.
"Saya rasa untuk sekarang mereka belum curiga pada tuan, tapi saya khawatir setelah semakin berkembang perusahaan tuan pasti mereka juga akan melirik pada perusahaan tuan.
Dan yang semakin membuat curiga jika tuan lembur untuk menyelesaikan pekerjaan tuan, saya yakin mereka pasti akan mencari tahu." James menatap khawatir pada Rafael.
Sedangkan Rafael hanya diam begitupun dengan Zergio yang tak mengerti apa-apa, dia hanya mendengar kan perbincangan mereka dengan mengernyit heran.
"Kalian tenang saja saat lembur saya akan pulang ke rumah kakek dan nenek, tapi jika mereka benar-benar melirik perusahaan saya maka yang akan menemui mereka Zergio." Rafael kembali berucap dengan formal.
Entah lah dia terlalu susah untuk tidak berkata formal, karena memang itu sudah kebiasaan nya berada di kerajaan.
"Kenapa aku? aku bahkan tidak mengerti apa-apa tentang masalah dirimu." sewot Zergio tidak terima.
Rafael menoleh "kau ingin tau?."
Zergio diam tak menjawab dia membuang pandangannya ke arah lain.
"Tidak! tidak ada hubungannya dengan ku jadi untuk apa aku mengetahui masalah mu."
Rafael tak menjawab, lalu mereka pun akhirnya sampai di restoran yang telah di janjikan.
Setelah turun dari mobil mereka pun segera berjalan ke dalam restoran itu, saat di pertengahan jalan tak sengaja seseorang menabrak Rafael hingga membuat Rafael hampir terjatuh.
"Tuan!." teriak Jack dan James serempak.
Sedangkan Zergio hanya segera berdiri di samping Rafael.
"Oh!." orang itu memegang bahu nya, dia menatap Rafael dengan kesal.
"Jika jalan itu lihat-lihat!." amuk nya dengan kesal.
Rafael memicing, dia menatap datar pria yang ada di hadapannya itu.
"Kau tidak sadar diri, disini siapa yang salah hah? jelas-jelas dirimu yang menabrak saya tapi kenapa malah dirimu yang marah-marah?." balas Rafael dengan sangat dingin.
"Kau menyalahkan ku heh?! apa kau pikir aku takut pada dirimu?." sentak nya tidak terima.
Rafael tersenyum miring, dia berjalan mendekati pria itu lalu menarik kerah pakaian nya.
"Dan apa kau pikir saya takut dengan dirimu?." Rafael menyeringai dia menatap begitu tajam pada pria di hadapannya itu.
"Sean?!." saat orang itu hendak menjawab ucapan Rafael, seseorang menyela nya terlebih dahulu.
"Hey apa-apaan kau ini hah?! apa yang kau lakukan pada sahabat ku!."
Rafael menoleh dia menatap beberapa orang yang baru saja datang itu dengan dingin.
Tanpa aba-aba Rafael melepaskan cengkraman nya lalu..
Brukh
"Akh!."
"Sean?!."
Rafael mendorong tubuh pria yang di panggil Sean itu dengan keras hingga jatuh terduduk.
"Berani nya kau?! apa kau tidak tahu siapa aku hah?!." teriak Sean tidak terima.
"Tidak, karena mau siapapun dirimu tidak ada penting nya sama sekali untuk ku." balas Rafael.
"Kau?!." Sean menunjuk tidak terima pada Rafael.
"Turunkan jari mu jika kau masih ingin memiliki jari 1 menit kedepan." peringat Rafael dengan tidak terima.
Sean tersenyum miring "ini?." dia menunjukkan jari nya tepat di hadapan Rafael.
"Cari mati." gumam Zergio yang dapat di dengar oleh orang di samping nya.
Orang yang datang untuk menghampiri Sean itu melirik Zergio lalu tak lama mengernyit, dia seperti kenal dengan pria pucat di samping nya ini.
Tak lama...
"Bukankah.. bukan kah dia putra tunggal keluarga Hernandez?." batin Deon dengan heran.
"Akh!."
"Sean!."
"Tuan Sean!."
Teriakan Sean, Ken dan beberapa bodyguard yang ada disana menyadarkan lamunan Deon.
Dia melebarkan mata nya saat melihat keadaan memprihatinkan Sean, dimana dia melihat Sean yang meringis kesakitan dan memegangi tangan kanan nya.
"Direktur!." panggil Zergio dengan cepat saat melihat Rafael hendak mematahkan tangan kanan Sean.
Rafael menoleh "sebentar lagi pertemuan akan dimulai, sebaiknya kita segera masuk direktur." lanjut Zergio dengan menelan ludah kasar.
Rafael yang mendengar itu seketika mendorong tubuh Sean yang langsung di tangkap oleh Ken.
"Untuk saat ini kau lolos, jika lain kali kita bertemu lagi saya pastikan dirimu hanya akan tinggal nama!." ucap Rafael dengan sangat dingin.
Lalu Rafael pun segera melanjutkan langkah nya dengan di ikuti Zergio, Jack dan James.
Deon terus menatap kepergian Rafael dalam diam, pria itu benar-benar sangat dingin dan kejam.
Bahkan tatapan nya setajam elang, baru kali ini Deon melihat orang dengan kepribadian yang begitu menakutkan.
Bahkan hanya dengan melihat tatapan nya saja orang-orang dapat merasa terintimidasi, Deon akui pria itu benar-benar hebat entah kenapa dia meresa suatu saat pria itu akan mengguncang dunia dengan kepemimpinan nya.
Bahkan seperti nya aura yang dia miliki pun tidak apa-apa nya dengan pria itu, aura pria itu benar-benar berbeda.
Entahlah aura nya terlihat seperti seorang bangsawan besar, tapi di satu sisi dia pun terlihat begitu menakutkan seperti seseorang yang memiliki hubungan dengan dunia bawah seperti nya.
Jangan kira dia tidak dapat melihat aura seperti itu ya! karena dia sudah lama berkecimpung di dunia bawah, dia dapat merasakan bagaimana pekat nya aura seseorang hanya dengan melihat mata nya saja.
Dan semua itu berada di pria tadi, pria tampan dengan tatapan dingin dan tajam seperti elang.
"Aku benar-benar penasaran dengan pria itu." batin Deon.
Lalu setelahnya Deon, Ken, Sean dan semua bodyguard mereka pun pergi dari restoran itu karena acara makan siang mereka dibatalkan akibat kejadian barusan.
..
Direktur Rafael Alexander/Rafael Smith.
Sekretaris 'terpaksa' Zergio Hernandez wkwk.
...
Kalian ada saran ga sih pemeran cewe yang cocok buat Rafael? yang muka nya judes tapi cantik gitu, kalian ada saran ga?.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 32 Episodes
Comments
ララサティ
dilbara cweknya thor
2022-03-04
0
guest1052940504
nyimakkkk
2021-11-13
1
LegiSutri
11.., sekali2 artis india jg gkpp thor..? hahaha.., peran ceweknya campur aduk aja. ada korea ada jepang, india, indo, thailand,
2021-11-13
1