Satu bulan telah berlalu, perusahaan SH Corp sudah mulai kembali terlihat normal dibawah kepemimpinan Rafael.
Walaupun tak sedikit dia terkena kendala akibat kurang nya wawasan Rafael tentang dunia bisnis, tapi semua itu bisa Rafael lalui di bantu oleh kakek dan Zergio.
Zergio pun sudah mulai menikmati status nya sebagai sekretaris pribadi Rafael, walaupun terkadang dia masih saja kesal terhadap Rafael.
SH Corp perlahan mulai bangkit lagi bahkan sekarang perusahaan itu mulai di kenal oleh banyak orang, Rafael yang mengetahui kabar itu pun hanya bisa tersenyum miring karena dengan begini balas dendam nya pun akan segera di mulai.
Dia sadar bahkan sangat sadar, balas dendam tanpa ada sedikitpun kekuasaan di hidup nya akan sangat menyulitkan nya.
Jika di dunia nya mungkin dia tak perlu melakukan itu, karena dengan status nya yang seorang pangeran orang-orang akan terlebih dahulu tunduk pada nya sebelum dia melakukan apapun.
Pagi ini Rafael sedang berada di kamar nya, bersiap untuk berangkat menuju kampus nya.
Seorang diri, karena sekarang dia sudah bisa menggunakan mobil tentu saja dengan di ajari oleh Jack dan James.
Jika kalian bertanya dimana kedua bodyguard nya itu, mereka saat ini sedang menggantikan dirinya dan Zergio selama kita berdua ada kelas.
[Pakaian Rafael].
Rafael segera turun menuju lantai bawah setelah selesai dengan semua keperluan nya.
"Rafael!."
Rafael yang sedang berjalan seketika menghentikan langkahnya saat mendengar panggilan itu, dia membalikkan tubuhnya lalu menatap Andrew sang ayah.
"Kemari kau!."
"Siapa yang butuh?." ucap Rafael dengan dingin.
Tuan Andrew mengepalkan tangannya mendengar itu.
"Jangan membantah Rafael Alexander!!." bentak sang ayah dengan kesal.
Rafael berdecih tapi tak urung dia tetap mendekat pada sang ayah, yang sedang berada di meja makan bersama keluarga bahagia nya.
Leo, nyonya Alice dan tuan Hendry yang sedang sarapan hanya bisa menatap sinis pada Rafael.
"Duduk!." perintah tuan Andrew lagi dengan datar.
Rafael segera menarik kursi dan duduk di samping Leo dengan malas, tak menghiraukan tatapan sinis orang-orang Rafael pun tanpa malu mengambil roti yang ada di hadapan nya dan memakan nya.
"Kau!!." nyonya Alice menunjuk Rafael dengan emosi.
"Cih, tidak tahu malu!." sindir tuan Hendry dengan sinis.
"Orang seperti nya tidak akan memiliki malu sedikitpun kek." timpal Leo dengan tersenyum miring.
Tak mendengar kan omongan orang-orang itu Rafael masih tetap memakan habis roti yang dia ambil, lalu setelah nya menatap tuan Andrew dengan dingin.
"Apa yang kau lakukan selama satu bulan ini? kenapa selalu pulang larut malam bahkan terkadang kau tak pulang sama sekali.
Sudah mulai berani kau hah?! sudah mulai merasa hebat karena aku sudah tidak memukul mu lagi? apa kau pikir aku takut padamu?!." tanya taun Andrew dengan datar dan menatap tajam Rafael.
"Bukan urusan mu." jawab Rafael dengan dingin.
"Kau?!." tuan Andrew mengepalkan tangannya dan menatap nyalang pada putra kedua nya itu.
"Kau itu hanya menumpang disini, jangan sok berlaga berkuasa!." sinis Leo dengan kesal.
"Dasar anak haram!." ucap tuan Hendry dengan menatap tajam Rafael.
Rafael yang mendengar itu mengepalkan tangannya, anak haram?.
"Anak haram?." ulang Rafael dengan dingin.
"Hahaha kau benar, aku hanya anak haram yang menumpang hidup di keluarga ini, seharusnya aku sadar diri bukan? ibu ku sudah mati dan aku pun tak ada alasan untuk tetap disini.
Ayah? bahkan aku sudah tidak yakin masih memiliki seorang ayah atau tidak setelah selama 7 tahun hanya perlakuan kasar yang aku terima dari nya.
Jadi tidak ada alasan lagi bukan aku masih tetap disini?." ucapan Rafael yang terkesan dingin tapi tersirat rasa sedih yang begitu menyakitkan itu membuat mereka terdiam.
Terutama sang ayah, sakit, entah kenapa dia merasa sakit saat putra kedua nya itu berkata seperti itu.
Tapi secepat mungkin dia menepis nya.
"Sadar diri juga rupa nya? lalu apa, kau mau pergi dari rumah ini iya? kau ingin jadi gelandangan di jalanan sana?!." ucap Leo lagi dengan sarkas.
Rafael menoleh "kau benar, aku memang akan pergi dari rumah ini."
Setelah itu Rafael bangkit dari kursi nya.
"Bagus lah, jangan pernah kau kembali lagi ke rumah ini setelah menjadi gelandangan di luar sana.
Aku yakin kau pasti tak lama akan mati kelaparan lalu menyusul ibu jal*ng mu itu!."
Bugh
Brak
Sebelum Leo menutup mulutnya setelah mengucapkan kata itu, Rafael terlebih dahulu memukul wajah nya dengan keras hingga tubuh nya membentur meja.
"Leo!."
"Anak sial*n! berani nya kau memukul cucu ku!!."
Plak
Plak
Dua tamparan keras Rafael terima, bukan dari sang kakek tapi itu dari sang ayah.
"Kenapa kau memukul putra ku hah?! cari mati rupa nya!." bentak tuan Andrew dengan keras.
Plak
Bugh
Brak
"Uhuk, uhuk."
Tamparan, pukulan dan tendangan kembali Rafael terima dengan begitu keras nya dari sang ayah.
Sebelum Rafael bangkit, kembali Rafael merasakan siksaan dari sang ayah.
Plak
Plak
Plak
Plak
"Argh!."
Sabetan dari ikat pinggang sang ayah kembali Rafael rasakan setelah 2 bulan ini dia tidak merasakan nya, tak segan-segan bahkan tuan Andrew melakukan nya dengan begitu keras.
Tidak mendengar rintihan kesakitan dari orang di hadapan nya itu yang notabe nya putra kandung nya sendiri, putra yang lahir dari rahim orang yang pernah dia cintai.
Rafael hanya bisa menahan rintihan nya, dia mengepalkan tangannya dengan erat dengan mengigit bibir nya hingga mengeluarkan darah.
Tendangan dari sang ayah di perut nya saja sudah tidak bisa membuat nya untuk bangkit berdiri, sekarang di tambah dengan sabetan dari ikat pinggang di punggung nya hingga membuat pakaian nya compang camping.
Rafael semakin melemah.
Darah sudah mengalir dengan derasnya dari punggung Rafael, dia bahkan sudah terkulai di lantai dengan keadaan yang memprihatinkan.
"Jadi ini yang selama ini kau terima dari keluarga ini Rafael? 7 tahun, 7 tahun kau menahan siksaan ini seorang diri? aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika ini terjadi pada diriku, kau benar-benar hebat!." batin Rafael dengan lemah.
Sebelum kesadaran nya benar-benar habis Rafael mengangkat kepala nya, menatap sang ayah yang masih saja menyiksa nya tanpa rasa belas kasihan sedikitpun.
"A-akan aku pastikan, ka-kalian. te-terutama ka-kau Andrew akan hidup dengan seng-sara.."
Brugh
Rafael pingsan, dia kehilangan kesadaran nya dengan darah yang sudah mengalir dari punggung nya.
Tuan Andrew yang melihat itu terdiam, perasaan sekarang menjadi tidak karuan.
Kenapa?.
Sedangkan tuan Hendry, nyonya Alice dan Leo tersenyum puas melihat kejadian itu semua.
"Tuan muda!."
Keempat orang yang masih menatap pada Rafael itu segera menoleh saat mendengar teriakan keras dari arah pintu utama.
Jack, berlari dengan panik saat melihat keadaan memprihatinkan tuan muda nya itu.
Dia segera memangku kepala Rafael, saat melihat tuan muda nya sudah tak sadarkan diri dengan wajah yang begitu pucat tanpa banyak bicara dia pun membopong tubuh Rafael.
"Akan saya pastikan, kalian semua, terutama anda tuan Andrew akan menyesali perbuatan anda setelah ini." ucap Jack dengan dingin.
Lalu setelah nya dia pun pergi dari hadapan mereka semua dengan amarah yang dia tahan.
Lagi-lagi dia tidak bisa melindungi tuan muda nya.
Jika saja dia tidak datang kesini, bagaimana nasib tuan muda nya? dia tidak bisa membayangkan nya.
...
Nathan Willson, sahabat Zergio.
Kevin Johnson, sahabat Zergio.
Jack, bodyguard sekaligus teman Rafael.
**James, bodyguard sekaligus teman Rafael.
...
Jangan lupa like, coment ya papayyy**.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 32 Episodes
Comments
d13ta
bodyguard nya kayaknya kemudaan thor hihiii....tapi gpp si, cakep wkwkk
2021-11-28
1
Vera Santi
kapan lg upnya?
2021-11-15
1
guest1052940504
nyimak...... lama banget thor
2021-11-15
1