Pagi hari saat Rafael terbangun dia kira dia akan berada di kamar kediaman nya, ternyata semua nya masih sama.
Dia masih berada di tempat ini, tempat yang tidak Rafael ketahui sama sekali.
Tok
Tok
Tok
"Tuan muda, apa anda sudah bangun?." tanya Jack dari pintu luar.
"Sudah." jawab Rafael dengan malas.
"Baiklah, saya akan menyiapkan sarapan untuk anda."
Rafael hanya berdehem, dia turun dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi.
Jika kalian bertanya apakah dia bisa menggunakan kamar mandinya? Jawaban nya iya, karena Jack dan James yang mengajari nya kemarin sore.
Setelah 20 menit akhirnya Rafael keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju lemari, Jack bilang jika hari ini dia akan kuliah.
Jangan di tanya apa Rafael tau tentang kuliah, maka kalian pasti sudah tahu jawabannya.
Dia tidak tahu sama sekali, tapi sudahlah mungkin dengan kuliah-kuliah itu dia akan tahu kehidupan Rafael asli.
Setelah Rafael selesai memakai pakaian nya, ketukan pintu kamar kembali terdengar lalu dia pun membuka pintu itu.
Saat sudah terbuka Rafael dapat melihat James yang sedang membawa sarapan nya, saat James milihat penampilan tuan muda nya.
[Tapi Rafael ga pake cincin ya༎ຶ‿༎ຶ].
Dia terdiam tak percaya, kenapa tuan muda nya sekarang terlihat berbeda sekali?.
Jika biasanya tuan muda nya akan berpenampilan cupu, tapi sekarang? Benar-benar jauh berbeda dengan biasanya.
"Kau kenapa?." tanya Rafael dengan aneh.
James tersadar, dia menunduk lalu tersenyum kikuk.
"Maafkan saya tuan muda, hari ini anda benar-benar terlihat berbeda sekali, saya sangat pangling melihat penampilan anda."
Rafael mengernyit, tapi dia hanya mengangkat bahu acuh saja.
..
Setelah selesai sarapan, Rafael pun turun dan bersiap untuk berangkat menuju kampus.
Saat melewati ruang makan, semua keluar Alexander dibuat menganga tak percaya dengan penampilan Rafael.
Lagi-lagi Rafael tak peduli, dia lebih memilih terus melangkahkan kakinya menuju Jack yang sudah menunggu nya diluar.
"Itu tadi Rafael?." tanya nyonya Alice Alexander dengan tidak percaya.
"Kenapa dia sangat berbeda sekali?." tambah Andrew Alexander, suami Alice ayah dari Leo dan Rafael.
"Anak itu, kenapa setelah kejadian kemarin dia menjadi sangat berubah?." gumam tuan besar Hendry Alexander.
"Entah kenapa aku merasa jika Rafael benar-benar tidak mengenal kita, apa dia amnesia?." tanya Leo pada ayah, ibu dan kakek nya.
"Bahkan kalian tau sendiri bukan? Kemarin saja dia benar-benar berani pada kakek, ayah dan diriku, apa kalian tidak curiga dia mengalami amnesia?." tambah Leo dengan serius.
Nyonya Alice terdiam, dia menatap Leo.
"Tapi, apakah amnesia bisa membuat seseorang benar-benar berubah seperti Rafael?." jawab tuan Andrew.
Saat semua orang sedang memikirkan ucapan tuan Andrew, suara berat Hendry menginterupsi mereka hingga membuat mereka menyudahi untuk membicarakan tentang perubahan Rafael.
Sedangkan diluar, sudah 5 menit Rafael terdiam di tempatnya tak bergerak sedikitpun sembari menatap benda aneh di depannya ini.
Jack dan James yang melihat tuan muda mereka seperti sangat kebingungan itu akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.
"Tuan muda? Anda kenapa? Apa ada yang salah dengan mobil nya?." tanya Jack dengan bingung.
Rafael menoleh "oh, benda aneh ini nama nya mobil?." bukan nya menjawab Rafael justru malah balik bertanya.
Jack mengangguk ragu, kenapa tuan muda nya benar-benar terlihat sangat tidak tahu apa-apa sama sekali.
Apakah amnesia yang di alami tuan muda nya sangat parah, hingga mobil saja dia tidak tahu?.
"Lalu bagaimana cara menunggangi nya?." tanya Rafael dengan polos.
"Hah?." serempak Jack dan James menganga.
Menunggangi? Apa tuan mereka kira ini kuda?.
"Kenapa?." Rafael memicing.
"Mungkin maksud tuan memasuki? Atau mengendarai, bukan menunggangi." bisik James pada Jack.
Jack mengangguk mengerti, lalu dia pun membuka pintu mobil belakang dan menyuruh Rafael untuk masuk.
Rafael menurut, setelah duduk di kursi benda yang di sebut mobil itu, dia hanya duduk diam dengan tegak bak patung.
Saat Jack dan James sudah masuk, mereka terkekeh kecil saat melihat ekspresi tuan muda mereka yang terlihat tegang sekali.
"Tuan muda santai saja, rileks, jangan terlalu tegang seperti itu, kita sedang tidak balapan." James kembali tertawa kecil setelah mengucapkan itu.
Rafael yang mendengar itu segera melemaskan otot-otot nya, lalu dengan ragu dia pun bersandar pada kursi mobil saat melihat James melakukan hal itu.
Setelah dirasa tuan muda nya rileks, Jack pun mulai menjalankan mobil nya menjauhi pekarangan rumah mewah itu.
Selama perjalanan Rafael hanya terdiam, dia mulai mengingat saat terakhir kali dia berada di dunia nya.
.....
"Aku benar-benar bosan." gumam pangeran Rafael saat dia sedang duduk diam sedirian di atas pohon apel.
"Kak Ael?." panggil seseorang dari arah bawah.
Rafael yang sedang menatap langit pun menurunkan pandangan nya, dia menatap salah satu adik nya yang sedang menatap nya itu.
"Ada apa?." tanya Rafael dengan datar.
Orang itu berdecih, kenapa kakak pertama nya ini benar-benar sangat dingin sekali?.
"Turunlah, kita harus segera ke tempat biasa keluarga kita berkumpul, katanya kakek dan nenek ingin membicarakan sesuatu."
[Jia Li sama Yui udah tua༎ຶ‿༎ຶ].
Rafael menghela nafas lalu dia pun segera loncat, setelah berdiri di hadapan adik nya itu tanpa aba-aba sang adik merangkul pundak nya.
"Ck! Lepas Ray!." decak Rafael dengan tidak suka.
"Diamlah kak, sekali saja kau ini mau aku rangkul seperti ini!."
Tanpa mendengar ucapan sang kakak, Raymond pun segera mengajak Rafael menuju taman istana itu.
"Ray."
Raymond menoleh saat mendengar panggilan sang kakak.
"Hm?."
"Berjanjilah padaku, saat aku tidak ada jaga keluarga kita dengan baik." ucap tiba-tiba Rafael dengan suara lembut untuk pertama kali nya.
Raymond yang mendengar suara lembut sang kakak refleks menghentikan langkahnya, dia menatap Rafael tak percaya.
"Kak?." panggil Raymond dengan terkejut.
Rafael memicingkan matanya.
"Hahaha, aku tak menyangka akan mendengar suara mu seperti tadi! Tanpa terdengar datar dan dingin!."
Rafael yang mendengar itu menggeleng.
"Kau dengar apa yang aku ucapkan tadi kan?."
Raymond menoleh, dia kembali merangkul pundak sang kakak dan kembali melanjutkan langkahnya.
"Kita akan menjaga keluarga kita sama-sama, jangan berkata seperti itu kak kau seolah-olah akan pergi jauh saja."
Rafael tak menjawab, entahlah dia memiliki firasat jika dirinya tak lama lagi akan meninggalkan keluarga nya.
Tapi sebisa mungkin Rafael menepis perasaan itu.
"Berjanjilah Ray."
"Aku tidak akan berjanji, karena kita akan menjaga keluarga kita sama-sama kak."
Rafael menghela nafas panjang, lalu tak lama mereka pun sampai di taman terlihat disana semua keluarganya sudah berkumpul.
Rafael dan Raymond berjalan mendekati bunda dan ayahnya, dia memeluk sang bunda dari belakang dengan erat.
"Aku menyayangimu bunda, maafkan aku jika suatu hari aku tidak bisa menjaga mu lagi."
Rafael berbisik dengan pelan dan menyembunyikan wajah nya di ceruk leher sang bunda, sedangkan Freya yang masih terkejut kembali terkejut saat mendengar perkataan sang putra.
"Apa yang kau katakan Ael, jangan berkata aneh-aneh, bunda tidak suka!." Freya mengusap lembut rambut Rafael.
Kenapa putra nya berkata seperti itu? Tapi tak bisa Freya pungkiri, saat ini perasaan nya menjadi sangat tidak enak sekali.
"Hey boy, berhenti memeluk istri ku!." ucap Devin dengan tidak suka.
Rafael yang mendengar itu segera mengangkat wajahnya lalu menatap sang ayah.
Dia tersenyum kecil, sangat kecil hingga semua orang tak menyadari nya.
"Ayah tenang saja, setelah ini ayah puas memeluk bunda, aku tidak akan merebut bunda dari ayah lagi." jawab Rafael setelah duduk.
Devin mengernyit, kenapa dia merasa perkataan putra nya itu memiliki arti yang sangat dalam?.
Setelah perkataan Rafael tadi, semua orang pun kembali melanjutkan perbincangan yang sempat tertunda walaupun dengan perasaan ganjal di hati mereka.
Di tengah perbincangan hangat keluarga istana itu, Rafael yang sedang berbicara dengan para sepupu nya mendadak diam.
Raymond yang menyadari itu menatap sang kakak.
"Kak kenapa?."
Rafael menggeleng belum sempat dia membuka mulutnya, kesadarannya sudah di renggut terlebih dahulu.
Tubuh Rafael terjatuh di atas meja.
Prang.
"Kak!."
Semua orang terkejut, mereka berdiri dengan cepat dan segera menghampiri Rafael yang sedang di bantu oleh Raymond dan putra Fredy.
"Ada apa dengan kakak mu?." tanya Devin dengan khawatir.
Dia segera menggendong Rafael ala bridal dan membawa Rafael ke kamar nya dengan panik.
"Cepat panggil tabib!." teriak Yui.
Setelah sampai di kamar Rafael dan Devin sudah menidurkan nya, Freya dengan cepat duduk di sisi tubuh putra nya itu.
"Nak, sayang? Ael? Bangun nak." ucap Freya dengan bergetar.
Ada apa dengan putranya?.
"Tenanglah, tabib akan segera datang." Devin mengusap punggung sang istri dengan lembut.
"Taun muda, kita sudah sampai." Rafael yang masih melamun segera tersadar, dia menoleh pada Jack.
"Kita sampai?."
Mereka berdua mengangguk.
"Kau yakin? Ini masih di jalan? Apa kuliah itu di jalan?." tanya Rafael dengan datar tapi terdengar bingung.
Jack dan James saling menatap, lalu mereka pun serempak menepuk kening mereka.
Mereka lupa, jika sebelumnya tuan muda mereka itu selalu minta di antar sampai perempatan dekat kampus.
Tapi sekarang? Tidak mungkin mereka membiarkan tuan muda mereka turun saat ingatan tuan muda mereka saja hilang.
"Maaf tuan muda, saya lupa."
Lalu Jack pun kembali menjalankan mobil nya, tak lama mobil yang di kendarai Jack memasuki kawasan kampus.
Saat sampai di parkiran Jack dan James pun segera turun lalu James membuka pintu mobil untuk tuan nya, setelah terbuka Rafael pun segera turun.
Saat sudah diluar mobil semua orang yang berada di parkiran menatap ke arah Rafael, mereka semua terdiam karena merasa terpesona oleh kehadiran Rafael.
Rafael yang tidak mengerti apa-apa hanya acuh saja.
"Dimana?."
Jack yang mengerti pun segera menjawab.
"Tuan muda hanya perlu lurus saja dari sini lalu setelah itu belok kiri dan kembali lurus lagi saat ada tangga tuan muda naik kelantai dua, dan setelahnya kembali lurus lalu belok kanan pintu ketiga dari belokan itu adalah kelas tuan muda."
Rafael mengangguk.
"Terimakasih, kalian kembali lah."
Jack dan James tersenyum, lalu mereka membungkuk.
"Kami permisi tuan muda."
Rafael hanya mengangguk, lalu dia pun mulai melangkahkan kakinya dengan tenang, dia hanya menunjukkan ekspresi datar nya saja saat banyak orang-orang yang menatapnya.
"Itu siapa? kenapa sangat tampan sekali?." ucap seorang wanita dengan ekspresi kaget nya.
"Ya Tuhan, dia sangat tampan sekali!."
"Apa dia mahasiswa baru?."
"Aku tidak percaya ada manusia setampan dirinya!."
"Tapi wajah nya sangat datar sekali."
"Justru itu terlihat sangat keren, sangat cocok dengan tatapan nya yang tajam."
"Seperti nya Zergio saja kalah dengan ketampanan laki-laki itu!."
"Kau benar, aku yakin jika Zergio tahu dia tidak akan terima."
"Ya, seperti nya begitu."
Tanpa menghiraukan semua perkataan tak bermutu orang-orang, Rafael terus berjalan menuju tempat yang di maksud oleh Jack.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 32 Episodes
Comments
guest1052940504
nyimakkk
2021-11-09
0
LegiSutri
rafael rafaelll.., aq suka dgn gayamu. dingin tp rada kocak jg.., ha ha ha mobil ditunggangi..?
2021-11-02
2
Retno Ningsih Nining
lanjut thor
2021-11-02
6