Zergio saat ini sudah berada di kelas nya bersama dengan Nathan dan Daniel, dia terdiam karena merasa heran saat Rafael belum juga menampakkan dirinya sejak pagi tadi.
"Zer?." Nathan menepuk bahu Zergio saat melihat sang sahabat hanya diam saja sedari tadi.
Zergio menoleh "kenapa?."
"Kenapa kau bilang? harus nya kami yang bertanya, kenapa kau sedari tadi diam saja?." tanya Nathan dengan kesal.
Zergio menyenderkan tubuhnya lalu menghela nafas panjang.
"Kenapa Rafael belum juga datang? tumben sekali dia." ujar Zergio tanpa sadar.
Nathan dan Daniel saling menatap mendengar ucapan Zergio.
"Zer? kau kenapa? tumben sekali kau menanyakan keberadaan bocah itu?." tanya Daniel dengan menatap bingung Zergio.
Zergio yang mendengar itu tersadar, cepat-cepat dia mendatarkan wajahnya.
"Ck, jangan salah paham dahulu. Aku hanya penasaran saja tumben sekali bocah itu belum terlihat bahkan sejak pagi tadi.
Kalian tau bukan aku sekarang bekerja dengan nya, saat kelas selesai nanti dirinya memiliki janji untuk bertemu dengan klien jadi aku harus memastikan saat ini dia masih hidup atau tidak.
Jika tidak maka aku juga yang akan repot." elak Zergio dengan datar.
Nathan dan Daniel yang mendengar itu saling menatap lalu tersenyum meremehkan.
"Kau yakin hanya itu saja? bukan karena kau memang sudah menyadari jika Rafael orang baik lalu sekarang mulai menerima nya menjadi teman mu?." ejek Nathan.
Zergio melotot mendengar itu lalu memukul kepala Nathan dengan kesal.
"Tidak sudi dan tidak akan pernah!." bentak Zergio lalu berjalan pergi menuju kantin kampus.
Nathan yang di pukul hanya bisa mencebik kesal, sedangkan Daniel sudah tertawa terbahak-bahak dan menyusul Zergio.
Sedangkan di tempat Rafael berada, saat ini dirinya sedang di tangani oleh dua dokter sekaligus karena melihat luka yang di terima Rafael sangat parah.
Di dalam ruang UGD itu terlihat sekali para dokter dan suster yang sedang bersusah payah menyelamatkan nyawa Rafael, bukan hanya karena luka yang dia alami sangat parah tapi juga dia yang kehilangan banyak darah.
"Suster cepat ambil kantung darah, dia kehilangan banyak darah!." ucap salah satu dokter itu dengan panik.
Sang suster dengan tergesa segera keluar dari ruangan itu, Jack yang sedang khawatir di buat semakin khawatir saat melihat salah satu dokter keluar dari ruangan itu dengan panik.
"Apa yang terjadi?." gumam Jack dengan kalut.
Ah, dia bahkan sampai lupa mengabari James.
Setelah mengingat itu dengan tergesa Jack menghubungi teman nya itu.
"James aku tidak akan kembali ke perusahaan, kau tangani dulu pekerjaan ku, saat ini aku sedang berada di rumah sakit tuan muda kembali di siksa oleh keluarga nya.
Dan sekarang aku tidak tahu bagaimana keadaan tuan muda di dalam." Jack berbicara dengan bibir yang bergetar karena menahan khawatir nya.
"Bagaimana bisa?." teriak James dengan keras.
"Aku tidak tahu, jika saja aku tadi tidak kembali ke kediaman Alexander mungkin kita akan kehilangan tuan muda." lirih Jack dengan pelan.
"Aku kesana."
"Tidak usah! kau tangani perusahaan dan jangan biarkan keluarga Smith tahu mengenai keadaan tuan muda, kau cukup beritahu sekretaris tuan muda saja agar dia juga membantu pekerjaan mu." larang Jack dengan cepat.
"Tapi Jack.."
"Tidak James, biarkan aku yang menjaga tuan muda setelah aku merasa lelah kita akan bergantian menjaga tuan muda.
Bagaimana pun perusahaan tidak bisa di tinggal begitu saja tanpa ada yang memimpin nya bukan? jika di titipkan pada Alan tidak akan mungkin.
Pekerjaan nya saja sudah banyak, bagaimana bisa kita menyerahkan pekerjaan kita pada nya juga?."
Terdengar helaan nafas dari sebrang telepon, James mengangguk walaupun Jack pasti tidak akan melihat.
"Baiklah."
"Baiklah aku tutup, aku akan mengabari mu lagi nanti."
||
"Sayang? sudah lebih dari dua bulan kau tidak bangun-bangun, apa kau tidak lelah hem? apa kau tidak merindukan ibunda mu ini?."
Freya mengelus surai sang putra dengan lemah, putra nya, putra pertamanya, putra tampan dan dingin nya sudah dua bulan lebih tidak sadarkan diri entah karena apa.
Sudah banyak tabib yang mencoba mengobati sang putra dan mencari tahu kenapa putra nya bisa sampai seperti ini, tapi lagi-lagi mereka harus menelan pil pahit karena sejauh ini tidak ada yang bisa mengetahui kenapa Rafael Benedict, pangeran kerajaan Benedict itu bisa seperti ini.
"Sayang?."
Freya menoleh saat mendengar panggilan sang suami, dia menghapus air mata nya saat lagi-lagi sang suami melihat nya menangis.
Devin menghampiri Freya, dia duduk di samping Freya lalu membawa nya ke dalam pelukannya.
"Hiks."
Terdengar isakan lemah dari istri nya itu, dan Devin hanya mampu mengelus punggung sang istri dengan lembut mencoba memberi nya ketenangan.
"Putra kita Dev, hiks." Freya bergumam dengan lirih dan semakin menangis dengan keras.
Dengan sekuat tenaga Devin menahan air mata nya agar tidak kembali tumpah, dia pun merasakan apa yang istri nya ini rasakan.
Rafael, putra dingin dan tangguh nya ini sekarang sedang terkulai lemah dan berdaya tanpa tahu kapan dia akan bangun.
Bahkan sudah semua upaya mereka lakukan untuk menyembuhkan putra pertama nya itu, tapi semua nya sia-sia bahkan sang mertua pun tidak mengetahui kenapa Rafael bisa sampai seperti ini.
"Rafael anak yang kuat sayang, percayalah dia akan sembuh dan dia akan bangun. Dia akan kembali pada kita, kau percaya pada putra mu bukan?."
Devin melepaskan pelukan nya lalu menghapus air mata istri nya itu, bahkan sekarang Freya terlihat lebih kurus karena pola makan nya tidak terjaga.
Dia selalu berada di sisi Rafael, menangisi nya setiap hari dan selalu mencoba membangun kan sang putra, walaupun itu terlihat sangat mustahil.
"Tapi kapan Dev? hiks, hiks." Freya kembali menangis.
"A-aku merindukan nya Dev, aku takut dia tidak akan pernah kembali pada kita." Freya kembali memeluk Devin dengan erat.
"Sakit, sakit sekali hati ku Dev, melihat putra kita yang selama ini begitu tangguh, kuat dan terlihat tidak bisa tersentuh oleh siapapun, sekarang harus terkulai lemah tak beradaya di tempat tidur seperti ini hiks."
Devin menengadah wajah nya, mengigit erat bibirnya menahan isakan nya agar tidak keluar.
Dia pun sama seperti Freya, dia sakit, bahkan Raymond dan Rachel pun merasakan hal yang sama.
"Tenanglah, kita harus percaya pada Rafael dia pasti akan kembali pada kita, dia akan kembali seperti semula, pangeran Rafael Benedict akan kembali dan menunjukkan wajah dingin nya di hadapan kita."
Devin memeluk sang istri dengan erat lalu mata nya menatap wajah sang putra, yang terlihat begitu pucat seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan.
Sedangkan tanpa Freya dan Devin sadari, di pojok tempat tidur Rafael, terlihat Rafael yang sedang menatap kedua orang tua nya dengan tatapan sedih.
Dia menahan dada nya yang terasa begitu sakit saat melihat kedua orang tua nya begitu tak berdaya karena keadaan nya.
"Bunda, ayah..." gumam Rafael dengan lirih.
"Ael merindukan kalian, Ael merindukan pelukan bunda, Ael merindukan candaan ayah.
Ael merindukan Raymond dan Ael juga sangat merindukan Rachel, Ael sangat merindukan kalian, Ael sakit ayah, bunda.." lirih Rafael dengan menahan air mata nya.
Sakit, sakit sekali hati nya saat melihat air mata sang bunda terjatuh dengan begitu deras nya karena menangisi keadaan nya.
Saat Rafael sedang melihat kedua orang tua nya menangis, seseorang kembali datang dan memasuki kamar nya.
Saat itu juga dia melihat pria yang memiliki wajah yang begitu mirip dengan nya, Raymond.
Raymond terdiam di tempat nya saat melihat kedua orang tua nya, Devin dan Freya yang menyadari kedatangan Raymond pun segera menghapus air mata nya lalu bangkit berdiri.
"Kenapa kesini?." tanya sang bunda dengan lembut dan mengelus wajah Raymond, wajah yang begitu mirip dengan Rafael.
Raymond tersenyum sedih "Ray merindukan kak Ael." lirih nya dengan sedih.
Freya mencoba tersenyum mendengar itu.
"Ya sudah ayah dan bunda akan kembali ke kamar, kak Ael juga pasti merindukan Ray."
Raymond mengangguk lalu tersenyum tipis.
"Ayah dan bunda akan kembali ke kamar, kau jaga kakak mu ya? jangan di tangisi lagi." ucap Devin dengan mengelus rambut Raymond.
"Iya ayah."
Lalu setelah itu Freya dan Devin pun pergi meninggalkan Raymond yang pasti nya akan kembali bercerita tentang keseharian nya tanpa sang kakak.
Setelah kepergian kedua orang tua nya Raymond berjalan mendekati Rafael, dia duduk di samping tubuh sang kakak lalu menatap nya dengan sedih.
"Kak, apa kabar? ah, harus nya aku tidak bertanya seperti itu bukan?." Raymond menunduk sedih.
"Kak.. kapan kau akan bangun? aku merindukan mu, bagitupun dengan semua orang, apa kakak tidak lelah terus tertidur hem?.
Atau kakak sudah tidak menyayangi kami lagi karena itu kakak lebih memilih terus seperti ini?." Raymond terkekeh dengan sedih.
"Kak lagi-lagi hari ku tanpa ada kakak terasa begitu hampa, istana begitu sepi kak walaupun sebenarnya saat ada kakak pun sama saja.
Tapi sekarang sangat berbeda kak, kakak tau? bahkan kakek dan nenek sekarang menjadi sakit karena terlalu memikirkan tentang dirimu.
Apa kau tidak kasihan pada mereka? bukan hanya kakek dan nenek, Rachel pun sekarang menjadi gadis yang begitu dingin sama persis seperti dirimu.
Bunda bahkan sekarang terlihat lebih kurus, bunda tidak menjaga pola makan nya kak.
Disini hanya ayah dan aku yang terus mencoba untuk kuat, kerajaan Benedict sudah kehilangan satu perisai nya dan jika ayah dan aku pun terlalu larut dalam kesedihan maka istana pasti akan sangat kacau.
Kak, aku benar-benar merindukan mu kak, ayo kita kembali berlatih bersama lagi, ayo marahi aku lagi kak karena tidak mau mendengar ucapan mu, ayo kita pergi ke kekaisaran lagi dan mengacau disana."
Raymond terus berceloteh dengan lirih bahkan sesekali terlihat dia menghapus air mata nya karena tak kuasa menahan semua rasa sakit nya seorang diri.
Istana Benedict tanpa Rafael terlihat seperti istana mati, tak ada tanda kehidupan pada istana itu karena semua keluarga Benedict terlihat sangat terpukul atas apa yang menimpa pada salah satu pangeran kesayangan kerajaan Benedict itu.
Bahkan Rachel yang tadi nya memiliki hidup yang ceria saja seketika dia menjadi seperti seorang Rafael, dingin, gampang emosi dan hanya mengurung diri saja di kamar nya.
Begitupun dengan Raymond, dia bahkan sekarang terlihat begitu menutup diri pada orang-orang sekitar nya, walaupun dia masih bisa tersenyum tapi mereka pun tau bagaimana terpukul nya Raymond saat melihat saudara kembar nya seperti sekarang.
Rakyat kerajaan Benedict pun merasakan perubahan yang amat besar pada keluarga istana, mereka tahu bahkan sangat tau mereka pun sama seperti keluarga istana meresa kehilangan, walaupun Rafael dulu nya terkenal dengan pangeran es.
Tapi walaupun begitu Rafael tetaplah pangeran kerajaan Benedict dan perisai kerajaan ini, semua merasakan kehilangan dan sakit saat Rafael harus terkulai lemah tak beradaya di atas tempat tidur.
Tanpa tahu kapan dia akan bangun dan menunjukkan tatapan tajam, wajah datar dan suara dingin nya lagi.
"Aku akan kembali, secepatnya Ray. tolong jaga keluarga kita seperti ucapan ku waktu itu, dan beri aku sedikit waktu lagi.
Aku pasti akan kembali pada kalian, aku berjanji Ray.."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 32 Episodes
Comments
d13ta
yah yah yah.....aq mewekkkk
2021-11-28
1
Iyunk Yuliana
ngga sabar..lanjut donk....
2021-11-18
3
Callysta Nungrum Amira
mewek...aku hiks hiks
2021-11-17
1