Eps 7

Rafael sudah di pindahkan ke ruang rawat sejak 1 jam yang lalu, tapi tuan muda mereka itu belum membuka mata nya sama sekali.

Jack dan James tentu saja khawatir, apakah mungkin itu efek obat bius nya?.

Entahlah.

Tak lama tangan Rafael mulai bergerak sedikit demi sedikit, dan kelopak mata itu pun mulai mencoba untuk terbuka.

James yang melihat nya segera menghampiri Rafael begitupun dengan Jack, dan setelah menunggu beberapa saat Rafael pun tersadar dia menatap sekeliling dengan bingung.

"Tuan muda?." gumam James dengan senang.

"Tuan muda, akhirnya anda tersadar juga." ucap Jack dengan lega.

"James cepatlah panggil dokter." perintah Jack dan James pun segera menekan tombol yang berada di sisi Rafael.

Setelah beberapa saat dokter dan perawat pun datang, dokter itu segera memeriksa Rafael yang masih terlihat kebingungan.

"Pasien sudah baik-baik saja, tak ada yang perlu di khawatirkan." ucap dokter itu setelah memeriksa Rafael.

"Lalu kapan tuan muda boleh pulang dok?." tanya James.

"Tiga hari lagi, setelah dia benar-benar sembuh." jawab dokter itu.

"Baiklah, terimakasih dok."

Dokter itu mengangguk lalu mulai berjalan keluar bersama perawat nya.

Setelah dokter itu keluar Jack dan James kembali mendekati Rafael yang masih terdiam.

"Tuan muda?." panggil Jack dengan pelan.

Rafael menoleh dia mengangkat sebelah alisnya.

"Kenapa anda bisa sampai seperti ini? bagaimana kejadian nya? apa anda di bully lagi?." tanya Jack dengan berturut-turut.

Rafael terdiam tak menjawab.

"Tuan muda tidak mau mengatakan nya?." tanya Jack lagi setelah melihat keterdiaman tuan muda nya itu.

Jack menghela nafas kesal, James yang melihat itu hanya bisa menepuk pundak Jack dengan pelan agar bersabar.

"Tuan muda, selama ini saya dan James hanya diam saja selama tuan muda di bully dan di perlakukan kasar oleh keluarga tuan muda.

Karena kita menuruti kemauan tuan muda agar tidak ikut campur dengan urusan tuan muda, tapi sekarang kita tidak bisa kembali diam tuan muda!.

Kita berada di sini untuk melindungi tuan muda atas perintah nyonya, bagaimana bisa kita diam saja saat melihat orang yang kita lindungi di perlakukan tidak baik?.

Sudah 7 tahun saya dan James bersama tuan muda dan selama itu pula kita berdua hanya diam saja tuan muda, saya sudah lelah melihat tuan muda selalu di sakiti seperti ini.

Jadi untuk sekarang, saya mohon tuan muda anda jangan menutupi semua masalah yang anda miliki pada kita berdua."

Jack berucap dengan sedih, dia menatap Rafael yang hanya diam menatap jendela tak berbicara sedikitpun sejak sadar.

"Tuan muda-" sebelum Jack menyelesaikan ucapan nya Rafael terlebih dahulu berbicara.

"Baiklah." ucap nya dengan dingin.

Jack dan James mengerjap cepat lalu mereka saling menatap.

"Ma-maksud tuan muda?." tanya Jack memastikan.

"Saya tidak akan menutupi apapun dari kalian lagi mulai saat ini." lanjut Rafael dengan sangat dingin tanpa menatap kedua bodyguard nya itu.

Jack dan James tersenyum senang.

"Terimakasih tuan muda." Jack dan James membungkuk hormat.

"Hm."

Tanpa Jack dan James sadari kedua tangan Rafael mengepal dengan erat, tatapan mata nya yang terus menatap ke arah jendela semakin terlihat dingin wajah nya pun terlihat semakin datar.

Dia emosi, Rafael emosi dan tidak ada yang tahu apa penyebab pria tampan itu terlihat begitu emosi.

Satu, dua dan tiga hari sudah Rafael lewati dengan cepat di rumah sakit itu, tidak ada yang menjenguk nya sama sekali begitupun dengan keluarga nya.

Hanya Jack dan James yang selalu ada di sisi Rafael, tapi itu tak menjadi masalah bagi Rafael toh ada dan tidak ada nya keluarga nya bagi Rafael sama saja.

"Sudah siap tuan muda?." tanya James.

Rafael mengangguk, dia turun dari brangkar walaupun perban masih melilit di kepala nya tak mengurangi sedikitpun ketampanan seorang Rafael Benedict atau lebih tepatnya Rafael Alexander.

James membawa tas yang berisi pakaian Rafael di samping Rafael, mereka mulai keluar dari ruangan yang sudah 3 hari belakang ini di tempati Rafael.

Saat menyusuri koridor rumah sakit itu semua mata tertuju pada Rafael, Rafael yang memang terlalu mencolok sangat cepat menjadi pusat perhatian dimana pun dia berada.

Wajah nya yang tampan dengan tubuh ideal nya benar-benar membuat para kaum hawa terpikat.

Saat sudah sampai di parkiran dan masuk kedalam mobil yang sudah sedari tadi di tunggu Jack, mereka pun mulai keluar dari kawasan ruamh sakit itu.

Setelah sampai di rumah Alexander, Rafael segera memasuki rumah itu dengan emosi yang tiba-tiba saja memuncak.

Jack dan James yang menyadari itu hanya bisa diam saja, entah perasaan mereka saja atau memang benar tuan muda mereka setelah sadar menjadi semakin dingin bahkan tatapan nya pun begitu.

"Wah, wah, wah, lihatlah siapa yang datang." ucap Leo dengan sarkas saat melihat Rafael pulang.

Rafael menghentikan langkahnya, dia menatap Leo dengan sangat dingin.

Leo tersenyum miring "Aku kira kau sudah mati, ternyata baj*ngan seperti mu memilikinya banyak nyawa juga." ledek Leo dengan meledek.

Lalu Leo pun berjalan mendekati Rafael.

"Kenapa kau tak mati saja hah? kenapa kau tak menyusul ibu jal*ng mu itu?!." hina Leo dengan mencengkeram dagu Rafael.

Rafael mengepalkan tangannya, dia menepis tangan Leo dengan keras dan mencengkeram kerah pakaian nya.

"Jaga mulutmu baj*ngan!." Rafael berucap dengan sangat dingin dan semakin menarik kerah Leo dengan keras.

Leo terbatuk, dia mencoba melepaskan cengkraman itu tapi tak berhasil justru Rafael semakin mengencangkan tangan nya.

"Lepaskan sial*n!!." bentak Leo dengan keras.

Brugh

Sesuai perintah Leo, Rafael melepaskan cengkraman nya dengan keras dan mendorong Leo hingga membuat tubuh Leo terjatuh dengan keras nya pada lantai.

Leo berteriak sakit dia menatap Rafael dengan emosi.

"Beraninya kau!!." bentak Leo dengan mencoba bangkit berdiri.

Saat Leo hendak melayangkan pukulan nya tangan Rafael lebih dulu menghalau nya.

"Kau yang memulai.." desis Rafael penuh emosi.

Dia memelintir tangan Leo dengan keras hingga Leo membelakangi nya.

"Argh! berani-beraninya kau brengsek!!." murka Leo tak karuan.

"Argh!." Leo kembali berteriak saat Rafael semakin menakan tangan nya.

"Aku benar-benar sangat ingin membunuhmu, tapi semuanya belum terungkap.

Lihat saja saat waktu itu tiba, aku benar-benar akan melenyapkan mu beserta manusia-manusia bod*h itu!." bisik Rafael dengan sangat dingin.

Brugh

Rafael mendorong tubuh Leo dengan keras hingga bibir Leo membentur lantai dan mengeluarkan darah, Rafael tersenyum sinis dia menatap Rafael dengan begitu merendahkan.

"Nikmatilah waktu mu, sebelum saat itu benar-benar tiba.

Karena jika saat itu tiba, tak ada kata ampun untuk kalian semua!." ucap Rafael dengan dingin sebelum benar-benar pergi dari sana.

Rafael Halbert (?)

Jangan lupa like, coment ya! saya tunggu jawaban kalian.

Terpopuler

Comments

guest1052940504

guest1052940504

lanjuttt

2021-11-09

0

Kimberly

Kimberly

Bagus ceritanya thor jan digantung nyah thor tetep semangat sampe tamat mwheheh:) kiss bye😚🤭

2021-11-07

2

A-Zumi ArEnd

A-Zumi ArEnd

lagi Thor....

2021-11-07

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!