Rafael menatap jengah pada manusia berkulit pucat di hadapan nya ini, sudah lebih dari 10 menit Zergio menangis tapi masih saja belum berhenti.
Dan ya, mereka masih berada di atas rooftop kelas bahkan akan di mulai sebentar lagi.
"Ck, berhentilah menangis si*lan! apa kau tidak lelah hah?!." decak Rafael dengan kesal.
Zergio yang mendengar itu kembali mendongak, dia bahkan masih terduduk di lantai.
Demi apa, kaki nya bahkan sudah tidak bisa untuk di tegakkan kaki nya benar-benar seperti jelly.
"Hiks, ti-tidak bisa berhenti." jawab Zergio dengan kembali menangis.
Rafael yang mendengar itu kembali berdecak.
"Cengeng sekali sih?! wajah saja dingin dan sifat seperti berandalan, tapi ternyata jiwa nya seperti wanita!." amuk Rafael dengan kesal.
Sungguh dia bahkan sudah lelah mendengar pria di depan nya ini menangis.
"Ka-kau yang membuat ku menangis brengsek!." teriak Zergio dengan tak kalah kesal nya.
Dia kembali mengusap air mata nya yang mengalir, lalu berusaha untuk bangkit berdiri.
Rafael memicingkan matanya, menatap datar pada Zergio yang sudah bisa berdiri walau dengan kaki gemetar.
"Oh, sudah berani rupanya hm?!."
Zergio yang mendengar suara dingin itu lagi kembali menatap Rafael, bibirnya kembali menekuk kebawah.
ಥ╭╮ಥ
[Kiyowo sekali skabahsjsbjsns]
Rafael yang melihat itu semakin mendatarkan wajahnya.
"Ck! berani kau kembali menangis, aku benar-benar akan melemparkan mu dari atas sini." ancam Rafael.
Zergio yang mendengar itu menggeleng cepat, dia menutup mulutnya dengan kedua tangan nya.
Sungguh Rafael sangat ingin tertawa melihat nya, entahlah dia merasa bahwa orang di depan nya ini seperti bukan seorang Zergio Hernandez.
"Bagus!."
Setelah mengatakan itu Rafael mulai melangkahkan kakinya meninggalkan rooftop, Zergio yang melihat itu pun segera membenarkan penampilan nya lalu setelah rapih dia pun mengikuti langkah Rafael.
Sungguh Zergio malu, dengan mata sembab, wajah yang banyak lebam akibat pukulan Rafael lalu darah yang berada di pakaian nya benar-benar membuat seorang Zergio terlihat sangat memprihatinkan.
Saat sudah sampai di kelas semua mata tertuju pada Rafael dan Zergio, mereka menatap takut pada Rafael saat melihat mata setajam elang itu hanya menampilkan tatapan dingin.
Tapi yang membuat mereka penasaran adalah saat melihat penampilan Zergio yang terlihat berbeda, apa yang sebenarnya Rafael lakukan pada Zergio?.
Sebelum benar-benar duduk Rafael menghentikan langkah Zergio, Zergio yang melihat itu kembali menatap Rafael.
"Kau tidak lupa dengan janji mu bukan?."
Zergio mengangguk dengan cepat, Rafael yang melihat itu menyeringai puas.
Lalu dia pun menggerakkan tangan nya menyuruh Zergio untuk kembali ke tempat duduknya.
Lagi-lagi mereka menatap penasaran setelah melihat interaksi Zergio dengan Rafael.
Ada apa? kenapa dengan Zergio? dan sejak kapan mereka menjadi dekat?.
Kelas pun akhirnya di mulai, Rafael hari ini hanya memiliki kelas pagi saja dan kesempatan ini pun Rafael gunakan untuk mengunjungi keluarga ibunya.
Ya, Rafael berencana akan mengunjungi keluarga Smith hari ini.
Setelah sampai parkiran disana sudah ada Jack dan James, Rafael segera memasuki mobilnya dan mereka pun segera melanju menuju kediaman keluarga Smith.
Selama perjalanan hanya di isi keheningan, Rafael dengan pikiran nya yang di penuhi rencana-rencana balas dendam nya.
Jack dan James yang sudah tidak sabar ingin melihat bagaimana reaksi tuan dan nyonya Smith saat melihat cucu mereka yang sudah lama mereka tunggu kehadirannya.
1 jam sudah mereka lewati dan akhirnya mobil yang membawa Rafael pun sampai di gerbang rumah keluarga Smith, satpam yang melihat itu pun segera membuka gerbang nya saat melihat jika mobil itu milik Jack dan James.
Saat sudah sampai di hadapan rumah kakek dan nenek nya Rafael pun turun, dia menatap rumah di hadapan nya dengan perasaan yang campur aduk.
Walaupun rumah ini tak sebesar rumah utama keluarga Alexander tapi Rafael merasa sangat nyaman berada di rumah ini.
Udara yang sejuk dengan taman bunga di samping rumah itu.
"Mari tuan muda."
Rafael tersadar dari lamunannya saat suara James terdengar, Rafael hanya mengangguk lalu dia pun mengikuti langkah Jack dan James.
Jack dan James menekan bel rumah itu, lalu tak lama pintu terbuka memperlihatkan seorang pembantu.
"Oh tuan Jack dan James, silahkan masuk."
Jack dan James mengangguk.
"Ayo tuan muda."
Pembantu itu yang melihat kehadiran Rafael hanya menundukkan kepalanya, dia cukup terpesona dengan ketampanan Rafael.
"Apa tuan dan nyonya ada?." tanya James.
"Tuan dan nyonya berada di taman belakang tuan James."
James kembali mengangguk, lalu mereka pun berjalan menuju taman belakang dimana kakek dan nenek Rafael berada.
Saat sudah berada di taman belakang, mereka dapat melihat tuan dan nyonya Smith yang sedang asik bercerita Rafael yang melihat itu tanpa sadar tersenyum kecil.
Mereka kembali berjalan menghampiri kedua orang yang sudah tak muda lagi itu.
"Selamat siang tuan, nyonya." sapa Jack dan James bersamaan lalu membungkuk hormat.
Tuan dan nyonya Smith yang mendengar itu pun menoleh, mereka tersenyum sekaligus bingung saat melihat Jack dan James.
Sedangkan Rafael masih berdiri di belakang Jack dan James.
"Jack, James? kenapa kalian kemari?." tanya tuan Smith dengan bingung.
Jack dan James tersenyum.
"Ada yang ingin bertemu dengan tuan dan nyonya." jawab nya.
Mereka berdua mengernyit lalu Jack dan James pun menyingkir hingga terlihat lah Rafael oleh kedua orang tua itu.
"Selamat siang tuan, nyonya."
Rafael membungkuk hormat pada mereka berdua lalu kembali menegakkan tubuhnya.
Kakek dan nenek Smith bangkit berdiri, mereka menatap bingung pada Rafael.
"Dia siapa Jack, James?." tanya nenek Smith.
"Saya Rafael, Rafael Alexander atau bisa juga Rafael Smith." jawab Rafael dengan tersenyum kecil.
Lagi-lagi mereka terkejut.
"Ma-maksud mu?."
Rafael mengangguk.
"Saya cucu kalian, putra dari Garcia Smith."
Kakek dan nenek Smith yang mendengar itu menutup mulutnya, mereka menatap Rafael dan atas sampai bawah.
Merasa tidak percaya saat melihat cucu yang mereka rindukan selama 21 tahun berdiri di hadapan mereka.
Kakek dan nenek Smith segera menghambur kedalam pelukan Rafael, mereka menangisi kehadiri Rafael, masih dengan rasa tidak percaya dan juga bahagia.
"Cucuku." gumam kakek Smith dengan tangis bahagia.
Rafael hanya bisa membalas pelukan kakek dan nenek nya itu, mengusap punggung kedua nya mencoba untuk menenangkan tangisan kedua nya.
Jack dan James memilih pergi saat melihat kejadian mengharukan itu, setelah puas memeluk Rafael mereka pun kembali menatap Rafael.
Nenek Smith memegang wajah Rafael dan mengusap nya lembut, sedangkan Rafael hanya mampu menghapus air mata yang keluar dari mata cantik nenek nya itu.
"Kau benar-benar cucu ku? cucu yang selama ini kami rindukan kehadiran nya? cucu yang selama ini ingin kami rasakan pelukan nya?." tanya nenenk Smith dengan kembali berkaca-kaca.
Rafael mengangguk "Ya."
Nenek Smith kembali memeluk Rafael.
"Sudah ayo kita duduk." ucap kakek Smith dengan tersenyum senang.
Akhirnya mereka pun duduk bersama, kakek dan nenek Smith masih menatap tak percaya pada Rafael.
Rafael hanya mampu terdiam saat terus menerus di tatap oleh kedua kakek dan nenek nya.
"Bagaimana kabar mu nak?." tanya kakek Smith.
"Baik, setidaknya untuk beberapa hari belakangan ini."
Kakek dan nenek Smith yang mendengar itu mengernyit.
"Maksud nya?."
Rafael hanya menggeleng kan kepalanya.
"Kenapa kau baru mengunjungi kami nak, kami benar-benar merindukan mu." tanya nenek Smith dengan berkaca-kaca.
Rafael menoleh lalu memegang tangan nenek nya dengan lembut.
"Ada banyak kejadian yang tidak bisa saya jelaskan pada kalian, intinya apa yang saya lakukan itu bukan kemauan saya." jawab Rafael dengan berusaha berucap lembut.
Walaupun sebenarnya sama saja, semua kata yang dia ucapkan sangat terdengar dingin oleh kakek dan nenek nya.
Bahkan wajah nya saja sejak tadi hanya berekspresi datar.
"Kau benar-benar tumbuh menjadi pria yang tampan, tapi kepribadian mu..." kakek Smith menghentikan ucapan nya.
Apakah semua ini karena kematian ibu nya? atau karena apa? dia benar-benar dapat merasakan bagaimana dingin nya cucu nya ini.
Rafael mengerti maksud dari ucapan kakek nya itu, dia menatap sang kakek lalu menjawab.
"Maafkan saya kakek, tapi saya benar-benar sudah mencoba untuk berkata lembut pada kalian."
Kakek dan nenek Smith menggeleng.
"Tidak apa-apa, jadilah dirimu sendiri nak kami tidak mempersoalkan tentang kepribadian mu.
Dengan datang nya dirimu saja kami sudah cukup." kakek Smith tersenyum lalu mengusap rambut Rafael dengan lembut.
"Terimakasih kek."
"Ayo kita keruang tamu, kakek akan memperkenalkan kalian pada para pekerja disini."
Rafael hanya mengangguk lalu mereka pun berjalan bersama dengan nenek Smith yang terus merangkul tangan Rafael.
Saat sampai di ruang tamu, kakek Smith pun menyuruh Jack untuk mengumpulkan semua pekerja yang ada di rumah itu.
Saat semua sudah terkumpul mereka pun menatap Rafael dengan terpesona, tampan sekali batin para pembantu disana.
"Aku akan memperkenalkan seseorang pada kalian." kakek Smith menatap sang cucu dengan tersenyum.
"Dia Rafael Smith, cucu ku yang selama ini aku nantikan kehadiran nya." lanjut kakek Smith dengan tersenyum lebar.
Para pekerja yang mendengar itu terkejut bukan main, tapi mereka pun segera membungkuk hormat.
"Selamat datang tuan muda Rafael." ucap mereka semua dengan bersamaan.
Rafael mengangguk "terimakasih." jawab nya dengan dingin.
"Perlakuan cucu ku dengan baik setiap dia datang kesini, turuti semua perintah atau permintaan nya tanpa terkecuali, kalian mengerti?."
Mereka pun mengangguk mengerti "kami mengerti tuan."
Lalu setelahnya mereka pun kembali di bubarkan dan kembali melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda.
Kakek, nenek, Rafael, Jack dan James duduk di ruang tamu dengan hidangan yang sudah tertata rapih di meja itu.
Jangan salah Jack dan James bahkan sudah di anggap sebagai cucu sendiri oleh kakek dan nenek Smith.
"Kakek, saya dengar perusahaan kakek sedang dalam masalah, apakah benar?." tanya Rafael setelah meminum teh nya.
Kakek Smith menoleh, dia tersenyum kecut.
"Benar nak, perusahaan kakek sedang dalam masalah bahkan bisa terancam bangkrut." jawab nya dengan sedih, nenek yang melihat itu hanya bisa mengusap pundak sang suami dengan lembut.
Rafael terdiam.
"Bagaimana jika saya membantu kakek untuk membuat perusahaan kembali stabil?." tawar Rafael dengan menatap sang kakek.
Kakek dan nenek menoleh menatap cucu mereka itu.
"Apa kau bisa nak?."
Rafael menggeleng "saya tidak yakin, tapi akan saya usahakan untuk kalian."
Kakek dan nenek yang mendengar itu tersenyum.
"Jika memang itu mau mu tidak apa-apa, kakek akan memperkenalkan dirimu pada karyawan perusahaan."
Rafael mengangguk.
"Saya tidak bisa berjanji untuk bisa membuat perusahaan kembali kedalam keadaan normal, tapi saya akan berusaha untuk membuat perusahaan menjadi lebih baik dari keadaan saat ini."
Kakek hanya bisa mengangguk.
"Tidak apa-apa, kakek mengerti bagaimana pun seperti nya perusahaan keluarga Smith sudah tidak bisa tertolong lagi." jawab nya dengan sedih.
"Saya akan berusaha untuk kalian."
"Baiklah, jadi kapan kau ingin di perkenalkan pada karyawan kakek?."
Rafael nampak berpikir, seperti nya lebih cepat lebih baik.
"Saya besok hanya ada kelas sore jadi seperti nya besok pagi saya bisa kembali kesini."
Mereka berdua pun mengangguk.
"Baiklah, terimakasih nak."
"Jangan berterimakasih, saya belum melakukan apapun kek."
Kakek dan nenek Smith hanya bisa tersenyum bangga menatap sang cucu, lalu mereka pun kembali melanjutkan perbincangan hingga sore hari.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 32 Episodes
Comments
Callysta Nungrum Amira
telat hehe😁
2021-11-17
2
LegiSutri
11. likeyg ke sekian..
2021-11-12
1
Neva Lina P
huhh terharu q thor,, padahal mah cucu asli nya udah gk ada 😔
smg fael bisa bikin perusahaan nya jadi lebih berkembang
2021-11-12
1