Di sebuah ruangan yang cukup besar dan mewah, terlihat para petinggi dari kelompok pengguna elemen Api tengah berunding.
Mereka membahas tentang perkembangan berbagai isu yang selama ini terjadi, salah satunya tentang benda benda pusaka.
Selain itu juga membahas tentang perseteruannya dengan kelompok partai Es Abadi.
"Jika memang saya di minta untuk berpendapat, saya ingin langsung menggempur Partai Es Abadi..!," teriak salah satu orang dari kelompok lingkaran Ring enam bernama Kucit Wondo dengan geram.
Terang saja dia marah, karena beberapa hari yang lalu beberapa anak buahnya langsung yang menjadi korban pembunuhan yang di sinyalir dilakukan oleh orang orang partai Es Abadi.
"Tahan dulu saudaraku Kucit Wondo, jangan terpancing kemarahan, biarkan anggota Mata Angin menyelesaikan penyelidikannya." sahut Borangrang salah satu anggota kelompok Lingkaran Ring tiga meredam amarah temannya tersebut.
Mata Angin adalah pasukan khusus pengintai dari kelompok pengguna elemen Api.
Di kepalai oleh seorang pria paruh baya bernama Warso Baruno, kelompok mata mata ini juga adakah kelompok peyelidik yang handal, sehingga sangat di percaya oleh Dewa Api untuk menyelidiki dan mengungkap apa yang terjadi sebenarnya.
"Benar Kucit Wondo..tahan dulu emosi mu, seperti yang Borangrang katakan kita harus menghormati Warso Baruno dalam mengungkap dan menyelidiki peristiwa ini, jika memang benar ini ulah orang orang dari partai Es Abadi, aku sendiri yang akan turun tangan..," sebuah suara yang cukup berwibawa terdengar menggema memecah perdebatan kecil di sana.
Kucit Wondo mengangguk dan menjura sedikit terkejut karena Dewa Api ikut berpendapat.
"Hamba ikut apa yang Pemimpin Agung katakan," sahut Kucit Wondo sambil sedikit menjura menghormat.
"Bagus..jika demikian, aku tak ingin bertindak gegabah karena ini juga menyangkut seluruh anggota kita."
"Mulai sekarang kita harus lebih berhati-hati lagi, jangan berkeliaran tanpa rekan yang mendampingi." Dewa Api kembali mengingatkan para petinggi Kelompok Api Suci untuk kemudian di sampaikan kepada anak buahnya.
Semua peserta perundingan tersebut nampak menganggukkan kepalanya, mendengar instruksi dari Pemimpin Agung nya.
**
Jaya makin bersemangat untuk berlatih setelah kini mengetahui tentang adanya senjata Illahi yang bersama nya.
Melakukan serangan dengan mengunakan jurus Badai Matahari, membelah udara yang mengarah ke jurang.
BLAAAARRT.....
Dengan hantaman jurus Badai Matahari nampak angin panas melesat menghantam udara kosong di depannya, menimbulkan ledakan cukup kuat dan hebat.
Bahkan sekelompok burung burung yang terbang sangat jauh menghindar ketakutan ketika hawa panas menyerbu ke arahnya.
Jaya yang kekuatannya sudah meningkat sekitar empat puluh lima persen dari kekuatan aslinya sangat senang sekali.
"Ha..ha..ha..aku semakin kuat kini..!," serunya.
"Cuih..kuat apanya..ini belum ada limapuluh persen kekuatan aslimu.."
Sebuah suara mengagetkannya, namun Jaya segera tersadar, siapa yang berani berbicara tersebut.
"Benarkah..??."
"Ya.."
"Aku akan giat berlatih lagi..!," seru Jaya penuh kegirangan.
"Harus itu..memangnya kau mau selama nya terbua**ng di sini."
Jaya menggeleng cepat, meski tak tau aslinya dimana habitat nya.
Jaya kembali meloncat, berputar lalu bersalto mengayunkan Tombak kyai Seto Ludiro, dan membabat pepohonan yang ada di sana.
JDAAAAARRT...!!
Puluhan pepohonan besar yang ada di belakang rumahnya langsung terhempas tercerabut beserta akarnya.
Jaya kembali meloncat, kali ini memainkan jurus Selaksa Ombak Menerjang, pukulan yang dahsyat itu di arahkan ke tanggung yang ada jauh di seberang jurang, hantamannya membuat tanggul batu yang ada jauh di seberang jurang itu rontok luruh berguguran.
Hantaman Selaksa Ombak Samudra yang hanya sekali di lakukan itu ternyata membuat angin pukulan yang kembali berulang ulang hingga beberapa kali hantaman mirip gelombang ombak samudra yang datang susul menyusul.
begitu juga dengan jurus Tombak Mata Naga Pemusnah yang di mainkan kali ini, membuat efek yang sangat mengerikan karena kumpulan batu batu besar di sekitarnya pecah menjadi seonggok pasir begitu tercabik cabik oleh jurus Tombak Mata Naga Penghancur.
Semua latihan itu di akhiri dengan jurus Manggar Pecah, sebuah jurus tangan kosong yang bisa di padukan dengan senjata, namun kali ini Jaya Sanjaya hanya menggunakan perisai dan tangan kosong setelah menyimpan tombak kyai Seto Ludiro.
Craak..craaak...!!
Angin pukulan yang dihasilkan dari serangan jurus Manggar Pecah menembus batang pohon yang di jadikan sasaran hingga bolong bolong seperti rumah tawon.
Jaya Sanjaya tersenyum puas dengan latihannya hari itu.
**
Rombongan Bekel Soponyono masih berpatroli memeriksa keamanan Kotaraja yang menjadi wilayah kekuasaannya.
Pasukan tiga puluh prajurit itu nampak mengiringi nya memeriksa apapun yang nampak mencurigakan.
Berkuda agak jauh di belakang nya nampak Jayeng Rono bersama dengan Jaya Sanjaya dan Pelangi yang dengan setia mengikuti rombongan itu.
Niatan Jayeng Rono ingin bertanya siapa sebenarnya Bekel Soponyono karena gesturnya mirip dengan guru Benowo, namun belum ada waktu yang tepat.
Mereka kini sudah berada di wilayah yang agak sepi, sangat jauh dari pemukiman warga.
Rombongan Bekel Soponyono yang masih berpatroli nampak di hadang oleh beberapa orang yang terlihat memakai pakaian tertutup termasuk dengan kepalanya.
Jayeng Rono memberi isyarat kepada Jaya dan Pelangi untuk berhenti dan mengintai dari kejauhan apa yang akan terjadi.
''Kita di sini saja, ada apa mereka menghadang orang pemerintahan," kata Jayeng Rono.
Jaya Sanjaya dan Pelangi hanya mengangguk saja menurut dengan apa yang di katakan oleh sang kakek.
Sementara itu rombongan prajurit itu masih melaju mendekat kearah rombongan penghadang.
"Ada apa kalian menghadang kami kisanak..?," tanya Bekel Soponyono begitu rombongan penghadang sudah dekat di depan mereka.
"Kami ingin kan nyawa kalian," seru salah satu orang orang itu.
"Kalian dari kelompok mana..?, berani bermain main dengan pasukan istana..?."
Para penghadang hanya terdiam, terdengar suara dengusan sebelum terlihat dua orang maju kedepan.
Satu orang memainkan jurus jurus yang membuat aura panas, menandakan bahwa mereka dari kelompok elemen pengguna Api.
Namun yang satu lagi memainkan jurus jurus yang beraura sebaliknya, membuat gumpalan Es di kedua tangannya.
Bekel Soponyono terkejut sesaat, karena tak mungkin dua musuh yang saling bermusuhan kini bergabung untuk melawan pemerintahan, tapi yang kini ada di depan matanya memang seperti itu adanya.
"Ooh kalian dari kelompok Es Abadi dan Api Suci..?," tebak Bekel Soponyono kemudian turun dari kuda nya, diikuti para anak buahnya.
Dua orang tersebut tak menjawab namun langsung menyerang pasukan istana tersebut.
Sesaat terjadilah pertempuran yang seru antara dua orang melawan tiga puluh pasukan kerajaan Ngarsopuro.
Meskipun di keroyok namun dua orang itu terlihat tak kewalahan, karena nampaknya tingkat kependekaran dua orang itu lumayan tinggi.
Jika Bekel Soponyono alias Benowo berada di tingkat raja perak pertengahan, dan anak buahnya paling paling di tingkat prajurit emas paling tinggi.
Sedangkan dua orang tersebut berada di tingkat raja perak akhir, jadi pasukan istana Ngarsopuro yang kewalahan.
Plaaaakk...!! plaaaakk...!!
Deeess...! Deeeeess...!!
Bouuugh...! bruuukk....!!
Serangan para prajurit istana Ngarsopuro kandas di tangkis dua orang tersebut bahkan beberapa serangan dua orang itu langsung menghajar para prajurit.
"Aaarcchhh..! AAAAAAaaa..!!."
Teriakan kesakitan disusul ambruk nya tubuh dari para prajurit itu.
Melihat anak buahnya tertekan, bahkan sudah bertumbangan, Benowo langsung memainkan jurus andalan nya yaitu Manggar Pecah, membuat Jayeng Rono langsung terhenyak dan bangkit melesat menuju arena pertempuran berniat membantu kakak seperguruan nya tersebut.
Jaya Sanjaya yang berada di dekat Jayeng Rono kaget, dan sudah bisa menduga jika kakek Jayeng Rono akan membantu Bekel Soponyono alias Benowo tersebut.
Kini dua orang yang berpakaian tertutup itu, sudah berdiri berhadap hadapan dengan Soponyono yang masih kaget melihat sosok bongkok bersiap membantu di dekatnya.
"Jangan ikut campur kau bongkok jika tak ingin nyawamu lepas dari raga mu..!," bentak salah satu sosok berbaju tertutup.
"Hmm aku hanya membantu saudaraku..!," kata Jayeng Rono membuat Soponyono melirik sesaat lalu tersungging senyuman di bibir nya.
"Baiklah kalau begitu jangan menyesal jika kami akan mencabut nyawamu saat ini..!," kali ini terdengar teriakan dari belakang dua sosok berbaju tertutup yang memainkan jurus Api dan Es.
Sosok yang juga tertutup pakainnya itu kini sudah maju berniat membantu dua temanya.
"Kita mulai...!," teriak sosok yang baru datang memberikan perintah.
Tiba tiba sosok itu memainkan jurus jurus tertentu dan matanya mulai berpendar.
Jaya Sanjaya langsung bergerak maju begitu melihat jurus aneh itu namun sebelum nya berpesan kepada Pelangi agar tetap bersembunyi di sana.
"Hiaaa...!!," teriak sosok dengan dengan mata berpendar mulai menyerang, sebelum lesatan dari matanya mengenai Jayeng Rono maupun Benowo sebuah bayangan sudah menghantam selarik sinar tersebut.
JEDUAARRT...!!
Ledakan kuat mementalkan semua yang ada di sana termasuk Jaya Sanjaya sendiri.
_________
Jangan lupa tinggalkan jejak nya
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 267 Episodes
Comments
Matt Razak
Mantap 👍
2024-09-09
0
Kancellotti Unholy Mbachoter
untung ada jaya
2022-05-07
5
Edi Muchtar
sengaja ngintip2 ko saya kepikiran ya Sdh tau bakal ada perkelahian Sdh bubar baru turun tangan...haaaiissss
2022-04-24
2