Tiga puluh orang tersebut berkuda dengan sangat cepat, meninggalkan istana Ngarsopuro dengan sembunyi sembunyi melewati lorong rahasia, lorong yang merupakan jalan rahasia dan langsung tembus ke arah hutan yang sedikit jauh dari benteng istana.
Suasana terlihat sangat mencekam, semua orang terlihat penuh ketegangan terpancar dari raut wajahnya, ditambah dengan suasana gelap yang terlihat makin menakutkan.
"Cepat... ayo cepat..jangan sampai terlambat..!," teriak senopati Kidang semeleh memberikan perintah kepada para anak buahnya.
Mereka melecut punggung kuda nya lebih keras lagi, berharap hewan tunggangan itu makin cepat bergerak meninggalkan tempat tersebut.
Hujan tinggal rintik rintik, angin pun seakan berhenti bergerak tak ada hembusan yang berarti.
Kilat dan petir yang semenjak tadi menyambar nyambar, kini juga sudah berhenti, entah kapan suasana menjadi begitu tenang meskipun rintik hujan masih ada.
"T..t-tuan Senopati...nampaknya di depan sudah ada yang menghadang kita..," nampak pasukan Gardaraja yang ada di depan mampu menangkap beberapa siluet sosok manusia di balik rimbunnya pepohonan di kegelapan.
"Ya...kita harus bersiap..," balas Kidang Semeleh seakan tak ada rasa takut memerintahkan anak buahnya menghunus senjata nya.
Semua pasukan Gardaraja, di belakang punggungnya memang membawa buntalan, namun hanya satu buntalan yang berisi putri raja yaitu buntalan yang ada di punggung sang Senopati.
Entah mengapa bayi yang baru beberapa saat lalu dilahirkan tersebut nampak anteng tak menangis, padahal sewaktu di istana tadi masih menangis dengan keras.
"Berhenti...!!," teriak keras sosok di depannya, menghentikan rombongan tersebut.
Puluhan orang langsung keluar dari persembunyiannya begitu sang pimpinan menghentikan buruannya, melihat pakaian yang di gunakan terlihat bahwa mereka terdiri dari beberapa kelompok, karena ada yang memakai dandanan bersimbul api, air maupun bersimbulkan bendera masing masing kelompok.
"Ada apa kalian menghadang kami..?," tanya Kidang Semeleh pura pura tak tau dengan apa yang diinginkan para penghadang.
"Cuiih...kura kura dalam perahu..!," bentak salah satu para penghadang itu.
"serahkan bayi itu kepada kami..maka nyawa kalian akan selamat..!!," ancam laki laki berbaju dengan simbol Api di dada nya.
"Hmm...kami lebih menyayangi Yang Mulia putri Raja kami daripada nyawa kami," jawab Kidang Semeleh menatap tajam serombongan penghadang itu, merasa bahwa para penghadang sudah mengetahui paket yang di bawanya, dan kini tak ada lagi yang di tutupi nya.
Lima puluhan orang penghadang itu langsung mengurung Gardaraja kerajaan Ngarsopuro.
"Jika begitu jangan salahkan aku jika nyawa kalian kami cabut saat ini juga..!!," teriak salah satu orang dari kelompok penghadang.
Senopati Kidang Semeleh hanya mendengus mendengar ancaman para penghadang, begitu juga dengan para anak buahnya yang sudah bersiap untuk bertarung habis habisan.
"Seraaang...!!."
Tiba tiba salah satu penghadang meneriakkan komando penyerangan.
Dalam sekejap saja para penghadang yang berjumlah dua kali lebih banyak itu langsung mengurung menyerang pasukan Garda Raja.
"Hiaaaa....!!."
"Hiaaaaa...cari mati kaliaaan...!!."
Traaang....!
Traaang....!!
Tebasan senjata yang dilakukan para penghadang langsung ditangkis dan di balas oleh para pasukan Gardaraja.
Jual beli serangan tak terelakkan lagi dari dua kelompok tersebut, saling serang dan saling tangkis.
Setelah beberapa saat pertempuran, tiba-tiba sang Senopati mengeluarkan suitan keras melengking, sebagai kode beberapa anak buahnya untuk menyebar mengecoh lawannya.
"Suuiiiittt...!!."
Lima belas kuda langsung melesat begitu ada celah meninggalkan tempat tersebut.
Traak...traaakk..!! suara langkah kaki kuda langsung terdengar nyaring, dengan begitu cepat nya kuda kuda itu melesat, begitu ada kesempatan.
Para penghadang sedikit kaget, menyadari situasi tersebut. Lalu dengan cepat sebagian mengejar lima belas penunggang kuda yang sudah melesat seperti kesetanan, meninggalkan lima orang termasuk Senopati Kidang Semeleh.
Para penghadang tak bisa membedakan mana yang membawa bayi mana yang bukan, karena semua anggota Gardaraja membawa buntalan di setiap punggungnya.
"Ayo kejar kelompok yang itu...!!," teriak salah satu orang penghadang memberikan perintah, meninggalkan Kidang Semeleh dan empat orang lainnya.
Kejar kejaran pun terjadi, antara lima belas penunggang kuda di kejar limapuluhan orang.
Semetara itu Senopati Kidang Semeleh mengambil jalan yang lain.
**
Para tokoh sakti sudah berhasil memasuki istana Ngarsopuro, kehebatan para tokoh tersebut tak bisa di redam oleh pasukan istana.
Mereka jelalatan melihat setiap sudut mencari sesuatu yang di rasa mencurigakan.
"Dimana Bayi itu..?!!."
Bentak Ki Jalu dari kelompok elemen api, dengan wajah beringas menatap ke arah Prabu Danar Kencono tanpa ada sopan sopannya.
"Bayi itu sudah aku singkirkan..!," jawab sang prabu Danar Kencono mencoba dengan tenang menjawab pertanyaan itu.
"Jangan dusta kau..!!." teriak Dorma Kerto salah satu anggota kelompok elemen air membentak kasar ke arah prabu Danar Kencono.
"Kalian periksa saja tempat ini, jika tak percaya..!," dengus sang Patih membantu menjawab pertanyaan para pengacau, meyakinkan para perusuh yang sudah masuk dan menginjak injak kewibawaan istana.
Semua tokoh sakti itu saling pandang, kemudian mulai berpencar mencari keberadaan bayi malang tersebut.
"Bagaimana..?, apakah bayi tersebut berhasil di temukan..?," teriak orang orang tersebut.
"Di sini tak ada..!,"
"Disini juga tak ada..!." seru yang lain.
Kembali semua mencari bayi yang di yakini masih ada di sana, namun hasilnya nihil.
"Di mana kau sembunyikan Bayi itu hah..??!!," bentak Ki Jalu sambil menatap tajam sang prabu Danar Kencono.
"Aku sudah memerintahkan para prajuritku membuang nya." balas Baginda raja dengan sedikit gemetar.
"Aku terpaksa melakukan itu karena pasti akan menimbulkan masalah jika bayi itu tetap di sini."
"Omong kosong apa ini hah..!, berani berani nya kau membohongi ku..!," bentak Ki Jalu makin meradang merasa di permainkan oleh orang dari kerajaan Ngarsopuro.
"Benar tuan pendekar, Gusti hamba Yang Mulia tidak berbohong bayi itu kini di bawa pergi entah kemana..!, yang penting tak disini..," balas Patih membela rajanya.
"Awas jika kalian berkata tak jujur, karena jika nanti ku temukan kebohongan itu, maka tamatlah wilayah ini." ancam orang orang tersebut sambil masih jelalatan.
Beberapa tokoh sakti itu mulai meninggalkan istana, setelah sebelumnya mengacak acak semua ruangan kembali, untuk mencari sang jabang bayi, tapi memang tak ada di sana.
"Berengsek...!!."
__________
Janagn lupa tinggalkan jejak nya... terimakasih kaka
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 267 Episodes
Comments
Matt Razak
Mantap thor
2024-09-08
0
Jumadi 0707
hs ha ini cerita chayalan fiktip mestinyaf pake nama sekte kaisar jng dikrajaan disini gk klop Thor raja tanah leluhur gk jd raja klo gk sakti
2024-06-26
0
Albet Jalius
lanjut thor....
2022-10-22
4