Pemuda yang di beri nama Jaya Sanjaya oleh kakek bongkok atau Jayeng Rono itu kini sementara menetap bersama mereka di dasar jurang yang sedikit gelap dan lembab tersebut.
Makin lama kesadaran dari Jaya Sanjaya makin membaik, dalam arti daya nalar nya sudah kembali, hanya saja ingatan tentang dari mana dirinya berasal dan siapa diri nya yang sesungguhnya masih belum bisa di ketahui nya.
"Kenapa kakek Jayeng Rono dan Dinda Pelangi bertempat tinggal di sini, bukannya lebih nyaman jika bertempat tinggal di hunian yang normal berbaur dengan masyarakat lainnya..?," tanya Jaya Sanjaya kepada kakek Jayeng Rono suatu saat, ketika mereka berbincang sembari membuat dan meracik obat obatan.
"Hmm...itu juga yang sering di minta oleh Pelangi, tapi aku belum siap jika harus kehilangan dirinya," sahut Kakek Jayeng Rono dengan wajah khawatir, namun pandangan matanya menelisik ke arah Jaya Sanjaya.
"Maksud nya kek..?." tanya Jaya tak mengerti.
"Aku belum siap bercerita sekarang, jika tiba waktunya nanti aku pasti menceritakan semuanya.," sahut Kakek Jayeng Rono, sambil kembali menumbuk daun daun-an yang di campur aneka rempah dan tanaman herbal langka di olah menjadi obat obatan.
Jaya Sanjaya pun tak mendesak lagi jika memang kakek bongkok itu tak mau membagi kisah hidupnya, karena dirinya sendiri juga masih bingung dengan keadaanya sendiri, tentang siapa jati dirinya sesungguhnya. mereka baru kenal dan tentu saja ada banyak rahasia yang tak bisa di ungkapkan begitu saja.
**
Flashback on.
Enam belas tahun yang lalu di sebuah kerjaan kecil yang bernama kerajaan Ngarsopuro yang ada dibawah naungan kerajaan Agung Karang Kadempel terjadi suatu peristiwa yang cukup menggemparkan.
Peristiwa yang cukup memilukan bagi sang raja Ngarsopuro dan keluarga sebenarnya, karena harus kehilangan anak yang sudah di dambakan selama ini.
Peristiwa tersebut tak lepas dari adanya Cahaya Keberuntungan yang turun dari langit, yang di yakini membawa keberuntungan bagi siapa saja yang berhasil memiliki nya.
Cahaya itu di namakan Ndaru Kolocokro, konon kabarnya benda apa saja yang terkena cahaya itu akan menjadi sebuah senjata pilih tanding.
Bahkan jika cahaya itu menimpa sebuah sapu ijuk pun mungkin bisa jadikan pusaka, sebagai pusaka setingkat pusaka langit dan itu sangat jarang di dapatkan oleh semua orang. begitulah kabar yang tersiar.
Maka sudah sejak beberapa waktu yang lalu, sejak Ndaru Kolocokro itu di ramalkan akan melesat ke bumi orang orang sudah bersiap untuk memburu nya.
Para tokoh sakti dari berbagai belahan dunia dengan berbagai latar belakang sudah berada di sekitar wilayah tersebut, karena berdasarkan ramalan yang beredar memang kali ini cahaya keberuntungan itu akan jatuh di wilayah kerajaan Ngarsopuro setelah hampir beberapa ratus tahun tak mampir ke alam ini.
Malam itu hujan sangat deras, dengan kilat dan petir yang menyambar nyambar, diiringi oleh angin kencang memporak porandakan apapun, sebuah cahaya yang di tunggu oleh para pemburu yaitu Cahaya Keberuntungan nampak muncul dari balik gelapnya awan yang menggantung di langit.
Melesat cepat ke bumi dengan kecepatan stabil langsung lurus menuju ke arah wilayah kerajaan Ngarsopuro.
Sebenarnya ada dua Cahaya yang terlihat melesat dari langit, namun cahaya inti tersebut sangat jernih dengan warna biru transparan seakan membungkus sesuatu, kemudian dikelilingi oleh cahaya kekuningan yang merupakan bungkus dari cahaya biru tersebut.
Setelah mendekati angkasa kerajaan Ngarsopuro, Cahaya biru tak kasat mata itu terpisah terlempar ke sebuah hutan tepatnya ke dalam gua, dan Cahaya kuning jernih melesat ke arah istana.
Para tokoh sakti baik dari golongan hitam maupun putih, orang biasa rakyat jelata maupun perangkat dan keluarga kerajaan baik dari kerajaan itu atau yang lainnya, semua bergerak ke arah melesatnya Cahaya kuning jernih tersebut.
Banyaknya tokoh sakti yang mengejar Cahaya Keberuntungan itu hingga membuat para prajurit istana Ngarsopuro kewalahan untuk mencegah dan menganggulangi kedatangannya.
Akhirnya Cahaya kuning yang dianggap Cahaya Keberuntungan atau Ndaru Kolocokro itu, jatuh menimpa Jabang bayi yang baru saja di lahirkan oleh sang Permaisuri.
Kegembiraan yang menyelimuti pihak istana menjadi kegemparan dan Malapetaka ketika para tokoh sakti tau dan berniat merangsek nekat masuk ke istana guna memperebutkan sang jabang bayi.
Desas desus jatuhnya Cahaya Keberuntungan yang mengenai jabang bayi langsung heboh, para tokoh sakti itu bahkan sudah mulai berebutan hak kepemilikan atas dirinya.
Dengan kesaktiannya para tokoh itu bahkan mampu untuk menundukkan kekuatan kerajaan kecil Ngarsopuro. membuatnya tak berkutik jika berurusan dengan para tokoh sakti para pemburu pusaka.
Bagi para tokoh itu memiliki bayi tersebut akan mendatangkan keuntungan, apalagi ada yang berpendapat jika daging dan darah bayi tersebut di makan, maka akan bisa membuat kekuatan kesaktian seseorang yang memakan daging dan meminum darahnya meningkat berkali kali lipat. pendapat ini banyak di percaya para tokoh hitam.
"Bagaimana keadaan di luar paman Patih..?," seru sang prabu Danar Kencono kepada sang patih yang selalu setia mendampinginya tersebut.
"Sangat mengerikan Yang Mulia, para tokoh sakti sudah mau merangsek nekat masuk ke istana, mereka sebentar lagi pasti akan menjebol gerbang istana Jika kita tidak segera bertindak," jawab sang Patih sembari menarik nafas panjang dengan hati gundah, badannya terlihat sedikit bergetar membayangkan apa yang akan terjadi.
Prabu Danar Kencono mengurut pelipisnya mulai merasa pusing dengan apa yang di hadapi.
Sebuah pilihan sulit yang harus diambilnya, menyelamatkan keberlangsungan istana Ngarsopuro atau merelakan bayi putri anak nya di ambil mereka.
"Aku harus bagaimana paman..?." tatapan sang prabu sudah terlihat pilu meminta pendapat sang Patih.
"Ampun Yang Mulia Prabu.., sebuah keputusan yang sulit harus kita ambil," kata sang Patih dengan hati hati mengeluarkan pendapat nya.
"Katakan saja paman..!."
"Ampun beribu ampun Yang Mulia, sekarang hamba bertanya, apa yang akan Yang Mulia pilih antara istana atau Yang Mulia putri."
Kembali sang Prabu mengurut pelipisnya, bingung mau memilih yang mana, hingga beberapa saat tak mampu berucap apapun.
Blaaaarrt...!!
Terdengar ledakan lumayan keras, menandakan bahwa gerbang istana sudah berhasil di jebol oleh para pemburu Ndaru Kolocokro tersebut.
Sang Prabu kembali tergagap, kemudian dengan cepat berkata, "Bawalah anakku ke tempat guru Benowo, semoga beliau bisa melindungi anakku," kata prabu Danar Kencono dengan cepat mengambil keputusan disaat yang kritis.
Dengan segera sang Patih memerintahkan Gardaraja untuk melaksanakan tugas tersebut.
"Segera laksanakan perintah Yang Mulia..!." teriak sang Patih kepada bawahan nya.
Dengan di pimpin oleh salah satu Senopati terbaik berangkatlah rombongan sekitar tiga puluh orang tersebut membawa jabang bayi, menuju ke arah gunung Pancawarna tempat sang guru Benowo berada, wilayah yang ada di sebelah selatan dari kerajaan tersebut.
__________
Selamat membaca jangan lupa tinggalkan dukungan dan suport nya..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 267 Episodes
Comments
Matt Razak
Mantap
2024-09-08
0
Raimon
Hahahaa....cerita versi Dalam Negri....
2023-09-16
4
Ahmad Iqbal
mantulll thor
2023-04-28
1