Akibat beradunya kekuatan yang terbilang dahsyat itu semua tersibak kebelakang, karena daya pantul gelombang pukulan.
Jaya Sanjaya berjumpalitan sesaat kemudian berdiri dengan kokoh beberapa langkah dari pusat benturan, namun Benowo dan Jayeng Rono terlempar lumayan jauh.
Tiga orang penyerang yang berpakaian serba tertutup itu juga terlempar jauh, bergulingan sebelum terdengar memuntahkan sesuatu.
Kali ini daya pulih dari Raga Abadi ( Raga Abadi adalah kekuatan Dewa anugerah dari Sang Pencipta ) yang dimiliki oleh Jaya Sanjaya bekerja dengan cepat.
Sebenarnya tadi tangan kanan Jaya juga mati rasa, namun karena anugerah Raga Abadi kini sudah pulih sempurna.
"Siapa sebenarnya dia..?," gumam salah satu penghadang yang tak ikut bertarung, menelisik, menatap tajam sang pemuda dengan tatapan berbinar.
Dengan tertatih-tatih ketiga pria bertopeng itu bangkit, lalu langsung kabur begitu ada aba aba dari seseorang yang tak ikut bertarung.
Setelah para penghadang tadi kabur, Jaya menghampiri Bekel Soponyono dan kakek Jayeng Rono yang masih tergeletak di tanah.
"Waaah... luar biasa Jaya..!," seru Jayeng Rono tertawa senang sambil duduk di tanah, melihat pesatnya perkembangan kekuatan dari pemuda itu.
Bekel Soponyono yang tergeletak di samping nya langsung tersadar, menoleh ke samping menatap orang menolong nya.
"Dimas Jayeng Rono..?."
"Kakang Benowo..!."
Keduanya berpelukan dengan bertangisan, para anak buah prajurit yang semula terkapar, kini berangsur angsur bangkit mendekat ke prajurit yang lain yang terluka parah dan membantunya.
Semua prajurit nampak menatap Bekel Soponyono yang masih berpelukan dengan seseorang sambil bertangisan.
Lalu menatap sosok pemuda yang telah menolong pasukan itu dari keganasan lawannya tadi, menjura penuh hormat.
"Mana Pelangi..?," tanya Bekel Soponyono alias Benowo, " Bukan pemuda itu kan..?."
Jayeng Rono terkekeh, " Tentu saja bukan kakang, dia lelaki sejati..," sahutnya menunjuk Jaya Sanjaya, lalu menoleh ke arah Pelangi yang masih bersembunyi di tempat yang tadi.
Jayeng Rono melambai ke arah Pelangi, kemudian gadis itu keluar dari persembunyiannya perlahan mendekat dengan menarik tali kekang dua kuda, menghampiri semuanya.
**
"Biarkan semua tetap seperti ini dahulu...!, jangan di beritakan, cukup nanti aku yang akan menghadap Yang Mulia." Kata Benowo sambil duduk di kursi di samping Jayeng Rono.
Saat ini mereka tengah berada di tempat Benowo tinggal.
"Ya memang akan sangat berbahaya, jika sampai ada yang tau dengan masalah keberadaan Pelangi ini." sahut Jayeng Rono menegaskan kembali.
"Situasinya memang masih kacau balau, bahkan kita tak tau siapa kawan siapa lawan."
"Akan sangat berbahaya buat Pelangi."
Keduanya mengangguk bersama.
Keduanya kini membahas para penyerang yang tadi hampir mencelakakan rombongan dirinya dan prajurit Ngarsopuro.
"Nampaknya ada yang akan mengacau di sini, melihat kelompok penghadang kita itu memiliki dua orang pengguna Api dan Air( Es)," kata Bekel Soponyono, menatap jauh kedepan dengan pikirannya melayang.
"Nampak nya yang melakukan pembunuhan akhir akhir ini kelompok ini."
"Apa ini hanya dugaan ku atau memang benar, jika kelompok Mata Iblis mulai bangkit lagi..?," Jayeng Rono menimpali perkataan itu.
"Loh kalian juga merasa kan hal demikian..?," tanya Bekel Soponyono sedikit terkejut.
"He.he..he..., kami juga mengikuti perkembangan situasi kakang.."
Jayeng Rono berkata sambil tertawa.
"Bukan hanya orang orang pemerintahan yang tau, bahkan Jaya sudah dua kali ini bertarung dengan mereka," kata Jayeng Rono sambil menatap Jaya Sanjaya yang masih menyimak pembicaraan disana.
"Benarkah..?," tanya Bekel Soponyono dengan pandangan mengarah ke Jaya Sanjaya.
Jaya hanya mengangguk saja, menimpali perkataan itu.
"Eh..ngomong omong sebenarnya Nakmas ini siapa..?, dari mana asal nya..?," tanya Bekel Soponyono semenjak tadi belum berkenalan dengan benar.
"Aku hanya orang tersesat yang lupa ingatan tuan Bekel.." jawab Jaya dengan cepat, mengangguk kecil dan tersenyum.
Jayeng Rono lalu menceritakan bagaimana dia dan Pelangi menemukan Jaya Sanjaya di dasar gua tempat persembunyian mereka.
Benowo atau Bekel Soponyono mendengar dan mengerutkan keningnya, mendengar cerita pulihnya Jaya Sanjaya dalam waktu tiga hari.
"Jagat Dewa Batara...luar biasa ternyata Nakmas ini..," gumam Bekel Soponyono pelan, memuji kehebatan pemuda di depannya.
Jika tadi dia sudah kagum dengan kekuatan pukulan saat mengusir perusuh, kini makin kagum dengan kehebatan pemulihan anak muda di depannya.
"Hmm....pasti Nakmas bukan orang sembarangan.."
Jaya Sanjaya hanya tersenyum saja, padahal dirinya sedikit banyak sudah tau asal muasalnya, karena sudah berbincang dengan tombak Kyai Seto Ludiro dan perisai Wojo Digdoyo, namun ingatannya belum sepenuhnya pulih mengingat itu.
"Terus sekarang apa rencana kalian..?." tanya Bekel Soponyono, memutar matanya menatap ketiga orang di depannya.
"Aku jelas ingin mengantar genduk Pelangi menemukan orang tuanya, mengawalnya hingga benar benar bebas dari para pengincar nya..," sahut Jayeng Rono.
Bekel Soponyono mengangguk, lalu menatap Jaya Sanjaya seakan meminta jawaban.
"Aku mau mengembara mencari pengalaman hidup, mencari jati diri ku setelah memastikan Dinda Pelangi aman di tempat nya," kata Jaya Sanjaya, padahal dia ingin mencari pusaka nya yang tersebar di jagat raya ini sesuai cerita tombak kyai Seto Ludiro dan perisai Wojo Digdoyo.
Untuk memulihkan kekuatannya seperti sedia kala dia harus menemukan semua itu dan menyatukan nya lalu kembali ke alam Dewa.
Saat ini yang pasti tersiar kabarnya, adalah lokasi penemuan Zirah Tameng Jiwo.
"Aku sebenarnya ingin ikut mengembara bersama kakang Jaya, tak mau tinggal disini," seru Pelangi tanpa ada yang bertanya.
Jayeng Rono dan Benowo saling berpandangan mendengar itu.
"Kau harus punya ilmu Kanuragan yang tinggi cah ayu jika ingin mengikuti Kakang mas Jaya mu..," balas Jayeng Rono tersenyum penuh kekhawatiran.
"Karena nanti malah akan menjadi beban, jika kemampuan olah Kanuragan mu belum matang.," kata Benowo dengan bijaksana.
"Naik kuda saja belum mahir, mau mengembara," sahut pelan Jayeng Rono kembali.
Pelangi hanya cemberut menangapi perkataan para orang tua didepannya.
**
Di sebuah markas nampak beberapa orang masih terlihat memulihkan diri nya.
Mereka ternyata anak buah dari Jambumangli ayah dari Kumala.
"Hmm..rupanya ada yang mengacaukan rencana kita..," geraman Jambumangli terdengar pelan sambil menatap para anak buahnya yang masih memulihkan diri dengan duduk bersila mengatur pernafasan nya, setelah menelan beberapa obat penyembuh.
Kumala yang pikirannya masih menerawang jauh, malah teringat dengan sosok pemuda yang menangkis jurus Mata Iblis anak buah ayahnya tadi.
"*Apakah dia pemuda yang sama dengan malam itu..? yang bertarung di sini..?."
"Waah ternyata memang sangat tampan*.."
"Bagaimana sosok yang menghadang serangan anak buah kita..?," tanya Jambumangli kepada Kumala yang masih terpaku dengan tatapan kosong.
Jambumangli kembali menatap anak gadis nya, sedikit merasa aneh.
"Kumala..?."
"Kumalaaa...!!."
Sedikit teriakan dari Jambumangli mengagetkan sang anak.
"E..eeh..Iya Ayah..?, ayah bertanya apa...?."
"Cck..ada apa dengan mu..?, ayah bertanya bagaimana sosok yang mengacaukan rencana kita..?." tanya Jambumangli membuat Kumala tergagap.
"A..a-aku tak terlalu memperhatikan nya Ayah..semua begitu cepat," kata Kumala sedikit berbohong.
Jambumangli menarik nafasnya dalam dalam sambil menggelengkan kepala, " Baiklah nanti aku akan bertanya pada mereka jika sudah memulihkan diri.
_____________
Jangan lupa tinggalkan jejak nya...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 267 Episodes
Comments
Matt Razak
Mantap 👍💯💥
2024-09-09
0
Kancellotti Unholy Mbachoter
yersepoNaa...aku tersepoNaaa....
2022-05-07
3
𓂸ᶦᶰᵈ᭄🇪🇱❃ꨄ𝓪𝓢𝓲𝓪𝓱࿐
ok sudah 20 buah like mendarat ke author jgan lupa like balik ke novel saya yaudah tohr skiam
2022-02-24
4