Jaya sudah berada di penginapan kembali, tangan kanannya masih terasa lumpuh hingga kini.
"Siapa mereka..?, ilmu apa tadi yang di gunakan..?, untung saja aku menghantamkan pukulan itu, jika tidak seluruh badanku yang akan lumpuh terkena sambaran cahaya dari mata orang orang tersebut."
Jaya mulai duduk bersila, mengatur pernafasannya mencoba untuk memulihkan diri dengan cepat.
Kali ini regenerasi sel di tubuh nya kian cepat, tak seperti waktu jatuh di jurang hingga butuh tiga hari untuk sembuh total.
**
Pagi sudah menjelang, sinar kuning sang Surya sudah nampak di ufuk timur, meskipun bola api itu masih malu malu menampakkan diri.
Tok .. tok... tok
"Kakang..!," teriak Pelangi dari luar dengan suara yang sangat ceria sambil mengetuk pintu.
Jaya membuka pintu kamarnya dengan baju masih awut awutan, terkoyak di sana sini akibat ledakan benturan dua kekuatan yang terjadi semalam.
"Loh..kakang kenapa..?." tanya Pelangi dengan khawatir.
"Mana kakek Jayeng Rono..?," balas Jaya tak menghiraukan pertanyaan Pelangi.
"Ish..di tanya malah balik bertanya," sahut Pelangi sedikit cemberut.
"Pertanyaan mu nanti aku jawab sekalian jika ada kakek Jayeng Rono." sahut Jaya Sanjaya setelah menyadari sikapnya yang salah.
Meski kecewa namun Pelangi mengangguk juga.
**
Setelah makan, mereka kembali ke kamar Jaya, untuk mendengar kan cerita dari pemuda tersebut.
"Semalam aku bertemu dengan sekelompok orang dengan jurus yang aneh kek..," kata Jaya Sanjaya pelan.
"Jurus Aneh..??."
Jaya mengangguk.
"Coba ceritakan apa yang telah kau alami," perintah Jayeng Rono dengan penasaran.
Jaya mulai menceritakan bagaimana dia melihat orang yang nampak mencurigakan hingga di ikuti nya dan akhirnya malah bertarung dengan mereka.
Jayeng Rono hanya mengangguk angguk saja.
"Terus yang kau bilang aneh yang mana..?." tanya Jayeng Rono masih dengan kebingungan.
"Setelah kami bertarung mereka mulai mengeluarkan gerakan aneh, mula mula matanya berpendar dan dari matanya keluar sinar yang sangat kuat bahkan membuat tanganku terasa lumpuh.."
Jayeng Rono mengangguk angguk kan kepalanya.
"Berarti benar dugaan ku, kelompok ini telah muncul kembali setelah beberapa dekade ini tak memperlihatkan dirinya."
"Kakek mengenal mereka..?." tanya Jaya Sanjaya.
"Kenal sih tidak, tapi aku tau mereka kelompok apa dan bagaimana kekuatannya."
"Mereka di sebut kelompok Mata Iblis, kekuatannya bertumpu dari pancaran matanya yang bisa meremukkan tulang, bahkan memecahkan jantung lawan dalam sekali pandang.
"Hmm... pantas, tanganku yang menghentikan serangan empat orang tersebut serasa lumpuh semalam hingga kini masih lemas," sahut Jaya Sanjaya.
"Oh...pantas baju kakang pagi tadi terlihat awut awutan sobek di sana sini." kata Pelangi.
"Hmm..benar Dinda, karena semalam aku bertarung dengan mereka."
Jayeng Rono masih terdiam, berfikir.
"Kenapa mereka membikin kacau suasana dengan mengadu domba kelompok Api dan Air..?."
"Apa mungkin mereka mau mengail di air keruh..?," gumam Jaya Sanjaya mulai berpikir ke arah sana.
"Ya bisa jadi seperti itu, dia ingin memanfaatkan situasi yang kini memanas demi kepentingan kelompoknya." Jayeng Rono membenarkan pendapat Jaya Sanjaya.
"Kita awasi saja mereka semua, sambil kita fokus kepada tujuan kita yaitu menyatukan Pelangi dan keluarga nya juga mengetahui dari mana asal usulmu Jaya," kata kakek Jayeng Rono lagi.
Jaya mengangguk saja, meskipun kini hatinya menjadi gundah jika mengingat bagaimana mimpi mimpi nya selama ini.
**
Hari sudah berganti malam, kini ketiga orang itu sudah berada di penginapan kembali.
Niatan siang tadi mau menyelidiki kediaman Bekel prajurit Soponyono kandas, ketika kembali terjadi kehebohan.
Kali ini gantian beberapa orang anggota pengguna element Api di bunuh oleh orang tak di kenal, selain mayatnya ada timbunan Es nya sedikit, banyak dari mayat mayat itu yang tulangnya hancur, bahkan beberapa mayat juga mengalami muntah darah dari hidung dan mulut nya.
Hal itu menjadi hal aneh, jika memang mereka mati karena hantaman pukulan berhawa dingin yang membekukan, bukan kah tak ada kejadian keluar darah dari hidung, mulut dan telinga.
Itulah yang membuat kakek Jayeng Rono semakin yakin kelompok Mata Iblis ingin membuat kekacauan di sana.
"Kita belum bisa memastikan jika Bekel Soponyono adakah kakang Benowo, selain dandanannya berubah, cambang dan jenggotnya menutupi wajah aslinya, aku menjadi tak begitu yakin," kata Jayeng Rono.
"Padahal kakang Benowo yang memiliki hubungan baik dengan pemimpin negeri ini, aku hanya adik seperguruan nya yang ingin membantu nya saat itu."
Jayeng Rono berkata sambil membenarkan letak duduknya.
Pelangi yang tak tau apapun, hanya diam, karena selama ini dia hanya tau jika keluarga nya ya kakek Jayeng Rono saja, sehingga tak ada rasa rindu dengan keluarga mana pun.
"Nampak nya gagasan mu memiliki hunian sendiri ada benarnya Jaya..," kata Jayeng Rono memecah keheningan, karena sedari tadi tak ada yang berbicara banyak kecuali dirinya.
"Maksud kakek sekarang kakek setuju jika aku membeli sebuah hunian di wilayah ini..?."
"Ya...agar kita bisa lebih nyaman, bukankah kau juga perlu melatih ilmu Kanuragan yang kau miliki dengan tenang tanpa gangguan..?."
Jaya Sanjaya terhenyak, seakan di sadarkan oleh kakek Jayeng Rono untuk melatih lagi jurus jurus yang mulai kembali di ingatnya.
"Aha...benar kata Kakek, aku harus berlatih ilmu Kanuragan yang mulai sedikit sedikit ku ingat." Seru Jaya Sanjaya dengan wajah girang, seakan mendapat kan temuan barang berharga.
"Ya kita cari hunian yang sedikit kepinggir, agar lebih nyaman dan tak menyolok saat kau ingin berlatih."
Kata kakek Jayeng Rono membuat Jaya mengangguk setuju dengan usulan tersebut.
**
"Hari ini kita berhasil mengacaukan orang orang Dewa Api, aku yakin sebentar lagi pasti terjadi perang besar..!!," teriak sesorang dengan wajah gembira dan sangat senang.
"Benar apa yang tuan Indraloka katakan, pasti sebentar lagi mereka akan bertarung sengit dan kita tinggal menikmati hasilnya tak perlu terlalu bersusah payah," sahut pria paruh baya yang pernah bertarung dengan Jaya Sanjaya.
Indraloka adalah salah satu petinggi kelompok Mata Iblis, jika di lihat lingkaran Ring nya Indraloka berada di lingkaran Ring tiga, sedangkan pria paruh baya yang merupakan ayah dari gadis dengan penutup kepala bernama Kumala berada di lingkaran Ring tujuh.
"Pelayan...!!, sajikan makanan yang paling enak..kita adakan pesta malam ini," seru Indraloka kepada pelayan di rumah nya.
Aneka hidangan pun di sajikan, menyambut kemenangan yang sebentar lagi akan mereka dapatkan.
"Kapan rencana Dewa Mata Iblis akan tiba kemari tuan Indraloka..?," tanya Jambumangli ayah Kumala tersebut.
"Kepastiannya aku juga kurang tau tuan Mangli tapi pasti tak lama lagi."
Sahut Indraloka sembari menikmati makanan yang sudah terhidang di sana.
Memang rencana nya, Pemimpin Agung kelompok Mata Iblis akan tiba di sana untuk menegaskan kekuasaan dan kekuatan kelompok tersebut.
Saat ini mereka memiliki misi memecah belah, dan mengadu domba agar nantinya mudah menaklukkan lawan yang di incar nya.
__________
Jangan lupa tinggalkan jejak nya
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 267 Episodes
Comments
Matt Razak
Mantap 👍
2024-09-09
0
Elmo Damarkaca
ternyata dari jaman dahulu kala praktek adu domba memang sudah Ada, Sama Juga dengan Adu Ayam Jago dan Adu Jangkrik..he ..he...
2022-07-29
4
Kancellotti Unholy Mbachoter
trikadu domab...semoga merka smua waras yg di adu domba ga sembarangan ambil keputisan
2022-05-07
2