Pagi hari ketiga orang itu mulai melanjutkan perjalanan kembali, banyak perubahan yang di alami dua anak muda yang benar benar buta akan kehidupan ini.
Banyaknya peristiwa hari kemarin, membuat pengalaman hidupnya makin bertambah, terutama Jaya Sanjaya yang mulai sering bermimpi tentang kilasan kilasan aneh.
Entah karena cerita orang orang yang mengabarkan tentang baju perang, semalam Jaya Sanjaya bermimpi menjadi seorang jendral dengan Baju zirah yang sangat mewah, membuat tubuhnya kian gagah saja.
Mengingat itu Jaya Sanjaya terlihat tersenyum senyum kecil.
"Kok kakang dari tadi aku lihat senyum senyum saja, ada apa sih..?," tanya Pelangi yang naik kuda bersama nya.
"Memangnya ada yang lucu..?," kembali Pelangi bertanya karena Jaya hanya terdiam saja.
"Enggak lucu..tapi semalam kakang bermimpi jadi pendekar hebat," jawab Jaya akhirnya dengan sedikit malu.
"Semoga saja benar Kakang.., bisa menjadi pendekar hebat yang mengayomi seluruh kehidupan," sahut Pelangi lagi.
Jaya tak menyahut hanya termenung, masih jelas teringat di kepalanya bagaimana penampilannya di dalam mimpi memimpin pasukannya dengan gagah berani.
Kuda masih terus berlari pelan, saat ini sudah masuk wilayah pemukiman jadi tak bisa memacu kuda seenak sendiri, bisa membahayakan orang lain.
**
Lalu lalang orang makin banyak terlihat.
Para pemburu pusaka itu mulai berjalan kesana kemari, termasuk melintasi wilayah Kerajaan Agung Karang Kadempel yang merupakan lima Kerajaan Panca Buana yang menaungi kerajaan kecil Ngarsopuro.
"Sehebat itukah senjata pusaka yang di buru orang orang ini..?, hingga mereka nampak gila seperti ini..?," gumam Jaya Sanjaya pelan, namun Pelangi bisa mendengar itu.
"Aku juga bingung kakang, makanya mereka dulu mau membunuh dan mengambil darah dan daging ku, memakan ku hanya beralasan demi kekuatan yang belum tentu juga di dapatkan."
"Cck...otak orang orang ini sudah gila..!," umpat Jaya Sanjaya, jika ingat kembali kesengsaraan gadis yang kini ada di belakangnya, menaiki kuda bersama.
"Ya kita hanya perlu berhati hati sekarang, jangan sampai orang orang itu mengendus Dinda Pelangi sebagai putri Kerajaan Ngarsopuro." kata Jaya Sanjaya lagi.
Pelangi hanya mengangguk hatinya terasa perih, jika mengingat itu.
Sudah sedekat ini dengan Istana Ayahanda prabu tapi tak bisa untuk mengaku menjadi putrinya, benar benar menyakitkan.
"Iya Kakang aku akan sabar hingga waktu yang lebih memungkinkan."
Perbincangan kecil mereka terhenti saat Jayeng Rono tiba tiba mempercepat laju kudanya.
"Eeh.. kenapa kakek nampak tergesa mengejar seseorang..?." teriak pelan Jaya meningkatkan kecepatan lari kudanya, mengejar Jayeng Rono.
**
Tanpa sadar Jayeng Rono mengejar sesosok berkuda yang di curigai sebagai Benowo Kakak seperguruannya.
Dia memacu kuda nya dengan cepat menyusul serombongan pasukan prajurit Ngarsopuro yang nampak tergesa-gesa.
"Hmm...nampaknya benar, itu kakang Benowo, aku tak salah lihat."
Benowo yang tersadar dari pingsannya setelah beberapa hari akhirnya memutuskan mengabdi di istana Ngarsopuro, karena semua anak murid nya di Padepokan Bale Rupa sudah di bantai para pemburu Ndaru Kolocokro.
Kini dirinya berganti nama menjadi Soponyono, dengan jabatan lumayan tinggi di istana Ngarsopuro yaitu sebagai bekel prajurit.
Semula prabu Danar Kencono ingin mengangkatnya menjadi Senopati atau bahkan Tumenggung, namun itu di tolaknya karena akan terlalu mencolok dan bahkan membahayakan keselamatan semua orang.
Maka Benowo yang sudah di anggap mati hanya minta jabatan menjadi bekel yang kedudukannya di atas lurah prajurit, di bawah pimpinan Senopati Kidang Semeleh yang paling di percayai nya.
Bagaimana pun kini di mana mana banyak mata, bahkan dinding pun bisa mendengar lalu membocorkan rahasia.
Rombongan Benowo nampak tergesa karena ternyata di ujung sebuah wilayah kota raja pernah terjadi pertempuran yang melibatkan kelompok kelompok asing.
Benowo yang merupakan seorang Bekel prajurit bersama pasukannya sebanyak kurang lebih tiga puluhan orang, nampak melihat dan menyelidiki mayat mayat yang bergelimpangan.
"Ini aneh ndoro Bekel...," seru salah satu prajurit yang meneliti sisa sisa pertempuran itu.
Benowo mendekat, melihatnya.
"Hmm...Aneh memang..., melihat jejaknya mereka di serang pasukan elemen Api, tapi melihat lukanya yang sebagian tulang belulangnya hancur, itu mengatakan hal lain," sahut Benowo.
Nampak beberapa orang dari element Air sudah menjadi mayat dengan sebagain tulang hancur, memang sebagain ada yang terbakar badannya tapi itu juga bisa di lakukan dengan obor.
"Bagaimana ndoro Bekel..?, kita bawa mayat mayat ini untuk di selidiki dan di laporkan ke istana..?."
Bekel Soponyono alias Benowo sedikit terdiam, menimbang dan berfikir.
Belum juga keputusan di ambil serombongan orang orang dengan simbul Air sudah mendatangi tempat tersebut.
"Jangan kalian bawa mayat saudara kami, karena kami akan membawa kepada tetua kami..!," teriak salah satu orang dari rombongan itu, mungkin kepala kelompok dari utusan tersebut.
Bekel Soponyono menetap lawan bicara nya, memastikan orang tersebut.
"Baik kisanak, meskipun sebenarnya ini berada di wilayah hukum kerajaan Ngarsopuro, namun aku lihat kalian benar benar dari partai Es Abadi jadi aku ijinkan kalian membawa mayat mayat ini," jawab Bekel Soponyono, alias Benowo.
"Terimakasih tuan Bekel, anda memang bijaksana," kata orang tersebut, meskipun dia berkata sopan namun nampak wajahnya kurang suka dengan punggawa istana.
Bekel Soponyono hanya mengangguk, tak memperdulikan pandangan sinis orang orang partai Es Abadi.
Kemudian orang orang dari patai Es Abadi membuat sebuah gerakan gerakan tertentu, sebagain menuangkan air, sebagain lagi membekukannya menjaga mayat mayat tersebut agar tak rusak sebelum membawanya ke hadapan pimpinannya.
Melihat cara kerja orang orang tersebut, menandakan mereka adakah kelompok Parati Es Abadi lingkaran sepuluh, bukan orang orang rendahan partai Es Abadi biasa.
Setelah di rasa beres, tanpa berkata apapun mereka meninggalkan tempat tersebut dengan cepat.
Kini tinggallah Bekel Soponyono dengan tiga puluhan anak buahnya, masih mencari sisik melik atau tanda tanda barang bukti dari si penyerang.
Jayeng Rono, Jaya Sanjaya dan Pelangi serta banyak lagi orang orang menonton petugas negara tersebut mencari barang bukti di sana.
"Apa kakek mengenal salah satu dari mereka..?," tanya Jaya Sanjaya pelan, melihat sedari tadi Jayeng Rono hanya menatap tajam ke arah satu tujuan.
Jayeng Rono mengangguk, namun kemudian menggeleng karena nama yang di sebutkan anak buahnya tadi adalah Bekel Soponyono.
"Mungkin aku salah, sudah hampir tujuh belas tahun dan banyak perubahan," gumam pelan Jayeng Rono.
**
"Bagaimana apakah kalian berhasil..?," tanya seseorang dengan wajah bertopeng dengan guratan tanda tertentu.
"Berhasil tuan..ha ha..aku rasa dunia mereka akan semakin kacau.."
"Ha .ha..ha..!,"Pria bertopeng itu nampak tertawa dengan puas.
"Setelah semua saling bunuh, kelompok kitalah yang akan menguasai alam ini." kata pria bertopeng itu kembali.
"Semoga saja demikian tuan, aku tidak sabar menantikan hal itu terjadi."
Mereka pun tertawa bersama diiringi para anak buah yang berjumlah belasan orang tersebut.
____________
**Jangan lupa tinggalkan jejak nya..
Kelompok apa lagi yang membuat kerusuhan kali ini..? ikuti terus kisah ini..ya**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 267 Episodes
Comments
Matt Razak
mantap tenang
2024-09-09
0
Albet Jalius
ayo lanjut thor makin seru..,
2022-10-22
4
Elmo Damarkaca
ayo thor lanjut.. mana pertempurannya ...?
2022-07-29
1