Pemuda itu masih berlari sekuat tenaga, meloncati semak belukar onak dan duri, tak ada yang lain yang di fikirkan nya selain menghindari dari kejaran ratusan hingga ribuan orang yang nampak beringas tersebut.
Wuuus..... wuuuss.....
Sriiing.... sriiing......
Ratusan anak panah menyasar ke arahnya namun tak ada satupun yang berhasil mengenainya, atau mungkin sudah mengenainya namun tak mampu menembus kulitnya, tak ada yang tau.
"Jangan biarkan lolos, kita harus menangkap nya, untuk di tanyai dimana dia menyimpan semua harta benda dan pusaka...!!," teriak Ki Jalu salah satu orang utusan dari kelompok elemen pengguna Api.
"Benar....jangan sampai lolos..!," sahut Dorma Kerto menimpali perkataan Ki Jalu, padahal Dorma Kerto adalah kelompok pengguna element air.
Entah tanpa terasa kelompok kelompok itu bersatu mengejar dan mengepung pemuda malang tersebut, padahal sebelum nya mereka bermusuhan dan saling serang.
"Kita giring ke arah jurang Kematian.. tak bakalan dia meloncat, setelah terpojok pasti dia menyerah..!," usul seorang Pria dengan badan kekar, nampak nya dia senopati Gati sukerto salah satu utusan kerajaan Pandaegalang.
Kerajaan Pandaegalang adalah kerajaan yang lumayan besar meskipun tak sebesar kerajaan KarangPandan.
Di wilayah tersebut ada lima buah Kerajaan besar yang bisa di sebut juga kekaisaran atau Kerajaan Agung, karena menaungi kerajaan kerajaan kecil dan sedang di wilayah nya.
Selain Kerajaan Agung Karang Pandan, ada juga kerajaan Agung Karang Kadempel, kerajaan Agung Pati Sruni, kerajaan Agung Jongka Lengkong dan kerajaan Agung Wukir Asri.
Lima kerajaan Agung itulah yang di sebut Panca Buana, atau lima kerajaan Besar yang menjadi pusat kerajaan kecil dan sedang.
Selama Ini semua Maharaja dalam group Panca Buana selalu menahan diri untuk tak saling mengganggu, karena akibatnya pasti fatal jika terjadi perselisihan, akan terjadi kehancuran jagat raya jika terjadi perang besar.
Mereka sudah melakukan sebuah perjanjian yang sudah beratus tahun lamanya untuk tak saling menyerang antara kerajaan Agung.
**
"Duh Jagat Dewa Batara....Sang Pencipta yang Tunggal....apa aku akan mati..? disini..?." gumam pemuda itu masih terus berlari menghindari lesatan anak panah, dan beberapa senjata yang di lemparkan para penyerang nya.
"Padahal aku masih bingung siapa aku dan ini dimana..?," kembali sang pemuda berlari meliukkan badannya menghindari sebuah tombak yang tiba tiba mencoba mengoyak perutnya.
Makin lama pemuda itu makin berlari menuju sebuah lereng yang kian lama kian terjal, dan lama lama terlihat pepohonan mulai jarang, hanya ada semak dan perdu menggantikan pepohonan yang besar besar.
Matanya terbelalak saat kini di depannya telah menganga sebuah jurang yang sangat lebar, gelap dan tak terlihat kedalaman nya.
"Hua ..ha...ha...!, mau lari kemana lagi kau b4jinga4n...!!," teriak Ki Jalu sembari menudingkan pedangnya, dia merasa sangat senang karena buruannya sudah terpojok.
Perlahan namun pasti para pengejarnya sudah nampak berdatangan, menyusul Ki Jalu yang tadi pertama datang, nampak mengepungnya sudah berdiri dari berbagai sudut seakan memang memojokkannya di bibir jurang tersebut. Tak ada celah sedikitpun untuk lolos kabur kecuali menjatuhkan diri ke jurang tentu saja.
"Menyerahkan...dan tunjukkan dimana kau menyimpan semua isi gua itu...!," teriak keras Dorma Kerto sembari mengacungkan tombak senjatanya.
"Cepat katakan...!, kesabaran kami ada batasnya..!!," kali ini giliran Senopati Gati sukerto membentak dengan galaknya.
"Kami hitung sampai tiga..jika tak kau katakan maka akan kami hujani tubuhmu dengan senjata kami..!!," teriak seorang pemimpin dari perguruan silat yang ikut mengepung gua tadi.
"Benar...cepat beritahu kami dimana Harta benda itu..!!," teriak yang lainnya bersahut sahutan.
"Satuuuu...!." suara para pengepung terdengar berbarengan.
"Duaaaa....!!."
"Tii...."
"Tahaaaan...!." teriak pemuda itu dengan nafas tersengal, sembari mengangkat kedua tangannya sebatas bahu nya.
"Tunggu dulu....!!."
"Ada apa...!!, katakan cepat..!!."
"Maksud kalian harta benda itu apa..?." teriak pemuda itu tak juga mengerti.
Entah kenapa pemuda linglung ini sekarang terlihat amat bodoh, bahkan tak tau apa itu harta benda.
"Setaaan Alaaas...!! keparat..mau..!! mempermainkan kita semua bocah sableng ini...!." teriak Gati sukerto kian meradang.
Entah siapa yang memulai tiba tiba sebuah anak panah berdesing melesat kearah sang Pemuda, lalu di susul ratusan panah juga melesat ke arah pemuda itu, bukan hanya panah tapi juga tombak, gada, bahkan roda besi semacam Cakra sudah di lemparkan ke arah sang pemuda, namun anehnya semua senjata itu berhasil di tepisnya meskipun dengan gerakan macan orang gila mengibaskan lengannya, tak beraturan.
Namun banyaknya lesatan senjata yang mengarah ke padanya membuat keseimbangannya terganggu hingga dirinya salah memilih pijakan, membuatnya terpeleset dan tergelincir masuk ke dalam jurang yang dalam dan gelap itu.
"Hah, Aaaaaaa....!!."
Begitu menyadari dirinya terperosok dan jatuh ke dalam jurang yang entah seberapa dalamnya, sang pemuda berteriak ketakutan.
"Dasaar bocah edan...!!."
"Gendeng...!!."
Berbagai macam umpatan masih bisa ditangkap oleh Indra pendengaran sang pemuda sebelum dirinya benar benar terjatuh ke dalam jurang yang gelap dan dalam tersebut.
"Aaaahh...mati akuuu...!."
Batin sang pemuda sambil badannya melayang jatuh ke bawah, meski sudah di usaha kan untuk bergerak melawan gravitasi, namun tetap jatuh ke bawah juga...sebelum semua terlihat gelap dengan badannya yang terbentur di bebatuan dinding gua dan tak sadarkan diri.
_________
Selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejak nya...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 267 Episodes
Comments
Iskandar Yunaeni
Sepertinya mau jadi kuat nih
2024-11-16
0
Ardi Provision
dorma kerto, ini yang jadi nama klannya dorma atau kerto???
jangan2 dari klan tono 😁😁😁
2024-09-26
0
Matt Razak
mantap thor
2024-09-08
0