Rombongan ketiga orang itu sudah kembali bergerak menuju kota raja, mau tak mau harus mencari berita di sana, sukur sukur ketemu dengan orang yang di kenal di sana.
Kini mereka sudah mandi dan berganti dengan pakaian yang lebih layak.
Sekarang terlihat betapa wajah Jaya Sanjaya yang sangat tampan, begitupun dengan Pelangi yang terlihat sangat cantik.
Sepanjang jalan bahkan mereka menjadi pusat perhatian karena wajah tampan dan cantik mereka.
"Ada apa sih kek..?, kenapa semua melihat ke arah kami..?," tanya Pelangi yang tak menyadari akan hal itu.
"He.he..itu karena wajah kalian sangat menarik anakku..," kata Jayeng Rono sambil menatap kedua nya yang naik kuda berdampingan dengan dirinya.
Pelangi hanya mengangguk angguk, namun tak paham.
Mereka terus berkuda menuju ke arah Kotaraja hingga beberapa saat.
"Kek kayaknya kita harus mencari penginapan karena hari sudah sore, kita perlu mencari makan juga," kata Jaya Sanjaya begitu menyadari sudah mendekati pintu Kotaraja dan hari mulai gelap.
Jayeng Rono juga setuju akan hal itu, namun sedikit ragu karena uang hasil penjualan perhiasan hanya tinggal beberapa kepeng koin perunggu saja, karena sudah untuk membeli dua kuda dan beberapa pakaian juga makanan.
Satu koin emas setara dengan seratus koin perak, dan seribu koin perunggu.
"Apa kita mencari makan saja, nanti kita bisa tidur di sembarang tempat." balas Jayeng Rono, sedikit tersenyum menunjukan sisa kepeng uang koin.
Jaya Sanjaya tersadar akan hal itu, dia sudah melihat jual beli tadi dan mulai mengerti fungsi dari kepeng kepeng uang koin yang di milikinya di dalam gelang penyimpanan nya, lalu dia mulai mengeluarkan nya.
"Apa ini juga laku di jual..?," kata Jaya Sanjaya mengeluarkan sekantung uang emas.
Mata Jayeng Rono terbelalak melihat kantong kepeng uang koin emas yang lumayan banyak, padahal itu hanya sebagian kecil dari isi gelang penyimpanan Jaya Sanjaya.
"Waah..i.ini sangat banyak sekali Jaya...," kata Jayeng Rono masih terpukau, kemudian Jayeng Rono menerangkan nilai nominal kepeng uang koin, dari emas, perak dan perunggu yang kali ini gantian Jaya Sanjaya terbelalak kaget.
"Jadi satu koin emas ini sama dengan seribu koin perunggu ini..?."
"Ya.."
"Dan harga satu kuda hanya dua ratus kepeng perunggu dan sekali kita makan enak hanya habis tak lebih dari sepuluh kepeng koin perunggu..?."
"Ya..," kembali Jayeng Rono mengangguk, lalu menggelengkan kepalanya, " Kamu ini sebenarnya hidup dimana selama ini, kenapa begini saja tak tau..?." tanya nya tanpa sadar.
"Aku juga tak tau kek..," tiba tiba Pelangi menyahut.
Jayeng Rono tersenyum dan mengangguk, " Iya karena kamu memang tak pernah hidup di dunia luar anakku."
"Mungkin kakang Jaya juga sama seperti ku Kek.." bela Pelangi kepada Jaya Sanjaya.
Jayeng Rono hanya kembali tersenyum, lalu berjalan lebih dulu mencari penginapan yang juga ada tempat makannya.
Jaya Sanjaya selalu mengawasi lingkungan sekitar, mempelajari semua nya dengan otak pintarnya...dan mencatatnya.
"Ayo..itu ada warung makan juga penginapan..," seru Jayeng Rono melihat sebuah tempat makan yang di atasnya terlihat banyak jendela jendela, seperti penginapan.
Jayeng Rono hanya mengambil beberapa koin emas, dan sisanya di serahkan kembali kepada Jaya untuk di simpan.
Ketiganya bergegas menuju ke tempat makan tersebut.
"Kami memesan satu kamar untuk bertiga, juga makanan untuk kami," kata Jayeng Rono kepada pelayan yang ada di sana.
Mereka yang biasa tidur di tempat seadanya tak mempermasalahkan jika tidur di lantai sekalipun.
"Waaah..makanan ini enak enak Kakang," gumam Pelangi dengan lahap memakan makanan makanan di sana.
"Emm..," sahut Jaya Sanjaya dengan mulut penuh makanan hanya mendengung sambil mengangguk angguk.
Memang di akui jika makanan ini enak enak, apalagi jika di banding makanan mereka saat di jurang, sangat sangat jauh perbedaannya.
Warung makan yang lumayan besar dan bersih itu ternyata sangat ramai pengunjung.
Jika di lihat lihat banyak juga dari mereka yang gaya berpakaiannya sedikit berbeda, menandakan mereka bukan orang lokal.
"Aku dengar sebuah pusaka juga di temukan di daerah barat..?." kata pelan seorang pria yang duduk dekat Jaya Sanjaya dengan pakaian tanpa lengan, memperlihatkan otot otot nya yang kekar.
"Maksud mu Kerajaan Agung disana..?." sahut teman di samping nya yang berkepala botak.
"Ya..ternyata tak cuma di kerajaan Agung karang Kadempel di mana kerajaan Ngarsopuro bernaung ditemukan cahaya Keberuntungan."
"Di lima negri Panca Buana juga saat itu turun cahaya Keberuntungan." kata orang berbaju tanpa lengan tersebut menerangkan temannya.
"Oh.. pantas sekarang banyak para pendekar lalu lalang terlihat berpindah pindah kesana kemari," balas si kepala botak sambil manggut manggut dan terus makan.
Jaya Sanjaya mendengar kan dan menyimak pembicaraan di sana, ingatannya kembali kepada cerita kakek Jayeng Rono tentang masa lalu Pelangi.
Banyak misteri di alam ini yang membuatnya menjadi semakin tertarik kini.
"Memangnya pusaka apa yang ada di wilayah barat..?." tanya pria botak itu bertanya kepada temannya itu.
"Menurut kabar semacam baju perang."
"Maksud mu baju Zirah perang..?."
"Hmm." kata pria dengan baju tanpa lengan, mengangguk anggukan kepalanya.
Belum selesai perbincangan dari orang tersebut, nampak ada sedikit keramaian di warung makan itu di bagain depan, sehingga semua orang berbondong bondong ke depan.
"Heii..jaga bicara mu..!," bentak seseorang dengan baju merah.
"Kenapa aku harus menjaga omongan ku, sudah jelas pusaka itu ada pada kelompok Raja Es Abadi.." balas orang dengan baju putih tak mau kalah.
"Omong kosong.. kelompok Dewa Api pasti merebutnya..," sahut Baju merah masih galak.
Braaakk...!!
Baju Putih langsung berdiri sambil mengebrak meja, " Aku bilang pusaka itu sudah di dapat Raja Es Abadi, jadi mana mungkin di rebut oleh Dewa Api, kau ingin terjadi keguncangan di alam ini..?."
Semua orang menggelengkan kepalanya, melihat tingkah orang orang yang mendukung kelompok kelompok tertentu hingga sampai adu mulut bahkan terkadang adu nyawa, padahal mereka bukan anggota dari dua kelompok itu.
Jaya Sanjaya hanya menghela nafasnya, sebegitu berpengaruhnya kah dua kelompok ini di alam ini, hingga simpatisan nya saja bisa saling bunuh untuk membuktikan dukungan nya.
**
Mereka sudah berada di kamar, istirahat.
Pelangi tidur di tempat tidur sedangkan Jaya Sanjaya dan Jayeng Rono memilih tidur di lantai sambil bercerita.
Jaya Sanjaya sangat antusias begitu dengan semua yang terjadi di alam ini.
"Memang sehebat itu dua kelompok ini ya kek..?."
"Begitulah..yang sebenarnya, bahkan kakang Baruno saja tak akan mampu menang melawan anak buahnya yang ada di lingkaran Ring sepuluh.
Setiap tokoh hebat selalu di kelilingi oleh tokoh tokoh yang biasa di sebut lingkaran Ring, dan lingkaran Ring itu biasa di hitung dari satu hingga sepuluh. Setiap lingkaran Ring bisa terdiri dari beberapa orang hingga belasan orang.
"Waah...hebat sekali tokoh tokoh ini." Jaya Sanjaya terkagum kagum mendengar nya.
"Ya.. begitu lah, aku harap kau belajar banyak jika ingin menguasai dunia."
Jaya Sanjaya mengangguk angguk kan kepalanya mendapat wejangan kakek Jayeng Rono.
___________
Jangan lupa tinggalkan jejak nya...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 267 Episodes
Comments
Matt Razak
Mantap 👍
2024-09-09
0
Alea Teknik
nyusul kak
2022-05-17
4
Kancellotti Unholy Mbachoter
berguru pd sekitar
2022-05-07
1