"Aaarcchhh...!!."
Jaya menjerit keras dalam tidurnya, tubuhnya bergetar hebat dengan keringat bercucuran deras di dahinya, namun matanya masih tetap terpejam rapat.
Nampaknya Jaya Sanjaya tengah bermimpi.
Untungnya kini mereka sudah menginap dengan kamar sendiri sendiri, karena Jaya menginginkan seperti itu, sebab tak akan habis hartanya yang sebesar gunung hanya untuk makan dan hidup sampai tujuh turunan.
Dalam tidurnya Jaya bermimpi masih memimpin perang dengan gagah berani, bahkan dalam mimpi itu juga seakan dirinya diingatkan dengan jurus jurus andalannya.
Salah satunya jurus Badai Matahari, sebuah jurus yang mampu membakar lawan nya dengan gelombang udara sangat panas, jika di gunakan dengan dengan Tombak pusaka ditangannya.
Kemudian juga jurus aneh bernama pukulan Selaksa Ombak Menerjang yang mampu meluruhkan bukit bebatuan, karena hanya dengan sekali memukul akan ada bayangan pukulan yang mengiringi nya berkali kali.
Selain itu juga Jurus Tombak yang merupakan anugerah dari Sang Pencipta untuk nya, bernama jurus Mata Naga Pemusnah, dimana jurus ini hanya bisa di mainkan dengan senjata tombak terbaik karena ruh permainan tombak ini akan berada di ujung serangan sehingga jika bukan tombak terbaik tak akan mampu di gunakan dengan maksimal.
Jaya terbangun dengan nafas tersengal, sedikit linglung memikirkan mimpinya.
"Aneh...siapa lelaki itu, dengan pakaian perang yang gagah, melawan musuh dengan begitu perkasa, rasanya seperti diriku tapi bukan aku."
Jaya masih berfikir dengan keras mencoba mengingat sesuatu namun tak juga mampu.
Kening nya berkerut, nampak berfikir keras, kemudian mengusap keringat di wajahnya.
"Aku harus memecahkan masalah ini." gumam nya pelan.
Jaya akhirnya keluar dari kamarnya, berjalan ke arah halaman dari penginapan tersebut.
Matanya memicing menatap ke arah sebelah barat, dimana nampak beberapa bayangan berkelebat dengan dengan cepat.
Dengan cepat Jaya mengikuti empat orang dengan pakaian hitam hitam dan penutup kepala tersebut.
Semakin lama Jaya semakin nyaman saja bergerak dengan cepat, seakan naluri nya mengatakan langkah yang benar itu seperti itu.
Meskipun awalnya dirinya merasa tertinggal oleh empat orang tersebut, namun nyatanya bahkan kini dirinya harus mengurangi kecepatan larinya agar tak terlalu dekat menyusul rombongan orang tersebut.
Keempat orang itu berhenti di sebuah bangunan yang cukup mewah, mereka mengawasi sekelilingnya.
Jaya dengan cepat merunduk bersembunyi di semak semak agar tak ketahuan mengintai keempat orang tersebut.
Setelah merasa aman empat orang tersebut melesat melompat ke arah tembok dan masuk ke dalam tanpa membuka gerbang nya.
Jaya yang merasa pasti bahwa keempat orang itu bukan orang baik baik, segera melesat menyusul dengan sangat hati hati.
Begitu menaiki tembok itu dia langsung segera turun di semak semak yang ada di halaman rumah yang sangat luas tersebut.
Keempat orang yang di ikutinya tak menyadari kehadiran seorang Jaya Sanjaya, mereka langsung masuk ke dalam pendopo dengan santai begitu sampai di halaman rumah tersebut, seakan rumah sendiri.
"Hmm aneh..tadi mereka nampak bertingkah seperti maling, namun sekarang seperti pemilik rumah ini."
Dengan mengendap endap Jaya mendekat, lalu terdengarlah percakapan mereka yang sedikit keras karena suasana benar benar hening.
"Bagaimana rencana mengacau, berhasil..?," tanya seseorang menyambut keempat orang yang salah satunya nampaknya wanita karena terdengar tertawa.
"Apa sih yang tak berhasil jika Nona muda sudah bergerak ayah..?." Suara perempuan muda terdengar, bangga dengan hasil kerja nya mungkin.
"Kau memang hebat anakku..," sahut suara berat seorang pria paruh baya, nampak memuji hasil kerja anak wanitanya.
Jaya yang mendengar mengangguk angguk kan kepalanya.
"Hmm rupanya benar mereka anggota keluarga ini, tapi mengapa harus mengendap endap.?, bukankah ini rumahnya ..?."
Jaya yang merasa sudah cukup dalam mengintai urusan orang, berniat berbalik.
Kresek..!!
Namun sial kakinya menginjak sebatang ranting yang terseret dan patah di kakinya.
Belum sempat dia meloncat keluar dari halaman rumah tersebut, beberapa orang tersebut sudah meloncat keluar dan mengurungnya.
Rupanya empat orang tadi beserta salah satu pria yang ada di rumah itu sudah mengepungnya.
"Jangan lari keparat..!.'' teriak salah satu dari pria di sana.
Tatapan mata Jaya Sanjaya malah terpaku sesaat pada seorang wanita yang juga menatap nya tajam.
"Huh..!." Jaya mendengus kesal," Ada juga ya.. perempuan yang memiliki ***** jahat menjadi pengacau," gumamnya pelan meskipun tak tau mereka mengacaukan apa.
Empat pria yang mengepungnya sudah sedikit merapat setelah ada isyarat dari Pria yang di sinyalir ayah si perempuan berpenutup kepala.
Untung nya suasana malam itu sedikit gelap sehingga wajah Jaya tak terlalu kelihatan.
"Tangkap keparat ini..!."
Keempat orang tersebut langsung menyerang di barenagi dengan gerakan aneh dari orang orang tersebut, sebelum kemudian mata mereka sedikit berpendar.
Sreeett...
Tiba tiba mata mereka seperti menembakkan sinar mengarah ke badan Jaya Sanjaya, berbarengan dengan itu Jaya sudah meloncat berniat kabur keluar, sambil menghantam kan pukulannya secara asal seperti jurus yang barusan ia ingat dalam mimpinya "Selaksa Ombak Menerjang".
Duaaaar....!!
Lesatan empat sinar itu bertemu dengan pukulan Jaya Sanjaya, menimbulkan ledakan cukup keras yang melempar nya ke luar benteng rumah mewah itu.
Sedangkan keempat orang itu terpental terlempar seakan di terjang ombak yang datang bergulung gulungan, padahal pukulan itu di lakukan oleh Jaya Sanjaya dengan asal dan kini kekuatannya pun hanya dua puluh persen kekuatan asli nya.
Betapa dahsyatnya jika pukulan itu di lakukan dengan sungguh sungguh dengan kekuatan penuh pula.
Lesatan sinar dari mata keempat orang itu mampu membuat tangan Jaya yang memukulkan Selaksa Ombak Menerjang menjadi lumpuh sesaat.
"Uugh siaal...hebat sekali mereka," gumam Jaya sembari berlari secepat mungkin menuju penginapan nya.
Bisa di bayangkan jika orang lain yang terkena lesatan sinar dari mata orang orang tersebut pasti remuk badannya.
**
"Keparat..!, dari kelompok mana lelaki tadi..?," gumam Pria paruh baya itu setelah semua masuk kembali ke dalam rumah.
Keempat pria tersebut duduk bersila menyembuhkan diri dari pukulan Jaya Sanjaya.
Gadis yang merupakan anak dari pria paruh baya itu hanya menggeleng.
"Aku merasa belum pernah menemui orang dengan jurus seperti tadi..," sahut Gadis itu sembari memberikan pertolongan kepada pria paruh baya ayah nya.
"Jika lelaki tadi anggota salah satu musuh yang akan kita kacaukan akan sangat berbahaya bagi kelompok kita," kata pria itu lagi.
"Sudahlah...ayah memulihkan diri dulu, aku akan membantu dengan mengalirkan tenaga murni," kata gadis itu lalu bersila di belakang ayahnya mengalirkan tenaga murni melalui punggung sang ayah.
Pria paruh baya itu memejamkan matanya, menarik nafasnya dengan teratur dan mulai memulihkan diri akibat hantaman dari Jaya Sanjaya.
Semetara tiga pria lainnya kondisinya lebih parah lagi, dengan dua orang pingsan saat benturan dan satu orang kondisinya masih lemah hingga kini.
_____________
Jangan lupa tinggalkan jejak nya...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 267 Episodes
Comments
Matt Razak
Mantap 👍💯
2024-09-09
0
Wanto Jenggolo
kesuksesan bermula dr sebuah impi@an
2023-11-17
5
Kancellotti Unholy Mbachoter
beLajar dr mimpi :)
2022-05-07
1