Kumala adalah anak satu satunya dari Jambumangli, salah satu orang kepercayaan Pemimpin Agung kelompok Mata Iblis yang berjuluk Dewa Mata Iblis.
Merupakan anggota dari kelompok itu sudah sejak lama, dan bahkan semenjak dirinya lahir hanya satu cita citanya yaitu menjadi wanita terhebat kelompok tersebut, maka nya dirinya giat berlatih untuk mewujudkan hal itu.
Dengan usia dua puluhan awal membuat parasnya yang cantik kian terlihat menawan.
Kemampuan nya menggunakan jurus mata Iblis pun sudah cukup hebat untuk gadis muda seusianya.
Mungkin dia adalah wanita yang paling berbakat di kelompok Mata Iblis.
Ada tujuh tingkatan kekuatan bagi pengguna jurus Mata Iblis kelompok ini, selain ilmu Kanuragan yang lain tentu saja, karena mereka juga harus memiliki ilmu beladiri untuk mengimbangi jurus Mata Iblis ini.
Kehebatan Mata Iblis yang pertama adalah mampu membuat lawan menjadi pusing dan sakit kepala hebat, termasuk membuat mata lawan menjadi sakit.
Tingkatan kedua yaitu mampu membuat gerakan lawan menjadi terganggu jika sudah terkunci oleh sorot jurus Mata Iblis, sehingga lawan yang bertenaga dalam lemah akan mudah di kalahkan jika gerakan tubuhnya sudah terkunci.
Tingkatan Ketiga, mampu melemahkan otot otot lawan jika terkena jurus mata mereka.
Keempat, jika lawan terkena tatapan mata dari jurus Mata Iblis maka pembuluh darah nya bisa rusak.
Ke lima pengguna jurus Mata Iblis mampu mengacaukan detak jantung, dan mematahkan tulang lawan.
Keenam mampu merusak jantung dan menghancurkan Tulang dalam sekala ringan.
Ketujuh dan yang terhebat dari jurus ini, mampu memecahkan Jantung, meremukkan tulang dan otomatis menghancurkan organ dalam dari lawannya.
Itulah tingkatan kekuatan dari jurus Mata Iblis, namun semua itu bisa sedikit di tanggulangi oleh lawan yang bertenaga dalam tingkat tinggi yang juga memiliki jurus kebal, selain itu...jurus ini juga mampu di tanggulangi oleh pemilik ilmu kecepatan tinggi.
Kehebatan jurus Mata Iblis dari Kumala berada di tingkat Lima, dia mampu merusak pembuluh darah dan mematahkan tulang lawan jika berhasil mengunci lawan dengan jurusnya tersebut.
"Kumala, ayah rasa kamu sudah saatnya mengerjakan misi tersendiri, tak harus ikut dalam misi yang ayah lakukan," kata Jambumangli sang ayah.
"Memang ayah tak suka jika aku membantu ayah, bukankah misi ayah menjadi lebih mudah saat aku ikut terjun turun tangan..?." sahut Kumala sedikit cemberut, namun menambah cantik wajahnya yang memang bagai bidadari itu.
Jambumangli tergelak mendengar jawaban anaknya, sebenarnya bukan itu maksud sang ayah, dirinya ingin agar anaknya mengambil misi tersendiri di karenakan ingin mengenalkan anaknya kepada seluruh anggota Mata Iblis.
Harapannya agar sang anak bisa menjadi terkenal, syukur syukur bisa di percaya sang Pemimpin Agung hingga bisa menjadi petinggi setidaknya berada di tingkat lingkaran Ring sepuluh, jika perlu bisa di lirik dan di jadikan selir dari Pemimpin Agung tersebut.
Bukankah sebuah keanehan jika orang tua bangga memiliki anak yang bisa menjadi ratu di kelompok nya
Bahkan sudah dari semenjak kecil Kumala sudah di doktrinasi untuk menjadi bangga jika bisa menjadi salah satu wanita Sang Pemimpin Agung.
"He.he.he..bukan ayah tak suka jika kau bantu, cah ayu.., namun sudah saatnya kau memiliki jabatan minimal setingkat lingkaran Ring sepuluh."
"Siapa tau jika kau masuk menjadi kelompok Lingkaran Ring, Pemimpin Agung akan melirik mu menjadi selir, atau bahkan menggeser permaisuri Dewi Mata Iblis..?," kata sang Ayah lagi, dengan berapi api.
Kumala sedikit terhenyak mendengar perkataan ayahnya, sudah bukan suatu yang aneh orang tuanya berkata seperti itu karena sejak kecil dia di doktrin untuk itu.
Namun entah mengapa pembahasan yang biasanya menjadi hal menarik untuk nya kali ini terdengar hambar.
Semenjak beberapa hari yang lalu pikirannya terpecah oleh sosok pemuda yang pernah menyusup di kediaman nya dan bertarung dengan kelompok nya.
Mungkin yang lainnya tak terlalu fokus menatap wajah penyusup karena konsentrasi menyerang, namun tidak dengan Kumala yang entah kenapa malah menatap wajah sang penyusup meskipun saat itu sedikit gelap.
Sejak pandangan mata keduanya bertemu, Kumala merasa ada sesuatu yang aneh di hatinya.
"He.he..he.., Aku ingin membantu misi ayah saja, aku sudah cukup senang bisa sampai di sini..," sahut Kumala dengan tersenyum membuat wajahnya kian menawan, menutupi apa yang kini mengusik hatinya.
Kecantikan seorang Kumala bagi anggota kelompok Mata Iblis sudah tak di ragukan lagi, namun semua anggota tak ada yang berani mendekatinya karena semua tau Kumala di siapkan untuk menjadi salah satu wanita dari sang Pemimpin Agung.
**
Jaya sudah berhasil membeli sebuah hunian yang terbilang mewah untuk ukuran di sana.
Sebuah hunian yang sedikit berada di pinggiran dengan area wilayah yang sangat luas.
Sangat cocok jika di gunakan untuk menetap dan berlatih ilmu Kanuragan, karena di balik tanah luas yang di miliki hunian tersebut, di belakangnya hunian terdapat sebuah lembah dan jurang dan jauh dari pemukiman penduduk.
Jika bagi orang lain membeli tanah dan hunian di sana adalah pilihan terakhir tapi tidak bagi Jaya, Jayeng dan Pelangi, hunian dan tanah yang seperti ini lah yang di butuhkan mereka.
Jaya sudah membangun benteng yang kokoh di gerbang depan melingkari area perumahan nya, dan membangun rumah tersebut lebih megah agar terasa lebih nyaman, membangun sebuah area berlatih di bagain belakang rumah, yang langsung mengarah ke lembah dan jurang.
Sore itu Jaya sedang berlatih sendirian, dirinya tak ingin di ganggu jika berlatih ilmu Kanuragan.
Mempelajari jurus jurus yang mampir berkali kali di pikirannya.
Jurus Selaksa Ombak Menerjang, jurus Badai Matahari dan jurus Mata Naga Pemusnah, bahkan juga melatih jurus ajaran kakek Jayeng Rono yaitu Manggar Pecah.
Semua jurus tersebut dia mainkan dengan sedikit kurang sempurna, karenanya ingatan tentang penguasaan jurus itu belum total sempurna.
" Hmm tak sehebat seperti orang dalam mimpiku."
Keluh Jaya Sanjaya begitu menyelesaikan latihan jurus jurus nya, dengan nafas tersengal dia duduk di bawah pohon yang rindang, di belakang rumahnya menghadap ke arah jurang sambil melihat panorama di kejauhan.
"Apa karena aku berlatih tanpa senjata tombak seperti pria di mimpi ku..?,"gumam Jaya Sanjaya mulai berpikir, kembali teringat jika dia juga memiliki Tombak dan perisai di gelang penyimpanan nya.
Segera saja Jaya Sanjaya bangkit dari duduknya, sedikit konsentrasi untuk mengeluarkan tombak dan perisai nya.
Blaaasss..!! dua senjata keluar dari ruang penyimpanan, berjumpalitan ke udara sesaat, dan berputar putar di sana.
Jaya Sanjaya sangat kaget, begitu tombak dan perisai itu keluar dari ruang penyimpanan.
Di kepalanya langsung terdengar suara-suara entah dari mana, seperti sebuah sorakan kegirangan terbebas dari kungkungan.
"Aku bebas melihat dunia...!!."
"Aku bebas melihat keindahan jagat raya...!!."
"Yeeeiiii...! yeiiiiiuuu...!!."
Suara suara itu langsung mengisi kepalanya.
"Aaarcchhh..!!."
Jaya Sanjaya, berteriak memukul kepalanya seperti orang gila.
Dia tersungkur di tanah, merasa otaknya penuh dengan bising suara sebelum akhirnya hening dan lenyap.
Di depannya sudah teronggok dua senjata tombak dan perisai.
Jaya Sanjaya memukul kepalanya lagi, meskipun suara itu sudah lenyap.
"Kenapa kau pukul kepalamu..!!."
Sebuah suara mengagetkannya.
"Siapa yang berbicara kepada ku..!." teriak Jaya Sanjaya sambil tolah toleh kebingungan.
"kami yang berbicara ...tolol..!."
Sebuah suara yang lain terdengar.
"Dimana kalian..hah..perlihatkan wujud mu..!!," bentak Jaya Sanjaya sedikit berang.
"Kami di depanmu..!!."
Dua suara dengan warna sedikit berbeda menyahut.
"Dimana..?!?!."
"Di depanmu...!!." Teriak dua suara itu sedikit keras.
Jaya menatap tombak dan perisai yang bergerak gerak kecil.
"Kalian ..??," tanya Jaya asal sambil menunjuk tombak dan perisai.
"Benar..!!."
"Aaaaaa....!!." Jaya terpekik meloncat mundur dua langkah.
"Aku sudah gila..aku gilaa.." Jaya meremas rambutnya.
"Kau masih waras... lihatlah... nama ku tombak kyai Seto Ludiro.
"Aku Tameng Wojo Digdoyo."
Dua senjata di depannya bergerak saat Jaya menatap nya, dan menunjuk keduanya tanpa suara.
"K.k-kalian bisa bicara..?."
Keduanya bergerak.
"Ya..!!."
Jaya mendekat, kemudian memegang keduanya.
Jreeeng....!!
Bagai tersengat listrik Jaya menegang.
Kilasan kilasan peristiwa seperti yang Jaya impikan selama ini seakan tampil di ingatannya.
"Kalian ingin memberitahukan sesuatu kepada ku..??." kata Jaya Sanjaya pelan.
Kedua senjata itu sedikit bergerak seakan berkata "iya".
Seulas senyum di bibir Jaya kemudian hadir diwajahnya.
"Aaah...!! jadi kalian senjata pusaka ku selama ini...??." seru Jaya tersenyum senang.
"Ya...kami adalah pusaka yang Sang Pencipta anugerah kan kepadmu Dewa Cakra Tirta Sanjaya."
"Dewa Cakra Tirta Sanjaya..??." gumam Jaya Sanjaya mencoba mengingat ingat nama itu tapi tak berhasil.
____________
Selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejak nya...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 267 Episodes
Comments
Matt Razak
mantap 👍
2024-09-09
0
4wied
seharusnya awal kalimat " bukanlah suatu keanehan......", tidak seperti yang tertulis, " bukankah suatu keanehan......." maknanya jadi berbeda, yg tadinya bermaksud memberitakan, tapi malah jadi kalimat bertanya. ??
2024-08-23
0
Albet Jalius
semakin seru. thor.... lanjut... 👍👍👍👍👍
2022-10-22
4