"Kita harus mencari penginapan di sekitar sini, ada sesuatu yang penting yang harus aku tau..," kata Jayeng Rono, menatap Jaya Sanjaya.
Jaya Sanjaya mengangguk, dirinya setuju juga dengan rencana kakek Jayeng Rono, baginya semakin banyak melihat, mendengar akan semakin tau tentang situasi dan kondisi alam ini, membuatnya tak seperti katak dalam tempurung.
"Bagaimana jika aku membeli saja sebuah hunian, agar kita bisa nyaman tinggal disini..," kata Jaya Sanjaya mengusulkan pendapat nya.
"Jangan dulu, aku akan pastikan sesuatu terlebih dahulu." kata Jayeng Rono mencegah niatan Jaya Sanjaya.
"Jika nanti semua sudah sesuai maka silahkan untuk membeli hunian," kata Kakek Jayeng Rono dengan tersenyum.
Entah apa yang sebenarnya menjadi rencana dari Jayeng Rono, namun Jaya Sanjaya dan Pelangi percaya dan menurut saja, karena itu pasti yang terbaik untuk mereka.
**
Semenjak peristiwa pembantaian anggota partai Es Abadi, dunia persilatan makin bergolak.
Suasana panas makin menyelimuti jagat persilatan.
Situasi yang sudah panas dengan perebutan benda benda yang di anggap pusaka dan bertuah, kini di tambah penyerangan terhadap partai Es Abadi yang di sinyalir di lakukan oleh kelompok pengguna element Api membuat suhu udara dunia persilatan makin membara.
"Kurang ajar mereka, jika memang yang melakukan ini kelompok pengguna element Api..!," teriak salah satu pemimpin cabang dari partai Es Abadi dengan marah sambil menatap mayat mayat yang kini ada di depannya.
"Kita selidiki masalah ini sebelum kita bertindak lebih jauh, mulai sekarang kita lebih berhati hati lagi dalam menjalankan setiap tugas." kata pemimpin cabang partai Es Abadi tersebut.
**
"Apa yang terjadi guru..?," tanya Senopati Kidang Semeleh kepada guru Benowo, saat mereka hanya berdua.
Memang seperti itu jika mereka sedang berbincang sendiri berdua tanpa prajurit, Senopati Kidang Semeleh akan memanggil dengan kata "Guru".
"Hmm..aku juga bingung Senopati, semula aku menganggap itu ulah kelompok pengguna element Api, tapi melihat lukanya aku sedikit ragu."
"Mengapa guru..?."
"Hancurnya tulang menunjukkan itu bukan dari para pengguna Api, tapi..."
Perkataan Benowo terhenti, karena jika mengatakan hal yang di ketahui nya takut di kira bicara sembarangan.
"Tapi apa guru..?, katakan saja ini hanya antara kita saja, tak akan aku laporkan berita ini jika tanpa persetujuan mu," kata Kidang Semeleh.
Guru Benowo menarik nafasnya sebelum menceritakan sesuatu.
"Menurut guru nya guruku, dahulu kala ada sekelompok orang yang memiliki kesaktian sangat hebat, mereka menamakan dirinya pengguna Mata Iblis, atau kelompok Mata Iblis."
"Dengan kemampuan nya, mereka bahkan bisa menghancurkan organ organ dalam lawannya dengan hanya tatapan matanya saja."
"Bahkan juga ada sebuah kelompok lain, menamakan diri kelompok mata Dewa yang bisa menghentikan waktu dengan manipulasi matanya."
Kata Benowo dengan nada sedih.
"Jika benar yang Menyerang mereka dari kelompok itu, maka bisa di pastikan jagat raya akan kiamat, karena orang orang mudah saling membunuh."
Kata Benowo lagi, merinding membayangkan dunia ini akan hancur.
Kidang Semeleh yang masih lebih muda hanya menarik nafasnya, selama ini belum pernah mendengar kisah-kisah yang seperti itu, baik dari ayah maupun guru nya.
"Waah jika benar ada ilmu kesaktian yang seperti ini, maka akan sangat berbahaya dan membuat kehancuran yang luar biasa." kata Kidang Semeleh masih belum percaya dan sedikit tersenyum saat mengatakannya.
"Ya...semoga saja cerita cerita para legenda itu tak pernah ada," kata Benowo dengan wajah kembali biasa.
**
Berita hebohnya benda benda pusaka yang berjatuhan dari langit, memang menarik para pemilik ilmu kesaktian untuk memilikinya.
Belum hilang berita penemuan Zirah perang yang membuat seseorang menjadi kebal di wilayah barat, sudah muncul lagi berita penemuan sebuah kitab sakti di wilayah selatan.
Inilah yang membuat para tokoh tokoh sakti pilih tanding kini bermunculan, menunjukkan eksistensi nya.
Wereng Ireng salah satu anak buah Dewa Api yang di tugasi memburu zirah pusaka sudah berada wilayah kerajaan Agung Wukir Asri yang ada di sebelah barat kerajaan Agung Karang Kadempel.
Di Kerajaan Agung Wukir Asri ada enam kerajaan yang di naungi nya.
Dan di sinyalir pusaka yang di buru itu ada di kerjaan Werdha Tama.
Kerajaan Werdha Tama sendiri lokasi nya berada di selatan dari Kerajaan Agung Wukir Asri, berbatasan dengan kerajaan Kertomojo yang ada di bawah naungan Kerajaan Agung Karang Pandan.
"Kita sudah memasuki wilayah kerajaan Werdha Tama tuan," kata salah satu penunjuk jalan dari Wereng Ireng.
Wereng Ireng hanya menganggukkan kepalanya, salah satu jagoan dari kelompok Dewa Api yang merupakan kelompok lingkaran Ring lima itu terlihat meneliti sekitarnya.
Bersama seratus anak buahnya Wereng Ireng mulai mencari berita keberadaan Zirah pusaka.
"Dimana tepat nya lokasi pusaka itu berada..?." tanya Wereng Ireng sambil menatap penunjuk jalan yang merupakan anggota pengguna element Api tersebut.
"Masih satu hari lagi dari sini tuan, tepatnya di gunung Wilujengan, itu informasi yang kita dengar," sahut laki laki penunjuk jalan itu menerangkan.
"Baik kita segera menuju kesana, jangan membuang buang waktu lagi." perintah Wereng Ireng kepada anak buahnya, yang langsung di respon dengan anggukan kepala dan memacu kuda kuda mereka untuk langsung berlari lebih cepat lagi menuju ke arah selatan wilayah itu, karena gunung itu ada di sana.
**
Seorang Raja Agung tengah duduk di singgasana nya.
Dialah Maharaja prabu Bayu Cokro, raja agung dari kerajaan Agung Wukir Asri.
"Kita telah kedatangan Ndaru Kolocokro sejak tujuh belas tahun yang lalu, namun baru kali ini bisa mengungkap benda pusaka apa itu."
"Meskipun belum pasti kebenarannya, namun semua yang mencoba mendapatkan nya sudah mengatakan bahwa pusaka itu berujud Zirah perang."
"Dan aku menginginkannya."
"Maka aku utus kalian pasukan Senopati Anjar Gumelar mendapatkan pusaka itu untuk ku..," perintah sang Maharaja sambil duduk penuh wibawa di singgasana nya.
Laki laki paruh baya yang nampak gagah perkasa itu menjura, penuh hormat dan berkata, "Sendiko dawuh Yang Mulia Maharaja prabu Bayu Cokro, sebuah kehormatan bagi hamba mendapatkan pusaka tersebut untuk Anda."
"Bawalah lima ratus pasukan pilihan untuk mengamankan dan membawa benda pusaka tersebut untuk ku.."
"Sendiko dawuh Yang Mulia."
Berangkat lah pasukan Senopati Anjar Gumelar menuju ke arah selatan tepatnya kerajaan Werdha Tama dimana gunung Wilujengan berada.
Bersama limaratus pasukan khusus sang Senopati meninggalkan Kerajaan Agung Wukir Asri dimana di pimpin Maharaja prabu Bayu Cokro.
**
Zirah pusaka Dewa perang tersebut, merupakan benda pusaka tingkat Illahi, terlempar terpisah dari Dewa Perang saat di buang di alam ini.
Keistimewaan dari Zirah yang bernama asli Zirah Tameng Jiwo itu selain memberikan kekebalan bagi penggunanya juga memiliki jiwa sebagaimana pusaka tingkat Illahi lainnya.
Hanya saja jika belum bertemu dengan pemiliknya yang sesuai jalan takdirnya, maka sama halnya seperti zirah biasa tanpa jiwa hanya memiliki fungsi perlindungan saja.
Itulah perbedaan pusaka tingkat Illahi dengan pusaka tingkat Dewa (Tingkatan senjata bisa di baca ulang chapter awal mula).
___________
**Jangan lupa tinggalkan jejak nya..jika sudah membacanya... terimakasih.
Maaf mungkin chapter chapter awal masih banyak membingungkan karena banyaknya tokoh dan latar belakang, tapi nanti akan ketemu pada akhirnya**.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 267 Episodes
Comments
Matt Razak
Mantap 👍
2024-09-09
0
Yanka Raga
okedech
2024-01-30
3
Wanto Jenggolo
suka dg penamaan tokoh2 nya, pribumi banget.
2023-11-17
1